Pelajaran 2: Kematian Dalam Dunia Yang Berdosa

AYAT INTI: “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Roma. 5: 12)

Allah menciptakan manusia yang sempurna. Tetapi mengapa ada kematian? Pelajaran pertama minggu lalu memberikan jawabannya.

Semua berawal dari pilihan yang salah. Lucifer yang memulainya. Dia tidak puas dengan posisi yang dimilikinya.

“Lusifer iri dan cemburu kepada Yesus Kristus” (The Story of Redemption, hlm. 14) dan berkomplot melawan Tuhan.

Dia di usir dari Sorga. Sejak saat itu, ia memutuskan “menghancurkan kebahagiaan Adam dan Hawa” di bumi dan dengan demikian “menimbulkan kesedihan di surga”.

Iblis itu berangan-angan, “jika dia bisa dengan cara apa pun memperdaya mereka [Adam dan Hawa] untuk tidak taat, Tuhan akan membuat beberapa ketentuan di mana mereka dapat diampuni, dan kemudian dirinya dan semua malaikat yang jatuh akan dengan cara yang adil untuk berbagi dengan mereka tentang Rahmat Tuhan” The Story of Redemption, hlm. 27.

Tuhan membaca strategi Iblis. Adam dan Hawa diperingatkan untuk taat kepada perintah Tuhan.

Dalam perintahnya di Kej 2:16-17, tidak menurut akibatnya akan mati.

Ada tersirat saat itu akan ada kuasa jahat yang akan menggoda mereka untuk mengabaikan perintah itu.

Melalui pelajaran ini kita akan melihat 3 penyebab Adam dan Hawa berdosa yang menyebabkan kematian serta bebagai konsekuensinya dan janji-janji pemulihan.

1. Tidak perpegang kepada perintah Tuhan

Jauh hari sebelum bumi diciptakan, di Sorga sudah muncul pemberontakan melawan Tuhan oleh Lucifer.

Dalam suasana bayang-bayang pemberontakan Lucifer, Tuhan menciptakan bumi. Sempurna, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kej 1:31.

Melihat ciptaan baru ini, Lucifer mengincarnya untuk dirusak. Karena itu, Tuhan datang ke Taman Eden dan memperingatkan kepada Adam dan Hawa:

“Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” (Kej. 2: 16, 17).

Lucifer datang ke Taman Eden. Tuhan mengijinkan dia masuk. Dia menggunakan ular sebagai alat menggoda. Motifnya untuk membuat Hawa meragukan perkataan Tuhan di Kej 2:16-17.

Kejadian 3:1-4, Iblis muncul kepada Hawa dengan menunggangi Ular. Ia binatang paling cerdik. Hawa kenal binatang ini. Mereka yang kasih nama.

Ia memulai membuka argumentasi dengan mengutip kata-kata Tuhan di Kej 2:16-17, disampaikan dalam bentuk pertanyaan.

Hawa menjawab pernyataan sekaligus pertanyaan ular. Awalnya masih lurus. Tetapi ular berusaha menyakinkan bahwa sekali-kali tidak akan mati kalau makan buah itu.

Justru kalau dimakan akan mendapatkan keuntungan ganda yaitu sama seperti Tuhan tahu tentang yang baik dan jahat. Ini argument kontradiktif tapi meyakinkan Hawa untuk dua alasan:

Pertama, tidak ada bukti tentang keberadaan dosa dan kematian saat itu. Kedua, ular memakan buah itu dan menikmatinya dan tidak terjadi apa-apa dengan dirinya. Jadi aman.

Hawa tertarik dan memutuskan mengikuti ular makan buah itu. Tapi dia mengabaikan tiga prinsip dasar ini.

Pertama, kita harus mempercayai Tuhan lebih dari pada akal sendiri dalam menilai sebuah kebenaran.

Kedua, walau Firman Tuhan sering kelihatan tidak masuk akal, tetapi itu benar dan dapat dipercaya.

Ketiga, walau tidak ada racun dalam pohon itu, tetapi Tuhan menggunakan sebagai ujian kesetiaan.

Jadi, intinya kejatuhan Hawa tidak terjadi begitu saja. Banyak faktor yang menyertainya.

Aplikasi bagi kita, setiap hari dan setiap saat kita perlu memutuskan antara Firman Tuhan (yang bagi banyak orang mungkin tidak populer) dan daya tarik yang menggoda dari budaya disekitar kita.

Pilihan kita akan menentukan konsekuensinya. Mati kekal atau hidup kekal.

2. Tidak berpegang pada perintah Tuhan menyebabkan mudah termakan kata-kata Iblis

Mari kita baca kejadian 3:1-7. Apa yang membuat Hawa memilih perkataan ular dari pada TUhan?

Kejadian 3 adalah salah satu contoh paling jelas tentang psikologi pencobaan.

Hawa sudah tahu perintah Tuhan. Sudah diperingatkan juga. Kalau makan pasti mati (Kej. 2: 16, 17). Mereka paham konsekuensi itu.

Iblis juga tahu perintah Tuhan itu. Supaya berhasil dia harus gunakan tipu muslihat. Pertama, menggunakan perantara ular. Kedua, dengan kecerdikan Menyusun kalimat/bernarasi.

Ular membuka pembicaraan dengan mengutip kata-kata Tuhan, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Kej 3:1).

Kutipan ini salah semua. Tapi sekilas nampak benar. Coba cermati beberapa hal yang bermasalah dengan kutipan ular ini.

Pertama, perintah Tuhan dalam Kej 2:16, tidak ada kata “Jangan.” Yang benar adalah “Boleh.” “Semua… boleh kamu makan….kecuali pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan.” . (17)

Lihat penempatan kata “Jangan.” Kata itu iblis pindahkan dikalimat pertama, maka seolah Tuhan melarang memakan semua pohon dalam taman.

Cara membangun narasi ini mengacaukan pikiran Hawa. Hak memilihnya mulai berkembang kearah yang lain.

Namun, Hawa membantah narasi ular, bahwa yang dilarang Tuhan hanya, buah pohon yang ada di tengah-tengah taman. Kalau dimakan pasti mati.

Kemudian, Iblis menentang pernyataan Tuhan. Dia menegaskan dengan pasti, “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3: 4).

Nah, narasi ini dikutip dari kata-kata Tuhan tetapi sedikit dimodifikasi sehingga artinya menjadi lain. Tuhan bilang, pasti mati. Setan bilang tidak akan mati. Penggunaan kata “sekali-kali” menjadi bias.

Iblis tidak berhenti sampai dikalimat itu dan dia tidak lagi mengutip kata-kata Tuhan. Sekarang iblis membangun narasi yang membangkitkan keingin tahuan lebih, bahwa ada pengetahuan yang Tuhan tidak sampaikan kepada mereka.

“Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej. 3: 5).

Hawa tentu penasaran. Keingintahuan ini membawa Hawa berada di area Iblis. Di sana dia dipaksa untuk memutuskan apakah akan tetap setia pada perintah Tuhan yang mengekang atau menerima bujukan lblis yang menggoda.

Pada tahap ini dia mulai meragukan Firman Tuhan. Dia menggunakan pengertiannya sendiri. Dia mulai mengobservasi. Melihat bahwa ini masuk akal.

Dalam penelitian ini disebut metode empiris. Upaya untuk memutuskan di antara dua pernyataan yang saling bertentangan melalui pengamatan dan masuk akal sehat.

Pertama, dia melihat bahwa dari sudut pandang makanan, “pohon itu baik untuk makanan.” Kedua, dari sudut pandang estetika, dia melihat bahwa “itu menyenangkan untuk dilihat.”

Ketiga, dari analisis logis, “pohon itu diinginkan untuk membuat seseorang bijaksana.”

Ketika tiba pada tahap ini, tidak ada lagi keraguan karena masuk akal. Maka Hawa pun dengan keyakinan penuh mengambil buah itu dan memakannya. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya.

Pengalaman tragis Adam dan Hawa di Taman Eden menunjukkan bahwa pengetahuan itu sendiri bisa sangat merugikan, bila mengandalkan akal pikiran sendiri.

Ada beberapa hal yang, memang, lebih baik kita tidak mengetahuinya. Tetapi manusia itu orang yang serba ingin tahu. Tidak masalah. Tapi supaya tidak tertipu, kita harus melandaskan semua pengetahuan dengan Firman Tuhan.

Jika berlawanan dengan Firman-Nya, segera tolak dan jangan buka ruang argumentasi dan kompromi.

3. Tidak berpegang pada perintah Tuhan menyebabkan rasa ingin tahu yang lebih

Tuhan mengatakan, kalau kamu makan kamu pasti mati. Iblis katakan sebaliknya, sekali-kali kamu tidak akan mati.

Hawa telah dibohongi. Tapi sebenarnya dia tidak perlu menjadi korban kebohongan karena dia sudah tahu yang benar yaitu pasti mati kalau makan buah itu.

Gara-gara Hawa percaya pada kebohongan Iblis ini maka kebohongan ini terus langgeng dalam hidup manusia..

Ada satu pernyataan sebagai berikut: “Kebohongan yang diulang-ulang akan diterima sebagai kebenaran,” (Goebbels)

Di Alkitab ada satu kebohongan yang terus diulang-ulang, sehingga dianggap sebagai kebenaran. Kebohongan itu adalah “Sekali-kali kamu tidak akan mati,”

Kita dapat melihat kebohongan mengenai kematian ini dalam berbagai kepercayaan tentang kebakaan jiwa.

Banyak agama, filosofi dan kepercayaan dibangun diatas gagasan ini. Misalnya agama mesir kuno.

Mereka mengawetkan jenazah orang mati dan menempatkan di Piramida. Praktek ini ada karena keyakinan bahwa ada kehidupan setelah mati.

Mereka percaya orang yang meninggal akan diadili di aula Kebenaran oleh Dewa Osiris. Sehingga dipastikan tubuh dalam kondisi baik supaya jiwanya dapat bergerak menunggu proses penimbangan hati.

Teori ini juga menjadi salah satu pilar utama filsafat Yunani. Misalnya, di Republik Plato, Socrates bertanya kepada Glaucon: “Apakah kamu tidak sadar bahwa jiwa kita abadi dan tidak pernah binasa?”

Socrates berpendapat dengan nada yang sama, mengatakan “jiwa itu abadi dan tidak dapat binasa, dan jiwa kita benar-benar akan ada di Hades.”

Filosofis ini telah membentuk sebagian besar budaya Barat dan bahkan kekristenan setelah rasul-rasul.

Tetapi filosofis itu bermula jauh lebih awal, sudah ada di Taman Eden, bersama Iblis sendiri.

Inti dari pencobaan Iblis adalah, “Sekali-kali kamu tidak akan mati” (Kej. 3: 4). Dengan pernyataan ini, Iblis telah mengesampingkan ajaran Tuhan tentang kematian.

Untuk melawan ajaran kebakaan jiwa ini anda dapat menggunakan ayat-ayat Alkitab berikut ini: Mzm. 115: 17; Yoh. 5:28, 29; Mzm. 146: 4; Mat. 10: 28; 1 Kor. 15: 51-58

Ingat, sejak lama iblis telah menggunakan media yang dekat dengan kita untuk meneruskan kebohongannya. Melalui media televisi, bacaan, ilmu pengetahuan. Bahkan dalam mimbar-mimbar Kristen.

Karena itu kita harus berpengang kepada Firman Allah untuk mengantisipasi ajaran iblis tentang kebakaan jiwa.

4. Konsekuensi – Konsekuensi Dosa

Setelah manusia berdoa maka muncul banyak konsekuensi yang mengerikan. Kita bisa baca dalam Kejadian 3: 7-19 dan Roma 5: 12.

a. Gambar dan rupa Allah hilang Sebagian. “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.” (7)

b. Bersembunyi dari Tuhan karena takut. “bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah” (8)

c. Sifat saling menyalahkan. “”Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” (12)

Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” (13)

d. Akan ada pertentangan segala zaman antara kebenaran dan kejahatan (15)

e. Perempuan akan susah mengandung dan sakit melahirkan. (16)

f. Perempuan akan dikuasai laki-laki (16)

g. Tanah terkutuk

h. Susah payah mencari nafkah

i. Akan kembali menjadi tanah alias mati (17-19).

j. Dimasa depan Yesus akan mati menebus manusia.

Kejatuhan memang membawa konsekuensi tragis bagi seluruh umat manusia. Hidup manusia menderita.

Penyakit, bencana, hancurnya moralitas, pembunuhan, bencana Alam, peperangan, kematian dimana-mana dll tambahkan sendiri.

Rasul Paulus menjelaskan bahwa, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5: 12).

Melihat akibat dosa yang mengerikan ini dan kita semua menanggungnya, maka kita harus belajar menurut kepada Tuhan dan melawan dosa dan kejahatan. Menaburkan benih kebenaran, supaya dunia ini dipenuhi dengan kebenaran Tuhan.

5. Janji Injil Pertama untuk pemulihan manusia dari akibat dosa

Ditengah keputusasaan manusia karena dosa, Tuhan sejak semua telah menerbitkan harapan bagi manusia.

Harapan itu dapat kita baca dalam kejadian 3:15, 21.

“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Ini dikenal sebagai protoevangelium atau injil pertama. Ayat tersebut memperkenalkan dua unsur yang sebelumnya tidak dikenal di Taman Eden.

Unsur-unsur yang menjadi dasar Kekristenan yaitu kutukan atas umat manusia karena dosa Adam dan penyediaan Allah bagi Juru Selamat dari dosa yang akan menanggung kutuk atas diri-Nya.

Kata “permusuhan” (Ibrani: ‘eybah) menyiratkan tidak hanya kontroversi kosmik yang bertahan lama antara yang baik dan yang jahat, tetapi juga penolakan pribadi terhadap dosa, yang telah ditanamkan oleh kasih karunia Allah dalam pikiran manusia.

Nubuatan mesianik pertama dalam Kejadian 3:15 adalah bahwa benih perempuan (Kristus) pada akhirnya akan mengalahkan Setan dan benihnya (Gal 4:4-5).

Tuhan sendiri menempatkan permusuhan (permusuhan) di antara mereka, dan Tuhan akan mencapai klimaks perang ketika Setan dilemparkan ke neraka (Wahyu 20:10).

Protoevangelium menunjukkan kepada kita bahwa Allah selalu memikirkan rencana keselamatan dan memberitahu kita tentang rencana-Nya segera setelah dosa memasuki dunia.

Selanjutnya Tuhan mempragakan bagaimana Dia akan menyelamatkan manusia itu. Injil yang dipragakan.

“Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.”

Disini ada binatang yang mati darahnya tercurah.

Ini adalah bayangan dari penebusan pengganti, yang suatu hari akan menyediakan “pakaian kebenaran” sebagai hasil dari pengorbanan Kristus bagi manusia (2 Kor 5:21, 1Kor 1:30, Yes 61:3,10, Yes 63:1).

Pakaian dalam Alkitab sering kali merupakan gambaran keselamatan.

“Berabad-abad kemudian orang Yahudi akan belajar lebih banyak tentang hal itu ketika mereka diperintahkan untuk mengorbankan seekor domba dan mengoleskan darahnya ke tiang pintu sehingga malaikat maut akan “melewati” mereka (Keluaran 12).

Adam dan Hawa diusir dari taman Eden, tetapi dengan pengharapan akan datangnya Juruslamat. Mereka keluar dari sana dengan pakaian yang Tuhan telah kenakan kepada mereka.

Kita semua sementara menantikan puncak penggenapan janji Tuhan tentang Mesias, yaitu kedatangan-Nya kedua kali dan pembersihan dosa dari dunia untuk selamanya.

Kesimpulan

1. Pemberontakan dan ketidaktaatan dimulai di surga tetapi dipindahkan ke bumi ketika Adam dan Hawa berdosa, dan pertentangan besar antara yang baik dan jahat dimulai di bumi.

2. TUHAN Pencipta tidak meninggalkan manusia yang tidak berpengharapan. TUHAN memberikan solusi Mesias yaitu mengirimkan Benih yang dijanjikan, Yesus Kristus.

3. Dosa tidak hanya membawa komplikasi tetapi pada akhirnya kematian.

4. Beberapa konsekuensi dosa: manusia putus hubungan dengan TUHAN; Manusia takut bertemu dengan TUHAN;

Manusia saling menyalahkan; Kematian datang kepada manusia; Perempuan susah payah waktu mengandung dan melahirkan;

Pernikahan berubah menjadi tempat mendapatkan supremasi bukan sebuah hubungan yang penuh kasih;

Manusia harus bekerja dengan susah payah; Manusia kehilangan kemampuan membedakan yang baik dan jahat; Hubungan manusia dengan alam menjadi terganggu; Dosa menghasilkan tindakan kekerasan.

5. Pengalaman menjelang ajal yang coba diajarkan oleh kelompok-kelompok tertentu tidaklah berdasarkan Alkitab.

Ini adalah ajaran Zaman Baru. Kelompok-kelompok ini mencoba menggambarkan bahwa manusia menjelang ajalnya bertemu dengan makhluk bercahaya yang memberi kata-kata yang menghibur, tentang cinta, kedamaian, dll.

Tapi dalam pertemuan itu mereka tidak mendengarkan kabar tentang keselamatan di dalam Kristus, atau tentang dosa dan penghakiman.

Pengajaran ini sebenarnya muncul dari oknum yang pernah menipu Adam dan Hawa di taman Eden.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *