Pastordepan Media Ministry
Beranda Artikel Mungkinkah manusia sempurna dihadapan Tuhan? Membedah kesempurnaan di Matius 5:48

Mungkinkah manusia sempurna dihadapan Tuhan? Membedah kesempurnaan di Matius 5:48

Membedah Kesempurnaan di Matius 5:48 dalam Horizon Eskatologis

Oleh Pdt. J.F. Manullang

Bayangkan Anda berdiri di kaki sebuah gunung yang puncaknya menusuk awan—megah, berkilauan, namun terasa mustahil untuk didaki. Kemudian, suara Sang Pemandu Agung bergema, bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai tujuan: “Capailah puncak itu.”

Perasaan gentar campur takjub inilah yang mungkin dialami para pendengar ketika Yesus, dalam Khotbah-Nya di Bukit, menutup sebuah segmen pengajaran radikal dengan sebuah perintah yang mengguncang fondasi pemahaman keagamaan: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”¹

Perintah ini, bagai sebuah adegan klimaks dalam sebuah drama ilahi, seringkali disalahpahami sebagai tuntutan mustahil yang melahirkan keputusasaan atau, sebaliknya, memicu kesombongan rohani yang subtil.

Namun, jika kita membongkar lapis demi lapis maknanya—melalui lensa gramatika-historis, teologi biblika, dan sintesis sistematis—perintah ini tidak lagi menjadi palu godam penghakiman, melainkan sebuah peta perjalanan transformasi yang berpusat pada Kristus.

Esai ini akan menganalisis perintah tersebut dengan menjawab lima pertanyaan krusial: Apa makna sesungguhnya dari kata “sempurna”? Untuk siapa perintah ini berlaku? Mungkinkah hal itu bagi manusia berdosa? Adakah contohnya dalam Alkitab? Dan, yang terpenting, apa implikasinya bagi umat Tuhan yang menantikan parousia?

1. Apa Maksudnya “Sempurna”?

Untuk memahami kedalaman perintah Yesus, kita harus menempatkannya dalam konteks langsungnya. Matius 5:48 adalah puncak dari serangkaian antitesis (ayat 21-47) di mana Yesus mempertajam dan mendalami Hukum Taurat, mengalihkannya dari kepatuhan eksternal kaum Farisi menjadi sebuah kebenaran internal yang berasal dari hati.²

Tema yang mengikat semua antitesis ini adalah kasih—kasih yang melampaui batas suku, status, dan bahkan permusuhan. Perintah untuk menjadi sempurna muncul tepat setelah ajaran untuk mengasihi musuh (ayat 44-47), meneladani Bapa di surga yang memberikan matahari dan hujan-Nya kepada “orang yang jahat dan orang yang baik.”³ Dengan demikian, “kesempurnaan” di sini secara inheren terikat pada kualitas kasih yang tanpa batas dan tanpa pandang bulu.

Studi kata Yunani memperkuat pemahaman ini. Kata yang diterjemahkan “sempurna” adalah teleios (τέλειος). Dalam leksikon biblika, teleios tidak melulu berarti “tanpa dosa” atau “tanpa cacat” secara absolut. Sebagaimana dijelaskan oleh Kittel dalam TDNT, akar katanya, telos, berarti “tujuan,” “akhir,” atau “pemenuhan.”⁴

Oleh karena itu, teleios lebih akurat dipahami sebagai “matang,” “dewasa,” “lengkap,” atau “telah mencapai tujuan yang dimaksudkan.”⁵ Manusia yang teleios adalah manusia yang berfungsi sesuai dengan tujuan penciptaannya, yaitu untuk memancarkan karakter Penciptanya. BDAG mendefinisikannya sebagai “lengkap, utuh, sempurna dalam arti telah mencapai kedewasaan yang menjadi tujuannya.”⁶

Konsep ini beresonansi kuat dengan padanannya dalam Perjanjian Lama. Kata Ibrani tāmîm (תָּמִים), yang sering diterjemahkan “tidak bercela” atau “sempurna” (misalnya, Kejadian 6:9 tentang Nuh; Kejadian 17:1 tentang Abraham), lebih menunjuk pada “keutuhan,” “kelengkapan,” dan “integritas” dalam relasi perjanjian dengan Yahweh.⁷

Nuh disebut tāmîm bukan karena ia tidak pernah berbuat salah, melainkan karena di tengah generasi yang bengkok, hatinya “utuh” bagi Allah.⁸ Jadi, ketika Yesus memerintahkan para pengikut-Nya untuk menjadi teleios, Dia memanggil mereka untuk memiliki kasih yang utuh, matang, dan lengkap—suatu kasih yang mencerminkan kasih Bapa yang tidak memihak dan mencakup segalanya. Ini bukan tentang mencapai kesempurnaan ontologis, melainkan kesempurnaan relasional dan karakter.⁹

2. Untuk Siapa Seruan Ini?

Apakah perintah ini hanya sebuah standar idealis untuk kedua belas murid pertama, sebuah relik museum dari era apostolik? Analisis teks dan teologi biblika dengan tegas menjawab: tidak. Perintah ini bersifat trans-historis. Pertama, Injil Matius sendiri disusun bukan hanya sebagai catatan historis, tetapi sebagai manual pemuridan bagi gereja mula-mula dan generasi sesudahnya.¹⁰

Perintah Agung di akhir Injil (Matius 28:19-20) secara eksplisit menugaskan gereja untuk mengajarkan segala sesuatu yang telah diperintahkan Yesus, yang tentu saja mencakup Khotbah di Bukit sebagai jantung pengajaran-Nya.

Kedua, panggilan untuk merefleksikan karakter Allah adalah tema yang konsisten di seluruh kanon Alkitab. Perintah di Imamat 19:2, “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus,” adalah gema Perjanjian Lama dari seruan Yesus.¹¹

Rasul Petrus mengutipnya kembali dalam 1 Petrus 1:15-16, menerapkannya secara langsung kepada orang-orang percaya yang tersebar di seluruh Asia Kecil. Panggilan untuk kesempurnaan karakter adalah panggilan abadi bagi umat perjanjian Allah di setiap zaman.¹²

Bagi beberapa teolog, sebagaimana ditekankan oleh para penulis seperti Ellen G. White dan George R. Knight, perintah ini memiliki urgensi eskatologis yang semakin meningkat.¹³ Ia menjadi cetak biru bagi karakter generasi terakhir yang akan hidup melewati masa-masa akhir yang paling genting.

Jadi, gema dari bukit di Galilea itu tidak pernah memudar; ia justru semakin menguat, memanggil setiap pengikut Kristus, dari abad pertama hingga mereka yang menantikan fajar kedatangan-Nya, untuk masuk ke dalam proses transformasi ilahi ini.

_3. Mungkinkah Manusia Berdosa Jadi “Sempurna”?

Di sinilah kita berhadapan dengan paradoks terbesar: bagaimana manusia yang secara alamiah “telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23) dapat memenuhi standar Bapa yang sempurna? Jawabannya terletak bukan pada kemampuan manusia, tetapi pada anugerah Allah yang bekerja dalam dua fase yang tak terpisahkan: pembenaran (justification) dan penyucian (sanctification).

Pertama adalah kesempurnaan posisional di dalam Kristus. Melalui iman, seorang percaya “dibenarkan” dan diperhitungkan sempurna di hadapan Allah. Ini adalah status hukum. Kehidupan Kristus yang sempurna dan kematian-Nya yang menebus diatribusikan atau “dipakaikan atau diimputasikan” kepada kita.¹⁴

Rasul Paulus menulis, “Sebab di dalam Dialah kamu telah menjadi penuh [Yunani: peplērōmenoi, berakar sama dengan teleios]” (Kolose 2:10). Di mata hukum ilahi, karena Kristus, kita berdiri seolah-olah tidak pernah berdosa. Ini adalah “kesempurnaan” langsung yang kita terima sebagai karunia.¹⁵ Teolog seperti Louis Berkhof dan Wayne Grudem sepakat bahwa pembenaran adalah tindakan forensik Allah yang mendeklarasikan kita benar.¹⁶

Kedua adalah kesempurnaan progresif oleh Kristus. Ini adalah karya penyucian, sebuah proses seumur hidup di mana Roh Kudus mentransformasi karakter kita dari dalam ke luar, membuatnya semakin selaras dengan karakter Kristus.¹⁷ Ini adalah “kesempurnaan” yang bertumbuh, sebuah perjalanan menuju kedewasaan (teleios).

Ellen White menggambarkannya sebagai “pekerjaan seumur hidup,”¹⁸ bukan pencapaian sesaat. Perintah dalam Matius 5:48 menggunakan bentuk kata kerja masa depan (esesthe, ἔσεσθε), yang dapat dipahami sebagai perintah-janji: “Kamu akan menjadi sempurna.” Ini bukan hanya sebuah tuntutan, tetapi juga sebuah peneguhan bahwa Allah sendirilah yang akan mengerjakan kesempurnaan ini di dalam mereka yang berserah.¹⁹ Manusia tidak dapat membuat dirinya sempurna, tetapi ia dapat memilih untuk menyerahkan diri kepada Kuasa yang dapat melakukannya.²⁰

Jadi, mungkinkah manusia berdosa menjadi sempurna? Ya, tetapi hanya melalui kuasa dinamika ilahi ini: dinyatakan sempurna seketika di dalam Kristus (pembenaran), dan dijadikan sempurna secara bertahap oleh Kristus melalui Roh Kudus (penyucian).

4. Potret “Kesempurnaan” dalam Narasi Alkitab

Alkitab tidak menyajikan galeri pahlawan tanpa cacat. Sebaliknya, ia melukis potret-potret realistis dari orang-orang yang, meskipun memiliki kelemahan besar, digambarkan sebagai “sempurna” atau “tidak bercela” di hadapan Allah. Kunci untuk memahami ini adalah definisi tāmîm dan teleios sebagai integritas hati dan loyalitas total.

  • Nuh (Kejadian 6:9) disebut “tidak bercela” (tāmîm) di antara orang-orang sezamannya. Namun, pasca-Air Bah, ia mabuk dan telanjang (Kejadian 9:21). “Kesempurnaannya” terletak pada “berjalan dengan Allah” dalam loyalitas yang tak terbagi di tengah dunia yang korup.²¹
  • Abraham (Kejadian 17:1) diperintahkan untuk “hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (tāmîm). Namun, ia pernah berbohong tentang istrinya (Kejadian 12, 20). Kesempurnaannya adalah kesetiaan perjanjiannya yang terus-menerus kembali kepada Allah meskipun gagal.²²
  • Ayub (Ayub 1:1, 8) dipuji oleh Allah sendiri sebagai “saleh dan jujur… tidak bercela” (tām). Namun, dalam penderitaannya, ia mengeluh dan mempertanyakan Allah. Integritasnya—penolakannya untuk “mengutuki Allah”—itulah inti kesempurnaannya.²³
  • Rasul Paulus memberikan ilustrasi paling tajam dalam Filipi 3:12-15. Dalam satu tarikan napas, ia menyatakan, “Bukannya aku telah memperolehnya atau telah menjadi sempurna (teteleiōmai)” (ayat 12), namun beberapa saat kemudian ia berkata, “Karena itu marilah kita, yang sempurna (teleioi), berpikir demikian” (ayat 15).²⁴ Di sini, Paulus menangkap ketegangan ilahi: seorang Kristen secara posisi sudah “dewasa/sempurna” dalam Kristus dan dalam tujuannya, namun secara pengalaman masih terus berlari menuju “hadiah panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”²⁵

Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa kesempurnaan alkitabiah bukanlah tentang rekam jejak tanpa noda, melainkan tentang arah hati yang tak terbagi kepada Allah. Ini adalah kisah tentang orang-orang yang jatuh, tetapi selalu bangkit kembali dengan pandangan tertuju kepada-Nya.

*5. Cermin Karakter di Ambang Parousia

Bagi umat Tuhan yang hidup di akhir zaman, perintah dalam Matius 5:48 bukan lagi sekadar prinsip etis, melainkan sebuah mandat eskatologis. Dengan pemahamannya tentang Pertentangan Besar, menempatkan generasi terakhir pada posisi yang unik. Mereka adalah generasi yang akan memantulkan karakter Kristus secara penuh di hadapan alam semesta yang mengamati, sebagai kesaksian terakhir akan kuasa anugerah Allah untuk memulihkan citra-Nya dalam kemanusiaan yang telah jatuh.²⁶

  • Vindikasi Karakter Allah: Setan menuduh bahwa hukum Allah tidak dapat ditaati. Generasi terakhir, melalui kuasa Kristus yang mendiami mereka, akan menunjukkan bahwa kasih (agape) adalah penggenapan hukum (Roma 13:10) dan bahwa karakter yang “sempurna”—yaitu, matang dalam kasih yang seperti Kristus—adalah buah dari penyerahan total kepada-Nya.²⁷ Mereka menjadi “surat Kristus yang terbuka” (2 Korintus 3:3), bukti hidup dari kemenangan-Nya.
  • Persiapan Menghadapi Krisis Akhir: Ketika masa anugerah (pintu belas kasihan) ditutup dan Kristus mengakhiri pelayanan pengantaraan-Nya, umat-Nya harus hidup di hadapan Allah yang kudus tanpa perantara.²⁸ Ini bukan berarti mereka tiba-tiba menjadi tanpa dosa secara absolut. Sebaliknya, ini berarti karakter mereka telah “dimeteraikan” dalam kebenaran.

Proses penyucian telah mencapai titik di mana kasih kepada Allah dan sesama telah menjadi respons alami mereka, dan dosa menjadi sesuatu yang dibenci, bukan lagi diperjuangkan.²⁹ Mereka telah mencapai kedewasaan (teleios) di mana kesetiaan mereka kepada Kristus tidak akan goyah bahkan di tengah krisis terhebat sekalipun.

  • Cermin, Bukan Sumber Cahaya: Kesempurnaan karakter ini tidak pernah berasal dari diri sendiri. Generasi terakhir menjadi cermin yang sempurna, bukan karena kualitas cermin itu sendiri, melainkan karena ia diposisikan dengan benar untuk memantulkan cahaya Matahari Kebenaran, yaitu Kristus, tanpa halangan.³⁰ Tujuan mereka bukanlah untuk menarik perhatian pada diri mereka sendiri, melainkan untuk memuliakan Bapa di surga, persis seperti yang Yesus ajarkan (Matius 5:16).

Undangan untuk Naik ke Puncak

Perintah “haruslah kamu sempurna” dalam Matius 5:48, pada akhirnya, bukanlah sebuah beban yang menindih, melainkan sebuah undangan yang membebaskan. Ia mengundang kita untuk meninggalkan lembah keagamaan yang dangkal dan memulai pendakian menuju puncak kedewasaan karakter di dalam Kristus.

Puncak ini bukanlah puncak kesendirian yang dicapai dengan kekuatan sendiri, melainkan sebuah dataran tinggi persekutuan—di mana kasih kita menjadi utuh, matang, dan mencakup segalanya, sama seperti kasih Bapa yang memeluk orang benar dan orang berdosa dengan kehangatan yang sama.

Perintah ini adalah janji. Janji bahwa Sang Pemandu Agung, yang telah memberikan perintah, juga menyediakan tali anugerah, peta Firman, dan kekuatan Roh Kudus untuk memastikan kita sampai ke tujuan. Di dalam setiap perintah Tuhan, di sana terdapat juga anugerah kuasa untuk menghidupkannya melalui iman.

Bagi kita yang hidup di senja sejarah dunia, pendakian ini menjadi semakin mendesak. Ini adalah panggilan untuk membiarkan Kristus menyelesaikan pekerjaan-Nya di dalam kita, memoles cermin jiwa kita hingga setiap noda dan goresan egoisme terhapus, sehingga ketika Dia datang kembali, Dia dapat melihat pantulan wajah-Nya sendiri di dalam umat-Nya.

Ini merupakan kesaksian terakhir yang tak terbantahkan akan kuasa kasih-Nya yang menebus dan menyempurnakan. Perjalanan ini bukanlah tentang menjadi “allah-allah kecil”, melainkan tentang menjadi manusia seutuhnya, seperti yang Allah maksudkan sejak semula.

Catatan Akhir:
¹ Matius 5:48 (TB). Semua kutipan Alkitab selanjutnya berasal dari versi ini kecuali dinyatakan lain.
² D. A. Carson, “Matthew,” dalam The Expositor’s Bible Commentary, ed. Frank E. Gaebelein, vol. 8 (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1984), 159. Carson menyoroti bahwa ayat 48 adalah “kesimpulan yang tak terhindarkan” dari seluruh bagian sebelumnya. Lihat juga Donald A. Hagner, Matthew 1-13, Word Biblical Commentary 33A (Dallas, TX: Word Books, 1993), 137.
³ Penekanan pada universalitas kasih Allah ini adalah kunci konteks. Lihat R. T. France, The Gospel of Matthew, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 2007), 228-229.
⁴ Gerhard Kittel, ed., Theological Dictionary of the New Testament (TDNT) , trans. Geoffrey W. Bromiley, vol. 8 (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1972), 72-75, s.v. “τέλειος.”
⁵ Leon Morris, The Gospel According to Matthew (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1992), 131. Morris menyarankan terjemahan “full-grown” atau “mature.”
⁶ Walter Bauer, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 3rd ed., rev. and ed. Frederick William Danker (Chicago: University of Chicago Press, 2000), 996, s.v. “τέλειος.”
⁷ R. Laird Harris, Gleason L. Archer Jr., dan Bruce K. Waltke, Theological Wordbook of the Old Testament (Chicago: Moody Press, 1980), 979, s.v. “תמם.” Kata ini menekankan keutuhan dan integritas.
⁸ John H. Walton, Genesis, NIV Application Commentary (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001), 300-301.
⁹ George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1993), 133-134. Ladd mengaitkan kesempurnaan ini dengan etika Kerajaan yang radikal.
¹⁰ Richard B. Gardner, Matthew, Believers Church Bible Commentary (Scottdale, PA: Herald Press, 1991), 25-27.
¹¹ Roy Gane, Leviticus, Numbers, NIV Application Commentary (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2004), 324-325. Gane menghubungkan kekudusan Imamat dengan refleksi karakter Allah dalam kehidupan sehari-hari.
¹² Peter H. Davids, The First Epistle of Peter, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1990), 68-70.
¹³ Lihat George R. Knight, The Apocalyptic Vision and the Neutering of Adventism (Hagerstown, MD: Review and Herald, 2008), 127-135; Ellen G. White, The Great Controversy (Mountain View, CA: Pacific Press, 1911), 623.
¹⁴ Raoul Dederen, “Justification by Faith,” dalam Handbook of Seventh-day Adventist Theology, ed. Raoul Dederen (Hagerstown, MD: Review and Herald, 2000), 294-301.
¹⁵ Seventh-day Adventists Believe: A Biblical Exposition of 28 Fundamental Doctrines, 2nd ed. (Silver Spring, MD: Ministerial Association, General Conference of Seventh-day Adventists, 2005), 138-139.
¹⁶ Louis Berkhof, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1996), 513-514; Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1994), 722-726.
¹⁷ Fernando L. Canale, “Sanctification,” dalam Handbook of SDA Theology, 324-332.
¹⁸ Ellen G. White, Christ’s Object Lessons (Washington, D.C.: Review and Herald, 1900), 65. “Character building is the work, not of a day, nor of a year, but of a lifetime.”
¹⁹ Ángel Manuel Rodríguez, “The Biblical Mandate for Perfection,” Biblical Research Institute, diakses 18 Mei 2024, https://www.adventistbiblicalresearch.org/materials/bible-qa-perfection/biblical-mandate-perfection.
²⁰ Norman Gulley, Systematic Theology: The Church and the Last Things (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2016), 534-539. Gulley menekankan sinergi antara kehendak ilahi dan kehendak manusia yang berserah.
²¹ Bruce K. Waltke, Genesis: A Commentary (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2001), 129.
²² Walter C. Kaiser Jr., The Promise-Plan of God: A Biblical Theology of the Old and New Testaments (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2008), 85-87.
²³ David J. A. Clines, Job 1-20, Word Biblical Commentary 17 (Dallas, TX: Word Books, 1989), 10.
²⁴ Gordon D. Fee, Paul’s Letter to the Philippians, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995), 346-353. Fee memberikan analisis yang cemerlang tentang permainan kata Paulus pada teleios.
²⁵ Frank Thielman, Theology of the New Testament: A Canonical and Synthetic Approach (Grand Rapids, MI: Zondervan, 2005), 398-400.
²⁶ Herbert E. Douglass, A Fork in the Road: A New Look at the Last-Day Events (Hagerstown, MD: Review and Herald, 2011), 78-85.
²⁷ Jon Paulien, “The Role of the Remnant in the End-Time,” Journal of the Adventist Theological Society 16, no. 1 (2005): 31-33.
²⁸ Ellen G. White, Last Day Events (Boise, ID: Pacific Press, 1992), 221-222, mengutip dari tulisan-tulisan sebelumnya.
²⁹ Konsep “sealing” (pemeterian) ini sangat penting dalam eskatologi Advent. Lihat Zdravko Stefanovic, Revelation of Jesus Christ: Commentary on the Book of Revelation, 2nd ed. (Berrien Springs, MI: Andrews University Press, 2009), 259-264.
³⁰ W. W. Prescott, “The Consecrated Life,” dalam Ministry Magazine, Oktober 1928, 5. Konsep ini adalah tema yang berulang dalam tulisan-tulisan Advent awal. Lihat juga Marvin Moore, The Crisis of the End Time (Nampa, ID: Pacific Press, 2010), 115-120.

Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan