
“Sebab jalan-Ku bukanlah jalanmu, dan rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, demikianlah firman TUHAN.” (Yesaya 55:8)
Pendahuluan
Banyak hal yang paradoks dalam Alkitab, yang saya maksud adalah prinsipnya bertentangan dengan logika manusia.
Coba saja Anda baca dan cermati, semakin dibaca, semakin banyak kita temukan ajaran Yesus yang tampak berlawanan dengan cara bepikir dunia.
Misalnya, dunia berkata, “Kalau ingin menjadi besar, naiklah setinggi mungkin.” Tentu ini metafora tentang bagaimana dunia mengukur kesuksesan, kekuasaan, dan pengaruh..
Yesus berkata, “Barangsiapa ingin menjadi yang terbesar, hendaklah ia menjadi pelayan.” (Markus 10:43-44)
Dunia berkata, “Balaslah orang yang menyakitimu.” Artinya respon terhadap perlakuan buruk adalah dengan tindakan yang sama agar mereka merasakan sakit yang sama.
Sebaliknya, Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu. Bahkan berdoa untuk mereka” (Matius 5:44 dan Lukas 6:27-28)
Dunia berkata, “Pegang erat apa yang kamu miliki.” Tuhan berkata, “Berilah, maka kamu akan diberi.”
Mengapa ajaran Kristus terasa seperti membalikkan semua cara berpikir kita?
Jawabannya sederhana saja: Kerajaan Allah tidak dibangun di atas logika kita. Nilai-nilai-Nya lahir dari kasih, iman, dan hidup kekal.
Itulah sebabnya, mengapa kita menemukan banyak prinsip Alkitab yang tampaknya paradoks—seolah bertentangan, padahal justru mengandung kebenaran yang lebih dalam.
Paradoks yang saya maksudkan disini bukan Alkitabnya yang saling bertentangan.
Paradoks adalah dua kenyataan yang tampaknya berlawanan, tetapi ketika dipahami dari sudut pandang Allah, keduanya justru saling melengkapi.
Mengapa Paradoks Sulit Diterima?
Itu karena dari kecil kita belajar dan diajarkan seperti misalnya bahwa jika ingin memperoleh hasil harus melalui usaha, kekuatan, dan kepandaian kita. Disatu sisi itu tidak salah..
Maka secara pelan-pelan, kita dibiasakan mengukur keberhasilan dengan angka, jabatan, dan kepemilikan.
Misalnya kalau belum memiliki rumah dan mobil, dianggap kurang berhasil atau tidak sukses. Indicator sukses diukur hanya dengan satu variabel yaitu kepemilikan materi..
Satu sisi, cara berpikir itu tidak selalu salah, tetapi sering kali menjadi satu-satunya ukuran yang kita pakai. Karena sejatinya keberhasilan itu holisitik atau menyeluruh.
Bukan hanya materi, tapi juga rohani, Kesehatan, rumah tangga yang baik, hubunga sosial yang baik, dll..
Nah, ketika prinsip Kerajaan Allah datang, kita terkejut melihatnya, karena berbeda dengan logika kita..
Misalnya, bagaimana mungkin orang yang mengampuni justru lebih merdeka daripada orang yang membalas?
Bagaimana mungkin orang yang memberi menjadi lebih diberkati daripada orang yang menimbun?
Bagaimana mungkin kelemahan menjadi tempat kuasa Allah dinyatakan?
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena kita masih melihat hidup dari bawah atau sudut pandang kita sendiri, sementara Tuhan melihatnya dari atas.
Paradoks Adalah Cara Tuhan Mendidik Iman kita
Salah satu cara Tuhan mengembangkan pengalaman iman adalah membawa umat-Nya melewati perjalanan yang tidak masuk akal.
Misalnya ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, tantangan pertama adalah terkurung disatu area tanpa ada jalan keluar..
Di depan ada laut Merah yang siap menenggelamkan mereka. Di belakang ada tentara Mesir yang siap membunuh mereka. Kiri dan kanan aga gunung-gunung. Jalan buntu bagi mereka.
Namun, jalan keluar justru terbuka ketika mereka taat untuk melangkah. Laut merah terbelah untuk menjadi jalan keluar.
Contoh lainnya, seorang janda di Sarfat diminta memberikan makanan terakhirnya kepada nabi Elia terlebih dahulu.
Logikanya terbalik, karena seharusnya makanan itu diberikan pertama untuk anaknya yang masih kecil. Itu yang normal.
Namun ketaatan perempuan itu kepada perkataan Elia, membuka pintu pemeliharaan Tuhan baginya hingga musim kelaparan berakhir..
Lima roti dan dua ikan tidak bertambah ketika masih berada di tangan seorang anak. Namun makanan itu mulai menjadi berkat kepada ribuan orang ketika diserahkan kepada Yesus.
Dalam setiap kisah yang tidak normal ini, Tuhan sedang mengajar kita bahwa iman sering kali dimulai ketika logika tidak lagi memiliki jawaban.
Atau ketika sesuatu tidak lagi masuk akal kita..
Paradoks Terbesar Ada di Salib
Dari semua paradoks yang kita ketahui, tidak ada paradoks yang lebih besar daripada salib Kristus.
Bagi dunia, salib adalah lambang kekalahan, kehinaan, dan kematian.
Namun bagi orang percaya, salib menjadi lambang kemenangan, kasih, dan kehidupan.
Paulus mengatakan, “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.” 1 Kor 1:18
Karena melalui kematian Yesus, dosa dikalahkan.
Roma 6:23 berkata: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Melalui penderitaan-Nya, manusia menerima pengharapan. Melalui salib, jalan menuju kebangkitan dibukakan.
“Akulah kebangkitan dan hidup” Yohanes 11:25-26
Apa yang tampak sebagai akhir ternyata menjadi awal dari karya keselamatan yang terbesar.
Kematian Yesus waktu itu dianggap sebagai akhir. Dia mati hari jumat. Semua sudah selesai. Ternyata masih ada hari minggu, Yesus bangkit.
Renungkan
Mungkin selama ini kita kecewa karena Tuhan tidak bekerja sesuai harapan kita.
Kita ingin jalan yang cepat, tetapi Tuhan memilih proses dan itu menyakitkan. Seperti besi yang harus menjalani pemanasan. Dibakar. Dipukul. Namun setelahnya menjadi barang bernilai.
Sering kita ingin meraih kemenangan tanpa perjuangan, tetapi Tuhan membentuk karakter kita melalui pergumulan.
Sering kita ingin dapat berkat tanpa pengorbanan, tetapi Tuhan mengajar kita untuk menjadi saluran berkat.
Maka sebenaranya yang perlu diubah bukanlah cara Tuhan bekerja, melainkan cara kita memandang pekerjaan Tuhan dalam hidup kita..
Karena semakin kita mengenal Kristus, semakin kita menyadari bahwa Injil bukan sekadar kumpulan ajaran moral atau petunjuk hidup..
Injil adalah undangan untuk meninggalkan cara berpikir lama dan belajar melihat hidup dengan cara Tuhan melihat. Dengan iman.
Sering tidak mudah mengerti paradoks-paradoks dalam Alkitab. Namun disana kita menemukan bahwa hikmat Allah jauh melampaui hikmat manusia.
Itu sebabnya kita perlu terus menerus bergantung kepada Tuhan, yang hikmat dan kebijaksaannya tidak terselami..
Ketika kita beriman kepada Tuhan, apa yang semula tampak bertentangan, kita akan melihat bahwa jalan Tuhan selalu lebih tinggi, lebih baik, dan pada akhirnya membawa kita kepada kebahagiaan yang sejati.
“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Yesaya 55:8-










