Pelajaran 3: Memahami Sifat Manusia

AYAT INTI: “Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kejadian 2: 7)

Dua pernyataan yang saling bertentangan dari Allah dan Iblis kepada Adam dan Hawa. Allah berkata, “Kalau dimakan engkau pasti mati.”

Iblis berkata, “ Sekali-kali engkau tidak akan mati.”

Pertentangan ini terus berlanjut hingga sekarang. Lalu ada orang-orang yang mencoba untuk mendamaikan kedua pernyataan tersebut.

Sepanjang sejarah banyak yang telah mencoba menyangkal realitas kematian dengan mengajarkan berbagai bentuk kehidupan setelah kematian

Inti ajaran mereka adalah jiwa itu tetap baka walau terpisah dari tubuh pada saat kematian.

Kalimat “Kamu akan mati” hanya mengacu pada tubuh fisik yang fana, sedangkan kalimat, “sekali-kali kamu tidak akan mati!” adalah kiasan untuk jiwa atau kebakaan jiwa.

Namun kedua hal itu tidak dapat didamaikan. Karena tidak mungkin kata-kata setan yang bertentangan dengan Firman Tuhan dapat diselaraskan.

Tidak mungkin Firman Tuhan yang benar didegradasi supaya kelihatan cocok dengan ajaran setan.

Tidak mudah menelusuri asal mula ajarab keabadian jiwa ini, karena semua peradaban kuno meyakini kehidupan sadar setelah kematian.

Sejarawan Yunani, Herodotus, yang hidup di abad kelima sebelum Kristus, memberi tahu kita dalam Sejarahnya bahwa orang Mesir kuno adalah yang pertama mengajarkan bahwa jiwa manusia abadi dan terpisah dari tubuh.

Keyakinan ini sudah ada berabad-abad sebelum Yudaisme, Hellenisme, Hindu, Budha, Kristen, dan Islam.

Apakah kepercayaan populer ini diajarkan dalam Alkitab? Apakah Alkitab mengajarkan jiwa abadi yang meninggalkan tubuh pada saat kematian dan pergi ke surga atau neraka, atau api penyucian?

Mari kita membahas bagaimana Perjanjian Lama mendefinisikan sifat manusia dan kondisi manusia pada saat kematian.

1. Manusia diciptakan

Titik awal untuk mempelajari pandangan Alkitab tentang sifat manusia adalah kisah penciptaan manusia.

Pernyataan Alkitab yang paling penting untuk memahami sifat manusia ditemukan dalam Kejadian 2: 7.

Karena itu teks ini menjadi dasar dari banyak diskusi mengenai sifat manusia, karena dalam ayat ini dicatat satu-satunya laporan Alkitab tentang bagaimana Tuhan menciptakan manusia.

Teks itu berbunyi: “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”

Secara historis, teks ini telah dibaca melalui kacamata dualisme klasik. Diasumsikan bahwa nafas kehidupan yang Allah tiupkan lewat hidung manusia tertanam ke dalam tubuh fisik dan itu baka.

Sehingga Ketika tubuh mati, roh/jiwa pergi meninggalkan tubuh.

Ketika kita membaca perjanjian lama dengan mengacu pada kata Nephesh (Diterjemahkan 472 kali di KJV sebagai “jiwa” dengan menggunakan pola dualistik, akan mengalami kebingungan dalam memahami pandangan Alkitab antara tubuh dan jiwa sebagai orang yang sama walau dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

Dari perspektif Alkitab, tubuh dan jiwa bukanlah dua zat berbeda (satu makhluk hidup dan yang lainya abadi) tinggal bersama dalam satu manusia, tetapi dua karakteristik dari orang yang sama.

Johannes Pedersen menyimpulkan titik ini dengan sebuah pernyataan yang telah menjadi pepatah: “Tubuh adalah jiwa dalam bentuk lahiriahnya.”

Jadi ungkapan “ manusia itu menjadi makhluk yang hidup – nephesh hayyah” tidak berarti bahwa pada penciptaan tubuhn manusia diberkati dengan jiwa abadi, entitas yang terpisah, berbeda dari tubuh.

Artinya Ketika Tuhan menghembuskan “nafas hidup” kedalam tubuh manusia yang belum bernyawa itu, maka manusia menjadi makhluk hidup, bernapas, tidak lebih, tidak kurang.

Jantung mulai berdetak, darah mengalir, otak mulai berpikir, dan semua tanda vital kehidupan diaktifkan. Secara sederhana menyatakan, “jiwa yang hidup” berarti “makhluk hidup.”

Pada saat kematian, jiwa berhenti berfungsi karena jiwa tak dapat dipisahkan dengan tubuh karena tubuh adalah manifestasi luar jiwa.

Jiwa adalah seluruh tubuh manusia atau alam kehidupan manusia, atau hal ini dapat disamakan dengan pikiran (kel 16:16).

Jiwa dan orang itu sama. Kita sering sebut “keselamatan jiwa-jiwa/orang-orang..jadi jiwa itu adalah hidup itu sendiri, bukan bagian lain yang berbeda..

Jadi kesimpulanya adalah persekutuan antara nafas hidup atau prinsip kehidupan dengan debu tanah yang menghasilkan kehidupan manusia itu.

2. “Orang Yang Berbuat Dosa, Itu Yang Harus Mati”

Mari kita baca Yehezkiel 18: 4, 20 dan Matius 10: 28. Ayat-ayat ini dapat membantu kita memahami sifat jiwa manusia itu.

Kematian adalah akibat dosa. Karena itu semua orang berdosa akan mengalami kematian.

“Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” Rm. 5: 12).

Kita dapat menemukan 2 konsep penting. Pertama, bahwa manusia dan binatang-binatang juga sama-sama mati.

“Karena nasib manusia adalah sama dengan nasib binatang, nasib yang sama menimpa mereka; sebagaimana yang satu mati, demikian juga yang lain. Kedua-duanya mempunyai nafas yang sama, dan manusia tidak mempunyai kelebihan atas binatang …. Kedua-duanya menuju satu tempat; kedua-duanya terjadi dari debu dan kedua-duanya kembali kepada debu” (Pkh. 3: 19, 20).

Kedua, Kematian fisik seseorang menyiratkan penghentian keberadaannya sebagai jiwa yang hidup (Ibr. nephesh).

Dalam Kejadian 2:16, 17 Allah telah memperingatkan Adam dan Hawa bahwa jika mereka berbuat dosa, mereka akan mati.

Dalam Yehezkiel 18:4, 20, “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati.” ini sejalan dengan pernyataan Allah kepada Adam dan Hawa.

Karena dosa kita akan merosot tubuhnya. Menua, hingga akhirnya mati. karena itu, gagasan mengenai kebakaan jiwa menjadi tidak cocok.

Maka Ketika kita mati, kita Kembali menjadi tanah. Tidak ada lagi. Dan itu sejalan dengan Alkitab, bahwa orang mati:

  1. Tidak mengetahui apa-apa. Pengkt 9:5
  2. Dia tidak tau apa yang terjadi (ayub 1:21)
  3. Tidak lagi ambil bagian dalam segala sesuatu (Pengk 9:6)
  4. Dia tidak lagi memuji Tuhan (Maz 113:17)
  5. Tidak lagi ada pengharapan akan kebenaran (Yes 39:18,19)
  6. Dia tidak lagi berpikir (Maz 146:3,4)

Satu-satunya solusi bagi manusia berdosa bukan kebakaan jiwa, tetapi adalah kebangkitan terakhir dari mereka yang mati di dalam Kristus.

Yesus berkata, “setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada- Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh. 6: 40).

3. “Roh Kembali Kepada Tuhan”

Mari kita baca Pengkhotbah 12: 1-7. Ayat ini sering disalah mengerti sebagai petunjuk bahwa roh manusia itu hidup sekalipun tubuhnya mati. bahkan roh orang mati Kembali kepada Bapa. Atau duduk dipangkuan Bapa.

Tubuhnya tinggal. Rohnya pergi melayang-layang. Bagaimana kita dapat mengerti ayat ini? untuk mengerti ayat ini kita harus pahami dengan baik Kejadian 2:7.

Pengkhotbah 12: 1- 7 dalam istilah yang cukup dramatis menggambarkan proses penuaan, yang berpuncak pada kematian. Ayat 7 mengacu pada kematian sebagai kebalikan dari proses penciptaan yang disebutkan dalam Kejadian 2: 7.

“TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej. 2: 7).

Kemudian, Pengkhotbah 12: 7 memberi tahu kita bahwa “debu akan kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh akan kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.”

Jadi, napas kehidupan yang Tuhan hembuskan ke dalam lubang hidung Adam, dan yang juga Dia berikan kepada semua manusia lainnya, kembali kepada Tuhan atau, dengan kata lain, berhenti mengalir ke dalam dan melalui mereka.

Kita harus ingat bahwa Pengkhotbah 12: 7 menggambarkan proses kematian semua manusia dan tanpa membedakan antara yang benar dan yang jahat.

Kalau ayat ini dijadikan sebagai rujukan kebakaan jiwa, maka roh orang jahat yang mati ada bersama dengan Tuhan.

Maka ini sangat tidak logis.

Pemazmur berkata, “Apabila Engkau menyembunyikan wajah-Mu, mereka terkejut; apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu” (Mzm. 104: 29).

Poinnya, “ Kata rohnya Kembali kembali kepada Allah yang mengaruniakannya,” tidak mengatakan bahwa jiwa orang mati hidup dan pergi kesurga.

Ayat itu menyatakan, keberadaan hidup itu berakhir. Tidak ada lagi.

4. Keadaan Orang Mati: “Orang Mati Tidak Tahu Apa-Apa”

Bacalah Ayub3: 11-13;Mazmur115: 17; Mazmur146: 4; dan Pengkhotbah 9: 5, 10. Apakah yang dapat kita pelajari dari bagian-bagian ini tentang kondisi manusia pada saat kematian?

Pertama, dalam Ayub 3, Ayub menyesalkan kelahirannya sendiri, karena semua penderitaan. Dia menyadari bahwa jika dia meninggal pada saat kelahirannya, dia akan tetap tidur dan beristirahat (Ayb. 3: 11, 13).

Mazmur 115 mendefinisikan lokasi di mana orang mati disimpan sebagai tempat keheningan, karena “bukan orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN” (Mzm. 115: 17).

Menurut Mazmur 146, aktivitas mental individu berhenti dengan kematian: “Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya” (Mzm. 146: 4) .

Ini adalah penggambaran alkitabiah yang sempurna tentang apa yang terjadi pada saat kematian.

Dan Pengkhotbah 9 menambahkan bahwa “orang mati tidak tahu apa-apa” dan di dalam kubur “tidak ada pekerjaan atau akal atau pengetahuan atau hikmat” (Pkh. 9: 5, 10).

Pernyataan-pernyataan ini menegaskan ajaran alkitabiah bahwa orang mati tidak sadar.

Bagi orang percaya, kematian bukan hal yang mengerikan. Berikut 2 alasannya:

Pertama, tidak ada neraka yang menyala-nyala atau api penyucian yang menunggu mereka yang mati tanpa harapan. Orang jahat.

Kedua, ada upah yang luar biasa menunggu mereka yang mati di dalam Kristus.

“Bagi orang percaya, kematian hanyalah merupakan suatu perkara kecil .. .. Bagi orang Kristen, kematian hanyalah tidur saja, suatu saat ketenangan dan kegelapan.

Hidup terlindung dengan Kristus dalam Allah, dan ‘apabila Kristus yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu-pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.’ Yoh. 8: 51, 52; Kol. 3: 4″- Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 436.

5. Beristirahat Bersama Para Leluhur

Baca Kejadian 25:8; 2 Samuel 7:12; 1 Raja-raja 2:10; 22:40.

Kematian dan penguburan disampaikan dengan cara yang berbeda di Perjanjian Lama. Salah satunya adalah gagasan berkumpul atau dikumpulkan dengan kaumnya sendiri. Contohnya Abraham dan Harun. Alkitab mencatatkan keduanya dikumpulkan kepada kaum leluhurnya (Kejadian 25:8; Ulangan 32:50).

Cara lain yaitu ekspresi beristirahat dengan para leluhur seperti yang dinyatakan tentang Daud. Daud mendapatkan perhentian bersama-sama nenek moyangnya dan dikuburkan di kota Daud (1 Raja-raja 2:10).

Ini menunjukkan paling sedikit ada tiga aspek tentang kematian:

  1. Cepat atau lambat saatnya akan tiba ketika manusia perlu beristirahat dari kerja keras dan penderitaan yang melelahkan.
  2. Bukan hanya seseorang yang akan mati namun generasi sebelumnya sudah juga mengalami kematian lebih dulu.
  3. Ketika seseorang dikuburkan, dia tidak ssendirian, tetapi tetap bersama bahkan selama kematian yang justru tidak disadari itu. Bersama dengan siapa? Bersama dengan semua yang sudah mati.

Namun mereka yang mati di dalam Kristus dapat dikuburkan dekat dengan orang yang mereka kasihi, tetapi meskipun demikian tidak ada komunikasi di antara sesama yang sudah mati.

Mereka yang sudah mati akan tetap tidak sadar sampai hari kedatangan Yesus kedua kali.

Orang mati yang mati di dalam TUHAN akan dibangunkan dari tidur nyenyak mereka untuk bergabung kembali dengan orang-orang yang mereka kasihi yang mati di dalam Kristus dan orang-orang benar yang masih hidup.

Semuanya akan diubahkan dalam keadaan yang tidak dapat mati lagi.

Kesimpulan

Beberapa poin penting:

1. Kematian berarti semua unsur telah berhenti total termasuk otak. Ini berbeda dengan seseorang yang dibius total di mana tubuh tidak merasakan sakit apa-apa namun otak masih berfungsi.

Mereka yang mati tidak tahu apa-apa, dan hal yang akan diketahui selanjutnya ialah kedatangan Yesus kedua kali atau setelah millennium untuk orang mati akan menerima upah masing-masing.

2. Sampai saat ini semua orang mati, baik orang benar dan orang jahat, beristirahat karena apa yang tampak bagi mereka hanyalah sekejap.

Bagi yang masih hidup, kematian seolah-olah berlangsung lama. Untuk yang hidup terasa lama lama, tetapi bagi orang yang mati tampaknya hanya berlangsung sesaat.

3. Jika benar bahwa jiwa semua orang langsung pergi ke surga pada saat meninggal, maka lebih baiklah mati sekarang dari pada hidup. Banyak orang akan memilih mati cepat atai mengakhiri hidupnya sendiri karena pasti akan masuk surga jiwanya dan berada dalam ketenangan. Pemahaman ini tidaklah berlandaskan firman TUHAN.

4. Alkitab tidak mengajarkan bahwa orang-orang benar menerima upah mereka atau orang-orang jahat menerima hukuman mereka pada waktu meninggal.

Alkitab menegaskan bahwa orang mati tidak langsung ke surga. Mereka digambarkan sebagai sedang tidur sampai hari kebangkitan.

5. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa TUHAN. Manusia dibuat setara dengan fungsi biologis yang berbeda serta diciptakan dalam ketergantungan total pada TUHAN.

Meskipun tidak abadi, karena hanya TUHAN yang abadi, manusia tetap bisa hidup kekal jika mereka tetap dalam hubungan saling percaya dan penuh kasih dengan Pencipta.

6. Manusia atau jiwa pada dasarnya tidak abadi. Manusia tidak memiliki keberadaan sadar selain dari tubuh.

Setelah meninggal, kesadaran manusia tidak lagi berlangsung. Keabadian manusia selalu dan hanya berasal dari TUHAN.

7. Kata “jiwa” dalam “jiwa yang hidup” berarti “pribadi” atau “diri.” Manusia adalah jiwa itu; manusia tidak memiliki jiwa.

Apa arti jiwa? Jiwa dirancang untuk dilihat bersama dengan seluruh bentuk manusia dan terutama napasnya; manusia tidak memiliki jiwa; manusia adalah jiwa, dia hidup sebagai jiwa.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *