Pelajaran Ke-1: Memahami Sejarah Zerubabel Dan Ezra

SABTU 28 September – 4 Oktober 2019

Teks: Yer. 25: 11, 12; Dan. 9: 1, 2; Ezr. 4: 1-7; 7: 1-28; Yes. 55: 8, 9.

Ayat Kunci: ”Beginilah perintah Koresh, raja Persia: Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh TUHAN, Allah semesta langit. Ia menugaskan aku untuk mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda”

Ezra 1:2

Dalam tulisan Yeremia, Allah telah berjanji bahwa umat-Nya akan pulang setelah 70 tahun pembuangan ke Babel.

Raja Koresh adalah alat Allah untuk mewujudkan kepulangan ini. Koresh yang diurapi Allah (Yes. 45: 1), mengeluarkan keputusan sekitar tahun 538 SM, membebaskan umat Allah untuk kembali ke negara mereka dan membangun kembali bait suci.

Allah (bukan Koresh) yang berbicara mengenai Yerusalem:

“Biarlah dibangun kembali,” dan tentang bait suci, “Biarkan fondasinya diletakkan” (Yes. 44: 28, NIV).

Allah adalah penjamin bahwa Yerusalem akan dibangun kembali, dan la menggerakkan hati Koresh memberikan izin untuk membangun bait suci.

Senantiasa menggembirakan melihat umat Allah menyambut secara positif tindakan Tuhan:

“Maka berkemaslah kepala-kepala kaum keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta para imam dan orang-orang Lewi, yakni setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah TUHAN yang ada di Yerusalem” (Ezra 1 : 5).

Di sini kita melihat contoh umat yang menyambut secara positif tindakan-tindakan Allah yang perkasa dan rahmani.

Penampilan terbaik kita berasal dari kesadaran akan siapa Allah dan apa yang telah Dia lakukan, dan dari mengetahui bagaimana Dia dengan penuh kasih campur tangan demi umat-Nya.

MINGGU 29 September 2019

Kepulangan Pertama dari Pengasingan

Baca Yeremia 25: 11, 12; 29: 10 dan Daniel 9: 1, 2.

Kapankah terjadinya kepulangan pertama dari pengasingan? Nubuatan apakah yang digenapi?

Tuhan memengaruhi Koresh untuk mengizinkan kepulangan pertama, yang menggenapi nubuatan Yeremia tentang 70 tahun.

Yeremia telah menulis bahwa tanah Yehuda akan menjadi sunyi sepi selama 70 tahun di bawah kekuasaan Babel (ini terjadi, dari 606/605 SM hingga 537/536 SM), tetapi kemudian Allah akan membuka pintu bagi kembalinya para tawanan.

Ketika Daniel mempelajari tulisan-tulisan Yeremia, dia menyadari bahwa sudah waktunya untuk janji kepulangan itu.

Dalam Daniel 9, Daniel putus asa karena nubuatan 70 tahun itu hampir berakhir tanpa ada perubahan yang nyata, dan kerajaan Persia yang baru, sekarang telah berkuasa.

la berduka dan berpaling kepada Allah, memohon kemurahan dan penggenapan janji-janji-Nya.

Di pasal yang sama (Dan 9: 24-27), Allah memastikan kepada Daniel bahwa ia mengendalikan segala sesuatu dan memiliki rencana masa depan, dengan seorang Pembebas yang akan mati bagi manusia untuk menebus mereka dari dosa, membawa kebenaran, dan menggenapi; sistem korban.

Pada dasarnya Tuhan berkata, “Daniel, jangan khawatir. Karena Pembebas yang sejati (Yesus) pasti akan datang, Aku juga akan mengutus seorang pembebas untuk kamu sekarang.”

Tak lama setelah itu, Allah menggerakkan Koresh, raja Persia, untuk mengeluarkan perintah membebaskan para tawanan.

Tuhan selalu setia pada janji-janji-Nya (lihat Daniel 10 untuk melihat bagaimana Allah campur tangan memastikan kesejahteraan umat-Nya di tanah air mereka).

Ezra 1 mencatat titah Raja Koresh bahwa bangsa Israel bebas untuk pulang ke Yerusalem dan membangun rumah Tuhan. Perintah itu dikeluarkan kira-kira antara tahun 539-537 BC.

Koresh bukan hanya mengizinkan mereka pulang, tetapi ia juga menjamin kepulangan mereka dengan pemberian dan persembahan, termasuk perabot-perabot asli bait suci, yang telah dicuri oleh Nebukadnezar.

Peristiwa ini mengingatkan kita terhadap peristiwa bangsa Israel meninggaikan Mesir jauh sebelumnya, ketika Allah juga menggerakkan hati orang-orang Mesir untuk memberikan kepada mereka hadiah-hadiah.

Kelompok pertama yang kembali ke Yehuda ini berjumlah sekitar 50.000 orang; yang kemungkinan besar termasuk wanita dan anak-anak dari wilayah lainnya.

Kepulangan pertama ini dipimpin oleh Zerubabel sekitar tahun 538 SM. Tugas utama rombongan pertama ini dibawah pimpinan Zerubabel adalah membangun kembali Bait Allah, tetapi setelah bergumul 20 tahun membangun Bait Allah ini, pekerjaan pembangunan dihentikan, tetapi bisa diselesaikan pada akhirnya.

Siapakah Zerubabel? Ia seorang Wakil penguasa untuk Yudea di bawah kekuasaan agung Persia (sekitar 520 sebelum Mas.). Nama Zerubabel menunjukkan asalnya, yaitu dari Babilon (: barangkali ia lahir di pembuangan).

Zerubabel adalah teman sezaman Hagai dan Zakharia (Hag 1:1,14; 2:2). Silsilah Zerubabel bisa dibaca di Ezr 3:2,8; 5:2; Neh 12:1; Mat 1:12; 1Taw 3:19; Luk 3:27.

Pertanyaan untuk direnungkan.

Apakah nubuatan-nubuatan historis lainnya yang telah digenapi persis seperti yang dijanjikan dalam Firman, dan bagaimanakah kita dapat mendapatkan penghiburan dari hal itu bahwa Allah mengetahui masa depan dan bahwa kita dapat memercayai janji-janji-Nya kepada kita?

SENIN, 30 September 2019.

Para raja-raja dibalik peristiwa rencana pembangun kembali Yerusalem

Rombongan pertama yang kembali, menerima tugas membangun kembali bait Allah.

Kita akan belajar tentang perlawanan terhadap pembangunan bait suci di pelajaran berikutnya.

Sekarang, kita akan membahas suksesi raja-raja Persia selama pembangunan panjang bait suci dan pembangunan kembali Yerusalem.

Penting untuk mengetahui sejarah di balik kisah-kisah Ezra dan Nehernia, karena itu memberikan wawasan yang lebih dalam tentang pekabaran-pekabaran mereka.

Baca Ezra 4: 1-7. Siapakah raja-raja yang selama masa pemerintahannya muncul sebagai penentang terhadap pembangunan bait suci?

Inilah daftar raja-raja Persia, dalam urutan kronologisnya, yang terkait dengan kitab Ezra dan Nehemia. Dimulai dari Koresh, yang mendirikan Kekaisaran Persia dan menaklukkan Babel pada tahun 539 SM.

▪ Koresh II “Yang Agung” (559-530 SM)

▪ Kambises ll (530-522 SM)

▪ Darius I (522-486 SM)

▪ Xerxes I (485-465 SM) (Juga dikenal dari kitab Esther sebagai Ahasyweros)

▪Artahsasta I (465-424 SM)

Sementara kita mempelajari buku-buku ini, sangat penting untuk mengetahui bahwa munculnya raja-raja dalam kitab Ezra tidak disebutkan dalam urutan kronologis.

Contohnya, Ezra 4: 6-24 dimasukkan sebelum pasal 5, yang melanjutkan cerita tentang perlawanan terhadap pembangunan bait suci.

Akibatnya, surat-surat yang melibatkan Xerxes l (Ahasyweros) dan Artahsasta I yang dijelaskan dalam Ezra 4 terjadi setelah peristiwa yang dicatat dalam pasal 5 dan 6, tentang Darius I.

Urutan ini dapat membingungkan pembaca, dan inilah mungkin jawaban terhadap beberapa kebingungan yang dialami orang-orang selama abad berabad-abad tentang buku-buku ini.

Sementara kita mempelajari ini, kita akan mengetahui urutan peristiwa akan membantu kita lebih memahami pekabaran-pekabaran Ezra dan Nehemia.

Seberapa seringkah Anda menemukan hal-hal dalam Alkitab yang telah membingungkan Anda?

Bagaimanakah Anda bisa belajar untuk memercayai Tuhan, dan Firman-Nya, bahkan ketika Anda menemukan hal-hal yang tampaknya tidak masuk akal? Mengapakah hal ini penting bagi Anda? (Lihat Yes.  55: 8, 9).

SELASA, 1 Oktober 2019

Kepulangan Kedua dari Pengasingan

Dalam Ezra 7:1-10 dan 8: 1-44, kita melihat bahwa Raja Artahsasta I mengizinkan Ezra kembali ke Yerusalem (pada tahun 457 SM) dan dan mengajak siapa saja yang ingin kembali. Tidak banyak yang diketahui tentang hubangan antara raja dan Ezra, atau apakah Ezra bekerja untuk istana.

Ezra 8 memuat daftar kepala keluarga mereka yang kembali, dimulai dengan para imam yang kembali, diikuti oleh garis kerajaan, dan berakhir dengan populasi Yahudi secara umum.

Dua belas keluarga disebutkan secara khusus, memberi kesan bahwa ini dirancang untuk mengenang dua belas suku lsrael.

Pasal ini memberi daftar sekitar 1.500 laki-laki, yang bila dihitung keseluruhan termasuk wanita dan anak-anak, akan mendekati 5.000 hingga 6.000. Ini adalah kelompok yang jauh lebih kecil daripada kelompok pertama yang kembali dengan Zerubabel dan Yosua.

Kepulangan kedua dipimpin oleh Ezra 50 tahun setelah kepulangan yang pertama. Peran kepemimpinan Ezra pada periode kedua kepulangan ini dia mengecam ketidaktaatan rohani orang-orang itu lalu mereka bertobat dan mengadakan ibadah di Bait Allah. Namun tembol Yerusalem masih tetap berupa puing.

Jadi Ezra membawa kebangunan rohani bagi para buangan yang kembali ke Yerusalem

Baca Ezra 7: 1-10. Apakah yang diajarkannya kepada kita tentang Ezra?

Ezra adalah seorang ahli kitab dengan warisan keimamatan. Sebagai seorang imam, ia adalah keturunan Harun, saudara laki-laki Musa, yang merupakan imam pertama bangsa Israel.

Karena cerita-cerita yang dicatat dalam Ezra, serta dalam tradisi Yahudi, maka nama Ezra sangat disanjung bahkan sampai hari ini.

Apakah Ezra melayani sebagai ahli kitab di istana Raja Anahsasta, tidak diketahui; sehingga gambaran bahwa Ezra adalah ahli kitab merujuk pada tanggung jawabnya yang sebelumnya atau kemampuannya, yang mulai ia gunakan setelah kedatangannya di Yehuda.

Namun, Ezra pasti telah bekerja pada Artahsasta dalam beberapa kapasitas sehingga raja mengutusnya sebagai pemimpin rombongan.

Dalam Ezra 7; 6 dan 10, Ezra dijuluki sebagai ahli kitab yang “mahir“ dan “loyal” atau guru. Kata “mahir” secara hadiah berarti “cepat, ” yang mengartikan seseorang yang cepat dalam memahami dan mengolah infomasi.

Ezra memiliki pikiran yang cepat—dia dikenal karena pengetahuan dan kecerdasan mentalnya tentang hukum Allah. Selain itu, fakta bahwa raja memilih Ezra untuk membawa sekelompok orang Israel ke Yehuda adalah bukti keberanian dan kemampuan kepemimpinan Ezra.

Perhatikan, Ezra mempersiapkan hatinya untuk meneliti “hukum TUHAN” (Ezr. 7: 10) Bagaimanakah kita menerapkan prinsip tersebut ke dalam kehidupan kita sekarang?

RABU, 2 Oktober 2019.

Dekret Artahsasta

Baca Ezra 7: 11-28. Apa sajakah isi dari dekret raja? Mengapakah instruksl-lnstruksi ini penting bagi orang Israel?

Dekret Artahsasta mirip dengan dekret pertama Koresh. Raja menasihati semua orang yang mau, terutama dari garis imam, untuk melakukan perjalanan ke Yerusalem.

Meskipun menurut dokumen sejarah Murashu, mayoritas orang Yahudi akhirnya tetap tinggal di Persia (seperti yang ditunjukkan dalam kisah Ester), ada orang-orang yang telah menunggu kesempatan untuk memulai kehidupan baru di tanah air leluhur mereka.

Raja mengarahkan sebagian besar perintahnya kepada bendahara daerah seberang sungai Efrat.

Bendahara harus memberikan kepada Ezra apa pun yang dia butuhkan untuk memulihkan kota dan “menyemarakkan rumah Tuhan” (Eza 7: 27).

Pada akhirnya, raja menugaskan Ezra untuk memastikan penurutan yang teliti terhadap hukum Allah serta hukum negara, dengan mendirikan sistem peradilan.

Aturan dan organisasi yang akan dihasilkan oleh perintah ini adalah aspek penting bagi masyarakat mana pun. Selain itu, raja mempermudah Ezra dan orang Israel membangun kembali tanah air mereka.

Apakah perhatian raja terhadap pembangunan kembali kota dan bait suci menunjukkan bahwa ia telah menjadi orang percaya kepada Allahnya Ezra?

Artahsasta menyebut Allah, “Allah Israel, yang tempat kediaman-Nya di Yerusalem” (Ezr. 7: 15).

Terminologi yang digunakan raja tentang Allah Israel menyiratkan bahwa ia menganggap Tuhan sebagai dewa lokal lain yang perlu ditenangkan oleh hadiah.

la tidak ingin dewa lokal ini marah kepadanya dan anak-anaknya (Ezr. 7: 23). Selain itu, kita harus mencatat bahwa 457 SM adalah juga tahun pemberontakan Mesir melawan pemerintah Persia; dengan demikian, ada kemungkinan bahwa tindakan yang dilakukan oleh raja dirancang untuk mendapatkan kesetiaan dari provinsi Yehuda.

Sayangnya, sekalipun raja bergaul dengan Ezra dan Nehemia, namun itu tidak menjadikan dia seorang yang percaya Allah.

Setidaknya, tidak ada ayat yang menunjukkan bahwa ia telah menjadi seorang yang percaya Allah hal ini berarti bahwa Tuhan dapat menggunakan orang yang belum bertobat sekalipun untuk melakukan kehendak-Nya di bumi.

Bahkan di tengah begitu banyaknya kepedihan dan penderitaan, bagaimakah kita bisa belajar untuk percaya pada kedaulatan Tuhan atas dunia, seperti yang terlihat di sini?

KAMIS, 3 Oktober 2019.

Pentingnya Pendidikan agama yang benar

Baca Ezra 7: 6 dan 10. Apakah yang diajarkan ayat-ayat ini kepada kita tentang pentingnya pendidikan agama yang tepat?

Penyerahan sepenuh hati Ezra kepada Tuhan dan keputusannya untuk belajar, melakukan, dan mengajarkan Firman Tuhan (Ezr: 7: 6, 10), mempersiapkannya untuk pelayanan yang lebih besar di lsrael.

Ayat alkitabiah secara harfiah menyatakan bahwa ia membaktikan dirinya untuk mempelajari, melakukan/ membuat, dan mengajarkan hukum Tuhan.

Kutipan dalam Buku Alga Omega jil 4 mengatakan tentang pendidikan agama Ezra:

“Dilahirkan dari keturunan Harun, Ezra telah diberi pendidikan keimamatan; dan sebagal tambahan kepada hal ini ia telah mengenal dengan sebaik-baiknya akan tulisan-tulisan ahIi-ahli jampi, ahli nujum, dan orang-orang bijaksana dalam kerajaan Media Persia.

Tetapi ia tidak merasa puas akan keadaan kerohaniannya. Ia rindu berada dalam kesatuan yang penuh dengan Allah; ia rindu memperoleh hikmat untuk melaksanakan kehendak Ilahi. Dan dengan demikian ia “telah bertekad untuk meneliti Taurat Tuhan dan melakukannya” Ezra 7: 10.

Hal ini menuntun dia untuk lebih rajin dalam penyelidikan sejarah umat Allah, sebagaimana yang tercatat dalam tulisan-tulisan para nabi dan raja.

Ia menyelidiki buku-buku sejarah dan kesusastraan Alkitab untuk mempelajari mengapa Tuhan membiarkan Yerusalem dibinasakan dan umat-Nya dibawa sebagai tawanan ke negeri orang kafir.”

— Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 204.

“Usaha-usaha Ezra untuk menghidupkan kembali perhatian terhadap penyelidikan Kitab Suci telah dikukuhkan oleh kerajinannya, yakni pekerjaan selama hidup dalam menyediakan dan memperbanyak tulisan-tulisan kudus.

Ia mengumpulkan semua salinan tentang yang dapat diperolehnya dan ini semua ditulis kembali dan disebarkan. Perkataan yang murni dengan demikian diperbanyak dan tiba ke tangan orang banyak, memberikan pengetahuan yang tak terhitung nilainya.”

— Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 205.

Perhatikan bahwa meskipun Ezra telah belajar tentang cara-cara dan ilmu orang-orang kafir, dia melihat bahwa cara-cara itu tidak benar; makanya, dia berusaha untuk mengetahui kebenaran dari sumber kebenaran, yaitu Firman Allah dan “hukum Tuhan.”

Dia harus melupakan banyak hal yang dia pelajari di universitas dunia, karena, tidak diragukan lagi, banyak dari apa yang mereka ajarkan salah. Lagipula, apa sih bagusnya “tulisan para penyihir dan astrolog” bagi dirinya?

Pertanyaan untuk kita renungkan, dalam cara-cara apakah, kita, bahkan dewasa ini, perlu melupakan banyak hal yang telah diajarkan kepada kita oleh dunia?

JUMAT, 4 Oktober 2019.

PENDALAMAN:

Bacalah tulisan Ellen G. White,

▪ “Ezra, imam dan Ahli Kitab” Alfa dan Omega, jld. 4, him. 203-211

Pikirkan pekerjaan Ezra yang rajin: “Ezra menjadi seorang juru bicara bagi Allah, mendidik mereka yang berada di sekitarnya dalam hal prinsip-prinsip yang memerintah surga.

Selama tahun-tahun yang sisa dalam hidupnya, apakah di dekat istana kerajaan Media Persia atau Yerusalem, pekerjaannya yang terutama ialah menjadi guru.

Baca Juga: Injil menurut Ezra dan Nehemia

Sementara ia menyampaikan kebenaran-kebenaran yang dipelajarinya kepada orang lain, kesanggupannya untuk bekerja meningkat. Ia menjadi seorang yang saleh dan berani. ia adalah saksi Tuhan kepada dunia tentang kuasa kebenaran Alkitab yang menjadikan kehidupan sehari-hari mulia.”

— Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 205.

“Dalam pekerjaan pembaruan yang harus dilaksanakan sekarang, dibutuhkan manusia-manusia yang sama seperti Ezra dan Nehemia, yang tidak akan menganggap enteng atau memaafkan dosa, ataupun surut dari mempertahankan kebesaran Allah.

Orang-orang yang memikul tanggung jawab pekerjaan ini tidak akan merasakan kedamaian bila satu kesalahan dilakukan, mereka pun tidak akan menutup-nutupi kejahatan dengan jubah kebaikan yang palsu.

Mereka akan mengingat bahwa Allah tidak memandang rupa manusia, sehingga dengan demikian kesukaran bagi beberapa orang dapat terbukti merupakan rahmat bagi banyak orang. Mereka juga akan mengingat bahwa dalam diri satu orang yang mencela kejahatan Roh Kristus akan senantiasa dinyatakan.”

— Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 262.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

1. Memang benar, kita memiliki banyak janji indah dari Tuhan. Namun, pada saat yang sama, Allah tidak memaksakan diri-Nya kepada kita. Pilihan-pilihan apakah yang dapat kita buat dalam hidup kita sendiri yang dapat menghambat pemenuhan janji-janji-Nya kepada kita?

2. Baca doa dari Daniel 9: 1-23. Apakah prinsip yang Anda lihat di sana yang dapat diterapkan secara pribadi terhadap pengalaman Anda sendiri? Yakni, apakah yang Daniel lakukan, apakah sikapnya, dan apakah yang dia minta? Apa lagikah yang Anda lihat di sana yang dapat berlaku bagi kita hari ini?

3. Dalam pelajaran hari Kamis, kita membaca di mana kutipan tentang betapa sentral Firman Tuhan bagi pelayanan Ezra dan tentang betapa rajinnya dia berusaha menyebarkannya di antara orang-orang.

Apakah pelajaran yang jelas dan penting di sini bagi kita dewasa ini mengenai sentralitas yang harus dimiliki Firman Tuhan dalam kehidupan kita dan gereja kita?

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.