Memahami Kasih, Kebebasan, dan Asal Mula Dosa Menurut Alkitab

“Jika Tuhan Mahatahu, mengapa Ia tetap menciptakan Lucifer padahal Ia tahu Lucifer akan menjadi Iblis?”

Ini adalah salah satu pertanyaan paling sulit untuk dijawab dalam teologi Kristen karena berkaitan dengan persoalan besar tentang sifat Allah, kebebasan manusia, asal mula dosa, dan kasih karunia.

Banyak orang menanyakan, apakah Tuhan menciptakan Iblis? Apakah Tuhan menjadi penyebab munculnya kejahatan?

Ketika Lucifer memberontak, mengapa Allah tidak langsung memusnahkan dia, sebelum ia menyesatkan malaikat lain dan manusia?

Mari kita melihat jawabannya dari Alkitab.

1. Tuhan Tidak Menciptakan Iblis

Pertama-tama kita harus melihat dua hal yang berbeda. Yang Allah ciptakan adalah Lucifer. Allah tidak menciptakan Iblis.

Lucifer diciptakan sebagai makhluk yang sempurna. Yehezkiel menggambarkan keadaannya sebelum jatuh.

“Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu.” (Yehezkiel 28:15)

Tak bercela dari kata tamim artinya tak bersalah. Berjalan dengan Allah.

Kemudian, perhatikan kalimat, “Sampai terdapat kecurangan padamu.” Artinya, dosa Lucifer bukan berasal dari Allah.

Kejahatan muncul dari dalam dirinya sendiri, ketika dia menggunakan kebebasan yang diberikan Allah untuk melawan Penciptanya.

Poinnya, Lucifer menjadi Iblis karena pilihannya sendiri.

2. Allah Menciptakan Makhluk yang Bebas

Ketika Allah menciptakan Lucifer dan malaikat lainnya, mereka diberikan kebebasan memilih. Mengapa?

Karena kasih itu tidak memaksa. Kasih itu akan bermakna jika diberikan secara sukarela. Bukan karena paksaan.

Bayangkan sebuah robot yang diprogram tanpa memiliki hak untuk memilih. Dia berkata,”Aku mengasihimu.”

Apakah itu benar-benar kasih? Tentu tidak. Kasih sejati membutuhkan kebebasan. Karena itu Allah menciptakan malaikat dan manusia dengan kemampuan memilih.

Yosua berkata, “Pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah.” (Yosua 24:15)

Sejak awal, Allah menghendaki hubungan kepada mahluk ciptaa-Nya, didasarkan pada kasih, bukan paksaan.

3. Pengetahuan Allah Tidak Menyebabkan Kejahatan

Inilah bagian yang sering disalahpahami., yaitu tentang pengetahuan Allah akan masa depan. Benar Allah tahun Lucifer akan berdosa..

Namun penegtahuan Allah akan hal itu bukan berarti Dia penyebabnya..

Misalnya, seorang guru mengetahui bahwa seorang murid tidak belajar dan kemungkinan besar akan gagal dalam ujian.

Pengetahuan guru bahwa anak itu akan tiggal kelas, bukan penyebab kegagalan murid tersebut.

Demikian pula Allah.

Karena Ia berada di luar waktu, Ia mengetahui pilihan setiap makhluk. Namun pilihan itu tetap dilakukan secara bebas oleh makhluk tersebut.

Allah tidak mengintervensi pilihan mereka. Dan Allah tahun awal dan akhir dari setiap pilihan mereka.

Kitab Yesaya mengatakan, “Aku memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian.” (Yesaya 46:10)

Tetapi pengetahuan-Nya tidak menghilangkan tanggung jawab moral makhluk ciptaan-Nya.

Intinya, setiap mahkluk ciptaan, bertanggung jawab atas kuasa memilih yang mereka miliki, apakah akan mengikuti Tuhan atau memberontak..

4. Mengapa Tuhan Tidak Langsung Memusnahkan Lucifer?

Pertanyaan berikutnya adalah, “Kalau Tuhan tahu Lucifer akan memberontak, mengapa Allah tidak langsung memusnahkannya?”

Sekilas itu tampak sebagai solusi yang mudah dan baik. Tetapi itu tidak sesederhana itu.

Coba kita ayangkan jika Allah langsung membinasakan Lucifer begitu ia mulai mempertanyakan pemerintahan surga.

Apa yang akan dipikirkan para malaikat lain? Mungkin mereka akan taat. Tetapi apakah mereka taat karena kasih? Atau karena takut?

Dalam buku kerinduan segala zaman, Bab 79..

“Allah dapat menghancurkan Setan dan para pendukungnya semudah melemparkan kerikil ke bumi; tetapi Dia tidak melakukannya. Pemberontakan tidak dapat diatasi dengan kekerasan. Kekuatan yang memaksa hanya ditemukan di bawah pemerintahan Setan. Prinsip-prinsip Tuhan bukanlah seperti itu. Otoritas-Nya didasarkan pada kebaikan, belas kasihan, dan kasih; dan penyajian prinsip-prinsip ini adalah sarana yang harus digunakan. Pemerintahan Allah bersifat moral, dan kebenaran serta kasih harus menjadi kekuatan yang berkuasa.”

Jadi, pemerintahan Allah dibangun di atas kasih dan keadilan, bukan teror. Karena itu Allah mengizinkan dosa memperlihatkan akibatnya.

Selanjutnya dikatakan,

“Waktu diberikan untuk berjalannya prinsip-prinsip Setan, agar dapat dilihat oleh alam semesta surgawi. Setan menuntun manusia ke dalam dosa, dan rencana penebusan pun dijalankan. Selama empat ribu tahun, Kristus bekerja untuk mengangkat martabat manusia, dan Setan untuk kehancuran dan kehinaan manusia. Dan alam semesta surgawi menyaksikan semuanya.

Dengan demikian seluruh alam semesta dapat melihat sendiri bahwa pemberontakan terhadap Allah hanya menghasilkan penderitaan dan kematian.

Nahum menulis, “Kesengsaraan tidak akan timbul dua kali.” (Nahum 1:9)

Ketika sejarah dosa berakhir, seluruh alam semesta akan memahami bahwa jalan Allah adalah satu-satunya jalan yang benar.

5. Salib Menunjukkan Karakter Allah

Pemberontakan Lucifer mendapat sambutan kasih dari Allah. Pintu pertobatan terbuka kepada malaikat yang memberontak ini. Namun mereka menolak..

“Setan memilih untuk mengikuti kehendaknya sendiri yang egois dan independen. Pilihan ini bersifat final. Tidak ada lagi yang dapat Allah lakukan untuk menyelamatkannya.” KSZ, 79

Jawaban terbesar terhadap pemberontakan Lucifer bukanlah hukuman. Jawaban terbesar adalah salib.

Di Golgota, Allah menunjukkan bahwa kasih-Nya lebih besar daripada kebencian Iblis.

Lucifer menuduh Allah egois. Hukumnya tidak mungkin diikuti. Namun Yesus justru menyerahkan diri-Nya bagi manusia.

Roma 5:8 berkata, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa.”

Salib membuktikan siapa Allah sebenarnya. Kasih-Nya tidak hanya diucapkan, tetapi dibuktikan.

6. Allah Dapat Mengubah Kejahatan Menjadi Berkat

Meski Allah tidak menghendaki dosa. Namun Dia membawa kebaikan bahkan dari peristiwa yang paling gelap sekalipun.

Seperti yang dialami Yusuf, dia berkata kepada saudara-saudaranya,

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.” (Kejadian 50:20)

Demikian pula dalam sejarah keselamatan. Pemberontakan Lucifer tidak menggagalkan rencana Allah.

Justru melalui karya Kristus, kasih dan keadilan Allah dinyatakan dengan cara yang tidak pernah dapat dipahami sebelumnya.

Ilustrasi: Guru dan Ujian

Seorang guru mengetahui bahwa beberapa murid mungkin akan gagal dalam ujian. Namun ia tetap mengadakan ujian.

Mengapa? Karena tujuan ujian bukan membuat murid gagal.

Tujuannya memberi kesempatan kepada setiap murid untuk menunjukkan pilihannya.

Demikian pula Allah.

Ia menciptakan makhluk yang bebas, memberikan petunjuk, memperingatkan, dan bahkan menyediakan jalan keselamatan ketika manusia jatuh.

Pilihan tetap ada pada setiap makhluk. Menerima atau menolak..

Pelajaran bagi Kita

Kisah Lucifer mengajarkan bahwa dosa selalu dimulai dari keinginan hati yang ingin meninggalkan Allah.

Lucifer tidak jatuh karena kurang pengetahuan. Sebab Ia hidup di hadirat Allah sebagai kerub. Ia melihat kemuliaan surga.

Namun kesombongan membuatnya menginginkan tempat Allah.

Karena itu bahaya terbesar bukanlah kurang mengetahui Firman, tetapi hati yang perlahan berhenti tunduk kepada kehendak Tuhan.

Kesimpulan

Mengapa Tuhan menciptakan Lucifer jika tahu ia akan memberontak?

Karena Allah menciptakan makhluk yang bebas untuk mengasihi-Nya, bukan robot yang diprogram untuk taat.

Lucifer diciptakan sempurna, tetapi memilih memberontak.

Allah mengetahui pilihan itu, namun pengetahuan-Nya bukan penyebab pemberontakan tersebut.

Sebaliknya, melalui sejarah dosa dan karya salib, Allah memperlihatkan kepada seluruh alam semesta bahwa kasih, keadilan, dan kebenaran-Nya layak dipercaya untuk selama-lamanya.

Dan Iblis yang menjadi sumber dosa, perbuatannya terbukti membawa manusia kepada kebinasaan.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah mengapa Lucifer jatuh.

Pertanyaan terbesar adalah:

Setelah mengetahui kasih Allah yang dinyatakan melalui Kristus, apakah kita memilih tetap setia kepada-Nya atau mengikuti jalan pemberontakan?

Kasih Allah diuji di hadapan alam semesta, dan salib Kristus menjadi jawaban final terhadap semua tuduhan Setan.

Jika Anda memiliki tambahan keterangan atau pendapat lain untuk materi ini dipersilahkan dibagikan..

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *