
UANG DARAH YUDAS
“Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua” Matius 27:4-5
MELUAP. Tidak tertahankan lagi. Seperti tanggul jebol. Emosi Yudas jebol. Dia yang tadinyaa meringkuk. Diam. Tiba-tiba berdiri ditengah hiruk pikuk pengadilan…
Dia menarik perhatian orang-orang kepadanya. Ditangannya dia genggaam uang hasil penjualan Yesus.
Dalam penderitaan batin yang berat, sambil mengangkat uang tersebut dan berjalan kearah imam kepala dan tua-tua, ia mengembalikan uang tersebut..
Ia berkata, “ini ambil uangmu..saya tidak mau uang ini..”
Dia menunjukkan kesedihan dan rasa bersalahnya. Tetapi itu bukan kesedihan sejati. Kenyataannya, ia tidak melakukan upaya apa pun untuk membela atau menyelamatkan Yesus.
Dia mengembalikan uang itu hanya untuk menenangkan nuraninya saja. Dia tidak mempunyai keinginan untuk menyelamatkan Yesus..
Sementara beberapa pemimpin agama Yahudi membawa Yesus ke Pilatus, yang lainnya tetap berada di Bait Suci.
Sementara orang-orang mulai bubar meninggalkan ruang sidang. Yudas merasa bahwa permohonannya diabaikan.
Sambil berteriak kepada mereka ia berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.”
Ia mengakui bahwa ia telah berdosa dengan mengkhianati orang yang tidak bersalah.
Seandainya dia memikirkan pengampunan atas dosanya dan benar-benar percaya kepada Tuhan, dia pasti akan menghampiri Yesus, bukan imam kepala dan tua-tua.
Mengapa Yudas mengembalikan uang tersebut? Karena dia berharap bisa meredakan rasa bersalahnya hanya dengan mengembalikan uang darahnya.
Seperti Pilatus, yang mengakui Yesus tidak bersalah namun tetap mengizinkan kematian-Nya..
Yudas tahu bahwa ia telah mengkhianati darah orang yang tidak bersalah, namun ia tidak membela Kristus atau meminta pengampunan-Nya.
Benar kata Yudas, Yesus tidak bersalah. Pemimpin agama Yahudi, para pemimpin politik Romawi, para saksi palsu, dan bahkan para setan, tidak dapat menemukan kesalahan apa pun pada Yesus.
Namun terlepas dari pengakuannya, Yudas tidak berubah pikiran tentang siapa Yesus atau tentang kebutuhannya akan keselamatan.
Dia sadar perbuatannya jahat, tetapi hanya ingin bebas dari rasa bersalah. Tidak ingin mengambil Yesus sebagai juruslamat dan pengampun dosanya..
Uang yang sangat ia inginkan kini terbakar di tangannya seperti batu bara hidup. Uang dari hasil kejahatan tidak membawa berkat.
Dosa tidak pernah memberikan kepuasan yang dijanjikannya. Alih-alih kebahagiaan, dosa mendatangkan kesedihan, dan alih-alih kesenangan, hal itu menghasilkan penderitaan..
Rasa bersalah, sakit karena dosa tidak dapat dihilangkan kecuali dengan rahmat dan pengampunan Tuhan..
Yudas tidak mencarinya. Dia menyesali dosanya, tetapi tidak dapat kepada sumber rahmat dan pengampunan..
Para imam kepala dan tua-tua dengan tidak berperasaan menjawab Yudas, “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!”
Yudas kemungkinan besar menyadari bahwa ia dikutuk, karena hukum Musa dengan jelas menyatakan bahwa
“Terkutuklah orang yang menerima suap untuk membunuh seseorang yang tidak bersalah.” (Ul. 27:25).
Namun karena Sanhedrin yang telah menyuap Yudas, mereka sulit mendakwa dan menghukum Yudas karena menerima suap tersebut..
Mendengar jawaban imam kepala dan tua-tua, Yudas kesal dan mungkin marah..
Maka dalam keputusasaan dan frustrasi yang luar biasa, Yudas melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci. Uang itu berdenting dan berserakan dilantai..
Yudas pergi meninggalkan tempat itu. Entah kemana dia pergi..
Beberapa penafsir mengatakan bahwa uang itu dimasukkan ke dalam perbendaharaan Bait Suci, yang menunjukkan bahwa tindakan Yudas adalah suatu bentuk amal.
Namun kata naos (tempat suci) merujuk secara spesifik pada tempat suci dibagian dalam Bait Suci, di mana hanya para imam saja yang boleh memasukinya.
Yudas sengaja melemparkan uang itu ke tempat yang hanya bisa diambil oleh para imam. Dia tidak membuangnya ke sana karena alasan amal tetapi karena dendam..
Ia Ingin agar mereka merasa bersalah dan memaksa para imam kepala untuk menangani sendiri uang darah itu lagi.
Matius melaporkan, Yudas pergi menggantung diri. Dia mengeksekusi dirinya sendiri dengan hukuman mati..
Mengapa Yudas sampai harus bunuh diri? Tentu menarik untuk diselidiki..
Poinnya, Yudas berdosa. Mengkhianati gurunya. Menjual gurunya dengan harga murah. Kejahatannya walau besar, Tuhan dapat mengampuninya..
Rasa bersalahnya tidak menuntun dia bertobat dan mencari pengampunan Tuhan. Yudas hanya mencari kebebasan dari rasa bersalah..
Dia pikir dengan mengembalikan uang itu, dia bebas. Tetapi dia semakin putus asa dan akhirnya bunuh diri..
Saat kita berbuat dosa, rasa bersalah itu harus menuntun kita kepada rahmat Tuhan. Pengampunan Tuhan lah satu-satunya yang dapat membebaskan kita..
“Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!” Mazmur 32:1.




