Menyelami makna dan aplikasi Filipi 2:12
Tetaplah Kerjakan Keselamatanmu dengan Takut dan Gentar
Oleh Pdt. J.F. Manullang
Di panggung teologi, di mana setiap kata ditimbang dan setiap frasa dianalisis, ada satu ayat yang seringkali tampil bagai sebuah anomali dramatis dalam karya tulis Rasul Paulus.
Bagaikan sebuah adegan tak terduga dalam sebuah serial epik, Filipi 2:12b membisikkan sebuah perintah yang mengguncang: “…kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.”¹
Bagi telinga yang terbiasa dengan gema agung dari surat Roma—”Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,”² atau proklamasi kemerdekaan dalam Galatia—”Kristus telah memerdekakan kita,”³ perintah untuk “mengerjakan” keselamatan terdengar seperti sebuah disonansi, sebuah nada sumbang dalam simfoni anugerah.
Apakah sang rasul, dalam sebuah surat yang penuh kehangatan kepada jemaat kesayangannya di Filipi, tiba-tiba menarik kembali doktrin utamanya?
Bagaimana kita menyelaraskan tegangan yang tampak tak terdamaikan ini dengan pilar Reformasi, Sola Fide dan Sola Gratia? Dan, yang lebih mendesak, pesan apa yang tersembunyi di balik paradoks ini bagi sebuah generasi yang berdiri di ambang fajar parousia, menantikan kedatangan Kristus yang kedua kali?
Untuk memecahkan misteri ini, kita harus melakukan sebuah otopsi linguistik, teologis, dan etis yang mendalam, membiarkan teks berbicara dalam konteks historis dan gramatikalnya, disinari oleh hikmat yang terbentang dari Bapa Gereja hingga teolog modern, dari Ellen G. White hingga N.T. Wright.
Membedah Kata, Mengungkap Makna
Sebuah drama seringkali bergantung pada dialognya. Demikian pula, makna Filipi 2:12 bergantung pada pemahaman kata-kata kuncinya.
Perintah Paulus menggunakan kata kerja Yunani κατεργάζεσθε (katergazesthe). Ini bukan kata kerja untuk “menciptakan” atau “menghasilkan dari nol.”
Sebaliknya, sebagaimana dicatat oleh leksikon otoritatif seperti BDAG, kata ini berarti “mengerjakan hingga tuntas,” “membawa kepada penyelesaian,” atau “mengaktualisasikan sesuatu yang potensinya sudah ada.”⁴
Ini adalah kata yang digunakan untuk seorang petani yang mengolah tanah untuk menghasilkan panen dari benih yang sudah ditanam, atau seorang seniman yang memahat marmer untuk mengeluarkan patung yang sudah ada di dalam benaknya.
Paulus tidak meminta jemaat Filipi untuk menciptakan atau menghasilkan keselamatan mereka; ia menasihati mereka untuk mengaktualisasikan, menghidupkan, dan membawa kepada buah yang matang keselamatan yang telah dianugerahkan kepada mereka.
Gordon D. Fee, dalam komentarnya yang monumental, menekankan bahwa ini adalah tentang “mengerjakan implikasi dari keselamatan yang telah diterima seseorang.”⁵
Kata kedua, “keselamatan” (σωτηρία, sōtēria), dalam pemikiran Paulus, bukanlah peristiwa sesaat yang statis.
Teologi biblika, seperti yang diuraikan oleh George Eldon Ladd, memahami keselamatan dalam tiga dimensi waktu: masa lalu (pembenaran, kita telah diselamatkan dari hukuman dosa), masa kini (pengudusan, kita sedang diselamatkan dari kuasa dosa), dan masa depan (pemuliaan, kita akan diselamatkan dari kehadiran dosa).⁶
Dalam konteks Filipi 2, Paulus jelas berfokus pada dimensi masa kini—proses pengudusan yang berkelanjutan. Ini adalah perjalanan, bukan hanya tujuan.
Frasa “dengan takut dan gentar” (μετὰ φόβου καὶ τρόμου, meta phobou kai tromou) juga sering disalahpahami.
Ini bukan teror seorang budak di hadapan tuan yang kejam. Sebagaimana dijelaskan dalam Theological Dictionary of the New Testament (TDNT), kombinasi kata ini sering digunakan dalam Septuaginta untuk menggambarkan kekaguman yang mendalam dan rasa hormat yang suci di hadapan manifestasi kuasa Allah.⁷
Ini adalah getaran seorang ahli bedah yang melakukan operasi jantung—bukan karena takut dihukum, melainkan karena kesadaran akan betapa berharganya kehidupan di tangannya dan betapa rumitnya prosedur yang harus dijalani. Ini adalah kehati-hatian yang lahir dari kesadaran akan kesucian Allah dan keseriusan panggilan Kristen.
Ellen G. White menangkap nuansa ini dengan indah, “Rasa takut dan gentar yang harus kita rasakan adalah rasa takut jangan-jangan kehendak kita tidak tunduk pada kehendak Allah, jangan-jangan kita mewarisi sifat-sifat bawaan dan yang dikembangkan yang akan mengendalikan kita.”⁸
Resolusi Paradoks – Sinkronisasi Iman dan Perbuatan
Kunci untuk menyelesaikan drama teologis ini terletak pada ayat berikutnya, Filipi 2:13: “karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”⁹ Ini adalah reveal yang mengubah segalanya.
Ayat 12 dan 13 adalah dua sisi dari satu koin ilahi. Kita “mengerjakan” (katergazesthe) karena Allah “mengerjakan” (energōn) di dalam kita. Inisiatif, kekuatan, dan bahkan keinginan untuk taat berasal dari Allah. Upaya manusia adalah respons terhadap daya ilahi yang sudah bekerja di dalam diri orang percaya.
Ini sepenuhnya selaras dengan Sola Fide dan Sola Gratia. Keselamatan adalah 100% oleh anugerah melalui iman. Namun, iman yang menyelamatkan, seperti yang dikatakan John Calvin, “bukanlah iman yang diam.”¹⁰
Anugerah tidak membuat kita pasif; anugerah memberdayakan kita. Teologi Kristen, melalui karya tulis seperti SDA Believe… dan tulisan para teolognya seperti Herbert E. Douglass dan George R. Knight, menyebut ini sebagai “kebenaran oleh iman.”¹¹
Iman adalah tangan yang menerima anugerah cuma-cuma dari Kristus (pembenaran), dan anugerah yang sama itu kemudian bekerja di dalam hati untuk mengubah karakter dan menghasilkan buah ketaatan (pengudusan). Perbuatan bukanlah akar keselamatan, melainkan buah yang alami tak terhindarkan darinya. Tanpa buah, kita harus mempertanyakan kesehatan akarnya.
Dengan demikian, tidak ada kontradiksi antara Filipi 2:12 dan Efesus 2:8-9. Efesus 2 berbicara tentang sumber keselamatan kita (anugerah, bukan perbuatan). Filipi 2 berbicara tentang manifestasi keselamatan itu dalam kehidupan kita (respons yang diberdayakan oleh anugerah).
Paulus, seperti seorang komposer ulung, tidak memainkan nada yang salah; ia hanya beralih dari satu gerakan dalam simfoni keselamatan ke gerakan berikutnya, dari proklamasi pembenaran ke imperatif pengudusan. Ini adalah peran ilahi-manusia: Allah memimpin, kita mengikuti dengan sukacita dan kesungguhan yang penuh hormat.
*Imperatif Akhir Zaman – Implikasi Menjelang *Parousia**
Bagi umat Tuhan yang hidup pada akhir zaman, perintah ini memiliki bobot eskatologis yang luar biasa. Panggung sejarah sedang menuju klimaksnya.
Tulisan-tulisan seperti Last-Day Events dan analisis dari para sarjana seperti Jon Paulien dan Ranko Stefanovic menekankan bahwa ujian terakhir tidak akan berpusat pada pengetahuan teoretis, tetapi pada karakter yang telah dibentuk.¹²
“Mengerjakan keselamatan” di akhir zaman berarti terlibat secara sadar dan sengaja dalam proses pengudusan di tengah dunia yang semakin kacau dan penuh tipu daya.
1. Vindikasi Karakter Allah:
Tema Pertentangan Besar, mengajarkan bahwa alam semesta sedang menyaksikan sebuah kontroversi kosmik mengenai karakter Allah.¹³ Setan menuduh bahwa hukum Allah tidak adil dan tidak mungkin ditaati. Generasi terakhir orang-orang kudus, dengan “mengerjakan” keselamatan mereka, menjadi pameran terakhir dari kuasa anugerah Kristus.
Kehidupan mereka yang diubahkan—karakter mereka yang mencerminkan karakter Kristus—menjadi kesaksian hidup bahwa melalui kuasa Kristus yang diam di dalam diri, ketaatan yang penuh kasih adalah mungkin. Ini adalah bukti final dalam pengadilan kosmik.
2. Ketahanan dalam Krisis:
“Takut dan gentar” menjadi sikap yang krusial dalam menghadapi krisis akhir zaman. Ini bukanlah ketakutan akan aniaya, melainkan kekhawatiran suci agar tidak menyangkal Kristus di bawah tekanan atau tertipu oleh mujizat palsu. Ini adalah kewaspadaan rohani yang terus-menerus, sebuah ketergantungan total pada Roh Kudus untuk membedakan yang benar dari yang salah.
Ini adalah praktik etis sehari-hari—integritas di tempat kerja, kesabaran dalam keluarga, kasih kepada musuh—yang membangun otot-otot rohani yang diperlukan untuk berdiri teguh ketika badai terakhir datang. Etika Kristen, sebagaimana diartikulasikan oleh para pemikir dari Stanley Hauerwas, menemukan puncaknya di sini: teologi yang dihidupkan menjadi pertahanan terbaik melawan penipuan.¹⁴
3. Kesiapan untuk Transformasi Akhir:
“Mengerjakan keselamatan” adalah partisipasi kita dalam proses penyiapan untuk bertemu dengan Kristus muka dengan muka. Ini adalah proses “membersihkan diri sama seperti Dia adalah suci” (1 Yohanes 3:3). Ini bukan upaya untuk mendapatkan kelayakan, melainkan respons penuh syukur atas janji kedatangan-Nya.
Setiap tindakan ketaatan yang didorong oleh kasih, setiap kemenangan atas dosa yang diraih melalui kuasa Kristus, adalah bagian dari proses menyelaraskan hati kita dengan surga, mempersiapkan kita untuk atmosfer kemuliaan-Nya yang murni. Ini adalah proses di mana mempelai perempuan “mempersiapkan diri” untuk hari pernikahannya (Wahyu 19:7).
Sebuah Undangan, Bukan Beban
Pada akhirnya, perintah Paulus dalam Filipi 2:12 bukanlah palu godam legalisme yang menghancurkan pengharapan, melainkan undangan seorang sahabat untuk mengalami kedalaman dan kekayaan anugerah Allah. Itu bukan seruan untuk bekerja demi keselamatan, tetapi untuk bekerja dari keselamatan. Itu adalah panggilan untuk beralih dari sekadar penonton pasif menjadi partisipan aktif dalam karya agung yang sedang Allah kerjakan di dalam dan melalui kita.
Ini adalah undangan untuk merasakan getaran suci saat menyadari bahwa Sang Pencipta alam semesta sedang bekerja di dalam ruang fana hati kita. Ini adalah ajakan untuk menghidupkan anugerah dan respons, di mana setiap langkah ketaatan kita adalah gema dari musik surgawi yang Ia mainkan di dalam jiwa.
Bagi jiwa yang lelah karena berusaha dengan kekuatannya sendiri, ini adalah kabar baik. Bagi orang percaya yang merindukan kehidupan yang lebih dalam, ini adalah peta jalan. Dan bagi generasi yang menanti fajar abadi, ini adalah janji bahwa Dia yang telah memulai pekerjaan baik di dalam kita akan menyelesaikannya sampai pada hari Kristus Yesus,¹⁵ saat simfoni itu mencapai kresendo terakhirnya dalam kemuliaan.
Catatan Akhir:
¹ Filipi 2:12 (TB).
² Efesus 2:8.
³ Galatia 5:1.
⁴ Walter Bauer, Frederick W. Danker, W. F. Arndt, dan F. W. Gingrich, A Greek-English Lexicon of the New Testament and Other Early Christian Literature, 3rd ed. (Chicago: University of Chicago Press, 2000), 530. Istilah κατεργάζομαι (katergazomai) menyiratkan penyelesaian atau pencapaian suatu hasil.
⁵ Gordon D. Fee, Paul’s Letter to the Philippians, New International Commentary on the New Testament (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1995), 230.
⁶ George Eldon Ladd, A Theology of the New Testament, rev. ed. (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1993), 522-527.
⁷ Gerhard Kittel, ed., Theological Dictionary of the New Testament, vol. IX, trans. Geoffrey W. Bromiley (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1974), 210. Artikel tentang φόβος (phobos) dan τρόμος (tromos) menunjukkan penggunaan LXX yang mengacu pada kekaguman di hadapan Allah (mis. Kel. 15:16, Yes. 19:16).
⁸ Ellen G. White, Steps to Christ (Mountain View, CA: Pacific Press Publishing Association, 1956), 44.
⁹ Filipi 2:13.
¹⁰ John Calvin, Acts of the Council of Trent with the Antidote, Sesi Keenam, Bab 11. Kalimat yang sering dikutip adalah, “Iman saja yang membenarkan, namun iman yang membenarkan tidak pernah sendirian.”
¹¹ Lihat Seventh-day Adventists Believe: A Biblical Exposition of Fundamental Doctrines, 2nd ed. (Silver Spring, MD: Ministerial Association, General Conference of Seventh-day Adventists, 2005), 139-151; dan George R. Knight, The Pharisee’s Guide to Perfect Holiness: A Study of Sin and Salvation (Boise, ID: Pacific Press, 1992), 155-168.
¹² Jon Paulien, “The End of the World: Where Do We Find Our Hope?” Adventist Review, 23 Oktober 2014; lihat juga Ellen G. White, Last Day Events (Nampa, ID: Pacific Press Publishing Association, 1992), 295. “Karakter harus disiapkan untuk masa depan, kehidupan abadi.”
¹³ Herbert E. Douglass, God at Risk: The Cost of Freedom in the Great Controversy (Roseville, CA: Amazing Facts, 2004), 17-25. Douglass menguraikan bagaimana pilihan manusia menjadi pusat dari demonstrasi karakter Allah.
¹⁴ Lihat Seventh-day Adventist Church Manual, 19th ed. (Hagerstown, MD: Review and Herald Publishing Association, 2015), yang menguraikan standar perilaku praktis sebagai ekspresi iman. Bandingkan dengan Stanley Hauerwas, The Peaceable Kingdom: A Primer in Christian Ethics (Notre Dame, IN: University of Notre Dame Press, 1983), yang berpendapat bahwa etika Kristen adalah tentang pembentukan karakter dalam komunitas narasi iman.
¹⁵ Filipi 1:6.
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







