Penyebab Ayub susah tidur (Ayub 7:1-4)
Kita tiba di Ayub pasal 7. Pasal ini masih kata-kata Ayub. Memang tidak terlalu jelas apakah Ayub berbicara kepada tema-temannya atau kepada dirinya sendiri.
Namun kalau kita baca, isinya adalah perenungan Ayub sendiri atas hidup manusia yang menyedihkan, yang kemudian dia aplikasikan untuk dirinya sendiri.
Dia memulai dengan sebuah pertanyaan:
“Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? (7:1)
Ia bertanya “bukankah manusia harus bergumul..”dan ia menjawab bahwa hari-hari mereka seperti hari-hari seorang “buruh upahan,” seseorang yang memang melakukan pekerjaan berat.
Kata bergumul dari kata tsaba artinya pekerjaan berat. Biasanya digunakan secara khusus dalam konteks militer atau kultus.
Memang, bentuk jamak digunakan dalam gelar yang menghubungkan Tuhan dengan peran-Nya sebagai pejuang ilahi (Yhwh ṣĕbāʾôt, “Tuhan Semesta Alam”).
Jadi disini Ayub meratapi penderitaan berat semua manusia, baik budak maupun orang merdeka.
Seorang budak hanya menerima sedikit imbalan, upah kecil atau waktu istirahat yang singkat.
Ayub menganggap bahwa nasibnya sama seperti seorang pekerja atau budak yang menghabiskan tenaganya untuk bekerja bagi orang lain.
Para pekerja umunya sangat miskin (Imamat 25:40) dan sering kali menyewakan diri dengan upah sedikit, yang hampir tidak cukup untuk menyediakan makanan sehari-hari bagi keluarga mereka.
Di pagi hari mereka akan berkumpul dengan pekerja lain di pasar dan menunggu dengan sabar untuk disewa hari itu.
Karena kemiskinan mereka, sangat penting bagi mereka untuk dibayar di akhir hari agar mereka dapat membeli makanan untuk makan malam (Imamat 19:13; Ulangan 24:14-15; lih. Matius 20:8).
Jadi dengan menggunakan istilah pekerja dan upah kecil, dia sedang menggambarkan kondisi hidupnya yang begitu malang.
Itu sebabnya dia katakan:
“Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan, seperti kepada orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah dibagikan kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.” (7:2-3)
Bukan hanya pekerja upahan, dia bahkan menggambarkan dirinya seperti seorang budak. Pekerja upahan berbeda dengan budak.
Pekerja upahan, dia menanggung panasnya terik matahari dengan menantikan upahnya, yang akan ia terima diujung hari. Lalu ia akan membeli sepotong makanan untuk keluarganya.
Sementara seorang budak, ia menanggung panasnya terik matahari untuk tuannya. Di bawah terik matahari ia terengah-engah mencari naungan di sore hari dirumah tuannya. Tidak ada upah.
Di daerah perbukitan Palestina, musim panas yang panjang dapat ditanggung oleh angin sejuk dan menyegarkan yang biasanya dapat dirasakan di tempat teduh pada sore hari.
Karena budak itu tidak menerima upah, pikirannya terfokus pada mencari momen relaksasi dan sedikit kelegaan seperti yang ditawarkan oleh naungan pohon.
Jadi, Ayub meratapi bahwa kesedihannya lebih besar daripada kesedihan para pekerja biasa ini.
Dia tidak dapat menemukan kelegaan atau kegembiraan. Kalau budak masih bisa menikmati naungan pohon atau pekerja masih menerima upah.
Namun dirinya, tidak bisa menikmati bahkan naungan pohon untuk berteduh. Dia merasa bahwa nasibnya lebih rendah dari golongan manusia manapun bahkan lebih rendah dari budak.
Ayat 2-3 mengisyaratkan bahwa Ayub menderita selama berbulan-bulan, mungkin hingga bertahun-tahun. Lamanya ayub sakit tidak diketahui..
Dia mengatakan,” bulan-bulan yang sia-sia..” Kata ini kadang-kadang digunakan sejajar dengan bahasa Ibrani hebel artinya tidak berarti.
Kata tersebut sering kita temukan di kitab pengkotbah. Jadi Pengkhotbah berbagi pandangan dengan Ayub tentang kesia-siaan hidup.
Kalau budak dan pekerja, bekerja keras diluar. Masih menikmati hidup mereka, tetapi Ayub bekerja keras ditempat tidurnya.
Menurut ayat 4, Ia mencoba tidur, tetapi ia menderita insomnia dan gelisah sepanjang malam. Malam hari terasa panjang dan lama sekali.
Dia katakan,
Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari. (7:4)
Pengkotbah juga menyinggung tentang orang yang sulit tidur, yang penuh kegelisahan. Mereka adalah tidurnya orang kaya.
“Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur.” (Pengkotbah 5:11).
Tentu saja, ini mungkin sudut pandang Salomo, sebagai orang yang kaya.
Tidak semua orang kaya susah tidurnya. Tentu banyak yang susah tidur, apalagi jika tren ekonomi sedang turun. Usaha sedang kurang baik.
Namun saat ini susahnya Ayub tidur, bukan sebagai orang kaya. Tetapi sebagai orang yang menderita dan kondisi fisik dan emosinyalah yang membuat dia susah tidur.
Saya pernah merasakan tidak dapat tidur selama dua malam karena sakit campak tahun 2024 yang lalu. Sekujur tubuh perih dan panas. Sepanjang malam gelisah. Berharap pagi segera tiba.
Apa pun yang membuat kita tidak bisa tidur, entahkan karena masalah Kesehatan, ekonomi atau pergumulan lainnya, itu sudah cukup membuat kita menderita..
Jika hari-hari ini kita susah tidur. Pikiran kita berkecamuk. Ingatlah Yesus Kristus. Ketika Dia menderita dan tidak bisa tidur, Dia berdoa semalaman..
Pikirkan nasehat Paulus untuk memiliki kasih. salah satu sifat kasih adalah “..sabar menanggung segala sesuatu..” 1 Korintus 13:7d.
Mengacu pada penyerahan diri yang tabah dan dengan harapan yang hidup.
Kata ini juga berbicara tentang ketekunan dan keuletan dalam semua keadaan. Ini berarti bertahan pada saat-saat kesakitan, penderitaan, kekurangan, kebencian, kehilangan, dan kesepian.
Maka kasih yang menanggung segala sesuatu merupakan kemampuan untuk menanggung setiap kesulitan dan setiap penderitaan dengan teguh.
Kasih menanggung segala sesuatu adalah kesabaran yang tak terbatas, yang dimiliki oleh Allah. Dan saat kita berada dibawah kendali Allah, maka kita dapat bertahan.
Mari kita bertahan diatas “kayu salib” dimana kita menderita karena banyak hal. Menanggung semua demi cinta dan berharap yang terbaik akan datang.





