Pastordepan Media Ministry
Beranda Artikel Refleksi anak bunuh ibu kandung

Refleksi anak bunuh ibu kandung

“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6:4

Sebut saja namanya bunga. Gadis kecil yang mulai beranjak remaja. Umurnya 12 tahun. Kelas 6 sekolah dasar. Tahun ini, bulan mei akan tamat SD. Masuk SMP.

Dia anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya sudah remaja. SMA. Dia lahir, besar, dilingkungan keluarga yang baik. Ayah dan ibunya saling mengasihi.

Ayahnya bernama Alham. Ibunya bernama Fauziah Soraya.

Tapi entah mengapa lima tahun terakhir, atau saat bunga berumur 7 tahun, hubungan ayah dan ibunya kurang baik.

Mereka akhirnya pisah ranjang. Namun masing tinggal satu rumah. Ayahnya tidur di kamar dilantai dua. Ibunya dikamar dilantai satu. Bunga lebih sering tidur dengan ibunya dilantai satu.

Ketidak harmonisan ayah dan ibunya, lantaran ayahnya diduga selingkuh. Memiliki banyak hutang. Katanya karena judi. Keadaan ini membuat hubungan ayah dan ibunya sering tegang. Cekcok.

Masalah sepele atau bahkan tidak ada masalah pun, sering menimbulkan percikan api keributan. Mereka menjadi sangat sensitif.

Ibunya menjadi gampang marah. Bukan hanya ke bapaknya, tapi juga ke kakaknya dan dirinya.

Kesabaranya menjadi tipis. Setipis tisu. Jika tidak menurut dan membuat kesalahan bukan hanya dimarah, tapi juga dipukul. Sudah sering seperti itu. mungkin berulang-ulang.

Faktor psikis turut mempengaruhi emosional ibunya. Tapi sebenarnya dia seorang ibu yang mengasihi keluarganya. Dia mencintai anak-anaknya.

Dia marah bahkan memukul bukan untuk melukai, tapi untuk kebaikan. Keinginannya agar anaknya baik dan tidak menambah beban pikirannya..

Namun sering tidak mudah menjadi seorang ibu pada masa sulit. Disaat hubungan suami dan istri sedang tidak baik. Pergolakan batin tidak karuan. Emosi menjadi tidak stabil..

Apalagi jika Sudah menyangkut masalah nafkah, dimana suami tidak lagi memberi kecukupan. Sementara istri tidak bekerja. Murni ibu rumah tangga. Secara keuangan bergantung pada suami..

Ketika suatu waktu, bunga melihat ibunya marah. Memukul kakaknya dan mengacungkan pisau. Termasuk kebapaknya, itu karena dia masih terlalu kecil untuk mengerti kondisi batin seorang isteri yang tidak akur dengan suaminya..

Dia belum paham, mengapa seorang ibu berperilaku demikian. Dia juga belum paham, mengapa ayah dan ibunya sering cekcok.

Namun semua tindakan ibunya, tersimpan jauh dalam memorinya. Bukan sebagai kesan manis, namun buruk. Terpatri dalam pikirannya, ibunya kasar. Terakumulasi bertahun-tahun seperti itu..

Muncul benci. Dendam. Amarah. Semua tak terlihat dipermukaan. Tapi bagaikan gunung es, dikedalaman sudah menggunung. Tinggi. Tinggal tunggu waktu meletus.

Bunga anak yang masih kecil. Polos. Diam saja ketika dimarahi. Pun ketika melihat kakaknya dimarah dan dipukul. Tidak ada tanda kekejaman dalam dirinya..

Umurnya yang baru 12 tahun, hanya tau sekolah, dan bermain game online seperti anak umumnya. Bisa apa sih anak gadis 12 tahun? Hanya bermain..

Bunga senang dengan game online Murder Mystery. Dari judulnya saja, game ini dewasa banget.

Bukan mainan anak-anak. Tapi di playstore semua umur boleh download. Boleh mainkan. Pun kalau ada persyaratan umur bisa diakali. Tidak ada yang mengawasi.

Anak sekecil itu belum punya pertimbangan tentang game mana yang cocok untuk dirinya. Belum matang membuat pilihan baik dan buruk.

Seusianya perlu tuntunan. Orang tua penuntunnya. Tapi orang tua tidak akur. Jadinya tidak fokus ke anak. Apalagi kedua orang tua sibuk dengan pekerjaan dan ego masing-masing.

Akibatnya kebutuhan anak terabaikan. Kebutuhan anak itu bukan hanya kecukupan fisik. Tapi juga kecukupan batin. Merasa dicintai. Didengar. Bimbingan etika. Moral dan rohani, dll..

Ada ruang kosong dalam batin bunga. Ruang itu diisi oleh game online Murder Mystery. Game ini bercerita tentang memecahkan teka-teki pembunuhan..

Pada deskripsinya dicantumkan bahwa pemain diharuskan memecahkan misteri dan bertahan dari pembunuh.

Dalam game itu ada peringatan sebelum memainkannya, terdapat kekerasan berulang dan penampakan darah. Game ini dapat dimainkan secara beramai-ramai.

Satu orang akan ditunjuk sebagai pembunuh, sisanya sebagai karakter lain dan detektif.

Satu sisi game ini mengasah otak karena berisi teka-teki, namun karena menampilkan adegan kriminal, maka pemainnya membutuhkan kematangan emosional..

Bunga belum matang secara emosional. Pertimbangannya belum dewasa untuk mengolah setiap adegan kekerasan disana.

Tindakan kekerasan. Pembunuhan dalam game tersebut mempengaruhi pikirannya.

Game kekerasan memengaruhi otak anak dengan meningkatkan agresi, menurunkan empati, melemahkan kontrol diri, dan mengganggu fokus akibat stimulasi dopamin berlebih.

Karena Game dirancang dengan sistem reward (level up, loot) yang mirip mesin slot, memicu pelepasan dopamin yang membuat anak ketagihan dan sulit berhenti..

Otak dapat menganggap ancaman dalam game sebagai situasi nyata, karena itu akan mengaktifkan amigdala secara konstan yang memicu emosi mudah meledak dan stres..

Mungkin Bunga sudah kecanduan game tersebut. Lupa waktu. Sering tidak lakukan tugas. Tidak mendengar perintah ibunya.

Ibunya kesal. Bahkan marah dengan kelakuan bunga. Bunga yang sedang larut dalam permainan game tersebut, tiba-tiba hapenya diambil ibunya. Gamenya dihapus.

Bunga yang sudah mencapai banyak level, bakal kembali ke level awal. Dia sudah sampai pada level session kills others menggunakan pisau.

Selain itu, dia juga sering menonton serial anime Detektif Conan dan sudah tiba pada episode 271 pada saat adegan pembunuhan menggunakan pisau.

Dia menjadi kesal. Marah kepada ibunya. Tapi tersimpan dihatinya. Terbayang semua perlakuan ibunya kepada kakaknya dan dirinya..

Amarahnya memuncak. Tak terbendung lagi. Tapi tidak mungkin dia melawan ibunya saat itu. Pasti kalah. Dia mencari momen. Ketika ibunya tidak berdaya. Tidur pulas dikamar.

Dia bangun tengah malam. Melihat ibunya tertidur, empatinya hilang. Game serial pembunuhan mengubah nuraninya..

Dendam tidak padam. Semakin memuncak. Dia buka bajunya. Pergi ke dapur dan mengambil pisau.

Dia tikam ibunya berkali-kali sementara pulas tidur. Sontak bangun dan berteriak kesakitan. Darah mengalir.

Kakaknya bangun. Mencegah adiknya. Pisau lepas. Adiknya yang kesetanan, pergi kedapur. Ambil pisau kedua.

Ibunya bersimbah darah. Ayahnya terbangun dan melihat semua kekacauan malam itu. Istrinya terkapar. Sebelum tiba dirumah sakit, Fauziah telah meninggal kehabisan darah.

Suaminya sempat diduga sebagai dalang pembunuhan istrinya. Namun polisi menyimpulkan, pembunuhan dilakukan bunga. Anak bungsunya.

Motifnya, kesal ibu memarahi kakaknya hingga game online dihapus.

Entah siapa yang salah dalam kekacauan ini. Anda dapat mencari tahu sendiri. Sebagian akan menyalahkan suaminya. Sebagian menyalahkan ibunya. Yang lain menyalahkan anaknya..

Tapi semua sudah terjadi. Keluarga ini telah hancur. Anak-anaknya trauma berat. Entah bagaimana nasibnya dimasa depan.

Refleksi:

Keluarga seharusnya menjadi tempat yang paling aman bagi semua anggota keluarga. Sorga kecil diatas dunia. Tempat dimana Ayah, Ibu dan anak-anak membangun kehangatan kasih.

Rumah adalah sekolah dan gereja pertama bagi anak-anak, di mana mereka belajar apa yang benar, apa yang baik dan apa kebaikan.

Tempat kemana mereka pergi untuk mendapatkan penghiburan bilamana mereka disakiti atau sakit.

Di mana sukacita dibagikan dan penderitaan diredakan. Di mana ayah dan ibu dihormati dan dikasihi.

Kunci utama ada pada seorang ayah yang takut akan Tuhan. Disusul dengan istri yang takut akan Tuhan.

Ketidaksetiaan suami pada janji pernikahan dapat menjadi pemicu awal malapetaka kekacauan keluarga dan sebaliknya. Ketidaksabaran seorang ibu dapat menyakit perasaan anak-anaknya.

Semua berawal dari kekacauan rohani, ketika keluarga jauh dari Tuhan.

Alkitab berkata, “Dan kamu, bapa-bapa (ibu-ibu), janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” Efesus 6:4.

Hai bapa-bapa (ibu-ibu), janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya. (Kolose 3:21)

Ayah seorang yang benar akan bersorak-sorak; yang memperanakkan orang-orang yang bijak akan bersukacita karena dia. (Amsal 23:24)

Terakhir, pengawasan melekat pada anak-anak wajib dilakukan. Mereka perlu mendapat tuntunan apa yang mereka tonton.

Pengaturan penggunaan gadget wajib dilakukan. Jaga anak-anak dari game dan tontonan kekerasan, yang berpotensi merusak otak mereka.

Setiap tontonan dan penggunaan hape, harus disesuaikan dengan umur sang anak.

Kita tidak bisa menjauhkan anak dari kemajuan teknologi, yang bisa kita lakukan adalah pendampingan. Silahkan tambahkan poin-poin berikutnya…

Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan