Menunda Tapi Tidak Terlambat (Matius 14:24-27)

“Perahu murid-murid-Nya sudah beberapa mil jauhnya dari pantai dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira jam tiga malam datanglah Yesus kepada mereka berjalan di atas air.

Ketika murid-murid-Nya melihat Dia berjalan di atas air, mereka terkejut dan berseru: “Itu hantu!”, lalu berteriak-teriak karena takut.

Tetapi segera Yesus berkata kepada mereka: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Matius 14:24-27.

Yesus masih didarat. Murid-murid berlayar ditengah laut. Sudah jauh dari pantai. Tengah malam. Kapal mereka terombang ambing karena angin sakal.

Kalimat diombang-ambingkan menggambarkan perahu mereka terus-menerus terombang-ambing oleh ombak yang pecah ke samping dan kemungkinan memaksa air masuk ke dalam perahu.

Mereka sedang menghadapi angin yang datang dari arah berlawanan. Jika mengikuti arah angin, pelayaran akan lebih mudah. Tetapi yang terjadi, mereka melawan arah angin.

Yohanes 6:18 mengatakan “Laut mulai bergolak karena angin kencang bertiup.”

Laut Galilea berada hampir 700 kaki di bawah permukaan laut dan ketika udara yang lebih dingin datang dari pegunungan utara mengalir deras ke dalam danau dan menggantikan udara lembab yang hangat, hasilnya adalah pusaran air yang hebat.

Dalam keadaan itu tidak ada yang dapat mereka lakukan kecuali terus menerus mendayung menghadang angin.

Banyak diantara mereka adalah mantan nelayan. Tetapi nampaknya mereka tidak dapat mengatasi keadaan itu. Dan di Markus 6:48 dikatakan, mereka sangat kepayahan, kelelahan mendayung.

Mereka melakukan segala upaya. Mereka menurunkan layar dan mencoba mengendalikan perahu dengan mendayung dengan kuat.

Baca Juga:

Pesta Ulang Tahun Berdarah di Matius 14:6-10

Arti dan Makna Perumpamaan Harta Terpendam di Matius 13:44

Sepanjang malam mereka melawan badai, hanya mampu mendayung sekitar tiga atau empat mil (Yohanes 6:19).

Kabar buruknya adalah Yesus tidak bersama dengan mereka. Peristiwa sebelumnya, Yesus berada dalam perahu dan mereka membangunkan Yesus, menghardik angin dan reda seketika. (Mat 8:26).

Tetapi sekarang Dia berada bermil-mil jauhnya. Wajah mereka nampak ketakutan, membayangkan kematian yang akan mereka hadapi.

Satu hal yang mereka tidak yakini adalah bahwa Yesus mengetahui apa yang sedang mereka alami. Ada atau tidak ada Yesus bersama mereka, Dia akan selalu hadir.

Jauh dekatnya Yesus, tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah mereka kurang iman.

Saat Yesus berdoa di lereng gunung, dia “Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal” (Markus 6:48).

Apakah Yesus tahu badai akan datang? Ya. Apakah Dia dengan sengaja mengarahkan mereka ke dalam badai? Ya.

Bukankah ini seperti menyuruh seorang anak menyeberang jalan ketika Anda tahu ada mobil yang akan datang? TIDAK!

Ini seperti, menciptakan gelombang dengan tangan kiri Anda di bak mandi & memegang perahu mainan yang mengapung sempurna dengan tangan kanan Anda

Ada hal yang Yesus ingin mereka alami yaitu bertumbuh dalam iman.

Ada dua jenis badai yang Tuhan ijinkan. Pertama, badai Koreksi, yaitu Saat Tuhan mendisiplinkan kita. Seperti Yunus.

Kedua, badai Kesempurnaan yaitu Saat Tuhan membantu kita tumbuh. Seperti kisah para murid ini.

Pada badai ini, Yesus mengendalikan keadaan. Mereka tidak akan tenggelam, aman ditengah goncangan gelombang.

Goncangan gelombang tentu menimbulkan rasa tidak nyaman, dan kita tidak berkuasa menghentikan angin dan gelombang.

Baca Juga:

Pelajaran Iman dari Mujizat 5 Roti dan 2 Ikan di Matius 14:15-21

Maka cara terbaik adalah menikmati gelombang dan percaya bahwa Yesus ada dalam gelombang. Dia adalah Tuhan atas angin dan gelombang.

Yesus mengetahui situasi mereka jauh sebelum itu terjadi, dan Dia tidak perlu terburu-buru meninggalkan ruang doa-Nya agar tepat waktu untuk membantu.

Badai dan para murid sama-sama berada di tangan-Nya, dan Dia tahu sebelumnya apa yang akan Dia lakukan dengan keduanya.

Yesus baru muncul Kira-kira jam tiga malam. Artinya kemunculannya terlalu lama. Ini waktu sudah akan menjelang pagi.

Orang Yahudi membagi malam menjadi empat jaga. Pertama dari jam 6 sore sampai jam 9 malam. Kedua dari jam 9 sampai 12. Ketiga dari jam 12 sampai jam 3 dan yang keempat dari jam 3 sampai jam 6.

Perhatikan bahwa ungkapan waktu ini menunjukkan bahwa Yesus berdoa sampai pagi. Dia berdoa sementara badai berlangsung.

Badai muncul jauh sebelum jam 3 pagi atau para murid sudah menyeberangi danau. Jadi Yesus berdoa selama berjam-jam di tengah badai, untuk murid-murid-Nya.

Yesus sengaja berlama-lama sebelum datang kepada mereka, sama seperti Dia menunggu sampai Lazarus meninggal beberapa hari sebelum Dia datang ke Betania.

Pada kedua peristiwa, Dia bisa saja datang cepat. Dia juga bisa membuat mujizat dari jauh. Seperti waktu menyembuhkan hamba perwira itu (Mat. 8:13).

Dia bisa, mencegah kematian Lazarus. Dia juga bisa mencegah badai pada jam pertama.

Tetapi dalam hikmat-Nya yang tak terbatas, Yesus dengan sengaja mengizinkan Maria dan Marta serta para murid berdukacita sebelum Dia campur tangan.

Dia mengijinkan murid-murid kepayahan menghadapi angin dan gelombang. Dia tahu segalanya tentang mereka semua, dan sudah mengetahuinya sejak sebelum mereka lahir.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *