Belajar Menjadi Penatalayan Kerajaan Allah

Mazmur 24:1 “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.”


Pendahuluan

Salam sejahtera untuk kita semua. Bulan ini kita akan mempelajari tentang penatalayanan.

Saya ingin bertanya dengan jujur. Ketika saya mengumumkan tema ini adalah Penatalayanan, berapa banyak yang langsung berpikir, ‘Waduh… pasti tentang uang lagi.’

Kalau itu yang muncul dalam pikiran kita, kita sedang melakukan kesalahan berpikir atau cacat logika. Kita telah mempersempit sesuatu yang sangat luas. Padahal Alkitab tidak pernah memulai penatalayanan dari uang. Alkitab memulainya dari Tuhan.”

Tetapi sebelum kita belajar, saya ingin lebih dahulu memperbaiki cacat logika atau istilah lain logical fallacy tentang penatalayanan. Agar kita bisa belajar dengan logika Alkitab yang sehat..

Karena ketika saya berkata, “Hari ini kita akan belajar tentang penatalayanan,” banyak jemaat langsung menyimpulkan, “Oh… pasti tentang persembahan lagi.” itu adalah sebuah lompatan logika.

Penatalayanan jauh lebih luas daripada uang.

Uang itu hanya secuil dari penatalayanan. Itu bicara tentang tubuh, waktu, talenta, injil, keluarga, pekerjaan, harta, dan utamanya adalah tentang Tuhan.

Cacat logika lainnya, “Dulu ada pendeta berkhotbah tentang penatalayanan, ujung-ujungnya minta persembahan pembangunan.”

Lalu muncul kesimpulan: “Semua khotbah penatalayanan pasti soal uang.”

Ini sama seperti berkata: “Saya pernah makan di satu restoran yang tidak enak. Berarti semua restoran tidak enak.”

Cacat logikan lainnya, Pendeta berkata, “Kita harus menjadi penatalayan yang baik.” Yang didengar jemaat: “Pendeta ingin uang saya.” Padahal pendeta tidak mengatakan itu.

Cacat logika lainnya, Penatalayanan dikurangi menjadi satu aspek saja. Padahal Alkitab berbicara tentang seluruh hidup.

Kalau seorang dokter berkata, “Anda harus menjaga kesehatan.” Lalu pasien menjawab, “Oh… berarti saya harus minum vitamin.”

Salah. Kesehatan mencakup tidur, olahraga, makanan, pikiran, dan banyak hal lainnya. Demikian pula penatalayanan. Mencakup semua aspek hidup kita. Mari kita berdoa..


“Surat Pengosongan Rumah”

Ada seorang pekerja berusia enam puluh lima tahun. Selama tiga puluh lima tahun ia tinggal di sebuah rumah yang indah. Di rumah itu anak-anaknya lahir, tumbuh dewasa.

Suatu pagi…Seorang petugas PJKA datang membawa surat. Isinya singkat.

“Terima kasih telah menempati rumah dinas ini selama tiga puluh lima tahun. Karena masa tugas Anda telah berakhir, mohon rumah ini dikosongkan dalam waktu tiga puluh hari.”

Membaca surat itu, pria itu menangis. Bukan karena suratnya salah. Tetapi karena selama bertahun-tahun… ia lupa. Rumah itu tidak pernah menjadi miliknya. Ia hanya menempatinya.


Dunia Mengajarkan Kepemilikan

Sejak kecil kita diajarkan satu kata. “Milikku.” Anak kecil berkata, “Itu mainanku.” Orang dewasa berkata, “Itu rumahku.” “Itu mobilku.” “Itu rekeningku.” “Itu tubuhku.” “Itu waktuku.” “Itu karierku.” Bahkan kita berkata, “Itu hidupku.”

Nah, disini ada beberapa cacat logika yang dapat kita lihat. Pertama, “Saya bekerja keras, jadi ini milik saya.”

Logika yang dipakai: “Saya yang bangun pagi.” “Saya yang lembur.” “Saya yang mengambil risiko.” “Saya yang mendapat keuntungan.” “Jadi ini milik saya.”

Sekilas logika ini masuk akal. Tetapi ada satu kebenaran yang hilang. Kita hanya menghitung usaha kita, tetapi melupakan anugerah Allah.

Siapa yang memberi napas sehingga Anda bisa bekerja? Siapa yang memberi kesehatan? Siapa yang memberi kemampuan berpikir? Siapa yang memberi waktu?

Siapa yang membuka pintu pekerjaan? Siapa yang membuat matahari terbit sehingga sawah bisa menghasilkan panen?

Benar kita yang berusaha. Sekuat tenaga. Tetapi usaha kita berdiri di atas ribuan pemberian Allah. Tanpa pemberian itu, usaha kita sia-sia..

Itu sebabnya Ulangan 8:17-18 berkata,

“Jangan sampai engkau berkata dalam hatimu: Kuasaku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan.”

Jadi bekerja keras bukan alasan untuk mengesampaingkan Tuhan. Justru bekerja keras adalah salah satu cara kita menggunakan kekuatan yang Tuhan titipkan.

Ilustrasi

Seorang petani berkata, “Saya yang bekerja keras.” Benar. Tetapi apakah ia bisa memerintahkan hujan turun? Bisakah ia menyuruh benih bertumbuh? Bisakah ia menciptakan sinar matahari?

Petani itu mengolah tanah. Tetapi Allah yang memberi kehidupan. Itu sebabnya Paulus berkata, 1 Korintus 3:6-7 “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”

Cacat pikir yang lain, “Karena saya menghasilkan uang, maka uang itu sepenuhnya milik saya. Padahal dalam Alkitab, memperoleh bukan berarti memiliki secara mutlak.

Misalnya seorang manajer perusahaan menerima gaji. Uang itu memang menjadi haknya.

Tetapi kemampuan memperoleh gaji itu berasal dari kesempatan, kemampuan, dan banyak faktor di luar dirinya. Demikian pula seluruh hidup kita adalah pemberian Allah.

Ilustrasi yang Sangat Kuat

Mari kita bayangkan seorang anak berusia sepuluh tahun. Ayahnya memberi uang Rp100.000 untuk membeli bahan membuat kue. Ayah juga menyediakan dapur.

Menyediakan oven. Menyediakan listrik. Menyediakan resep.

Anak itu membuat kue. Lalu berhasil menjualnya seharga Rp200.000. Kemudian ia berkata kepada ayahnya, “Ini semua hasil usaha ku. Tidak ada hubungannya dengan Ayah.”

Apakah itu benar? tentu saja Tidak. Anak itu memang bekerja. Tetapi ketika ia bekerja, ia menggunakan semua sarana yang disediakan ayahnya.

Bukankah itu juga gambaran hidup kita? Kita memang bekerja, dengan tubuh yang Tuhan beri.

Dengan otak yang Tuhan ciptakan. Dengan waktu yang Tuhan sediakan. Dengan kesempatan yang Tuhan buka. Dengan dunia yang Tuhan sediakan..

Poinnya, kita bekerja diatas semua anugerah yang Tuhan sediakan.

Karena itu, ketika kita berkata, “Ini milikku karena aku yang bekerja,” kita sedang lupa bahwa pekerjaan kita sendiri adalah karena anugerah Allah.

Jadi, Bekerja keras tidak menjadikan kita pemilik. Bekerja keras menunjukkan bahwa kita sedang mengelola apa yang telah lebih dahulu dipercayakan Allah kepada kita.”

Maka untukmemperbaiki logika berpikir kita, maka Allah dalam Mazmur 24, berkata,

“Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.”


Mengapa Semua Milik Allah?

Karena Dia yang menciptakan. Otomatis Dia pemiliknya. Kita pengelolanya.

Kejadian 2:15 “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”

Perhatikan. Allah tidak memberikan taman itu kepada Adam. Adam diminta mengelolanya. Jadi Sejak awal, manusia adalah penatalayan. Tuhan pemiliknya..

Mazmur 50:10-12 “Sebab punya-Kulah segala binatang hutan…” Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Ku lah dunia dan segala isinya.

Allah tidak membutuhkan apa pun dari kita karena semuanya sudah menjadi milik-Nya.

Hagai 2:8 “Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas…” Bahkan harta yang kita anggap milik pribadi sesungguhnya berasal dari Tuhan.

1 Tawarikh 29:11-14 “Sebab segala-galanya berasal dari pada-Mu…” Daud mengakui bahwa bahkan persembahan yang ia berikan berasal dari Tuhan.

Poinnya, Kita dipercaya. Bukan memiliki.


Dosa Mengubah Penatalayan Menjadi Pemilik

Dan itu adalah masalah terbesar kita, ingin menjadi pemilik. Di taman Eden, Godaan terbesar bukan buahnya. Tetapi keinginan menjadi seperti Allah. “Kamu akan menjadi seperti Allah.”

Sejak saat itu manusia ingin menentukan sendiri hidupnya.. Mengatur hidup sendiri.

Menggunakan waktu sendiri. Menghabiskan uang sendiri. Menjalani hidup sendiri.

Inilah akar dosa. Dan tidak sekedar pelanggaran dosa, Tetapi usaha merebut posisi Sang Raja.

Roma 1:25 “Mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja serta menyembah makhluk…” Dosa membuat manusia memindahkan pusat hidupnya dari Allah kepada diri sendiri.

Yesaya 53:6 “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing mengambil jalannya sendiri.”

Inilah akar dosa yaitu ketika, “Aku menentukan jalanku sendiri.”


Yesus Datang Mengembalikan Kerajaan

Ketika Yesus mulai memberitakan Injil, kalimat pertama-Nya adalah, “Kerajaan Allah sudah dekat.” Markus 1:14-15

Yesus datang membawa Kerajaan Allah. Mengapa? Karena manusia telah memberontak terhadap Rajanya. Kita hidup di wilayah kekuasaan Allah, tetapi kita ingin memerintah diri sendiri.

Karena itu Yesus datang bukan saja mengampuni dosa kita, Tetapi memulihkan pemerintahan Allah dalam hidup kita.

Kolose 1:13-14 “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya…”

Salib mengembalikan kita menjadi warga Kerajaan. Agar kita tidak lagi berkata, “Ini milikku.” Kita akan berkata, “Ini milik Rajaku.”


Klimaks

Raja yang Memberikan Diri-Nya

Kita tiba dibagian akhir, Inilah yang mengharukan. Raja segala raja tidak datang untuk mengambil apa yang dipercayakan kepada kita..

Ia datang untuk memberi. Ia menyerahkan tubuh-Nya. Menumpahkan darah-Nya. Memberikan nyawa-Nya.

Raja memberikan diri-Nya agar para pemberontak dapat kembali menjadi keluarga-Nya. Kalau Raja telah memberikan segalanya bagi kita, masihkah kita berkata, “Hidupku milikku?”

1 Korintus 6:19-20 “…kamu bukan milik kamu sendiri, sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar.” Kalimat ini mengubah seluruh cara kita memandang hidup.

1 Petrus 1:18-19 Kita ditebus bukan dengan emas atau perak. Tetapi dengan darah Kristus.

2 Korintus 5:15 Kristus mati supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri.

Yesus tidak sekadar menyelamatkan kita dari maut. Ia membeli kembali hidup kita.


Aplikasi

Kalau semua milik Raja, maka minggu-minggu berikutnya kita akan belajar tentang empat titipan besar yang Tuhan percayakan kepada kita.

  1. Tubuh Tubuh ini bukan milik kita. Tubuh ini bait Roh Kudus.
  2. Waktu Setiap hari adalah pemberian Raja. Tidak ada satu detik pun yang benar-benar milik kita.
  3. Harta Uang bukan tujuan. Uang adalah alat Kerajaan.
  4. Talenta Kemampuan bukan kebetulan. Semuanya adalah investasi Allah untuk pekerjaan-Nya.

Penutup

Bayangkan suatu hari kita berdiri di hadapan Kristus. Mungkin Tuhan tidak akan bertanya,

Berapa luas rumahmu?” “Berapa besar tabunganmu?” “Berapa tinggi jabatanmu?”

Mungkin pertanyaan-Nya jauh lebih sederhana. “Apa yang engkau lakukan dengan apa yang Kupercayakan kepadamu?”

1 Tawarikh 29:14 “Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.”

Inilah pengakuan seorang penatalayan sejati. Ia tidak berkata, “Aku memberi kepada Tuhan.”

Ia berkata, “Aku hanya mengembalikan kepada Tuhan apa yang berasal dari Tuhan.”

Pada hari itu kita akan menyadari satu kebenaran yang sejak awal dinyatakan oleh Mazmur 24.

Kita tidak pernah menjadi pemilik.

Kita hanyalah penatalayan.

Dan penatalayan yang setia bukanlah orang yang memiliki paling banyak, tetapi orang yang hidup setiap hari dengan satu pengakuan:

“Ya Tuhan, semuanya berasal dari-Mu, semuanya milik-Mu, dan semuanya kupersembahkan kembali untuk kemuliaan-Mu.”


“Tubuh ini milik Raja. Waktu ini milik Raja. Harta ini milik Raja. Talenta ini milik Raja. Sebab hidupku pun adalah milik Raja.”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *