Pelajaran 4: Harapan Di Perjanjian Lama Tentang Kebangkitan

AYAT INTI: “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal …. Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali” (Ibrani 11: 17, 19).

Harapan Perjanjian Lama didasarkan, bukan pada gagasan Yunani tentang keabadian jiwa alami, tetapi ajaran alkitabiah tentang kebangkitan terakhir orang mati.

Tetapi bagaimana mungkin tubuh manusia yang sudah tidak ada lagi, dikremasi menjadi abu atau dihancurkan dengan cara lain, dihidupkan kembali?

Bagaimanakah seseorang yang telah meninggal, mungkin selama berabad-abad atau bahkan ribuan tahun, dapat memulihkan kembali identitasnya?

Tuhan mampu menciptakan kehidupan di bumi pertama kali dari ketiadaan (Latin exnihilo), menjadi ada.

Mengapa kita harus meragukan Tuhan untuk menciptakan kernbali kehidupan manusia dan mengembalikan identitas aslinya?

Mari kita melihat beberapa kesaksian tokoh-tokoh Alkitab tentang harapan kebangkitan orang percaya.

1. Kesaksian Ayub: Aku Akan Melihat Tuhan

Apa yang Alkitab katakan tentang Ayub? Ayub 1:1 Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.

TUHAN mengijinkan Iblis untuk menindas Ayub dgn beberapa cara yang menyakitkannya:

   1. Secara fisik, tubuhnya dirusak oleh penyakit yang menyakitkan [Ayub. 2:1-8].

   2. Secara materi, ia kehilangan sebagian besar ternak dan harta bendanya [Ayub. 1:13-17].

   3. Di dalam rumah tangganya, ia kehilangan hamba-hambanya dan bahkan anak-anaknya sendiri [Ayb. 1:16,18].

   4. Secara emosional, dia dikelilingi oleh teman-teman yang menuduhnya sebagai orang berdosa yang tidak mau bertobat yang pantas menerima apa yang dia hadapi [Ayb. 4:1-5:27, Ayub. 8:1-22, Ayub. 11:1-20].

   5. Bahkan istrinya sendiri berkata, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!” [Ayub. 2:9].

Pengharapan Ayub

Ayub sangat menderita, dan hidup kelihatan tidak adil. Ayub tidak menyadari bahwa dia telah menjadi pusat dari pergumulan kosmik yang mendalam antara Tuhan dan Iblis.

Disiksa oleh perjuangan itu, Ayub bahkan menyesali kelahirannya sendiri dan berharap dia tidak pernah dilahirkan [Ayub. 3:1-26].

Di tengah semua yg dialaminya, Ayub mengekspresikan imannya yang diungkapkan dalam Ayub 19:25-27.

Ketika membayangkan bahwa hidupnya akan segera berakhir, dia tetap yakin bahwa kematian tidak akan memiliki kata akhir.

Dengan keyakinan yang kuat dia menyatakan bahwa meskipun dia akan mati, Penebusnya suatu hari akan berdiri dan dia akan melihat Tuhan dalam tubuhnya sendiri.

Ini adalah sebuah gambaran yang tidak salah lagi tentang kebangkitan.

Di tengah keterpurukannya, Ayub masih dapat mengantisipasi hari ketika dia akan bangkit dari kematian dan melihat Penebusnya.

Di Perjanjian Baru, Marta pun memiliki keyakinan yg sama: Yohanes 11:24 Kata Marta kepada-Nya:

“Aku tahu bahwa ia akan bangkit pada waktu orang-orang bangkit pada akhir zaman.”

Ayub dan Marta harus mengklaim janji itu dengan iman, meskipun Marta telah melihat bukti kebangkitan Lazarus sementara Ayub belum pernah melihatnya.

Pengakuan iman Ayub menakjubkan dan jelas. Ini adalah ekspresi harapan yg paling indah dalam kebangkitan tubuh.

Ini adalah pengakuan iman yang tertua yang dicatat dalam Alkitab. Kita perlu belajar untuk memercayai Tuhan bahkan di tengah ketidakadilan hidup di dunia yang fana ini. “Aku akan melihat TUHAN”.

2. Kesaksian Bani Korah: Dari Kekuatan Kubur

Mazmur 49 menyajikan gambaran yang berbeda antara nasib umum manusia dan upah orang benar.

Pemazmur membandingkan kepercayaan palsu dari orang-orang bodoh dan bagaimana kepercayaan org bijak.

Bagaimana kepercayaan orang-orang bodoh?

Mereka percaya akan harta bendanya, dan memegahkan diri dengan banyaknya kekayaan mereka” [Mzm. 49: 7].

Mereka menganggap ladang-ladang adalah milik mereka [Mzm. 49: 12], dan mereka hidup hanya untuk mementingkan diri mereka sendiri [Mzm. 49:19].

Mereka bertindak seolah-olah rumah dan kemuliaan mereka akan bertahan selamanya [Mzm. 49:12,18].

Apa yang dilupakan oleh orang-orang bodoh?

Mereka lupa bahwa kehormatan mereka akan lenyap dan bahwa mereka akan binasa seperti halnya binatang [Mzm. 49:13].

“Seperti domba mereka meluncur ke dalam dunia orang mati, … perawakan mereka hancur, dunia orang mati menjadi tempat kediaman mereka” [Mzm. 49:15].

Ayub sendiri mengatakan: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya” [Ayub. 1:21].

Perbedaan radikal apakah yang ada antara orang bodoh dan orang bijak menurut pemazmur?

   1. Orang bodoh berusaha menemukan kepastian dalam kepemilikan dan pencapaian sendiri yang sementara.

   2. Orang bijak melihat, di balik kisah manusia dan penjara kubur, ada pahala mulia yang telah disediakan Allah untuknya [1 Ptr. 1:4].

Pemazmur dapat berkata dengan yakin, “Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku” [Mzm. 49:16].

Pernyataan ini tidak berarti bahwa org benar yang mati langsung ke surga, pemazmur hanya mengatakan bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di dalam kubur.

Pada akhirnya, mereka yg mengasihi dan menaati Tuhan akan memiliki nasib yang berbeda dengan mereka yang hidup hanya untuk mengejar kesenangan dunia.

Orang bijak akan menerima hadiah yang jauh lebih mulia dan abadi daripada apa yang bisa dikumpulkan orang bodoh untuk dirinya sendiri selama hidup yang singkat ini.

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.

1 Petrus 1:3-4

3. Kesaksian Daud: Dari Samudera Raya Bumi

Dalam Mazmur 71, pemazmur mencari keamanan dan harapan dari Tuhan sementara ia dikelilingi oleh musuh dan penuduh palsu yang mengatakan bahwa Tuhan telah meninggalkannya [Mzm. 71:10,11].

Di tengah pergumulanya, pemazmur menemukan penghiburan dan kepastian dalam mengingat bagaimana Tuhan telah memeliharanya di masa lalu.

Bagaimana cara pemazmur mengekspresikan pemeliharaan Tuhan kepadanya?

   1. Ia menyadari bahwa Tuhan telah menopangnya sejak lahir dan bahkan mengeluarkannya dari rahim ibunya [Mzm. 71:6].

   2. Ia mengakui bahwa Tuhan telah mengajarinya sejak masa mudanya [Mzm. 71:17].

   3. Ia memohon agar Tuhan menjadi tempat perlindungannya dan ia mau terus dalam lindungan Tuhan [Mzm. 71:3].

   4. Ia menaruh harapan kekal pada Tuhan. “Engkau yang telah membuat aku mengalami banyak kesusahan dan malapetaka, Engkau akan menghidupkan aku kembali, dan dari samudera raya bumi Engkau akan menaikkan aku kembali” [Mzm. 71:20].

Ungkapan “dari samudera raya bumi” dapat dipahami secara harfiah sebagai kiasan tentang kebangkitan fisik pemazmur di masa depan.

Mengapa pemazmur menyatakan keyakinan tersebut? Karena ia sedang dirundung kondisi depresi berat yang seolah-olah bumi menelannya.

Pada akhirnya, yang penting untuk dipahami adalah bahwa, apa pun situasi kita, Tuhan ada di sana, Dia peduli.

Dan pada akhirnya, harapan kita tidak ditemukan di kehidupan ini, tetapi di kehidupan yang akan datang-kehidupan kekal yang kita miliki di dalam Yesus setelah kita dibangkitkan pada kedatangan-Nya yg kedua kali nanti.

4. Kesaksian Yesaya: Mati Akan hidup

Yesaya 26:19  mengatakan, “Ya, TUHAN, orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali”.

Ayat ini berbicara tentang harapan yang mulia dan masa depan yang cerah yang dilukiskan bagi mereka yang tinggal bersama Tuhan.

Terlepas dari keberdosaan manusiawi kita, bagaimanapun, kasih karunia Allah yang menyelamatkan tersedia bagi semua manusia dan menjadi efektif bahkan bagi orang-orang bukan Yahudi yang memeluk perjanjian-Nya dan memelihara hari Sabat [Yesaya 56].

Yesaya 26 membuat perbedaan nasib orang jahat dan orang benar, sebagai berikut:

   1. ORANG JAHAT akan tetap mati, tanpa pernah dihidupkan kembali, setidaknya setelah “kematian kedua” [Why. 21:8].

Mereka akan dimusnahkan sepenuhnya, dan semua ingatan mereka akan binasa untuk selama-lamanya [Yes. 26:14].

Bagian ini menggarisbawahi ajaran bahwa tidak ada jiwa atau roh yang masih hidup yang tetap hidup setelah kematian.

Berbicara tentang kehancuran akhir orang fasik, yang datang kemudian, Tuhan menyatakan di tempat lain bahwa orang jahat akan dibakar habis, hingga “tidak ada akar atau cabangnya” [Mal. 4:1].

2. ORANG BENAR yang mati akan dibangkitkan dari kematian untuk menerima upah mereka. Tuhan Allah “akan meniadakan maut untuk seterusnya” dan “menghapuskan air mata dari pada segala muka” [Yes. 25:8].

Dalam Yesaya 26:19 kita menemukan kata-kata berikut: “…orang-orang-Mu yang mati akan hidup pula, mayat-mayat mereka akan bangkit pula. Hai orang-orang yang sudah dikubur di dalam tanah bangkitlah dan bersorak-sorai! Sebab embun TUHAN ialah embun terang, dan bumi akan melahirkan arwah kembali”.

Semua orang benar yang telah dibangkitkan akan mengambil bagian dalam pesta sukacita yang akan Tuhan persiapkan bagi semua orang [Yes. 25:6].

Kebangkitan terakhir akan menyatukan semua orang benar dari segala zaman, termasuk orang-orang terkasih kita yang sudah mati di dalam Kristus.

JIKA kita tidak memiliki harapan, dan jaminan apa pun dalam hidup kita, maka kematian kita adalah akhir dari segalanya bagi kita.

Namun, tidak demikian dengan orang beriman, mereka memiliki harapan dan jaminan hidup kekal.

5. Kesaksian Daniel: Yang Telah Tidur Dalam Debu

Harapan kebangkitan berakar kuat di kitab Perjanjian Lama, dimulai dengan Ayub, dan puncaknya dengan Daniel.

Kitab Daniel pasa 12 menunjuk pada hari kebangkitan yang akan terjadi baik kepada orang benar maupun orang jahat:

Daniel 12:2 menuliskan, “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal.”

Banyak yang melihat ayat ini berbicara tentang kebangkitan khusus dari orang-orang tertentu, baik yang setia maupun yang tidak setia, pada kedatangan Kristus kembali.

Benar bahwa saat kedatangan Yesus yg kedua ada orang-orang jahat tertentu yang dibangkitkan untuk mengalami kehinaan dan kegerian yang kekal.

Mereka adalah orang-orang yang mengejek dan mencemoohkan derita kematian Kristus, dan penentang paling keras kebenaran-Nya dan umat-Nya.

Mereka dibangkitkan untuk memandang Dia dalam kemuliaan-Nya, dan memandang penghormatan yang diberikan kepada mereka yang setia dan menurut.

Wahyu 1:7 mengatakan, “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.”

Sementara orang jahat yang lain akan dibangkitkan di akhir milenium untuk menerima kebinasaan kekal.

TUHAN meyakinkan Daniel bahwa dia akan dibangkitkan ke kehidupan baru di akhir zaman.

Daniel 12:13 menuliskan,  “Tetapi engkau, pergilah sampai tiba akhir zaman, dan engkau akan beristirahat, dan akan bangkit untuk mendapat bagianmu pada kesudahan zaman.”

SDA Bible Commentary, jld. 4, hal. 1143 menerangkan sebagai berikut: “Pemberi Kehidupan akan memanggil milik-Nya yang telah dibeli dalam kebangkitan pertama, dan sampai saat kemenangan itu, ketika sangkakala terakhir akan dibunyikan dan pasukan besar akan maju menuju kemenangan abadi, setiap orang suci yang tertidur akan disimpan dalam keselamatan dan akan dijaga sebagai permata yang berharga, yang dikenal oleh Tuhan dengan nama mereka. Dengan kuasa Juruselamat yang berdiam di dalam mereka saat hidup dan karena mereka mengambil bagian dalam sifat Ilahi, mereka dibangkitkan dari kematian”.

Pertanyaan Renungan:

Apakah harapan akan Kedatangan Yesus yang kedua kali dan adanya Kebangkitan org benar di akhir zaman, akan meningkatkan kualitas hubungan saya baik di lingkungan keluarga, lingkungan tempat tinggal saya dan lingkungan kerja saya?

Kesimpulan

Kematian itu menyedihkan, dingin, dan tidak wajar. Ini merampas kehidupan. Kita tidak pernah ditakdirkan untuk mati. Hanya karena dosa kita mati.

Namun, di Taman Eden di tengah kegelapan dan keputusasaan, Tuhan memperkenalkan harapan. 

Harapan kebangkitan sudah kuat dalam Perjanjian Lama. Itu dimulai dengan Ayub, memuncak dengan Daniel.

Pernyataan Ayub bahwa dia akan melihat Tuhan dalam dagingnya setelah kematian adalah harapan luar biasa tentang apa yang akan Tuhan lakukan pada akhirnya. 

Daud bersukacita bahwa setelah kematian dia akan beristirahat dalam damai dan tidak akan dilupakan oleh Tuhan tetapi akan dibangkitkan ke kehidupan baru dan tidak akan mengalami kehancuran abadi.

Kematian mirip dengan istirahat dari pekerjaan yang setia. Tetapi setelah itu akan datang warisan yang manis: hidup yang kekal bersama Tuhan.

‘Banyak orang yang tidur di dalam debu tanah akan bangun: beberapa untuk hidup yang kekal, yang lain untuk rasa malu dan penghinaan yang kekal'” (Dan. 12:2, NIV).

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *