
SAYA masih ingat nenek itu. Usianya sudah lanjut. Jalannya sangat pelan. Karena kakinya sudah pengapuran.
Pendengarannya pun mulai berkurang. Penglihatannya mulai kabur. Dia tinggal dirumah yang sangat sederhana, jauh dari kesan mewah.
Penghasilannya pun tidak besar. Kadang tidak menentu. Jika dilihat dari ukuran dunia, mungkin ia termasuk orang yang berkekurangan. Perlu mendapat bantuan sosial.
Dan setiap kali saya berkunjung ke rumahnya, saya selalu pulang dengan satu pelajaran yang sama, yaitu pelajaran tentang kesetiaan.
“Ini Milik Tuhan”
Suatu hari saya berkunjung kerumahnya, lalu ia bercerita bahwa ia baru saja menerima hasil penjualan dari kebun kecilnya, berupa singkong dan daunnya.
Jumlahnya tidak banyak. Hanya sedikit. Kemudian sambil tersenyum ia mengatakan, dari penjualan hasil kebun ini, “Yang pertama saya sisihkan adalah milik Tuhan.”
Kalimat itu sederhana. Tetapi saya terdiam mendengarnya. Bukan karena jumlah yang ia berikan.
Melainkan karena caranya dalam memandang perpuluhan. Baginya, perpuluhan bukanlah uang yang “diberikan” kepada Tuhan.
Perpuluhan adalah milik Tuhan yang ia kembalikan dengan sukacita. Sebab menyadari semua milik Tuhan dan kita hanya pengelola..
Kesetiaan Tidak Bergantung pada Jumlah
Jika melihat keadaan nenek itu, tidak memberi pun dia dapat dimaklumi, mengingat ekonominya sangat sulit.
Namun baginya, keterbatasan hidup tidak menjadi alasan untuk menahan milik Tuhan.
Terkadang kita berpikir, akan sangat mudah memberi jika sekiranya kita memiliki banyak uang.
Tetapi tidak demikian dengan nenek itu. Ia mengajarkan sesuatu yang berbeda kepada saya, bahwa ia tetap setia sekalipun hasil panennya sedikit.
Ia tetap setia ketika harga hasil kebunnya turun. Ia tetap setia ketika kebutuhan rumah tangga meningkat.
Ia tidak pernah berkata, “Kalau ekonomi saya sudah lebih baik, nanti saya mulai setia.”
Baginya kesetiaan itu tidak menunggu sampai keadaan ekonominya membaik. Tidak menungga sampai dia punya banyak uang.
Justru bisa sebaliknya, bisa saja ketika ekonominya membaik, uangnya banyak, malahan tidak bisa memberi.
Karena kesetiaan dimulai dari hati. Bukan dimulai pada uang.
Saya teringat perkataan Yesus,
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10)
Saya Tidak Pernah Mendengar Ia Mengeluh
Selain kesetiaannya mengembalikan perpuluhan. Ada hal lain yang membuat saya terkesan, yaitu sikap hidupya.
Dia tidak pernah mengeluh tentang kesusahannya. Padahal hidupnya tidak mudah. Seharusnya banyak alasan bagi dia untuk berkeluh kesah..
Apalagi dia sudah janda. Suaminya telah meninggal sejak lama. Dia tinggal sendirian dirumah. Anak-anaknya tinggal berjauhan. Kesehatannya pun mulai menurun.
Namun setiap kali saya bertanya bagaimana keadaannya, jawabannya hampir selalu sama.
“Tuhan masih baik, Pendeta.”
Saya sering berpikir, mungkin orang yang paling kaya raya bukanlah orang yang memiliki harta paling banyak. Melainkan orang yang paling mampu melihat kebaikan Tuhan setiap hari.
Perpuluhan Adalah Soal Kepercayaan
Banyak orang mengira perpuluhan berbicara tentang uang. Tentu saja itu tidak tepat. persepuluhan bicara tentang Tuhan yang menciptakan kita dan menebus kita.
Dan perpuluhan sebenarnya berbicara lebih banyak tentang kepercayaan. Apakah saya percaya bahwa Tuhan sanggup memelihara hidup saya?
Apakah saya percaya bahwa semua yang saya miliki berasal dari-Nya? Apakah saya percaya bahwa Dia tetap setia sekalipun keadaan ekonomi berubah?
Nenek itu tidak pernah memberikan kuliah teologi kepada saya.
Tetapi hidupnya menjadi pelajaran teologi yang nyata.
Pelajaran yang Tidak Saya Dapatkan di Bangku Kuliah
Di sekolah teologi saya belajar doktrin tentang penatalayanan.
Saya mempelajari dasar-dasar Alkitab mengenai perpuluhan.
Semua itu penting.
Namun ketika melihat kehidupan nenek itu, saya menyadari bahwa penatalayanan bukan pertama-tama dipelajari di ruang kelas.
Penatalayanan dipelajari melalui kehidupan orang-orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.
Iman tidak hanya diucapkan. Iman dijalani.
Warisan Terbesar
Saya tidak tahu berapa banyak harta yang akan diwariskan nenek itu kepada anak-anaknya. Tetapi saya yakin ia sedang mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga. Teladan.
Anak cucunya mungkin suatu hari akan lupa berapa banyak uang yang pernah dimiliki nenek mereka.
Namun saya berharap mereka tidak pernah lupa bahwa ada seorang perempuan sederhana yang mengajarkan arti kesetiaan kepada Tuhan.
Warisan terbesar bukan selalu tanah atau rumah. Kadang warisan terbesar adalah iman yang hidup.
Saya Pulang dengan Hati yang Ditegur
Setiap kali selesai mengunjungi beliau, saya merasa bukan saya yang sedang menggembalakan. Justru saya yang sedang diajar.
Saya datang untuk menguatkan. Tetapi saya pulang dengan hati yang dikuatkan. Saya datang membawa firman Tuhan.
Namun saya pulang setelah melihat firman itu dipraktikkan dalam kehidupan seseorang.
Saya semakin percaya bahwa Tuhan sering memakai orang-orang sederhana untuk mengajar pelajaran yang besar.
Penutup
Saya tidak menulis kisah ini untuk memuji seorang nenek. Saya juga tidak menulisnya untuk mengukur kerohanian seseorang dari besar kecilnya persembahan.
Saya menulisnya karena saya belajar bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak diukur dari banyaknya yang kita miliki, melainkan dari hati yang percaya kepada-Nya.
Di tengah dunia yang sering mengukur keberhasilan dari jumlah uang, saya bertemu seorang nenek yang mengingatkan saya bahwa ada kekayaan yang tidak dapat dihitung dengan angka.
Kekayaan itu adalah iman.
Dan kalau Anda bertanya kepada saya siapa guru penatalayanan terbaik yang pernah saya temui, mungkin saya akan menjawab:
“Bukan seorang profesor teologi. Bukan seorang pengusaha sukses. Tetapi seorang nenek sederhana yang setiap kali menerima berkat Tuhan selalu berkata, ‘Yang pertama adalah milik Tuhan.'”
Kiranya saya pun memiliki hati yang sama—bukan hanya ketika hidup berkelimpahan, tetapi juga ketika keadaan tidak selalu mudah.
Sebab pada akhirnya, Tuhan tidak terutama melihat berapa besar yang kita kembalikan kepada-Nya. Dia melihat apakah hati kita sungguh percaya bahwa seluruh hidup ini memang berasal dari-Nya.










