Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Berkat Abraham Ujian tertinggi: Melepaskan yang terindah (Kejadian 22:2)

Ujian tertinggi: Melepaskan yang terindah (Kejadian 22:2)

MUNGKIN Abraham sedang bekerja ketika Tuhan memanggil namanya. Dia tidak bertanya siapa yang memanggilnya..

Dia mengenal suara Tuhan. Peka dengan suara-Nyam walau dia tidak terlalu sering mendengar suara-Nya.

Itu sebabnya dia segera menyahut, “ Ya Tuhan..” Dalam bahasa Ibrani secara harafiah berarti “Lihatlah aku” ( hinneh ). Abraham siap untuk berserah kepada Tuhan, Penciptanya.

Apakah kita siap untuk berserah pada panggilan dan perintah-Nya? Apakah kita bersedia mengatakan “Inilah Aku?”

Kemudian dalam kejadian 22:2, Abraham menerima perintah yang berkaitan pada anaknya.

Firman-Nya: “Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu.”

Perintan ini pendek. Mengejutkan. Tidak terduga. Menyakitkan. Apa sebabnya? Karena Pertama, ambillah sekarang anakmu; kedua, anakmu yang tunggal; ketiga, yang engkau kasihi; keempat, Ishak.

Untuk apa? Dipersembahkan sebagai korban bakaran. Artinya Ishak akan mati dengan tangannya sendiri.

Perintah ini sangat menyakitkan. Selain itu juga membingungkan.

Dan Firman Tuhan ini terasa seperti petir yang menyambar disiang bolong ditelinga Abraham.

Sama seperti kita waktu mendengar berita kematian salah seorang orang tua, saudara, sahabat, terasa menyambar seperti petir yang membuat kita lemas tak bertenaga.

Bagi Abraham hari itu adalah hari yang penuh duka, seperti awan gelap yang ,menyelimuti langit diwaktu siang. Sebab Tuhan telah mengumumkan hari kematian anaknya..

Bagaimanakah perasaan anda sebagai orang tua, jika tiba-tiba anak yang anda kasihi divonis dokter menderita penyakit yang berat dan hidupnya hanya tinggal beberapa hari lagi..

Kenapa perintah ini membingungkan adalah belum pernah dalam sejarah keluarga abraham korban bakaran adalah manusia..

Sudah ratusan bahkan ribuan tahun dalam praktek keagamaan yang dia tahu dan yang dia lakukan selama ini , korban bakaran itu adalah binatang..

Memang ada praktek-praktek agama, korban yang diminta itu adalah manusia..

Sekitar thn 3500 – 1100 SM, yang disebut sebagai peradaban kuno, Kanaan (Caananites) mempunyai sesembahan dewa Moloch yakni dewa dari dunia kuno.

Untuk menyenangkan dewa ini, mereka diharuskan mengorbankan anak-anak dalam sebuah Ritual pengorbanan yang diiringi jeritan tangis anak yang dikorbankan tersebut.

Tapi itu adalah praktek agama kafir yang Tuhan tidak sukai. Apakah TUhan mau mengikuti cara keji agama kafir? Abraham bingung dengan Tuhan.

Yang membuiat dia tambah bingung sebenarnya adalah yang Tuhan minta dipersembahkan adalah anak satu-satunya yang diberikan Tuhan dimasa tua mereka.

Lebih membingunkan lagi, janji Tuhan membuat dia menjadi bangsa besar, tapi bagaimana mungkin itu terjadi kalau anak hanya satu itu pun akan mati sebagai korban..

saat orang bingung biasanya tidak tau mau buat apa. Untung orang yang bingung ini adalah Abraham..

Kalau kita yang bingung ketika dalam situasi Abraham, barangkali kita akan pergi tinggalkan Tuhan, karena ternyata ikut tuhan itu membingungkan….

Seringkali juga kita berada salam situasi yang sama seperti Abraham. Bingung dan tidak mampu mengerti situasi yang sedang terjadi..

Dan adakalannya kita memang dibuat bingung oleh Tuhan. Tetapi setelah kita bingung baru kita akan mengerti apa maksud Tuhan..

Jadi saat kita bingung tindakan terbaik yang bisa kita buat adalah berdiam diri dan ikuti apa yang Tuhan perintahkan sekalipun itu membingungkan kita…

“Ambillah anakmu yang tunggal, yang engkau kasihi….” Tuhan meminta satu-satunya harta yang paling berharga yang dimiliki Abraham yaitu ishak..

Kenapa Tuhan tidak minta, hartanya, emas, perak dan ternaknya..? Kalau bisa memilih, Abraham lebih memilih memberikan semua harta kekayaannya kepada Tuhan, dari pada ishak..

Tetapi karena tidak ada pilihan, sebab Tuhan langsung menunjuk ishak, dan dia tidak mencoba untuk beradu argument dengan Tuhan, seperti ketika Tuhan hendak membinasakan Sodom dan Gomorah.

Disini Abraham berdiam diri, tidak berkata apa-apa kepada Tuhan..

Abraham sadar, bahwa ishak adalah pemberian Tuhan, kalau Tuhan yang ambil kembali terserah sama Tuhan saja..

Seperti kata ayub, “Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil terpujilah nama Tuhan..”

Kalau saja kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan, maka tidak perlu ada persungungat, sekalipun kita harus kehilangan sesuatu yg berharga dalam hidup..

Perintah Tuhan membawa Ishak adalah segera. Bukan nanti. Lakukan sekarang.

Jangan berdebat dan jangan menunda-nunda! Abraham tidak menunda atau memprotes, tetapi dengan sukarela menaati.

Ketaatan yang tertunda adalah ketidaktaatan! Ketaatan sebagian adalah ketidaktaatan total!

Kita dapat melanjutkan membaca ayat 3, dimana Abraham segera bertindak melakukan perintah Tuhan..

Ketika Tuhan menuntut sesuatu yang sangat kita sayangi, akankah Anda menyerahkannya kepada-Nya?

Mungkinkah uang Anda menjadi milik-Nya? Mungkinkah anak-anak Anda dikorbankan di garis depan penginjilan global jika mereka dipanggil?

Mungkinkah Dia menguasai bisnis Anda? Mungkinkah Dia menguasai hati Anda?

Apakah ada sesuatu yang menghalangi Anda untuk mencapai kesetiaan tanpa syarat kepada Tuhan?

Pelajaran besar yang dapat dipelajari dari iman Abraham kepada Tuhan adalah bahwa ia siap melakukan apa pun bagi Tuhan .

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan