Perjalanan duka Abraham menuju Moria (Kejadian 22:4-8)
PERJALANAN saat normal sangat menyenangkan. Menikmati setiap pemandangan sangat menyegarkan hati..
Namun tidak dengan Abraham. Dari titik keberangkatan hingga tiba di tempat tujuan, hatinya sedih. Dalam keadaan normal, perjalanan mereka pasti akan sangat menyenangkan..
Pemandangan yang sangat indah dapat dia nikmati. Hamparan bukit-bukit yang hijau dan jejeran pepohonan begitu indah. Gunung, lembah dan sungai-sungai sangat menawan hati..
Tapi perjalanan ini tidak normal. Ini perjalanan menuju tempat pengorbanan dan kematian anaknya Maka ini perjalanan penuh duka..
Sepanjang jalan, Abraham banyak diam. Dia terus merenungkan rencana Tuhan bagi hidupnya. Dia terus menatap Ishak. Dia menangis dibelakang Ishak..
Dia berusaha menyembunyikan kesedihannya. Dia tidak ingin Ishak mengetahuinya.
Ketika pada hari ketiga Abraham melayangkan pandangnya, kelihatanlah kepadanya tempat itu dari jauh.
Perjalanan mereka sangat jauh. Narasi mengatakan tiga hari. Menunjukkan jarak dari rumahnya sangat jauh. Kira-kira lima puluh sampai enam puluh mil atau sekitar 96 Km.
Perjalanan sejauh itu sebenarnya membuka ruang dan waktu bagi Abraham untuk mempertimbangkan kembali rencana Tuhan..
Dia punya kesempatan banyak untuk berubah pikiran. Tetapi dia telah belajar dari pengalaman. Dia tidak ingin merubah rencana Tuhan dengan rencana sendiri..
Itu sebabnya dia terus berjalan. Tidak ingin menoleh kebelakang. Dia tahu rencana Tuhan harus terlaksana.
Dari jauh, tempat pengorbanan itu terlihat. Tanah Moria. Dan salah satu gunung tempat pengorbanan akan dilaksanakan.
Tanah Moria adalah tempat di mana Salomo akan membangun Bait Suci Yahudi yang pertama (II Tawarikh 3:1).
Tempat yang lebih spesifik adalah: di atas salah satu gunung. Itu adalah Gunung Moria, yang kelak menjadi Gunung Sion.
Dari tempat dia berdiri, dia menghela nafas dalam-dalam. Lelah hati dan fisik. Sejenak beristirahat. Memulihkan tenaga.
Menuju puncak akan sangat menguras tenaga. Jalannya terjal dengan kemiringan sekitar 45 derajat..
Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”
Abraham mengungkapkan kalimat terakhir sebagai, “kami akan kembali,” dengan menggunakan kata ganti orang pertama jamak..
Apakah ini hanya kalimat retoris? Bisa ya atau tidak. Sebab Abraham tahu, anaknya akan mati disana dan tidak akan kembali lagi. Dia akan turun dari gunung sendirian tanpa Ishak.
Namun dia tetap percaya pada janji Tuhan. melalui Ishak dia akan menjadi bangsa besar. Dia percaya bahwa sekalipun Ishak mati, Tuhan akan membangkitkannya..
Hal itu dituliskan dalam Ibrani 11:17, 19..
“Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak…Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali..”
Itu sebabnya Abraham mengatakan dengan iman kepada dua hambanya, “kami kembali kepadamu.”
Kejadian 22:6 menjelaskan kelanjutan perjalanan setelah Abraham meninggalkan kedua orang hambanya..
Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
Maka Ishak memikul kayu itu, kayu yang di atasnya dia akan mati, sama seperti Mesias, Anak Allah, yang akan memikul kayu salib yang di atasnya Ia akan mati.
Selanjutnya: di tangannya dibawanya api dan pisau, sama seperti yang akan diberikan Allah Bapa kepada Anak-Nya (Yesaya 53:7-10).
Adegan ini sama dengan yang akan dialami Yesus dimasa depan. Artinya, Ishak memperagakan bagaimana nanti Mesias akan mati.
Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Kalimat ini memiliki makna, keharmonisan, kebersamaan, persahabatan, satu pikiran antara Abraham dan Ishak..
Antara yang mengobarkan dengan yang dikorbankan. Hal yang sama terjadi kepada Bapa dan Yesus. Mereka harmonis dalam pengorbanan Yesus.
Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?”
Pertanyaan Ishak menusuk hati Abraham, dan Abraham mengungkapkan imannya kepada Tuhan dengan sangat indah dalam..
Sahut Abraham: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku.” Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.
Abraham mengimani Tuhan akan menyediakan. Iman Abraham terbukti dicerita berikutnya. Tuhan menyediakan hewan yang akan dikorbankan.
Mari kita beriman bawah TUHAN akan sediakan untuk kita segala sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan kita.



