Wafat Rabu Bangkit Sabtu: Bagian 2

Dibagian pertama kita sudah membaca tiga ayat yang menjadi argumentasi penyaliban rabu dan kebangkitan sabtu.

Kita akan lihat lebih jelas penyelidikan terhadap ketiga ayat tersebut.

MATIUS 12:40 – Tanda Yunus

“Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.” (Mat 12: 40).

Konteks ayat diatas adalah ketika orang Farisi dan Ahli taurat meminta tanda kepada Yesus.

Dan Yesus menjawab dengan sebuah pernyataan yang mengejutkan mereka.

“Tetapi jawab-Nya kepada mereka:

“Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.”(Mat 12: 39-40).

I. DURASI WAKTU DALAM KUBUR

Di ayat tersebut durasi Anak manusia dikubur sama dengan durasi waktu Yunus diperut ikan. Yaitu tiga hari tiga malam.

Apa tanda Yunus yang Kristus berikan kepada mereka yang tidak percaya sebagai bukti bahwa Dia Mesias?

Wednesday Crucifixionists percaya tanda itu bukan hanya mengenai kebangkitan Kristus.

Tetapi seperti Yunus tiga hari tiga malam, maka periode Yesus mati dikubur itu, periode 72 jam.

Keyakinan ini diungkapkan dalam buklet The Resurrection Was Not on Sunday. Diterbitkan oleh Departemen Teologi Ambassador College:

“Yesus menawarkan hanya satu bukti [KeMesiasan-Nya]. Bukti itu bukanlah fakta kebangkitan itu sendiri.

Itu adalah lamanya waktu Dia akan beristirahat di kuburan-Nya, sebelum dibangkitkan. ”1

Selanjutnya dikatakan..

“Yesus mempertaruhkan klaim-Nya sebagai Juruselamatmu dan dimana Dia harus tinggal tepat tiga hari tiga malam di dalam kubur.

Jika Dia selama tiga hari dan tiga malam di dalam kubur, Dia akan membuktikan diri-Nya sang Juru Selamat — jika Dia gagal memenuhi tanda ini, Dia harus ditolak sebagai seorang penipu. ”2

72 jam dalam kubur

Pernyataan itu jelas mengungkapkan bahwa lamanya Yesus dalam kubur 72 jam.

Keyakinan ini didasarkan pada anggapan bahwa “siang dan malam” secara eksplisit disebutkan dalam Alkitab, itu mewakili 24 jam sehari secara literal.

Pendekatan pada minggu penciptaan di mana setiap hari terdiri dari “petang dan pagi” yaitu, satu hari dan satu malam.

Penyebutan setiap hari penciptaan sebagai “petang dan pagi” dipandang sebagai “satu-satunya definisi Alkitab yang menjelaskan dan menghitung jumlah waktu yang terlihat dalam ungkapan ‘tiga hari.’

Ini mencakup tiga periode gelap yang disebut ‘malam’ dan tiga periode terang disebut ‘hari’ — tiga hari dan tiga malam, dan Jawab Yesus:

“Bukankah ada dua belas jam dalam satu hari? [Yohanes 11: 9-10] —jadi mereka hitung semuanya total 72 jam. ”3

II. TANDA KEBANGKITAN

Penafsiran yang memandang tanda Yunus sebagai periode 72 jam Yesus dikuburkan, didiskreditkan oleh tiga alasan utama.

Mari kita tunjukkan bahwa tanda Yunus tidak terdiri dalam 72 jam penguburan tetapi dalam hal mukjizat Kebangkitan.

Tidak Ada Referensi Waktu.

Alasan pertama adalah tidak adanya referensi waktu dalam dua bagian lain yang menyebutkan tanda Yunus (Mat 16: 4; Lukas 11: 29-32).

Dalam Lukas 11: 29-30 Yesus berkata:

“Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini..”

Perhatikan bahwa dalam Lukas tidak ada referensi tentang lamanya waktu Yunus tinggal di perut ikan.

Jika tanda Yunus terdiri dari faktor waktu, Lukas akan menuliskannya.

Dalam Lukas perbandingan yang dibuat antara Yunus dan Kristus bukan dalam hal jangka waktu penguburan yang identik.

Tetapi tentang kebangkitan yang sama secara ajaib: “seperti Yunus. . . demikian pula Anak Manusia. “

Kitab Yunus menunjukkan bahwa Yunus menjadi tanda bagi orang Niniwe melalui cara yang ajaib di mana Allah membangkitkan Yunus dari perut ikan besar dan melemparkannya hidup-hidup di pantai.

Pengalaman ini memberi Yunus dorongan untuk berkhotbah, dan orang Niniwe bertobat karena pekabaran Yunus.

Sebagaimana Allah menyelamatkan Yunus dan memberikan mandat kenabian untuk menuntun banyak orang Niniwe bertobat..

Maka sama halnya Kebangkitan Kristus akan mengungkapkan keMesiasan-Nya yang akan membuat banyak orang percaya dan bertobat.

Mayoritas komentar setuju dalam memandang tanda Yunus sebagai tanda Kebangkitan Kristus.

Norval Geldenhuys, misalnya, menulis dalam The New International Commentary on The Gospel of Luke:

“Yunus adalah sebuah tanda bagi orang Niniwe, karena ia muncul di sana sebagai orang yang diutus oleh Allah setelah secara ajaib diselamatkan dari ikan besar (seperti dibangkitkan dari kematian) sebagai bukti bahwa ia benar-benar diutus oleh Tuhan…

Demikian juga Yesus, kebangkitan-Nya membuktikan secara meyakinkan bahwa Ia telah diutus oleh Allah sebagai Kristus, Penebus yang dijanjikan. ”4

Contoh Paralel.

Alasan penting kedua ditemukan dalam ayat yang sama di Yohanes 2:19 di mana ketika menanggapi permintaan yang sama oleh orang Yahudi untuk tanda, Yesus menjawab:

“Rubuhkan bati suci ini, dan dalam tiga hari aku akan membangunnya.” Dalam pernyataan ini Kristus menjadikan Kebangkitan-Nya sebagai tanda yang tidak bisa salah.

Berdasarkan kesamaan antara teks ini dengan Matius 12:40 (di kedua tempat tanda diminta dan diberikan)..

Maka kita bisa simpulkan bahwa tanda Yunus pada dasarnya sama, yaitu, tanda dari Kebangkitan, baik di teks yang pertama dan kedua.

Kesaksian tentang Katakombe.

Alasan ketiga diberikan oleh orang Kristen awal tentang tanda Yunus.

Dalam banyak lukisan dinding katakombe, Kebangkitan Kristus secara simbolis diwakili ketika Yunus dimuntahkan oleh ikan.

Bahkan, adegan Yunus (dikenal sebagai “siklus Yunus” karena terdiri dari adegan yang berbeda) mungkin merupakan representasi simbolis yang paling umum dari Kebangkitan Kristus.

Katakombe menunjukkan, bahwa, orang-orang Kristen mula-mula meghubungkan tanda Yunus dengan peristiwa Kebangkitan dan tidak dengan unsur waktunya.

Paulus sendiri secara tidak langsung menegaskan pandangan ini ketika ia menulis bahwa Kristus “Ia adalah Anak Allah yang berkuasa. . . dengan kebangkitannya dari antara orang mati ”(Rm 1: 4).

Berdasarkan di atas, kita menyimpulkan bahwa tanda Yunus yang diberikan oleh Kristus sebagai bukti keMesiasan-Nya terdiri dari Kebangkitan-Nya di masa mendatang dan bukan dalam bentuk waktu kubur 72 jam penuh.

Kebangkitan Kristus jelas menunjukkan Dia Mesias, dimana seperti Yunus dia tinggal sementara di kubur dan itu sebagai tanda.

III. PERHITUNGAN HARI INKLUSIF

Interpretasi literal dari frasa “tiga hari tiga malam” sebagai periode 72 jam mengabaikan bukti Alkitab dan Yudaisme tentang penggunaan frasa “siang dan malam,” yang merujuk bukan pada angka pastinya, jam atau menit, tetapi kepada hari penanggalan atau hari dalam kalender, apakah itu lengkap atau tidak lengkap.

Matius, misalnya, menulis bahwa Yesus “berpuasa empat puluh hari empat puluh malam” di padang belantara (Mat 4: 2).

Periode yang sama diberikan dalam Markus 1:13 dan Lukas 4: 2 sebagai “empat puluh hari,” dimana ini tidak harus empat puluh hari dengan durasi 24 jam sehari.5

Penting untuk dicatat bahwa pembagian waktu alkitabiah satu hari atau satu malam secara inklusif dianggap mewakili satu hari atau malam.

Metode perhitungan ini dikenal sebagai “perhitungan inklusif.” Beberapa contoh dari Alkitab dan dari literatur Rabinik sudah cukup untuk menunjukkan penggunaannya.

Kisah orang Mesir yang ditinggalkan

1 Samuel 30:12 berbicara tentang orang yang ditinggalkan Hamba Mesir yang “tidak makan roti atau minum air selama tiga hari dan tiga malam. “

Penggunaan ungkapan tiga hari tiga malam, di mana pelayan menyatakan bahwa tuannya telah meninggalkannya “Tiga hari yang lalu” (ayat 13).

Jika “tiga hari tiga malam” adalah secara harfiah, maka pelayan itu seharusnya mengatakan bahwa dia telah ditinggalkan empat hari sebelumnya.

Kunjungan Esther ke Raja.

Contoh eksplisit lain dari perhitungan hari inklusif ditemukan dalam kisah kunjungan Ester ke raja.

Ketika Ratu Ester diberi tahu oleh Mordekai tentang rencana untuk memusnahkan orang-orang Yahudi, ia mengirim pesan ini kepadanya:

“Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang.”(Ester 4:16).

Jika maksud Ester tiga hari dan tiga malam itu harfiah dianggap sebagai periode puasa 72 jam, maka ia seharusnya menyatakan dirinya di hadapan Raja pada hari keempat.

Namun, kita diberitahu beberapa ayat kemudian bahwa Ester menghadap raja “pada hari ketiga” (Ester 5: 1).

Contoh-contoh seperti ini dengan jelas menunjukkan bahwa ungkapan “tiga hari tiga malam” digunakan dalam Alkitab secara idiomatis untuk menunjukkan bukan tiga hari penuh 24 jam.

Tetapi tiga hari kalender di mana yang pertama dan ketiga hanya terdiri dari sebagian kecil saja dari satu hari.6

Literatur Rabbinik

Contoh eksplisit untuk perhitungan hari inklusif juga ditemukan dalam literatur Rabinik.

Rabi Eleazar ben Azariah, yang hidup sekitar tahun 100 M, menyatakan, ”Sehari dan malam adalah Onah [‘sebagian waktu’] dan bagian dari Onah adalah keseluruhannya.” 7

Ada beberapa contoh lain dalam Literatur rabinik di mana “tiga hari tiga malam” dari Yunus 1:17 digabungkan dengan bagian-bagian Perjanjian Lama yang menyebutkan peristiwa yang terjadi “pada hari ketiga.

“It is in this light,” yang ditulis Gerhard Dilling dalam Kamus Teologis Perjanjian Baru, “bahwa kita harus memahami Matius 12:40.” 9

Praktek Yahudi.

Praktek perhitungan hari inklusif, menurut The Jewish Encyclopedia, sebuah referensi kerja standar Yahudi, masih popular di antara orang Yahudi hari ini.

“Dalam kehidupan komunal Yahudi, bagian dari suatu hari terkadang dianggap sebagai satu hari; mis., hari pemakaman, walaupun pemakaman itu terakhir berlangsung sore hari, itu dihitung sebagai hari pertama dari tujuh hari berkabung;

Waktu singkat di pagi hari hari ketujuh dihitung sebagai hari ketujuh; sunat terjadi pada hari kedelapan, meskipun pada hari itu hari pertama hanya beberapa menit tersisa setelah kelahiran anak, ini dihitung sebagai satu hari. “10

Contoh-contoh yang dikutip di atas dengan jelas menunjukkan bahwa pada zaman Alkitab ungkapan “sehari dan semalam” berarti satu hari, apakah itu penuh atau tida penuh.

Dengan demikian, penggunaan, ungkapan “tiga hari tiga malam” di Matius 12:40 bukan berarti Yesus dimakamkan selama 72 jam penuh, tetapi satu hari penuh dan dua hari lainya tidak penuh atau sebagian.

IV. TENTANG HARI KETIGA

Sebuah konfirmasi yang meyakinkan dari metode alkitabiah tentang perhitungan hari inklusif disediakan oleh dua frasa Yunani yang paling umum digunakan dalam Injil untuk menggambarkan waktu antara Penyaliban dan Kebangkitan..

Yaitu, te trite hemera dan meta treis hemeras, yang secara harfiah dapat diterjemahkan masing-masing pada hari ketiga dan setelah tiga hari.

Ungkapan terakhir, yang digunakan empat kali dalam Injil (Markus 8:31; 9:31; 10:34; Mat 27:63)..

Jika diambil secara terpisah akan mengkonfirmasi penafsiran literal dari “tiga hari tiga malam” ( Mat 12:40)..

Karena yang terakhir membutuhkan Kebangkitan terjadi setelah tiga hari penuh sejak waktu Penyaliban.

Penggunaan Paralel.

Akan tetapi, penafsiran ini dibantah oleh fakta bahwa pernyataan Kristus yang sama yang memuat frasa “setelah tiga hari” dalam satu Injil, dilaporkan dalam Injil lain dengan frasa “pada hari ketiga.

Untuk memperjelas hal ini, dalam tabel berikut kita akan menjelaskan kemunculan dua frasa ini dalam bagian paralel dari Injil Sinoptik:

Markus 8:31
“Bangkit sesudah
tiga hari”
Matius 16:21
“dibangkitkan
pada hari ketiga.”
Lukas 9:22
“dibangkitkan
pada hari ketiga.”
Markus 9:31
“tiga hari sesudah
Ia dibunuh Ia
akan bangkit.”
Matius 17:23
“pada hari ketiga
Ia akan dibangkitkan.”
Markus 10:34
“sesudah tiga hari
Ia akan bangkit.”
Matius 20:19
“dan pada hari ketiga
Ia akan dibangkitkan.”
Lukas 18:33
“dan pada hari ketiga
Ia akan bangkit.”

Arti yang identik atau sama

Perbandingan ini jelas menunjukkan bahwa Matius dan Lukas mengerti apa yang ditulis Markus “setelah tiga hari” sebagai yang berarti “pada hari ketiga.”

Bukti lebih lanjut untuk mengetahui dua frasa oleh Matius 27: 63-64.

Dalam ayat 63 para pemimpin Yahudi memberi tahu Pilatus bahwa Kristus telah berkata, “Setelah tiga hari aku akan bangkit kembali.”

Dalam kenyataannya, ungkapan “pada hari ketiga” muncul dalam Matius (16:21; 17:23; 20:19), yang menunjukkan makna yang sama dari dua frasa.

Ayat 64 memberikan konfirmasi tambahan ketika para pemimpin Yahudi meminta Pilatus untuk menjaga kuburan Yesus “sampai hari ketiga.”

V. PENAMPAKAN HARI PERTAMA

Penafsiran literal dari “tiga hari tiga malam” juga didiskreditkan oleh catatan Lukas tentang penampilan Kristus pada hari Minggu malam kepada dua murid yang pergi ke desa Emaus.

Kristus, yang mereka tidak kenal menemui mereka dan bertanya kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?” (Lukas 24:17).

Kedua orang itu, terkejut atas ketidaksadaran Yesus tentang apa yang terjadi di Yerusalem, menceritakan kepada-Nya

“Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia [Kristus] untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya.

Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.

Tetapi sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi.”(Lukas 24:20, 21) .13

Hari Ketiga pada Minggu Malam.

Untuk menghargai pentingnya pernyataan terakhir, harus diperhatikan dua fakta.

Pertama, pernyataan itu dibuat pada “malam” pada hari pertama ketika hari itu “hari menjelang malam” (Lukas 24:29).

Kedua, “hari ketiga” merujuk secara khusus pada peristiwa-peristiwa yang disebutkan dalam konteks langsung, yaitu, penghukuman dan Penyaliban Kristus.

Maka, jelaslah bahwa jika Kristus disalibkan pada hari Rabu sore, kedua murid itu tidak mungkin merujuk peristiwa itu pada hari Minggu malam, dengan mengatakan,

“Sekarang hari ketiga sejak ini terjadi.”

Menurut perhitungan hari inklusif Yahudi, itu akan menjadi hari kelima dan bukan yang ketiga.

VI. KRONOLOGI MINGGUAN MINGGUAN

Kronologi akhir pekan kesengsaraan Yesus memberikan bukti lebih lanjut tentang penggunaan yang sama atau idiomatik dari frasa “tiga hari tiga malam.”

Hari-hari Penyaliban, pemakaman, dan kebangkitan diberikan dalam urutan yang jelas dalam Injil sebagai hari Persiapan, Sabat, hari pertama.

Markus, yang menulis untuk pembaca bukan Yahudi yang kurang akrab dengan terminologi Yahudi, menjelaskan dengan sangat jelas bahwa Kristus disalibkan pada “hari Persiapan, yaitu, hari sebelum Sabat” (Markus 15:42).

Dalam pasal berikut akan diperlihatkan bahwa istilah “persiapan” (paraskeue) dan “Sabbath-eve” (pro-sabbaton) adalah dua istilah teknis yang digunakan untuk menyebut apa yang kita sebut “Jumat.”

Markus paling tepat dalam menjelaskan bahwa Penyaliban terjadi pada apa yang hari ini kita sebut “Jumat.”

Hari berikutnya ditetapkan oleh Markus sebagai “sabat” (Markus 16: 1) yang pada gilirannya diikuti oleh “hari pertama dalam minggu” (Markus 16: 2).

Urutan kronologis Markus sama sekali tidak meninggalkan ruang untuk jarak atau interval dua hari antara Penyaliban dan Kebangkitan.

Demikian pula Lukas menjelaskan bahwa hari Penyaliban Kristus diikuti, bukan pada hari Kamis atau Jumat, tetapi oleh Sabat mingguan.

Ia menulis, “Hari itu hari persiapan, dan sabat hampir mulai” (Lukas 23:54).

Dengan menghubungkan awal hari Sabat dengan akhir hari Persiapan, dan awal “hari pertama minggu itu” (Lukas 24: 1) dengan berakhirnya hari Sabat (Lukas 23:56), Lukas menjelaskan sepenuhnya tidak ada ruang untuk dua hari penuh antara Penyaliban dan Kebangkitan.

Tidak Ada Dua Sabat.

Beberapa orang ingin memberikan ruang untuk intervensi hari-hari dengan berargumen bahwa antara Penyaliban Rabu dan kebangkitan Sabtu sore ada dua hari Sabat:

Yang pertama, Sabat Paskah yang jatuh pada hari Kamis; yang kedua, Sabat mingguan yang jatuh pada hari Sabtu biasa.

Argumen semacam itu murni spekulasi karena Injil tidak menunjukkan bahwa dua Sabat mengintervensi antara hari Penyaliban dan kebangkitan.

Dukungan untuk pandangan dua-Sabat dicari dalam bentuk jamak yang diambil oleh Sabat dalam Matius 28: 1, yang secara literal berbunyi “pada akhir Sabat.”

Teks ini dipandang sebagai “teks vital” yang “membuktikan bahwa ada DUA Sabat minggu itu dengan satu hari di antaranya.”

Sabat pertama, Kamis, diduga adalah “Sabat hari raya tahunan, hari raya Roti Tidak Beragi,” sedangkan yang kedua adalah “Sabat mingguan, Sabtu.” 14

Kesimpulan ini tidak dapat dipertahankan, karena, sebagaimana Harold W. Hoehner tunjukkan,

“Istilah Sabat sering (sepertiga dari semua kejadian Perjanjian Baru) dalam bentuk jamak dalam Perjanjian Baru ketika hanya satu hari yang terlihat.

Misalnya, dalam Matius 12: 1-12 baik bentuk tunggal maupun jamak digunakan (lih. Khususnya ay 5). ”15

Maka tidak ada dasar Alkitabiah untuk Sabat Paskah yang terjadi dua hari sebelum Sabat mingguan reguler.

Urutan kronologis yang jelas dan tidak terputus dari hari-hari yang diberikan dalam Injil adalah:

Hari persiapan, hari Sabat, dan hari pertama.

Urutan ini sama sekali tidak meninggalkan ruang untuk interpretasi literal dari frasa “tiga hari tiga malam” yang mewakili periode tepat 72 jam.

Kesimpulan

Pertimbangan di atas telah menunjukkan..

Pertama, bahwa tanda Yunus yang diberikan oleh Kristus untuk membuktikan keMesiasan-Nya tidak terdiri dari 72 jam penguburan, tetapi dalam Kebangkitan-Nya pada hari ketiga setelah kematian-Nya.

Kedua, frasa “tiga hari tiga malam” (Mat 12:40) adalah ungkapan idiomatis yang pada zaman Alkitab tidak berarti tiga hari penuh 24 jam (72 jam)..

Melainkan tiga hari kalender, di mana yang pertama dan ketiga bisa terdiri dari hanya beberapa jam.

Kesimpulan yang terakhir didukung oleh metode perhitungan hari inklusif, dengan penggunaan paralel dari frasa “setelah tiga hari” dan “pada hari ketiga,” oleh urutan kronologis hari yang tidak terputus yang tidak memungkinkan untuk tiga hari penuh. 24 jam sehari.

Pengakuan atas fakta-fakta ini menjelaskan bagaimana Yesus memenuhi ramalan-Nya tentang “tiga hari tiga malam” penguburan dengan dimakamkan pada hari Jumat sore dan bangkit pada hari Minggu pagi.

Bersambung..

Baca Bagian 1: Yesus Disalibkan Hari Rabu dan Bangkit Hari Sabtu ? Bagian 1

Referensi bagian 2

  1. Herbert W. Armstrong, The Resurrection Was Not on Sunday
    (Pasadena, California: Ambassador College, 1972), p. 4; emphasis supplied.
  2. Ibid., p. 4.
  3. Ibid., p. 6.
  4. Norval Geldenhuys, Commentary on the Gospel of Luke, The New
    International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, 1983), p.
    1. Similar examples are found in Gen 7:4, 12; Ex 24:18; 34:28; 1 Kings
      19:8; Job 2:13.
  5. For more examples and a discussion of the inclusive reckoning, see
    Seventh-day Adventist Bible Commentary, vol. II, pp. 136-137; vol. V, pp.
    248-251.
  6. Jerusalem Talmud, Shabbath 9, 3; cf. also Babylonian Talmud,
    Pesahim 4a.
  7. See Midrash Rabbah: Genesis 56,1 (on Gen 22:4); Genesis 91,7 (on
    Gen 42:17-18); Esther 9,2 (on Esther 5:1).
  8. Gerhard Dilling, “hemera,” in Theological Dictionary of the New
    Testament (Grand Rapids, 1974), vol. II, p. 950.
  9. The Jewish Encyclopedia, s.v. “Day,” vol. IV, p. 475.
  10. David Clark, “After Three Days,” The Bible Translator 30 (July
    1979): 341.
  11. Ibid., pp. 342, 343.
  12. Emphasis supplied.
  13. Herbert W. Armstrong (n. 1), p. 13.
  14. Harold W. Hoehner, Chronological Aspects of the Life of Christ (Grand Rapids, 1977), pp. 69-7
Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *