
Oleh: Pulo Lasman Simanjuntak
pagihari ini
doaku ingin mendaki matahari
di sebuah tanah beton
sunyi
mati
duka
mencair
seperti raja salomo
berdoa syafaat
saat bangun bait suci
kuangkat jari-jari tangan
setinggi langit biru
tanpa nafas pemakaman
lalu terbang dengan dua sayap rajawali
sampai menembus cakrawala
mau membuka pintu
langit ketiga
sorga di sana
adakah sang pencipta langit dan bumi
mau mengirim sepasang malaikat
sebab di sini musim kemarau
telah berubah
jadi padang pasir
kering kerontang
membelah perut sang penyair rohani
terkapar
tanpa nyawa
Jakarta, Rabu 3 Juni 2026
PUISI JELANG MALAM
hatiku sudah berbuah
sejak hatimu mulai berakar kuat–
pada pokok dan ranting
pepohonan anggur
Yesus Kristus
ditanam dalam rumah sengketa
dibangun dengan bongkahan
batu-batu tua
(tercatat dalam sejarah
perjalanan ibadah
akankah sampai tiba
hari-hari maranatha)
jelang malam ini
kenapa jiwamu
seharian bertarung airmata
dengan pedang kegelisahan
sangat liar
menikam tubuhku
yang selalu singgah
untuk berpuasa
tiga dasawarsa
semoga
pekan ini
hidupku kembali
diterangi sinar matahari
tak haus dan dahaga
rajin untuk bertarak
nyaris seperti empat tokoh Alkitab
sadraks, mesakh, abednego, dan daniel
yang bukan penyembah patung para dewa dan dewi
setia
bertumbuh
sampai Tuhan datang.
Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026
Pulo Lasman Simanjuntak, seorang penyair dan wartawan yang karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 50 buku antologi puisi bersama para penyair di seluruh Indonesia.
Karya puisinya telah dimuat di 23 media cetak (koran, suratkabar mingguan, dan majalah) serta telah dipublish (tayang) pada 300 media online (website) di Indonesia, Malaysia, dan India.


