“…sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.” — 2 Korintus 6:10

Apa Arti Menjadi Kaya?

Ketika kita ditanya, “Siapa orang kaya itu?” kebanyakan orang akan menjawab, “Orang yang punya banyak uang.”

Jawaban itu tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Setengah benar. Tidak lengkap.

Sebab kekayaan tidak hanya soal uang. Itu hanya secuil dari kekayaan. Sebab ada kekayaan yang lain, yang mungkin jauh lebih penting.

Karena faktanya, ada orang yang memiliki kekayaan melimpah tetapi hidupnya miskin dalam kasih.

Ada yang rumahnya megah tetapi keluarganya retak. Ada yang rekeningnya terus bertambah, tetapi damai sejahteranya terus berkurang.

Sebaliknya, ada orang-orang yang sederhana yang tidak memiliki banyak harta. Namun setiap kali bertemu dengan mereka, kita merasa dikuatkan.

Karena kata-katanya menghibur. Doanya menguatkan. Senyumnya memberi harapan. Kehadirannya menjadi berkat bagi banyak orang.

Kalau begitu, siapa yang sebenarnya lebih kaya?

Di sinilah Alkitab memperkenalkan sebuah paradoks yang sulit dipahami.

Seseorang bisa miskin secara materi, tetapi memperkaya banyak orang.

Rasul Paulus: Miskin, Tetapi Kaya

Tidak banyak orang yang hidupnya sesederhana rasul Paulus. Ia sering berpindah-pindah kota. Ia beberapa kali dipenjara. Ia mengalami kelaparan. Ia pernah dipukuli.

Ia tidak hidup dalam kemewahan.

Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Paulus bekerja membuat tenda (Kisah Para Rasul 18:3).

Kalau menggunakan ukuran dunia tentang orang kaya, Paulus bukanlah orang yang kaya.

Tetapi bila kita melihat pengaruh hidupnya, hampir separuh kitab Perjanjian Baru ditulis olehnya. Karena surat-surat ini, Jutaan orang telah mengenal Kristus sepanjang sejarah.

Sampai hari ini, lebih dari dua ribu tahun kemudian, ajarannya masih dipelajari di seluruh dunia.

Secara materi, Paulus mungkin tidak memiliki banyak. Tetapi secara rohani, ia telah memperkaya dunia melalui Firman Allah yang ia tuliskan..

Kekayaan yang Tidak Bisa Dihitung

Umumnya, dunia menghitung kekayaan dengan angka-angka dan statistic. Namun Tuhan menghitung kekayaan dengan dampak.

Misalnya, kita kaya dari segi uang. kita menjadi milliuner. Asset kita banyak. Tetapi kekayaan itu tidak berdampak kepada orang disekitar kita..

Apakah itu keluarga, lingkungan, gereja, karyawan kita, dll..kekayaan seperti itu tidak berguna..

Ada orang yang meninggalkan warisan berupa tanah dan bangunan..

Ada yang meninggalkan warisan berupa iman.

Ada yang mewariskan harta. Ada yang mewariskan karakter.

Ada yang meninggalkan rekening bank.

Ada yang meninggalkan kehidupan yang menginspirasi banyak orang.

Kira-kira mana yang lebih bernilai?

Harta bisa habis. Uang bisa hilang. Emas bisa dicuri.

Tetapi iman yang diwariskan kepada anak-anak, kasih yang diberikan kepada sesama, dan jiwa-jiwa yang dibawa kepada Kristus akan memiliki nilai kekal.

Yesus Adalah Teladan Terbesar

Tidak ada manusia yang lebih “miskin” daripada Yesus ketika Ia datang ke dunia. Ia lahir di kendang hewan. Besar dirumah tukang kayu. Ia tidak memiliki rumah sendiri.

Ia berkata, “Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” (Lukas 9:58)

Ketika disalibkan, pakaian-Nya pun diundi oleh para prajurit. Secara duniawi, Yesus tampak tidak memiliki apa-apa. Tidak ada nilai ekonominya..

Namun siapa yang lebih kaya daripada Dia? Tidak ada..

Melalui hidup-Nya, jutaan bahkan miliaran orang memperoleh pengampunan, pengharapan, dan hidup yang kekal.

Ia menjadi miskin supaya kita menjadi kaya di dalam kasih karunia Allah (2 Korintus 8:9).

“..bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya..” 2 Kor 8:9.

Kekayaan Seorang Kristen

Sebagai orang percaya, kita sering terlalu sibuk mengejar apa yang dapat kita miliki. Setelah kita miliki, apa yang kita lakukan dengan itu..?

Apa yang Tuhan tanyakan kepada kita, bukan berapa yang engkau miliki? Tetapi..

“Apa yang dapat engkau bagikan?”

Tuhan tidak memanggil semua orang agar menjadi kaya secara finansial. Tetapi semua orang dipanggil Tuhan untuk menjadi kaya dalam perbuatan baik.

Kita mungkin tidak mampu membangun rumah sakit. Itu butuh dan besar. Mungkin 9 naga dapat membangun 100 rumah sakit..

Tetapi kita semua bisa mengunjungi orang-orang yang sakit.

Kita mungkin tidak mampu menyumbang miliaran rupiah. Tetapi kita bisa memberi dengan tulus sesuai kemampuan kita.

Kita mungkin bukan pengkhotbah yang fasih, Tetapi kita bisa menguatkan satu orang yang hampir putus asa.

Kadang-kadang, satu kalimat penghiburan lebih berharga daripada satu amplop uang.

Satu doa yang sungguh-sungguh dapat mengubah hidup seseorang.

Satu pelukan yang tulus bisa menghidupkan kembali harapan yang hampir padam.

Apakah Kita Sedang Memperkaya Orang Lain?

Karena itu, pertanyaan pentingnya bukanlah, “Berapa banyak yang saya miliki?”

Melainkan, “Apakah hidup saya membuat orang lain menjadi lebih kaya?”

Lebih kaya dalam iman. Lebih kaya dalam pengharapan. Lebih kaya dalam kasih. Lebih kaya dalam pengenalan akan Kristus.

Sebab itulah kekayaan yang tidak akan pernah habis sampai kapan pun..

Kekayaan materi dapat habis dalam satu malam. Saya pernah melihat teman saya, kekayaannya tumbang dalam satu hari..

Renungkan

Pada akhirnya, Tuhan mungkin tidak akan bertanya berapa luas tanah yang kita miliki atau berapa besar saldo rekening kita.

Mungkin Tuhan akan bertanya, “Berapa banyak orang yang kau kuatkan?”

“Berapa banyak orang yang kau layani?”

“Berapa banyak orang yang mengenal Aku melalui hidupmu?”

Kita hidup di dunia yang mengagungkan orang kaya. Uang dan jabatan.

Namun Kerajaan Allah menghargai orang yang memperkaya kehidupan sesamanya.

Inilah paradoks kekristenan.

Seseorang dapat hidup sederhana, bahkan berkekurangan, tetapi menjadi sangat kaya di mata Tuhan karena hidupnya menjadi saluran kasih, pengharapan, dan Injil bagi banyak orang.

Sebab kekayaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak hidup kita dipakai Tuhan untuk memperkaya orang lain.

“Harta terbesar yang dapat kita tinggalkan bukanlah warisan berupa uang, tetapi warisan berupa iman yang terus hidup di dalam hati orang lain.”

“Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” 2 Korintus 8:1-2

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *