
Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”
Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: “Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?” Mereka menjawab dan berkata: “Ia harus dihukum mati!”
Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia, dan berkata: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?” Matius 26:64-68
MAHKAMAH agama sebagai lembaga tertinggi bangsa kehilangan kewibawaannya. Peradilan terhormat berubah jadi peradilan sesat.
Main hakim sendiri. memukuli. Meludahi. Menghina. Mengolok-olok. Semua prosedur peradilan resmi mereka singkirkan..
Katanya mereka orang-orang pilihan. Bijaksana. Tapi sikap dan tindakan mereka tidak menunjukkan kualitas sebagai pejabat tinggi.
Mereka menjadi kesetanan berubah menjadi preman pasar yang tidak segan-segan menempeleng orang-orang yang melawan mereka.
Tidak ada lagi sopan santun. Tatakrama dan adab. Mereka menjadi kasar dan hilang akal sehat.
Imam besar dan imam kepala, tua-tua, ahli Taurat, orang Farisi, dan orang Saduki mengungkapkan kemerosotan moral mereka.
Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia..
Ketika mereka meludahi wajah Yesus dan memukuli-Nya dengan tinju mereka, menunjukkan rendahnya moral mereka.
Belum pernah ada peradilan sekacau ini. Buruk. Kotor. Normalnya, siapa pun terdakwa yang dibawa ke persidangan wajib dihormati hak-hak dan martabatnya.
Mereka yang mengadili dan peserta sidang wajib menaanti tata tertib, termasuk dalam memperlakukan terdakwa..
Saat mereka meludahi Yesus, itu bentuk penghinaan terbesar. Bagi orang Yahudi, penghinaan terbesar adalah meludahi wajah orang lain (lihat Bilangan 12:14; Ulangan 25:9).
Dan bukan hanya meludahi Yesus, mereka malah melontarkan caci maki, sumpah serapah ke wajah-Nya.
Mereka mengelilingi dia dengan tamparan yang keras dan meludah kewajahnya berkali-kali sampai Yesus harus menutup matanya menahan sakit dan kejijikan air liur mereka..
Mereka berkata: “Cobalah katakan kepada kami, hai Mesias, siapakah yang memukul Engkau?”
Mereka dengan sadis terus membully Yesus. Memperlakukan Dia serendah-rendahnya. Sehina-hinanya.
Bahkan untuk penjahat terbesar, sekelas Barabas, yang terbukti kejahatannya, hal seperti itu tidak dilakukan saat mengadilinya.
Lukas menerangkan, “Dan banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepada-Nya…” Penghujat sebenarnya di sini adalah para penuduh, bukan terdakwa.
Yesus tidak menghujat karena Dia memang Allah, namun Sanhedrin menghujat berulang kali ketika mereka mengutuk, mempermalukan, dan menganiaya Anak Allah yang tidak berdosa.
Dan ketika mereka telah lelah menyiksa Yesus, mereka menyerahkan Dia kepada polisi Bait Suci untuk dianiaya lebih lanjut (Markus 14:65).
Para polisi Bait Suci tanpa ampun menganiaya Yesus dengan pukulan bertubi-tubi. Punggung, wajah, kaki dan tangan, babak belur, penuh luka-luka. Wajah-Nya bengkak dan lebam.
Sebenarnya dari sudut pandang hukum Romawi, penistaan agama bukanlah kejahatan yang pantas dihukum mati. Hukuman seperti itu dijatuhkan untuk kejahatan besar seperti kudeta.
Untuk itu mereka harus memanipulasi tuduhan. Mereka membuat dakwaan bahwa Yesus berpura-pura menjadi mesias..Yang mana Dia akan mengambil alih pemerintahan dari tangan Roma.
Dia sedang mengumpulkan orang-orang di sekelilingnya yang akan dipimpinnya dalam pemberontakan secara militer melawan kaisar Romawi. (lih. 27:1-2, 11).
Mereka yang sebenarnya benci kepada Romawi sekarang berpura-pura membela Romawi. Semua demi ambisi jahat mereka.
Di tengah ketidakadilan yang kejam terhadap Dia, kasih karunia Yesus tetap bersinar. Sepanjang malam Dia dianiaya. Dilecehkan. Dihina, Dia tetap tenang.
Petrus menggambarkan reaksi Yesus,
“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.” 1 Petrus 2:23.
Karena memang ini adalah waktu yang ditetapkan secara Ilahi, sebagai saat penggenapan nubuatan. Dia akan dikorbankan sebagai tebusan bagi dosa manusia..
Pengorbanan-Nya sesaat lagi akan mengakhiri semua jenis korban-korban hewan, yang selama ini sebagai bayangan. Semua itu akan diwujudkan dalam diri-Nya sebagai domba yang sesungguhnya.
Karena itu, Dia akan terus menjalani siksaan ini. Dia tidak akan berbalik atau menghindar dari penderitaan dan kematian..
Karena hanya dengan cara itulah Dia dapat, “memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran” (1 Pet 2: 24).
Walau pun bagi musuh-musuh Yesus ini sebagai kemenangan mereka, tetapi jauh melampau itu, ini adalah kemenangan Yesus melaksanakan misi-Nya, mati bagi manusia.
Ini kemenangan bagi semua orang dari segala jaman, dosa mereka diampuni dan pengharapan akan hidup kekal terbuka untuk mereka..
Poinnya, kemenangan musuh, belum tentu kekalahan bagi kita. Ketika musuh kelihatannya berhasil dalam rencana jahatnya, mereka sedang berada dipinggir jurang. Sebentar lagi akan jatuh.
Karena semua keadaan berada dalam kendali Allah yang perkasa. Rencana sijahat akan diubah menjadi berkat bagi orang-orang yang percaya, yang setia berharap pada Tuhan..
Karena itu jangan menjadi kecewa. Tetap teguh berdiri. Jalani semua dengan sukacita. Akan tiba masanya rencana Tuhan akan digenapi dalam hidup kita..





