
PENYESALAN YUDAS
Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua. (Matius 27:3)
DIMANAKAH Yudas berada waktu Yesus diadili? Bukankah dia turut serta menangkap Yesus? kemungkinan dia ikut dengan rombongan membawa Yesus kerumah Hanas..
Namun setelah itu tidak ada catatan posisinya ada dimana. Namun kemungkinan besar dia masih berada dilokasi. Dan melihat semua proses persidangan..
Catata Matius menyebutkan, “Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia..” (Matius 27:3)
Yudas telah melihat Yesus difitnah, diludahi, dipukuli, dan diejek. Sekarang dia menyaksikan dengan bingung ketika Gurunya yang dihukum itu dibawa menghadap Pilatus.
Yudas yang sejak awal membuat spekulasi bahwa Yesus akan meloloskan diri dari penangkapan, namun Yesus tidak melakukannya. Spekulasi Yudas gagal total..
Semakin kesini dia mulai merasakan ketidak nyamanan. Dia merenung dan mulai sadar pengadilan ini tidak adil dan brutal. Dirinya juga diabaikan semua orang disana. Tidak lagi dianggap..
Sepanjang pengadilan Yesus, dia meringkuk disudut ruangan mengikuti semua proses ketidak wajaran. Dalam hati dia harap-harap cemas Yesus akan melarikan diri dari sana..
Sambil meremas-remas jari tangannya, berusaha mengatasi dinginya malam, Yudas dengan mata sayu sesekali melirik Yesus.
Dia lebih banyak tertunduk. Wajahnya mulai pucat. Panik. Entah apa yang dia sedang pikirkan. Pastinya, pikiranya berkecamuk penuh rasa bersalah..
Saat Yudas menyaksikan Yesus dibawa ke hadapan Pilatus, akhirnya dia menyadari bahwa para pemimpin Yahudi memang berniat untuk membunuh Yesus..
Dan itu sangat menghancurkan hati Yudas. Dia merasakan penyesalan. Dia mulai mengalami rasa sakit yang hebat dan menyiksa batinya, yang merupakan ciri khas dari rasa bersalah yang mendalam.
Dia mulai menyadari kesalahannya..
Tidak ada orang yang lebih jahat dari Yudas Iskariot. Selama tiga setengah tahun dia hidup bersama Yesus, melihat dan mendengar ajaran Yesus.
Melihat semua mujizat Yesus dan menyaksikan sendiri ke Ilahian Yesus. Yudas dan sebelas murid lainnya pergi selalu bersama-sama. Melayani dalam suka dan duka..
Tidak ada seorang pun yang mempunyai bukti lebih banyak tentang keilahian Yesus atau pengetahuan langsung tentang jalan keselamatan.
Namun dalam tiga tahun penuh berkat yang tak terlukiskan bersama Yesus, Yudas tidak mengambil langkah iman apa pun. Imannya kosong dan hampa..
Bisa jadi kita menjadi seperti Yudas. Kita menjadi Kristen dalam waktu yang cukup lama. Namun kita tidak mengambil langkah iman apa pun. Waktu datang cobaan, kita menjual Yesus..
Sulit dipahami, bagaimana Yudas terus-menerus menolak dan menolak kebenaran Tuhan, kasih karunia Tuhan, dan bahkan Anak Allah sendiri.
Sulit dimengerti, dia berhasil menyembunyikan sepenuhnya pemberontakan jahatnya dari semua orang..
Kemunafikannya begitu sempurna. Dia dapat menipu semua orang bahkan ketika Yesus mengatakan bahwa salah satu muridnya akan mengkhianati Dia, tidak ada yang mencurigai Yudas.
Yudas begitu terperangkap dalam kegelapan dan kerusakan dosa sehingga ia bersedia menjadi alat Setan.
Karena murid palsu ini telah sepenuhnya meninggalkan Kristus, “Iblis masuk ke dalam Yudas yang disebut Iskariot” (Lukas 22:3)
Meski begitu, Yudas tidak bisa lepas dari sinyal rasa bersalah yang dirancang ilahi untuk mengingatkan manusia akan dosa mereka dan memperingatkan mereka akan konsekuensinya.
Rasa bersalah pada hakekatnya merupakan sinyal otomatis akan bahaya spiritual. Yudas tiba-tiba menyadari kesalahan besar yang telah dilakukannya.
Kesadaran bawaan akan benar dan salah sudah tertanam secara ilahi dalam diri setiap manusia dan tidak dapat dihapuskan sepenuhnya..
Tidak peduli seberapa bejat atau jahatnya seseorang memberontak menentang Tuhan, alam bawah sadar manusia akan rasa bersalah masih ada..
Hal ini karena dorongan Roh Allah yang menginsafkan..
Poinnya, Yudas memang menyesali kesalahannya. Namun penyesalan Yudas bukanlah pertobatan atas dosa.
Matius menulis penyesalan Yudas dengan kata metamelomai. Artinya penyesalan atau kesedihan.
Kata yang lain yang sama dengan itu adalah metanoe, yang berarti perubahan pikiran dan kemauan yang tulus..
Jadi, Matius mencatat, Yudas tidak mengalami penyesalan rohani namun hanya penyesalan emosional.
Meskipun dia tidak mau bertobat dari dosanya, dia tidak bisa lepas dari kenyataan rasa bersalah.
Kesedihan yang sejati atas dosa (metamelomai) dapat didorong oleh Tuhan untuk menghasilkan pertobatan (metanoe), seperti yang dinyatakan Paulus dalam 2 Korintus 7:10.
Penyesalan Yudas tidak didorong oleh Tuhan untuk mengarah pada pertobatan tetapi hanya pada rasa bersalah dan putus asa.
..”Yudas tidak bertobat; pengakuannya dipaksakan dari jiwanya yang bersalah oleh suatu perasaan bersalah yang menakutkan dan oleh menunggu pehukuman, tetapi ia tidak merasakan kesedihan yang dalam dan menghancurkan hati, bahwa ia telah menyerahkan Anak Allah yang tidak bercacat, dan menyangkal Kesucian Israel.” Kerinduan Segala Zaman, 366.1.
Penyesalan Yudas palsu. Dihasilkan oleh kepalsuan hidupnya. Rasa bersalah yang keluar dari hatinya, tidak menuntun dia kepada pertobatan seperti Petrus..
Jika kita telah melalukan kesalahan, rasa bersalah akan menyusul kemudian. Ingat, itu adalah sinyal dari Roh Kudus, kita perlu Yesus untuk menghapus dosa kita..
Kita akan melihat dosa itu sangat menjijikkan dan tidak akan mengulanginya lagi.




