Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Kitab Matius Taat meski sangat berat (Matius 26:38-39)

Taat meski sangat berat (Matius 26:38-39)

lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Matius 26:38-39

Sedikit curhat kepada murid-murid-Nya, tentang kesedihan hati-Nya. Bukan kesedihan biasa. Sulit mengungkapkan. Rasanya seperti mau mati.

Bukan kali ini saja Yesus mengungkapkan kesedihannya. Ketika Lazarus mati. Dia sedih. Dia menangis.

Tetapi kesedihan-Nya bukan karena kematian Lazarus, sebab Dia dapat membangkitkannya. Kesedihannya tentang kedegilan hati orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya.

Nah, sekarang apa yang membuat Yesus begitu sedih, seperti mau mati rasanya? Bukankah Dia mengetahui bahwa Dia datang ke bumi untuk menderita dan mati bagi dosa-dosa dunia?

Ya, itu lah misi-Nya. Dan puncak dari penderitaan-Nya semakin dekat dan hebat. Dia akan merasakan keterasingan dengan Bapa-Nya.

Bukan karena rasa sakit fisik yang akan Dia tanggung, melainkan karena Dia menanggung segala keburukan dan kekotoran seluruh kejahatan manusia ke dalam diri-Nya.

Penderitaannya dalam menanggung dosa seluruh manusia, tidak dapat dilukiskan atau dipahami.

Sekarang rasa kesepian yang sangat dalam dan sunyi mulai melanda diri-Nya sehingga menyebabkan Dia sangat sedih atau tertekan.

Selain itu ada juga kekecewaan pribadi yang mungkin membuat Yesus semakin tertekan. Pertama, pengkhianatan Yudas..

Kedua, sebelas murid lainnya menyangkal dan meninggalkan Yesus sendirian. Dia telah menjadi guru, penyembuh, penyemangat, pengampun, pendukung, dan sahabat mereka.

Namun Dia akan segera ditinggalkan oleh murid-murid-Nya. Bahkan Petrus secara terang-terangan akan menyangkal Dia.

Yesus juga akan ditolak oleh Israel, umat pilihan Allah, yang melaluinya Dia datang sebagai manusia dan kepada mereka Dia datang sebagai Mesias, Penebus, dan Raja.

Selain penolakan tersebut, Dia juga akan menghadapi ketidakadilan. Dia pencipta keadilan akan menerima ketidakadilan terbesar manusia.

ia akan difitnah dan ditipu di pengadilan. Yesus menghadapi kesepian yang tidak dapat dialami oleh manusia lain.

Anak Allah, yang bersekutu dengan Bapa dan Roh Kudus dan dengan semua malaikat kudus di surga, akan mendapati diri-Nya ditinggalkan oleh Bapa-Nya ketika Ia menjadi dosa.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Yesus memberi tahu Petrus, Yakobus, dan Yohanes, “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya..”

Kata mau mati dari kata Yunani “Perilupos” artinya dukacita yang dalam. Dikelilingi oleh kesedihan. Kemungkinan mati karena kesedihan bisa saja terjadi.

Penderitaan Yesus sudah cukup untuk membunuh-Nya, tetapi Dia tidak akan mati karena kesedihan yang dalam..

Yesus sangat sedih atau berduka, sampai mau mati karena Ia harus menjadi dosa. Paulus mengatakan hal itu,

“Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah..” 1 Kor 5:21.

Kekudusan sepenuhnya ditolak oleh dosa. Nabi Habakuk mengungkapkan hal ini ketika dia menulis,

“Mata-Mu terlalu suci untuk melihat kejahatan dan Engkau tidak dapat memandang kelaliman.” Habakuk 1:13.

Dalam kesedihan yang mendalam itu Yesus tahu bahwa satu-satunya penghiburan-Nya adalah bersama Bapa surgawi-Nya..

Kemudian Yesus maju menjauh dari murid-murid-Nya untuk berdoa. Lukas 22:41 melaporkan, “kira-kira sepelempar batu jaraknya..” atau sekitar 30 meter.

Dalam doa Yesus mengatakan, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Disini Yesus berada pada puncak tekanan. Tenaga Yesus hampir habis. Dia hampir jatuh terkulai tak sadarkan diri. Sampai malaikat Sorga harus turun untuk memberi kekuatan kepada-Nya..

Lukas menggambarkan keadaan Yesus,

“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” Lukas 22:44.

Apa yang Yesus rasakan sangat tak tertahankan dan menyiksa, yang membuat Dia mengeluarkan banyak darah.

Karena beratnya tekanan, Yesus berkata, “jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku..”

Bisa saja Dia meninggalkan situasi itu dan tidak harus menaggungnya. Tetapi Dia menahan semuanya demi keselamatan manusia.

Bapa mengutus Anaknya ke kayu salib, namun Ia tidak memaksa-Nya untuk pergi.

Penderitaan karena menjadi dosa menjadi tidak tertahankan lagi bagi Anak Allah yang tidak berdosa..

Karena itu Dia bertanya-tanya di hadapan Bapa-Nya apakah ada cara lain untuk melepaskan manusia dari dosa.

Murka dan penghakiman Allah sering kali digambarkan dalam Perjanjian Lama sebagai cawan untuk diminum. (Mzm. 75:8; Yes. 51:17; Yer. 49:12).

Cawan ini melambangkan penderitaan yang akan ditanggung Yesus di kayu salib, cawan murka Allah yang melampiaskan segala dosa umat manusia, yang akan ditanggung oleh Yesus sebagai Anak Domba Allah yang dikorbankan.

Yesus ingin kalau bisa jangan Dia menanggung penderitaan ini. Tetapi Dia patuh kepada Bapa-Nya.

Disini pertentangan antara apa yang Aku (Yesus) kehendaki dan apa yang Engkau (Bapa) kehendaki mengungkapkan realitas fakta menakjubkan bahwa Yesus benar-benar sedang dicobai.

Meskipun tidak berbuat berdosa, Dia jelas dapat dibawa ke dalam konflik pencobaan yang nyata.

“..Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibr. 4:15.

Begitu berat tekanan yang Yesus rasakan untuk menyelamatkan kita. Bila kita sering masuk kedalam perasaan Yesus, tentu Yesus menjadi sangat berharga untuk kita..

Perasaan dan penderitaan kita kita menjadi tidak terlalu penting, karena penderitaan Yesus untuk kita jauh lebih penting.

Karena itu mari kita berterimakasih kepada Yesus. walau Dia dapat memilih meninggalkan Salib, tetapi Dia bertekad untuk berjalan terus hingga bukit Golgota..

Semua karena cintanya kepada kita. Kiranya kasih kita kepada Yesus semakin bertumbuh dan berkembang.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan