
Seperti Adam, Hawa adalah perempuan pertama yang diciptakan Allah. Ia juga istri pertama, dan ibu pertama.
Nama Hawa tidak diberikan pada waktu dia diciptakan.
Nama “Hawa” baru muncul setelah mereka jatuh ke dalam dosa. Agar mengerti siapa Hawa, kita perlu ikuti kisahnya berdasarkan urutan kronologis di Alkitab.
Karena kisahnya tidak dimulai dengan sebuah nama, tetapi dengan sebuah penciptaan.
Siapa Hawa?
Latar belakang Hawa diciptakan datang dari inisiatif Allah. Ketika semua diciptakan sempurna, termasuk manusia, Dia melihat ada yang tidak sempurna..
Tuhan melihat manusia tidak lengkap kalau hanya seorang diri.
Itu sebabnya dikatakan, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Ayat berikutnya menerangkan Allah membuat Adam tidur. Saat tidur nyenyak itu, Allah menciptakan perempuan dari tulang rusuk Adam.
Kata Ibrani yang digunakan sebenarnya tidak secara khusus berarti “rusuk.” Kata tersebut adalah tzela, yang berarti “sisi” atau bagian samping.
Artinya, perempuan diciptakan dari bagian tubuh Adam yang tidak disebutkan secara spesifik. Ia dibuat dari sisinya, tetapi teks tidak menjelaskan dengan tepat bagian mana dari sisi tersebut yang diambil.
Selain itu, yang diambil mencakup daging dan tulang, sebab Kejadian 2:23 menunjukkan bahwa terdapat daging yang melekat pada tulang.
Jadi, Allah mengambil sesuatu yang terdiri dari tulang dan daging dari sisi Adam. Kemudian: “…ditutup-Nyalah tempat itu dengan daging.”
Dengan demikian, setelah melakukan “operasi” tersebut, Allah langsung menutup dan memulihkan bagian tubuh Adam.
Penggunaan salah satu tulang rusuk Adam oleh Tuhan untuk menciptakan Hawa adalah pengingat bahwa perempuan diciptakan untuk berada “di samping” laki-laki.
Bersama-sama, laki-laki dan perempuan saling melengkapi dalam pernikahan, dan di dalam Kristus mereka adalah “ahli waris bersama dari kasih karunia hidup”
Para rabi memberikan sebuah alasan menarik mengapa Allah mengambil sesuatu dari sisi Adam dan bukan dari bagian tubuh lainnya untuk menciptakan perempuan.
Mereka mengatakan:
Allah tidak mengambil perempuan dari kepala Adam, supaya ia tidak menjadi sombong.
Bukan dari matanya, supaya ia tidak memiliki mata yang suka berkeliaran.
Bukan dari telinganya, supaya ia tidak ingin mendengar segala sesuatu.
Bukan dari mulutnya, supaya ia tidak terlalu banyak berbicara.
Bukan dari hatinya, supaya ia tidak menjadi iri.
Bukan dari tangannya, supaya ia tidak ingin menggenggam segala sesuatu.
Bukan dari kakinya, supaya ia tidak menjadi “liar” dan suka pergi ke mana-mana.
Karena itu, menurut gambaran rabinik tersebut, Allah mengambil sesuatu dari sisi Adam, bagian yang bahkan tidak terlihat ketika seorang laki-laki telanjang.
Selanjutnya, ketika Adam melihat perempuan itu, ia berkata: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.”
Intinya, Adam sadar Hawa diciptakan untuknya. Sebab dia pun menyadari ketidak sempurnaannya tanpa pasangan.
Keduanya kemudian menjadi satu daging. Artinya mereka menjalin hubungan yang akrab.
Pada awalnya ia disebut “perempuan”
Diayat 22, awalnya dia disebut ‘perempuan’ Ini penting untuk memahami kronologi namanya. Ketika perempuan itu pertama kali dibawa kepada Adam, Adam tidak mengatakan:
“Ini Hawa.” Ia berkata: “Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.”
Dalam bahasa Ibrani terdapat permainan kata antara ish (laki-laki) dan ishshah (perempuan).
Jadi, sebutan “perempuan” pada bagian ini terutama menjelaskan hubungannya dengan laki-laki dari mana ia diambil.
Ia adalah perempuan karena berasal dari laki-laki.
Dengan demikian, narasi tersebut menunjukkan bahwa perempuan dibuat dari laki-laki, diberikan kepada laki-laki, dan kemudian dinamai oleh laki-laki..
Fakta bahwa Adam memberikan nama menunjukkan adanya otoritas Adam atas perempuan.
Pandangan ini kemudian menghubungkan otoritas tersebut dengan keadaan sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa.
Dengan demikian, pada tahap awal kisah, Alkitab belum memberikan nama pribadi “Hawa” kepadanya.
Kapan ia mendapat nama Hawa?
Nama Hawa baru muncul setelah peristiwa kejatuhan. Urutannya penting untuk memahaminnya.
1. Adam dan perempuan itu hidup dalam taman Eden.
2. Ular datang dan mencobai perempuan itu.
3. Perempuan itu mengambil buah yang dilarang Allah dan memakannya.
4. Ia memberikan buah itu kepada Adam, dan Adam juga memakannya.
5. Mata mereka terbuka dan mereka menyadari bahwa mereka telanjang.
6. Mereka bersembunyi dari hadapan Allah.
7. Allah menyatakan konsekuensi dosa mereka.
Barulah setelah rangkaian peristiwa itu Adam memberikan nama kepada istrinya.
Kejadian 3:20 berkata: “Adapun manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.”
Jadi, secara kronologis: Perempuan → kejatuhan → penghakiman → Hawa.
Ini penting karena nama Hawa memiliki hubungan dengan apa yang akan terjadi setelah kejatuhan.
Apa arti nama Hawa?
Nama Hawa berkaitan dengan kehidupan atau yang memberikan kehidupan.
Ia disebut Hawa karena ia akan menjadi “ibu semua yang hidup”. Nama itu diberikan setelah dosa dan penghakiman.
Secara manusiawi, saat itu adalah saat yang paling gelap. Dosa telah masuk. Kematian telah diumumkan. Eden akan ditinggalkan.
Namun Adam tidak memberikan nama yang berbicara tentang kematian. Ia memberikan nama yang berbicara tentang kehidupan.
Mengapa? Karena kisah manusia belum berakhir.
Sebelum Adam memberikan nama Hawa, Allah telah menyampaikan sebuah janji dalam Kejadian 3:15: keturunan perempuan akan meremukkan kepala ular.
Dengan demikian, nama Hawa berdiri di tengah suasana penghakiman sekaligus pengharapan.
Ada kematian sebagai akibat dosa, tetapi juga ada kehidupan yang terus berlangsung dan janji keselamatan yang mulai dinyatakan.
Kronologi kehidupan Hawa
Untuk melihat kisah Hawa secara utuh, kita dapat menyusunnya seperti ini:
- Adam diciptakan
Allah membentuk manusia dari debu tanah dan memberikan napas kehidupan.
- Adam ditempatkan di Eden
Adam menerima tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman.
- Allah melihat Adam sendirian
Allah menyatakan bahwa tidak baik manusia seorang diri.
- Perempuan diciptakan dari Adam
Ia menjadi pasangan yang sepadan bagi Adam.
- Adam menyebutnya “perempuan”
Nama itu berkaitan dengan kenyataan bahwa ia diambil dari laki-laki.
- Adam dan perempuan hidup dalam Eden
Mereka hidup tanpa dosa dan tanpa rasa malu.
- Ular mencobai perempuan
Ular mempertanyakan firman Allah dan membujuknya untuk memakan buah yang dilarang.
- Perempuan memakan buah dan memberikannya kepada Adam
Keduanya jatuh ke dalam ketidaktaatan.
- Adam dan perempuan menyadari ketelanjangan mereka
Mereka membuat pakaian dari daun ara dan bersembunyi dari Allah.
- Allah menyatakan penghakiman
Dosa membawa konsekuensi bagi ular, perempuan, laki-laki, dan tanah.
- Allah memberikan janji tentang keturunan perempuan
Kejadian 3:15 menjadi titik penting dalam kisah keselamatan.
- Adam memberi nama istrinya Hawa
Nama itu menunjuk kepada kehidupan dan perannya sebagai ibu semua yang hidup.
- Adam dan Hawa meninggalkan Eden
Mereka tidak lagi hidup di taman seperti sebelumnya.
- Hawa menjadi ibu
Ia melahirkan Kain, kemudian Habel, dan kemudian Set serta anak-anak lainnya.
- Kain membunuh Habel
Tragedi dosa masuk semakin dalam ke dalam keluarga pertama manusia.
- Set lahir
Hawa melihat Set sebagai pemberian Allah menggantikan Habel yang telah dibunuh Kain.
Dengan urutan ini, kita dapat melihat bahwa nama Hawa sendiri muncul di tengah perubahan besar dalam sejarah manusia.
Apa yang terjadi dalam hidupnya?
Hawa pertama-tama hidup dalam keadaan yang sempurna. Ia diciptakan langsung oleh Allah.
Ia tidak lahir sebagai bayi, tidak memiliki masa kanak-kanak. Ia tidak memiliki ibu.
Ia langsung hadir sebagai perempuan dewasa yang dibentuk Allah dari Adam.
Ia hidup tanpa dosa. Tidak ada penyakit, kematian rasa malu. Tidak ada konflik. Tidak ada penderitaan.
Namun semuanya berubah ketika ular datang. Ular tidak langsung menyuruh Hawa melakukan kejahatan.
Ia mulai dengan mempertanyakan firman Allah. Hawa kemudian melihat buah iitu baik untuk dimakan.
Kemudian ia mengambilnya, memakannya. Dan ia memberikannya kepada Adam.
Dengan demikian, Hawa menjadi manusia pertama yang menyerah kepada pencobaan.
Hawa dan pakaian pertama manusia
Setelah mereka berdosa, Adam dan Hawa menyadari bahwa mereka telanjang. Mereka kemudian mengambil daun ara dan menjahitnya menjadi pakaian.
Ini adalah usaha pertama manusia untuk menutupi akibat dosa. Tetapi pakaian itu tidak dapat menyelesaikan persoalan mereka.
Mereka masih bersembunyi. Mereka masih takut. Mereka masih bersalah. Kemudian Allah menyediakan pakaian bagi mereka dari kulit.
Ada kontras yang kuat di sini: manusia mencoba menutupi dirinya sendiri, tetapi Allah menyediakan penutup.
Kejadian 3:21 mencatat bahwa Allah membuat pakaian dari kulit bagi Adam dan istrinya.
Apa pergumulannya?
Pergumulan Hawa adalah pergumulan untuk mempercayai firman Allah ketika suara lain terdengar lebih menarik.
Pencobaan yang dia hadapi datang secara bertahap, tidak sekaligus: melihat, menginginkan, mengambil, memakan.
Intinya, pencobaan tidak selalu tampil sebagai sesuatu yang jelas-jelas buruk. Kadang-kadang pencobaan tampil sebagai sesuatu yang terlihat baik.
Itulah sebabnya kisah Hawa sangat relevan untuk kita hari ini.
Bahwa apa yang terlihat baik belum tentu sesuai dengan kehendak Allah.
Apa yang terjadi setelah kejatuhan?
Kisah Hawa tidak berhenti ketika ia meninggalkan Eden. Justru bagian berikutnya menunjukkan betapa panjangnya akibat dosa.
Hawa menjadi seorang ibu. Anak pertamanya adalah Kain. Kemudian lahirlah Habel.
Kain menjadi seorang petani, sedangkan Habel menjadi seorang gembala. Namun Kain akhirnya membunuh Habel.
Hawa harus mengalami salah satu penderitaan terbesar yang dapat dialami seorang ibu: anaknya sendiri menjadi pembunuh, sementara anak lainnya menjadi korban.
Kemudian lahirlah Set.
Hawa melihat kelahiran Set sebagai pemberian Allah menggantikan Habel yang telah dibunuh Kain. Kisah ini menunjukkan bahwa dosa tidak berhenti pada satu tindakan.
Dosa masuk ke dalam hubungan manusia dan terus menghasilkan penderitaan.
Apa yang dapat kita pelajari?
- Nama Hawa adalah nama kehidupan di tengah dunia yang sudah jatuh
Nama itu diberikan setelah dosa. Namun namanya berbicara tentang kehidupan. Artinya, bahkan setelah kejatuhan, sejarah manusia belum berakhir. Allah masih bekerja.
- Pencobaan dimulai sebelum tindakan
Hawa pertama-tama mendengar suara ular. Kemudian ia melihat. Kemudian ia menginginkan. Barulah ia mengambil.
Karena itu, perjuangan melawan dosa tidak hanya terjadi pada saat kita melakukan sesuatu. Perjuangan itu juga terjadi ketika sebuah keinginan mulai tumbuh di dalam hati.
- Kita tidak boleh menyederhanakan kejatuhan dengan menyalahkan Hawa saja
Hawa memang memakan buah itu terlebih dahulu. Tetapi Adam juga mengambil dan memakannya.
Adam juga bertanggung jawab. Karena itu, kisah Kejadian 3 bukan sekadar kisah tentang “Hawa membuat Adam berdosa”.
Keduanya mengambil bagian dalam ketidaktaatan.
Dan dalam perkembangan teologi Alkitab, Paulus secara khusus menempatkan Adam sebagai manusia melalui siapa dosa masuk ke dalam dunia.
- Usaha manusia tidak dapat menyelesaikan dosa
Daun ara dapat menutupi tubuh. Tetapi tidak dapat menghapus dosa. Manusia dapat membuat alasan. Dapat menyalahkan orang lain.
Dapat berusaha membangun citra yang baik. Tetapi masalah dosa membutuhkan tindakan Allah.
- Kejatuhan bukan akhir dari pekerjaan Allah
Hawa jatuh. Tetapi ia tetap hidup. Ia menjadi ibu. Ia mengalami kehilangan. Namun ia juga menerima kehidupan baru.
Dan di tengah dunia yang telah rusak, Allah tetap melanjutkan rencana-Nya.
Apa yang Alkitab katakan?
Perjanjian Baru masih mengingat Hawa. Paulus menyebut bagaimana ular memperdaya Hawa dengan kelicikannya dalam 2 Korintus 11:3.
Ia juga menyebut Adam dan Hawa dalam 1 Timotius 2:13-14.
Namun bagian yang paling penting untuk melihat posisi Hawa dalam sejarah keselamatan adalah Kejadian 3:15.
Setelah manusia jatuh, Allah berfirman kepada ular:
“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Hawa adalah bagian dari awal kisah ini. Melalui kejatuhan, dosa masuk. Tetapi di tengah kejatuhan, Allah memberikan janji.
Karena itu, kisah Hawa mempunyai dua sisi.
Ia adalah perempuan yang pertama kali jatuh ke dalam dosa.
Tetapi ia juga perempuan yang hidup di dalam kisah yang mulai mengarah kepada kemenangan atas dosa.
Dari Hawa menuju Kristus
Kisah Hawa tidak berhenti pada Kejadian 3. Janji tentang keturunan perempuan terus bergerak melalui sejarah Alkitab.
Perjanjian Baru kemudian mengarahkan kita kepada Kristus sebagai pusat karya keselamatan. Karena itu, Hawa tidak boleh hanya diingat sebagai simbol kegagalan.
Ia adalah bagian dari sejarah yang membawa kita kepada pengharapan.
Perempuan pertama jatuh. Tetapi Allah memberikan janji. Manusia kehilangan Eden.
Tetapi Allah mulai membuka jalan menuju pemulihan. Kematian masuk.
Tetapi nama Hawa berbicara tentang kehidupan.
Dan di tengah penghakiman, Allah menyatakan bahwa ular pada akhirnya akan dikalahkan.
Hawa: perempuan yang jatuh, tetapi mendengar janji keselamatan
Hawa adalah perempuan pertama, istri pertama, ibu pertama.
Ia adalah manusia pertama yang menghadapi pencobaan, perempuan yang pertama kali jatuh ke dalam dosa.
Namun kisahnya tidak berakhir dengan kegagalan.
Setelah kejatuhan, ia menerima sebuah nama yang berbicara tentang kehidupan. Setelah dosa masuk, Allah memberikan janji.
Setelah Eden hilang, sejarah keselamatan terus berjalan.
Karena itu, kisah Hawa bukan hanya kisah tentang perempuan yang memakan buah terlarang.
Ini adalah kisah tentang manusia yang jatuh, tetapi Allah tetap melanjutkan rencana-Nya.
Dan mungkin inilah cara terbaik untuk mengingat Hawa:
Perempuan pertama yang jatuh, tetapi bukan perempuan tanpa pengharapan.










