
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”
Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat.
Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.” Matius 26:42-44
Kalau saja mereka tahu pencobaan berat akan terjadi sebentar lagi, kemungkinan mereka tidak akan tidur. Mereka akan turut merasa sedih dan gemetar. Turut berdoa bersama Yesus.
Di dalam ketidaktahuan, mereka tidak percaya kepada kata-kata Yesus. Karena mereka terlalu percaya diri tidak akan jatuh dalam pencobaan.
Ketika semua dalam keadaan masih aman, mereka nampak gagah dan meyakinkan.
Untuk kedua kali Yesus pergi berdoa. Doa yang sama. Lalu Dia kembali kepada murid-murid. Mereka tertidur seperti sebelumnya..
Mereka lebih berat kepada kantuk mereka dari pada menopang dan menghibur Yesus dalam pergumulan-Nya. Sepertinya mereka kurang peka..
Setelah Dia menemukan para murid tertidur untuk kedua kalinya, Yesus meninggalkan mereka lagi, lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya.
Walau tidak tersurat, Yesus mengadakan tiga sesi doa sebagai tanggapan terhadap tiga gelombang serangan Setan seperti yang terjadi di padang belantara..
Setan menggunakan tiga kali usaha dan strategi untuk menjatuhkan Yesus. Dia menang karena bergantung kepada Firman Allah dan Kehendak Allah..
Tentu setan juga menggoda Yesus untuk membatalkan niatnya untuk menyelamatkan manusia, melalui siksaan dan penderitaan yang hebat..
Tujuannya supaya Yesus undur dan menyerah kepada rasa sakit yang tak tertahankan tersebut. Itu sebanya mengapa Yesus berdoa hingga semalaman sebanyak tiga kali, dengan permohonan,
“Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”
Pada akhirnya Yesus menyerah kepada kehendak Bapa..
Dalam doa-Nya, Yesus memberikan teladan yang sempurna kepada para pengikut-Nya.
Kita tidak hanya belajar menghadapi godaan dengan doa. Kita juga belajar bahwa doa bukanlah sarana untuk menundukkan kehendak Allah kepada kehendak kita..
Namun untuk menundukkan kehendak kita kepada kehendak-Nya.
Jika Yesus menyerahkan kehendak-Nya yang sempurna kepada kehendak Bapa, terlebih lagi kita harus menyerahkan kehendak kita yang tidak sempurna kepada kehendak-Nya..
Doa yang benar adalah menyerah pada apa yang Tuhan inginkan bagi kita, apapun resikonya – bahkan jika resikonya adalah kematian.
Karena itu dalam menghadapi pencobaan, sifat doa kita adalah berseru kepada Tuhan memohon kekuatan-Nya agar kita dapat melawan dorongan melawan kehendak Tuhan..
Kita berdoa agar kita tunduk kepada kehendak Tuhan. Karena sering kita melawan kehendak Tuhan. Kita akhirnya menuruti apa kehendak kita. Itulah yang membawa kita jatuh dalam pencobaan.
Semakin tulus kita melakukan kehendak Allah, setan juga semakin memikat kita untuk melawan kehendak Allah..
Maka kita harus seperti Yesus, memiliki tekad bulat menyerah pada kehendak Bapa, apa pun resikonya..
Setelah doa permohonan Yesus yang ketiga kalinya, Yesus menjadi pemenang dan Setan menjadi yang kalah. Musuh jiwa-Nya telah dikalahkan..
Yesus tetap selaras dengan Bapa-Nya, dengan tenang dan tunduk siap untuk menderita dan mati. Dia siap menanggung segala dosa dunia ke atas diri-Nya.
Jika sebelumnya hatinya sedih seperti mau mati rasanya, sekarang Dia sudah tenang..
Jadi, jika Yesus sendiri perlu berseru kepada Bapa surgawi-Nya pada saat pencobaan dan kesedihan, apalagi kita?
Inilah pelajaran yang Yesus ingin agar dipelajari oleh kesebelas murid-Nya, dan semua murid-Nya yang lain setelah mereka. Termasuk kita..
Setelah doa yang ketiga, Yesus kembali kepada para murid, saat itu mereka belum tidur, tetapi mata mereka sudah berat. Mereka dikendalikan oleh hal-hal alamiah dan bukannya oleh hal-hal rohani.
Yesus menyuruh mereka tidur dan istirahat.
Mereka tunduk kepada kedagingan mereka. Acuh terhadap kebutuhan Kristus. Mereka tidak peduli kebutuhan terdalam mereka..
Daripada mengikuti teladan Yesus dalam doa, mereka lebih memilih tidur dengan tenang seperti tidak akan terjadi apa-apa..
Melalui keadaan ini, Yesus sedang mengajar murid-muridnya bahwa kemenangan rohani diberikan kepada mereka yang tekun berdoa dan bergantung pada Bapa surgawi mereka.
Bahwa rasa percaya diri dan ketidaksiapan adalah jalan menuju kekalahan rohani.
Kita akan selalu dan selalu menghadapi pencobaan iman. Seperti halnya Yesus, Dia juga menghadapi pencobaan yang hebat..
Rahasia kemenangan Yesus adalah dalam doa dan tunduk kepada kehendak Bapa.
Kita pun dapat menang melawan cobaan dengan doa dan tunduk kepada kehendak Allah. Selama kita masih percaya dan bergantung pada diri sendiri, kita pasti kalah..
Karena kita akan melawan kehandak Allah. Ini lah yang membuat kita jatuh dan berdosa..




