Refleksi Menjelang Paskah : “Jangan Berubah” Matius 17 : 22-23

Oleh: Marlen Bauronga

“Jangan Berubah” dapat digaris bawahi kata berubah dalam artian sesuatu yang stabil beralih menjadi tidak stabil atau sebaliknya.

Menurut KBBI menjadi lain (berbeda) dari semula. Namun, yang menjadi titik fokus kita bukan kepada stabil dan tidak stabilnya maupun berbeda dan tidaknya akan tetapi penyebab dari pada itu?

Kata penyebab yang menjadi titik fokus kita agar memudahkan kita untuk memahami kenapa berubah?

Misalnya kita sudah berkawan lawan tiba-tiba sikapnya menjadi dingin, telah membatasi diri dari segala aktivitas yang ada.

Kejadian semacam tidak membuat kita tergesa-gesa menyimpulkan tetapi mentelusuri penyebabnya.

Ketika melihat tema secara menyeluruh “ Jangan Berubah” Kata awal menujukan larangan yang mengarahkan kepada kita bahwa akan ada kondisi yang menjadi penyebab untuk kita berubah.

Oleh sebab itu kita perlu mengetahui secara menyeluruh kondisi-kondisi yang akan diperhadapkan kepada kita, agar larangan semacam ini mampu kita cerna berdasarkan dengan kondisi yang ada.

Penjelasan demikian memicu kita untuk berpikir bahwa ada hal mendasar yang perlu kita perhatikan dari tema tersebut.

• Mengetahui akar penyebab berubah?

• Memahami kondisi-kondisi yang diperhadapkan?

Mengetahui penyebab dan memahami kondisi yang ada akan membantu kita menentukan posisi kita sebagai orang yang percaya kepada Yesus.

Sejanak memperhatikan perjalanan Yesus bahwa awal mula Yesus berada di ruang publik dan menyatakan dirinya ketika Ia menginjakan kaki di Galilea.

Yesus memulai Pelayanan-Nya dengan melakukan hal-hal takjub yang sebelumnya orang-orang di Galilea tidak melihat maupun merasakan.

Namun Yesus datang dengan melakukan hal takjub dengan menyembuhkan orang-orang menderita sakit penyakit yang sudah bertahun-tahun dll.

Perjalanan Yesus tidak serta-merta memperlihatkan ketakjupan saja kepada orang-orang yang berada di Galelia.

Yesus menemukan murid-murid atau pengikutnya yang akan menjadi saksi mata akan perjalanan/perlayanan yang Yesus lakukan.

Setakjub-Nya, Yesus tidak memilih berjalan sendiri Ia memilih murid-murid-Nya untuk berjalan bersama dalam melakukan pelayanan.

Murid-murid-Nya sementara menjadi saksi pelayanan Yesus kemudian harus diperhadapkan dengan kondisi bahwa Yesus akan dibunuh.

Sebagai pengikut yang tadinya baru melihat hal-hal takjub kemudian harus diperhadapkan dengan kondisi yang demikian kira-kira apa yang menjadi reaksi dari mereka?

Jelas dalam ayat 23 Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali. Walaupun tidak diungkapkan murid siapa yang sedih.

Melihat dari pasal-pasal sebelum responnya cukup beragam salah satunya Petrus. Namun respon Yesus Jangan takut.

Yesus dapat dikatakan sangat memahami perjalanan pelayanan bersama murid-murid-Nya bahwa mengetahui akan kondisi-kondis tertentu yaitu reaksi para murid-Nya.

Terlihat pada saat Percakapan Yesus dengan Petrus. Maka Yesus berpaling kepada Petrus : “ Enyalah Iblis. Engkaulah batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang dipikirkan manusia.

Yesus mengikutsertakan murid-murid-Nya dalam pelayanan agar mereka mampu memahami akan pelayanan atau tindakan yang Yesus lakukan disetiap umatnya.

Hanya saja itu semua tidak cukup untuk membuat mereka paham apa yang sementara dilakukan Yesus.

Yesus lakukan semmua ini bukan semerta kepentingan-Nya melainkan untuk Allah yang telah mengutus-Nya.

Waktu yang singkat mungkin belum mampu membuat muridnya melihat sisi itu dari Yesus.

Namun berdasarkan dengan kondisi yang demikian akan membuat para murid-Nya mengerti.

Yesus memperlihatkan kondisi untuk menjalankan perintah Allah dalam berpelayanan di Galilea secara komplit.

3 Elemen Penting yang Yesus Perlihatkan.

  1. Yesus membuat takjub dengan menyembuhkan orang sakit.
  2. Yesus menerima kondisi tidak mengenakan harus mati untuk umat.
  3. Yesus menunjukan kemuliaan Allah melalui kebangkitan-Nya.

Dari tiga elemen ini menunjukan bahwa mengikuti Yesus tidak hanya menerima sisi menyenangkan saja. Namun komplisitas kondisi harus mampu diterima dan dirasakan. Kalaupun tidak mampu berterima reaksi untuk berubah akan nampak (dari percaya menjadi tidak percaya).

Mengingat siapapun yang mengikuti Yesus akan teruji berdasarkan dengan cara Yesus untuk memperlihatkan kepada semua umat.

Pada akhirnya kompleksitas kondisi mampu tersampaikan kepada murid-murid-Nya.

  1. Yesus membuat takjub dengan menyembuhkan orang sakit.
  2. Yesus menerima kondisi tidak mengenakan harus mati untuk umat.
  3. Yesus menunjukan kemuliaan Allah melalui kebangkitan-Nya

Kondisi demikian apakah mewajarkan murid-murid-Nya berubah untuk tidak percaya kepada Yesus? Atau tetap bertahan untuk percaya Yesus.

Usaha Yesus untuk meyakinkan para murid-Nya sangat terlihat akan tetapi keputusan untuk tetap percaya kepada Yesus tidak mengintervenasi, semua dikembalikan kepada murid-murid-Nya.

Keputusannya tetap bertahan untuk menerima setiap kondisi yang ada dibawa kendali murid-murid-Nya.

Kondisi yang diharapkan Yesus kepada murid-murid-Nya memperlihatkan seberapa teruji untuk tetap bertahan menjadi murid yang percaya kepada Yesus.

Kalau rasa percaya itu telah dihidupkan kondisi apapun yang diperhadapkan kepada mereka tidak seharusnya membuat mereka takut untuk berubah atau beralih dari Yesus.

Menutup perenungan dengan berbagai sharing.

Dalam sharing kami berbagi soal organisasi, komunitas maupun relasi perdauraan. Kemudian singkat cerita salah satu diantar kami semua mengakui bahwa dia mulai mencintai organisasi dengan sepenggal pemahaman yang Ia miliki.

Namun disisi tertentu temannya mengatakan hati-hati mengatakan cinta biasanya kita akan diuji. Kalau tidak terujui kita tidak akan sampai pada kemurnian cinta.

Selamat berfleksi menjelang paskah rekan-rekan. Tuhan pimpin selalu.

Marlen Bauronga adalah Mahasiswa Teologi.
Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.