Teologi Elifas: Orang Jahat Mati Muda (Ayub 4:1-7)
Teman-teman Ayub tidak tahan lagi untuk terus berdiam diri. Mereka mulai membuka mulut untuk berbicara. Mereka sudah tidak tahan mendengar keluhan-keluhan Ayub..
Pada akhirnya terjadi debat antara Ayub dengan tiga temannya. Mereka saling adu argumentasi. Adu hikmat. Debat ini berlangsung dari pasal 4 sampai pasal 21.
Ada tiga siklus debat. Siklus pertama dan kedua urutannya sama: Elipas bicara, Ayub menjawab. Bildad bicara Ayub menjawab. Zofar bicara, Ayub menjawab.
Jadi, Eliphaz adalah yang pertama dari ketiga teman yang berbicara, diikuti oleh Bildad, dan kemudian Zophar. Ayub menanggapi masing-masing secara bergantian..
Kemudian debat siklus ketiga lebih rumit. Argumentasi teman-teman Ayub pendek-pendek. Namun Ayub menjawab dengan argumentasi yang panjang..
Singkatnya pidato para sahabat dan tidak adanya pidato ketiga dari Zofar menunjukkan bahwa mereka kehabisan argumen dan energi untuk melawan penolakan Ayub yang terus-menerus.
Sekarang mari kita melihat siklus pertama dari debat antara Ayub dan tiga temannya.
Elifas yang pertama berbicara. Dia mungkin yang lebih senior dari teman-temannya. Dia bertindak sebagai pemimpin.
Nanti dalam argumentasinya di ayat 6, Elifas mengemukakan pandangannya bahwa penderitaan itu akibat dosa.
Oleh karena itu, hanya ada satu solusi untuk penderitaan, termasuk penderitaan Ayub, yaitu pertobatan (5:8–16)
Sebelum Elifas memberikan jawaban terhadap keluhan Ayub, dengan sopan dia bertanya kepada Ayub, apa ia akan marah kalau ada yang berbicara kepadanya?
“Kesalkah engkau, bila orang mencoba berbicara kepadamu?..” (4:2). Jadi Elifas memberitahu Ayub kalau dia ingin menjawab keluhan Ayub.
Sebenarnya dia sedikit segan untuk berbicara, karena tidak ingin nanti kata-katanya menyakiti dan membuat Ayub putus asa..
Tetapi dia terpaksa harus menjawa Ayub. Itu sebabnya dia katakan, “Tetapi siapakah dapat tetap menutup mulutnya?” (2b)
Ayub terdiam dan membiarkan Elifas bicara. Dia mengawali dengan pujian. Dia memuji Ayub sebagai orang beriman dimasa lalu, kita bisa baca dari ayat 3-4.
Strategi argumentasi Elifas ini boleh kita tiru ketika berbicara dengan orang lain, dengan mengawali kalimat positif..
Elifas memuji Ayub sebagai orang yang bijakasana yang telah mengajar banyak orang, yang lemah.
Ia telah memberikan kekuatan bagi mereka yang tak berdaya dan membantu mereka yang tersandung.
Disini Elifas menggambarkan peran orang bijak. Orang bijak adalah mereka yang tahu bagaimana menjalani hidup. Mereka menghindari jebakan dan memaksimalkan kesuksesan.
Jika rintangan menghadang, mereka tahu jalan keluar tercepat.
Dengan demikian, mereka berada dalam posisi untuk memberikan nasihat kepada orang lain yang tidak secerdas mereka dalam keterampilan hidup. Mereka dapat membantu mereka yang goyah.
Jadi maksud Elifas adalah mengapa Ayub orang beriman dan bijak, namun tidak mengerti mengapa ini terjadi kepadanya dan mengapa dia tidak dapat menemukan jalan keluar dari penderitaannya..
Jadi pada akhirnya perdebatan antara Ayub dan teman-temannya sebenarnya merupakan perdebatan tentang pertanyaan Siapakah yang bijak?
Strategi Elifas yang halus diawal, pada akhirnya akan berisi serangan yang tajam kepada Ayub. Maka diayat 5, kita melihat argumentasi Elifas makin tajam..
Dia katakan, “..tetapi sekarang, dirimu yang tertimpa, dan engkau kesal, dirimu terkena, dan engkau terkejut.”
Elifas membandingkan masa lalu Ayub yang gemilang. Dia banyak melakukan perbuatan belas kasihan. Namun sekarang dirinya sangat mengenaskan dan patut dikasihani..
Elifas menuduh Ayub sebagai tipe orang yang kuat ketika segala sesuatunya berjalan baik, tetapi jika masalah datang, ia sangat lemah.
Ia berubah dari orang yang jernih dan berwawasan menjadi orang yang kikuk dan bingung.
Jadi intinya, menurut Elifas, Ayub ini hanya orang yang pandai berteori, dapat menguatkan orang yang lemah, mengajar orang tentang hikmat, namun dia tidak dapat menerapkan pada diri sendiri.
Elifas heran bagaimana dokter tidak dapat meminum obatnya sendiri dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Selanjutnya, Elifas menggunakan bahasa yang sangat menyakitkan bagi Ayub.
“Bukankah takutmu akan Allah yang menjadi sandaranmu, dan kesalehan hidupmu menjadi pengharapanmu?” (6)
Elifas mau katakan, seharunya orang yang takut akan Allah dan hidup saleh tidak membuatnya menderita. Bagi Elifas, orang yang tidak bersalah tidak akan menderita.
Jadi Elifas berasumsi, kalau Ayub bukan orang benar. Kesalehan yang dia tunjukkan selama ini hanya formalitas, bukan dari hati.
Lebih lanjut dia menerangkan argumentasinya, dengan meminta Ayub memberikan contoh, apakah ada orang yang tidak bersalah atau saleh dan jujur binasa dan dipunahkan?
Kata binasa dan punah mengacu kepada kematian yang prematur. Mati sebelum waktunya. Eliphaz tidak berargumen bahwa orang-orang saleh dan bijaksana tidak pada akhirnya mati.
Ia bertanya, di mana Ayub pernah melihat orang bahwa orang saleh dan takut akan Tuhan, mati muda..? Menurut hemat Elifas, orang yang takut akan Allah tidak mati muda..
Jadi, dalam teologi Elifas, orang yang mati muda adalah mereka yang melakukan kejahatan.
Itu lah sebabnya dia menilai Ayub bersalah atas sesuatu yang telah menyebabkan penderitaannya. Jika seseorang mati muda, maka dia pasti jahat, meskipun orang tersebut tampak saleh..
Tentu teologi Elifas ini sesat. Seseorang yang mati muda tidak dapat ditentukan oleh benar salahnya seseorang.
Ada orang yang jahat, umurnya panjang. Orang baik juga ada yang umurnya panjang. orang jahat juga ada yang berumur pendek..
Pengkotbah mengatakan,
Dalam hidupku yang sia-sia aku telah melihat segala hal ini: ada orang saleh yang binasa dalam kesalehannya, ada orang fasik yang hidup lama dalam kejahatannya. (7:15)
Poinnya, kita tidak boleh terburu-buru membuat penilaian terhadap seseorang yang menderita sebagai orang yang telah berbuat dosa..
Terlalu banyak orang saat ini menjadi penganut teologi Elifas, menganggap orang yang jatuh kedalam berbagai kesusahan yang berat sebagai orang yang telah melakukan dosa..
Memang ada orang yang menderita karena kesalahanya sendiri, namun bukan ranah kita membuat penilaian dengan menghakimi mereka..
Kita tidak tahu hidup setiap orang secara detail. Mengapa mereka menderita. Mengapa mereka jatuh dalam berbagai kesusahan yang tak tertahankan..
Tugas kita bukan menjadi Elifas. Lebih baik berdiam diri dan berdoa. Karena itu, jadilah penghiburan bagi setiap orang yang susah.
Jika kita tidak bisa mengibur orang lain, jangan menambah duka mereka. Jika kita tidak bisa menolong orang lain, jangan menambah beban mereka..
Paulus mendorong kita,
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus..” Galatia 6:2.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now





