“Karena jika kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.” (1 Tesalonika 4:14)

Saya sudah tidak ingat lagi semua pesan-pesannya. Kecuali yang satu ini. Kalimat yang tidak pernah bisa saya lupakan.

Pesanya itu tidak panjang. Pendek saja.

Bukan pula sebuah khotbah panjang 30 menit.

Bukan pula nasihat yang bertele-tele, sampai harus ngantuk-ngantuk mendengarnya.

Pesan yang hanya beberapa kata, yang diucapkan dengan suara yang sangat pelan.

Namun, pesan itu begitu kuat, tidak terlupakan hingga hari ini, walau sudah puluhan tahun berlalu.

Kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga saya sampai sekarang.

“Sampai bertemu dalam Kerajaan Surga ketika Yesus datang.”

Itulah kalimatnya…


Ketika itu tahun 1993. Kami tinggal di sebuah kota kecil di Siborong-borong, Sumatera Utara. Kota yang dingin cuacanya. Dikenal kota ombus. Jajanan khas disana.

Sepeti kota-kota kecil khas Sumatra utaran, fasilitas public seperti kesehatan masih sangat terbatas.

Rumah sakit berada sekitar satu jam perjalanan dari rumah kami. Sekarang sudah ada. milik Yayasan Katolik. Tidak terlalu besar.

Klinik juga sudah mulai banyak. Dokter-dokter juga sudah ada.

Tidak seperti masa itu, dokter jarang.

Ketika seseorang sakit berat, keluarga hanya bisa berusaha semampunya, mengandalkan ramuan-ramuan tradisional dan berharap keadaan segera membaik.

Satu-satunya petugas medis adalah Mantri. Kalau sakit, kita memanggil Mantri kerumahnya sambil berlari-lari.

Suatu hari, Ayah saya jatuh sakit. Namun dilain waktu seperti sudah sembuh. Di hari lainya muncul lagi. begitu seterusnya.

Sampai hari ini saya tidak pernah benar-benar tahu penyakit apa yang menyerangnya.

Hari demi hari tubuhnya semakin lemah.

Padahal sebelumnya ia dikenal sebagai pribadi yang rajin bekerja. Ia adalah seorang ayah yang tidak pernah malas mencari nafkah.

Dengan gerobahknya dia setiap pagi pergi berjualan makanan. Sore hari baru pulang.

Di tengah kesibukannya, ia tetap setia beribadah dan melayani Tuhan.

Bagi kami, ia bukan hanya kepala keluarga, tetapi juga teladan iman. Setiap subuh dia membangunkan kami untuk renungan pagi. Pun di malam hari.

Digereja melayani sebagai bendahara cukup lama. Berkotbah. Mengajar. Menginjil adalah kesukaannya.

Saat itu kami tujuh bersaudara.

Anak yang paling besar masih duduk di bangku SMA.

Yang paling kecil baru berusia sekitar tiga tahun.

Masa depan kami masih panjang. Kami masih sangat membutuhkan seorang ayah. Terlebih lagi dia punya harapan agar dimasa depan saya menjadi pendeta. Dan dia ingin melihatnya.

Namun, rencana Tuhan sering kali berbeda dengan harapan manusia. Pun bagi ayah saya.

Memang dalam seminggu belakangan, dia terlihat banyak terbaring ditempat tidur.

Malam itu, hari Rabu menjelang tengah malam, keadaan ayah semakin kritis.

Kabar itu cepat menyebar.

Satu demi satu keluarga dan tetangga datang memenuhi rumah kami.

Suasana begitu sunyi. Tidak ada lagi percakapan yang panjang. Semua orang hanya menunggu. Berdoa dan sesekali berbisik-bisik.

Di dalam kamar, ayah terbaring lemah.

Kami, anak-anaknya, duduk mengelilinginya ditempat tidurnya.

Saya masih dapat mengingat wajahnya.

Matanya memandang kami satu per satu tak berkedip.

Tatapan itu penuh kasih

Penuh kerinduan.

Dan penuh air mata.

Seolah-olah ia sedang menyimpan begitu banyak hal yang ingin disampaikan kepada kami.

Sebagai seorang ayah, ia ingin melihat kami bertumbuh dewasa. Namun penyakit membatasinya.

Ia ingin mengantar kami menyelesaikan sekolah hingga perguruan tinggi.

Ia ingin menyaksikan kami menikah dan memiliki keluarga.

Tetapi tubuhnya tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengucapkan semua itu.

Dengan sisa tenaga yang ada, bibirnya bergerak perlahan.

Kami semua mendekat, berusaha mendengar setiap kata yang akan diucapkannya.

Lalu keluarlah kalimat yang menjadi warisan iman bagi kami.

“Sampai bertemu dalam Kerajaan Surga ketika Yesus datang…”

Beberapa saat kemudian…

Ayah mengembuskan napas terakhirnya. Dia beristirahat dalam Yesus.

Malam itu, kami kehilangan seorang ayah, yang menjadi sumber utama pencari nafkah keluarga. Kami kehilangan pemimpin keluarga yang selama ini menuntun hidup kami..

Namun kami juga menerima sebuah pesan yang jauh lebih berharga daripada harta apa pun.

Kami kehilangan seorang ayah, namun tidak benar-benar kehilangannya, karena ada Bapa di Sorga yang jauh lebih baik dari semuanya.


Dulu saya mengira kalimat itu hanyalah ucapan perpisahan biasa yang umum diucapkan.

Namun sekarang saya mengerti.

Kalimat itu adalah sebuah pengakuan iman.

Di saat banyak orang mungkin memikirkan harta, rumah, atau warisan, ayah justru mengarahkan pandangan kami kepada pengharapan terbesar orang percaya.

Ia tidak berkata, “Jangan lupakan Ayah.”

Ia tidak berkata, “Jagalah rumah ini.”

Ia juga tidak berkata, “Teruskan pekerjaan Ayah.”

Kalimat terakhirnya menunjuk kepada Kristus dan kepada hari kedatangan-Nya yang kedua kali, yang tidak lama lagi.

Ayah ingin kami tahu bahwa kematian bukanlah akhir dari segalanya. Itu bukan kiamat.

Perpisahan itu hanya sementara.

Akan ada pertemuan kembali pada hari ketika sangkakala Allah akan berbunyi. Orang-orang yang mati di dalam Kristus akan dibangkitkan, dan semua orang percaya akan dipertemukan kembali bersama Tuhan untuk selama-lamanya (Baca 1 Tesalonika 4:13-18).

Sejak malam itu, setiap kali saya merindukan ayah, saya teringat akan kalimat terakhirnya.

Kerinduan itu memang belum hilang. Dan mungkin tidak akan hilang..

Namun kerinduan itu kini ditemani oleh pengharapan kedatangan Yesus kedua kali.

Saya percaya, jika kami tetap setia berjalan bersama Kristus setiap hari, maka perpisahan di kamar sederhana itu bukanlah perpisahan yang terakhir.

Akan ada sebuah pertemuan yang tidak lagi diakhiri dengan air mata.

Disana tidak ada lagi rumah duka.

Tidak ada lagi penyakit.

Tidak ada lagi kematian.

Yang ada hanyalah sukacita kekal bersama Yesus.


Mungkin hari ini Anda juga sedang merindukan seseorang yang telah mendahului Anda. Boleh jadi itu adalah:

Ayah..Ibu..Suami..Istri..Anak Atau sahabat.

Kesedihan itu nyata dan dekat kepada kita, dan Tuhan melihat setiap air mata Anda. Itu adalah bahasa yang Tuhan mengerti.

Karena itu, jangan biarkan kesedihan mengalahkan pengharapan kita.

Jika orang yang kita kasihi meninggal di dalam Kristus, dan kalau kita setia kepada-Nya, maka suatu hari nanti akan ada pertemuan yang jauh lebih indah daripada perpisahan mana pun di dunia ini.

Karena bagi orang percaya, kata “selamat tinggal” bukanlah akhir.

Yang ada adalah janji yang penuh pengharapan:

“Sampai bertemu dalam Kerajaan Surga ketika Yesus datang.”

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *