
Membela Yesus dengan cara yang salah: Putusnya telinga Malkhus
“…Maka majulah mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya.
Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.
Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang. Matius 26:50-52
TANDA YUDAS, mencium Yesus. Ciuman palsu dan menjijikkan. Kode bahwa Dialah orang yang akan ditangkap. Mereka maju memegangi tangan Yesus. Menangkapnya.
Para murid emosi dan geram. Ingin membela guru mereka. Mereka bertanya kepada Yesus, “Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?” Lukas 22:49
Mereka pasti kalah. Jumlah musuh lebih banyak. Hampir seribu orang.
Yesus bisa saja menghilang tiba-tiba dari hadapan mereka, atau dia menggunakan kuasa Ilahi-Nya dan mereka semua terhempas ketanah dalam satu gerakan atau perkataan..
Yesus membiarkan diri-Nya ditangkap. Supaya dia bisa mati.
Saat murid bertanya, boleh kah kami menyerang? Tanpa basa-basi, secepat kilat Petrus yang sedang marah, secara spontan melakukan pembelaan, menyerang salah seorang dari mereka dengan padang..
Pedang Petrus yang terhunus, tepat mengenai teliga kanan hamba seorang imam besar. Namanya Malkhus. Sampai Putus. Darah mengucur dengan deras..
Kemungkinan hamba ini salah seorang yang ditugaskan menangkap Yesus..
Hamba itu memegangi bagian telinganya yang berdarah. Menjerit kesakitan. Sakit sekali rasanya. Mungkin saja Petrus hampir diserbu. Mereka ingin melakukan pembalasan kepada Petrus..
Petrus sudah siap bila terjadi perkelahian. Dia sudah siap membunuh banyak orang, sekali pun akhirnya dia terbunuh..
Mungkin dia berasumsi bahwa dirinya tidak terkalahkan, dan berpikir bahwa Yesus tidak akan membiarkan diri-Nya atau murid-murid-Nya disakiti.
Namun situasi yang genting saat itu masah dapat dikendalikan. Yesus dengan tenang mengingatkan Petrus..
“Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.”
Yesus memberitahukan kembali, “bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?” (Yohanes 18:11).
Artinya, dia harus mati. Jadi tidak perlu melakukan perlawanan. Sebab kalau mengajak mereka perang, maka misi Yesus akan gagal.
Petrus mundur. Emosinya sedikit reda. Dia ingin menjadi pahlawan malam itu. Sesuai komitmennya dihari sebelumnya, siap mati demi Yesus..
Petrus berpikir bahwa Yesus lemah tidak dapat melepaskan diri-Nya, maka perlu pembelaan darinya. Yesus mengoreksi pikiran Petrus..
Yesus berkata, “ ..kausangka, bahwa Aku tidak dapat berseru kepada Bapa-Ku, supaya Ia segera mengirim lebih dari dua belas pasukan malaikat membantu Aku?”
Dengan kata lain, Yesus mengingatkan petrus dan orang banyak, bahwa Dia dapat melepaskan diri dari upaya penangkapan mereka..
Tetapi Dia tidak melakukan itu, supaya nubuatan kitab suci digenapi..
“Bagaimanakah akan digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci, yang mengatakan, bahwa harus terjadi demikian?”
Setelah Yesus menerangkan mengapa Dia tidak meloloskan diri, Dia segera membungkuk, mengambil daun telinga Malkhus yang menggelinding ditanah..
Sedikit dibersihkan. Yesus menempatkan kembali dibagian teliga kanan. Sembuh. Telinga itu kembali normal.
Yesus tidak mengijinkan para murid-Nya melakukan kekerasan, sekali pun mereka harus menerima kekerasan.
Gereja tidak pernah mencapai kemajuan melalui peperangan fisik. Sebab setiap kali gereja mencoba dengan kekerasan fisik, maka gereja akan gagal mencapai misi-Nya.
Tidak ada perang suci. Setiap peperangan yang dilakukan atas nama Kristus sangatlah tidak suci, bertentangan dan meremehkan segala sesuatu yang diajarkan oleh Firman-Nya.
Kerajaan Allah tidak berkembamg dengan senjata manusia atau strategi manusia. Ini adalah arena pertempuran rohani, bukan perang fisik..
Yesus memberikan dua alasan penting mengapa penggunaan senjata fisik tidak dapat digunakan untuk mempertahankan, apalagi memperluas kerajaan-Nya.
Pertama-tama, melakukan hal itu berakibat fatal. Mereka yang melakukan tindakan kekerasan untuk mencapai tujuan pribadi akan menghadapi hukuman dari otoritas sipil..
Pedang merupakan alat eksekusi yang umum di dunia kuno.
Yesus menegaskan kembali standar ilahi yang ditetapkan dalam kejadian 9:6,
“Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.”
Untuk menjaga kesucian hidup manusia, Tuhan menyatakan bahwa siapa pun yang secara sembarangan mengambil nyawa orang lain akan dikenakan hukuman mati.
Allah telah memberikan hak kepada pemerintah manusia untuk mengeksekusi para pembunuh. Maka kita tidak boleh main hakim sendiri..
“..karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat.” Roma 13:4
Rasul Paulus menetapkan standar ini kepada dirinya sendiri..
“Jadi, jika aku benar-benar bersalah dan berbuat sesuatu kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati, aku rela mati..” Kisah 25:11.
Saat menyuruh Petrus untuk menaruh pedangnya kembali ke tempatnya, Yesus sebenarnya sedang berkata,
“Tidak peduli betapa jahat dan tidak adilnya penangkapanku, kamu tidak berhak mengambil tindakan main hakim sendiri..
Jika kamu mengambil nyawa saat melakukan itu, nyawamu sendiri akan hangus sebagai hukuman.”
Penangkapan Yesus dan persidangan berikutnya jelas tidak adil, namun tetap dilakukan dalam kerangka sistem hukum pada saat itu.
Meskipun Sanhedrin menjalankan kekuasaannya hanya dengan izin Roma, Sanhedrin adalah badan pemerintahan sipil dan agama di Israel. Pilatus adalah gubernur Romawi yang ditunjuk.
Maksud Yesus adalah bahwa tindakan kekerasan yang dilakukan secara pribadi terhadap badan pemerintahan, walau pun mereka tidak adil adalah tindakan yang salah.
Hanya Allah yang berdaulat mengatur pemerintahan manusia, seperti yang sering Dia lakukan sepanjang sejarah..
Poinnya, Yesus melarang tindakan main hakim sendiri apalagi dengan kekerasan. Kita harus membiarkan sistem hukum yang diatur pemerintah sipil untuk bekerja..
Sekalipun sistem tersebut sering tidak berjalan adil bahkan sering manipulatif, kita harus mempercayakan kepada penegak hukum yang ada..
Kekerasan akan melahirkan kekerasan lainnya dan akan terjadi pembalasan yang tidak akan berhenti..
Mari mencapai Tujuan Tuhan dengan kelemahlembutan, walau kita harus menerima kekerasan dari orang lain..








