Tanpa tujuan, Ismael sekarat, hampir mati (Kejadian 21:15-19)
KEMANAKAH tujuan Hagar dan Ismael? Kita tidak tahu. Abraham juga tidak menunjukkan kemana mereka harus pergi..
Hagar pun tidak tahu kedaerah mana dia akan pergi. Namanya di usir, tidak punya arah dan tujuan. Mereka berdua hanya berjalan tak tentu arah.
Sesekali mereka berhenti melepas lelah. Mencari tempat yang rimbun untuk istirahat. Mereka makan bekal roti dan minum.
Narasi mengatakan Hagar mengembara di padang gurun Bersyeba. Dengan kata lain, ia tersesat. Dipadang Gurung makanan dan air akan sulit ditemukan.
Persediaan yang mereka bawa hanya sedikit. Sudah hampir habis. Roti pun tinggal gigitan terakhir. Air minum tinggal setetes..
Dalam ayat 15, “Ketika air yang dikirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak..”
Sekarang nyawa mereka terancam, karena setelah beberapa saat, air di dalam kirbat itu habis; roti pun habis.
Hagar melihat semua persediaan telah habis. Dia berdiri menegok sekelilingnya. Tidak ada orang dan tidak ada apa pun..
Sejauh mata mata memandang yang terlihat hanya hamparan padang pasir. Ketakutannya menjadi kenyataan..
Ismael mulai dehidrasi. Cairan tubuhnya banyak hilang. Badannya lemas. Tidak ada makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuhnya..
Matanya mulai berkunang-kunang dan tertutup. Hagar melihat kondisi Ismael sudah sangat kritis.
Dia memeluk anaknya dan menggoncangkan badannya. Berteriak, memanggil nama anaknya, “Ismael..Ismael..Ismael..” dia memukul mukul wajahnya agar sadar..
Tapi Ismael tidak sadar. Dia pingsan. Karena panik, Hagar melemparkan anak itu ke bawah salah satu semak belukar untuk memberinya tempat berteduh dari teriknya matahari..
Hagar sudah kehabisan akal, apa yang bisa ia lakukan untuk menolong putranya, apa yang akan ia lakukan?
Selanjutnya dalam narasi Sara berkata,
“..dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: “Tidak tahan aku melihat anak itu mati.”
Jadi dia tinggalkan Ismael disemak-semak karena dia tidak ingin melihat anak itu mati dihadapannya. Kalau dia mati, biarlah dia mati disemak-semak itu..
Karena itu dia pergi agak jauh dan duduk sambil menangis..tangisan Hagar seperti tangisan anjing melolong ditengah malam. Hatinya hancur lebur.
Sungguh sangat tragis keadaan yang menimpa Hagar dan Ismael.
Sementara dia menangis, Ismael siuman. Kemungkinan dia juga menangis. Karena narasi di ayat 17 mengatakan, “Allah mendengar suara anak itu..”
Untuk kedua kalinya, Allah mendengar dalam hubungannya dengan Ismael. Yang pertama adalah dalam Kejadian 16:11, yang menjadi dasar nama Ismael.
Dia yang memenuhi kebutuhan Hagar dalam Kejadian 16:13 , “Tuhan yang melihat!” Di sini dia melihat Hagar dan Dia mendengar Ismael! Ismael menangis dan Tuhan berbicara kepada Hagar.
Tuhan mendengar ( wayishma ‘elohim ) jelas merupakan permainan kata-kata di sini karena nama Ismael ( yishma ‘el ) berasal dari shama (mendengar).
lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
Di sini Dia disebut Malaikat Allah (ini adalah Allah dari frasa sebelumnya), dan Dia memanggil Hagar dari surga.
Sumbernya adalah Surga, sekali lagi menunjukkan bahwa Allah dan malaikat Allah adalah pribadi yang sama.
Pesannya adalah pesan penghiburan dan dimulai dengan sebuah pertanyaan: “Apakah yang engkau susahkan, Hagar?
Lalu Tuhan memberikan berita penghiburan: ? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring.
Kemudian Hagar menerima beberapa instruksi: Pertama, bangunlah; kedua, angkatlah anak itu; dan ketiga, peganglah dia dengan tanganmu.
Semua ini akan menyampaikan kepadanya bahwa dia dan anaknya akan selamat.
Janjinya adalah: Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar. Sekali lagi, ada janji tentang bangsa Arab; tetapi agar ia dapat memiliki hal ini, ia harus bertahan hidup.
Dalam ayat 19 Allah melakukan sesuatu kepada Hagar..
Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum.” Kejadian 21:19
Perhatikan penjelasan tersebut menunjukkan bahwa Tuhan tidak menciptakan sumur ini. Rupanya sumur itu sudah ada di sana tetapi dia tidak dapat melihatnya.
Jadi Tuhan memampukannya untuk melihat sumur air yang sudah ada di sana!
Kenapa Hagar tidak dapat melihat sumur tersebut? Karena dia terlalu fokus kepada penderitaannya. Sehingga dia tidak melihat ada jalan keluar tidak jauh dari tempat dia duduk..
Saat kita terlalu fokus dengan penderitaan kita, kita tidak akan dapat melihat ada berkat disebelah kita..
Apakah Anda sedang mengalami masa sulit seperti Hagar dan Ismail? Sudahkah Anda mencoba meminta Tuhan untuk membuka mata Anda dan menunjukkan solusi yang telah Dia berikan?
Saat pergumulan kita banyak, kita perlu membuka mata iman kita untuk melihat Tuhan. Tuhan bekerja untuk kita..
Dia memberikan kepada kita persediaan yang cukup. Tuhan akan memberi kelegaan kepada kita. Penderitaan Hagar membutakannya terhadap penghiburan yang Tuhan sediakan.
Jadi kesedihan dapat menutup mata kita. Hidup itu terkadang menyedihkan, sepi, dan gelap..
Tetapi Tuhan dekat dan jika kita meminta, Dia akan menunjukkan sumber penghiburan yang dapat kita minum.
Tidak ada padang gurun tanpa sumbernya; tidak ada anak yang sekarat tanpa malaikat Tuhan.
Tuhan peduli bahkan untuk hal-hal kecil dalam hidup kita. Doa untuk barang yang hilang dalam situasi yang tidak terlalu serius akan tetap terjawab.
Tuhan telah menuntun orang-orang untuk menemukan perhiasan, kacamata, kartu, dan bahkan mainan yang hilang.
Dia tidak selalu menghentikan pencarian, tetapi Dia sering kali menghadiahinya.
Dia tahu bagaimana menuntun langkah kita dan membuka mata kita, bahkan ketika kita tidak menyadari bahwa Dia sedang melakukannya.
Dia datang untuk menolong kita ketika kita meminta.
Pemazmur mengatakan, “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan” Mazmur 145:18.
“Hagar kemudian melakukan tiga hal: Pertama, ia pergi ke arah sumur itu; kedua, mengisi kirbatnya dengan air; dan ketiga, memberi anak itu minum.” Ismael kembali segar..
Tuhan, terima kasih atas perhatian-Mu yang begitu detail. Engkau peduli terhadap hal-hal yang berharga bagi kami, dan Engkau menawarkan pertolongan-Mu.
Semoga aku tidak pernah mencoba memecahkan masalah tanpa-Mu.




