Pertanyaan ini penting untuk kita dalami, “Apa bedanya Yesus dengan guru agama lainnya?”

Anda bisa ambil waktu dalam keheningan untuk melihat perbedaannya. Mari kita sedikit memikirkannya..

Ada yang bilang Yesus hanya guru agama. Kalau hanya sekedar itu, bukankah cukup bagi kita hanya mempelajari ajaran-Nya, mengambil yang baik, lalu pergi melanjutkan hidup?

Tetapi ketika kita membaca kisah tentang Yesus, kita menemukan sesuatu yang berbeda..

Seorang guru biasanya berkata, “Ikutilah ajaran ini.”

Namun Yesus mengatakan lebih dari pada ikuti ajara-nya. Dia pun berkata, “Ikutlah Aku.”

Seorang guru biasanya menunjuk kebenaran kepada murid-muridnya…

Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.”

Seorang guru mengajarkan manusia bagaimana mencari pengampunan.

Yesus berkata bahwa Dia dapat mengampuni dosa-dosa manusia.

Seorang guru biasanya mengarahkan perhatian kepada Tuhan.

Yesus sebaliknya menyatakan hubungan-Nya sendiri dengan Bapa di Sorga.

Itulah yang membuat Yesus sulit ditempatkan hanya sebagai guru agama.

Perhatikan juga cara Yesus memanggil orang. Ia tidak sekadar berkata, “Pelajarilah apa yang saya ajarkan.”

Ia berkata: “Ikutlah Aku.”

Ada sesuatu yang sangat pribadi di sana. Dimana Yesus tidak hanya menawarkan sebuah sistem kehidupan. Ia menawarkan diri-Nya sendiri.

Karena itu, pertanyaan tentang Yesus menjadi jauh lebih besar daripada pertanyaan: “Apakah ajaran Yesus bagus?”

Banyak orang setuju bahwa ajaran Yesus tentang kasih itu bagus. Ajaran-Nya tentang pengampunan itu baik. Kerendahan hati itu baik. Menolong orang lain itu baik.

Tetapi Yesus tidak berhenti hanya pada ajaran moral semata..

Ia membawa kita kepada pertanyaan yang lebih utama tentang siapa diri-Nya. Nah, di sinilah kita harus berhenti sejenak.

Kalau Yesus hanya guru yang baik, kita cukup mengagumi-Nya. Kalau Ia hanya tokoh sejarah, kita cukup mempelajari-Nya.

Kalau Ia hanya pemimpin agama, kita cukup mengenal ajaran-Nya.

Tetapi kalau klaim Yesus tentang diri-Nya benar, maka persoalannya menjadi sangat pribadi.

Karena kita tidak lagi hanya bertanya:

“Apa yang Yesus ajarkan?” lebih lanjut kita bertanya: “Apa yang akan saya lakukan terhadap Yesus?”

Mungkin Anda memiliki jawabannya. Mungkin Anda percaya atau masih ragu-ragu. Tidak perlu buru-buru.

Yang perlu kita lakukan adalah mari kita datang melihat Yesus dengan lebih dekat.

Mari kita dengarkan perkataan-Nya. Perhatikan tindakan-Nya. Lihat bagaimana orang-orang merespons-Nya.

Dan kemudian, kita bisa buat kesimpulan dengan jujur.

Karena mungkin Yesus memang bukan sekadar guru yang mengajarkan sebuah jalan hidup. Mungkin Dia lebih dari sekedar guru yang mengajarkan moral..

Mungkin Dia sendiri adalah jalan yang sedang kita cari.

Besok kita akan lanjutkan perjalanan ini..

Masih Ada Harapan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *