Pastordepan Media Ministry
Beranda Seri Kitab Matius Pengkhianat di meja perjamuan (Matius 26:20-21)

Pengkhianat di meja perjamuan (Matius 26:20-21)

Seketika selera makan mereka hilang. Siapa yang merusak suasana makan malam tersebut?

Yesus..! Dia mengatakan..

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Matius 26:20-21

Seketika, mulut berhenti mengunyah. Tangan menjadi kaku. Mungkin ada diantara mereka seperti mau muntah mendengarnya..

Selama ini Yesus telah mengatakan Dia akan mati. Tetapi baru sekarang Yesus menerangkan tentang drama pengkhianatan yang berhubungan dengan kematian-Nya..

Pengkhianatan berasal dari kata Paradidomi. Secara harfiah berarti menyerahkan dan sering digunakan untuk mengantarkan tahanan ke penjara atau hukuman.

Dan ironisnya, sang pengkhianat itu muncul dari dalam lingkaran mereka sendiri..salah seorang dari mereka akan mengantarkan Yesus untuk dibunuh..

Itu lah sebabnya Ketika mereka mendengar bahwa salah seorang dari antara mereka akan menyerahkan Dia, hati mereka sangat sedih..

Tidak terbayang dalam pikiran mereka seorang dalam lingkaran mereka sendiri menjadi pengkhianat..

Di Timur Dekat kuno, makan bersama seseorang dianggap sebagai tanda persahabatan, dan karena itu makan bersama seseorang sesaat sebelum mengkhianatinya berarti menambah pengkhianatan.

Ketika Daud mengalami pengkhianatan dari seorang sahabatnya yang dia percaya, ia meratap,

“Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat menyembunyikan diri terhadap dia.”

“Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku..”

“kami yang bersama-sama bergaul dengan baik, dan masuk rumah Allah di tengah-tengah keramaian.” Mazmur 55:12-14

Dikhianati orang kepercayaan itu sangat menyakitkan. Perasaan yang sama dialami Daud dan Yesus.

Menyadari banyaknya musuh Yesus, para murid tidak terkejut bahwa Dia akan dikhianati. Tapi sulit dipercaya bahwa pengkhianat itu adalah salah seorang dari mereka.

Itu sebabnya mereka saling memandang satu sama lain dan mengaku diri, bukan sebagai pengkhianat..

Mereka mencoba menerka, siapa orang yang dimaksud Yesus. Mereka sangat saling mencurigai dan penasaran..

Dari 12 murid itu, Yudas termasuk orang yang paling tidak dicurigai, karena jabatannya sebagai bendahara menunjukkan integritasnya yang dianggap tidak tercela.

Karena mereka tidak mengetahui siapa orang yang dimaksud Yesus, dan mereka tidak mau sebagai orang yang dicurigai, maka masing-masing mereka mengaku kalau itu bukan mereka..

Mereka melihat kepada diri mereka sendiri. Mereka tidak menuduh orang lain dan tidak mau jadi tertuduh, meraka mengatakan, “Bukan aku, Tuhan?”

Sebelumnya mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar. Mendengar pengkhianatan dari kalangan mereka, semua mereka mengoreksi diri mereka sendiri..

Mereka telah diubahkan setelah ditegur Yesus tentang kebesaran sejati, yaitu membasuk kaki satu sama lain..

Karena Yesus tidak membuka dengan gamblang identitas pengkhianat itu, maka Yohanes yang duduk dekat Yesus dan sementara bersandar kepada Yesus, diminta Petrus untuk menanyakan..

“Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Yoh 13:24

Lalu Yohanes, setengah berbisik bertanya, “Tuhan, siapakah itu?”

Lalu Yesus memberikan isyarat, siapa orang yang hendak menyerahkan Dia.

“Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Yoh 13:26..

Kata-kata Yesus ini dari Mazmur 41:9, merujuk pada pengkhianatan Ahitofel terhadap Daud dengan membantu Absalom berkomplot melawan ayahnya (lihat 2 Sam. 16:15-17:3)

Ahitofel adalah seorang pengkhianat Perjanjian Lama yang sejajar dengan Yudas, pengkhianat terbesar di Perjanjian Baru.

Pengkhianatan Yudas ini dikutuk oleh Yesus, tetapi Dia menempatkan pengkhianatan itu dalam sudut pandang ilahi bahwa tindakan keji itu akan memenuhi rencana Allah yang berdaulat.

“Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

Tuhan tidak menentukan Yudas menjadi pengkhianat. Dia menjadi seperti itu karena penolakannya terhadap Kristus, sehingga dia menjadi alat setan untuk menggenapi rencana Tuhan.

Seperti Yudas, kita bisa menjadi alat setan, bila kita tidak menyerahkan hati kita kepada Kristus. Bila kita memanjakan nafsu jahat, maka setan akan menggunakan kelemahan kita menjadi alat kejahatan..

Hal yang paling sulit kita pahami dari hikmat Tuhan adalah Ketika Tuhan menggunakan rencana keji manusia untuk menggenapi rencana Tuhan bagi kita..

Pengkhianatan Yudas telah ditulis berabad-abad sebelumnya dalam nubuatan ilahi.

“Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.” Kisah 2:23

Keputusan Yudas yang jahat untuk menolak dan mengkhianati Kristus digunakan oleh Allah dalam menggenapi misi penebusan Kristus,

Manusia yang tidak suci di tangan Tuhan digunakan untuk mencapai tujuan yang kudus Allah.

Jika Anda telah dikhianati, ditipu. Diperlakukan tidak adil, karena hidup Anda benar, maka Tuhan akan menggerakkan itu untuk mencapai Tujuan Allah dalam hidup Anda..

Akan selalu ada pengkhianatan dan orang-orang munafik, yang hatinya jahat dengan tipu muslihat. Karena itu jangan menjadi bagian kelompok orang tersebut..

Mari kita bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus, hingga kita menyerupai tabiat Kristus..

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan