Mengapa Tuhan memikirkan manusia? (Ayub 7:17-18)
Dalam pergulatan batin Ayub dia kemudian bertanya tentang nilai seorang manusia ditangan Tuhan.
“Apakah gerangan manusia, sehingga dia Kau anggap agung, dan Kau perhatikan, dan Kau datangi setiap pagi, dan Kau uji setiap saat? “(7:17-18)
Pertanyaan ini muncul bukan karena dia sedang mempelajari doktrin tentang manusia, namun sebagai ungkapan rasa frustasi Ayub, yang merasa bahwa Tuhan memusuhi dirinya.
Pertanyaan Ayub ini mengingatkan kita pada nyanyian pemazmur 8:4, yang sama dengan pertanyaa Ayub..
“Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”
Disini pemazmur merenungkan betapa kecil dan tidak berartinya manusia bila dibandingkan dengan besarnya alam semesta.
Pemazmur kagum, walau manusia kecil dibanding alam semesta, namun Tuhan meninggikan manusia dan memperhatikannya.
Cara Tuhan meninggikan manusia adalah dengan memberi mereka kuasa untuk mengelola ciptaan-Nya. Juga memelihara mereka. Bahkan Tuhan menebus mereka.
Jadi, bagi Tuhan manusia berdosa itu nilainya tinggi. Dan ini menginspirasi pemazmur untuk memuliakan Tuhan.
Tentu Ayub sepakat dengan pemazmur tentang tingginya nilai manusia bagi Tuhan. Namun karena dalam penderitaan yang berat. Frustrasi. Maka Ayub mempertanyakan secara negative, nilai manusia dihadapan Tuhan..
Sebab dia merasa Tuhan menjadi musuhnya dan menindas dia tak henti-hentinya.
Jadi, alih-laih dia memuji Tuhan seperti pemazmur, Ayub menggunakannya sebagai keluhan terhadap upaya Tuhan yang terus-menerus untuk menemukan dan menghukum setiap kekurangannya.
Ujian Tuhan menjadi beban yang terlalu berat untuk ditanggungnya, seorang manusia biasa.
Jadi poinnya dari pertanyaan Ayub yang sama dengan pemazmur adalah di kata kerjanya: “mengingat..” (Mazmur 8:4) dan “Kauanggap agung” (Ayub 7:17).
Kata kerja dalam Mazmur 8 menyampaikan konsep yang luar biasa dan positif tentang kepedulian Tuhan terhadap umat manusia..
Ayub 7 menyampaikan prospek yang menakutkan dan negatif tentang Allah yang memilih umat manusia secara keseluruhan—atau lebih buruk lagi, seorang individu.
Renungan pemazmur tentang hubungan Tuhan dengan manusia ciptaan-Nya membawanya pada kemuliaan dalam kemanusiaan..
Itu sebabnya dia katakan, “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (Maz 8:5)
Pertanyaan Ayub (“Apakah manusia itu?”) juga mengungkapkan “keheranannya” bahwa Tuhan mengarahkan perhatian manusia. Namun, alih-alih menghargai perhatian itu, Ayub sangat kesal karenanya.
Renungan Ayub tentang perhatian Tuhan membuatnya mengeluh. Ayub bertanya kepada Tuhan mengapa Dia repot-repot memeriksa, bahkan menguji manusia dengan begitu teliti dan terus-menerus (“setiap pagi,” 7:18a).
Apa yang begitu penting tentang manusia sehingga Dia repot-repot melakukan hal itu? ia menyalahkan perhatian Tuhan..
Disini kita melihat keterbatasan Ayub memahami Tuhan. sejak awal dipendahuluan Ayub, kita sebagai pembaca tahu dengan baik, bahwa Tuhan tidak menjadi pengawas Ayub untuk mencari kesalahannya.
Iblis yang mengawasi dan mencari kesalahan Ayub. Dialah yang menjelajahi bumi dan mengawasi manusia (1:7; 2:2).
Jadi, apa yang membuat Ayub mengeluh dan terkejut atas perhatian Allah adalah bahwa Allah menghukumnya tidak bergantung pada apakah dia telah berdosa atau tidak.
Ayub merasa bahwa Ia tidak melakukan dosa. Dan kalau pun dia telah berbuat dosa, mengapa Tuhan tidak mengampuni? (7:20-21)..
Mengapa tindakan Allah begitu hebat terhadap dirinya? Lagipula, mengapa dosanya harus mengganggu Allah?
Allah bisa saja mengampuninya. Tetapi tampaknya Ia tidak melakukannya. Ayub percaya bahwa Allah lebih suka menghukum daripada membawa pergi dosanya.
Akibatnya, Ayub menjadi hina. Dia katakan, “Karena sekarang aku terbaring dalam debu, lalu Engkau akan mencari aku, tetapi aku tidak akan ada lagi.” (7:21b).
Ayub dalam pasal ini memberikan dengan kejujuran yang berani ia menyampaikan perasaan, ketakutan, dan frustrasinya kepada Tuhan. Tentu normal secara manusia..
Namun itu tidak harus ditiru. Sebagai pembaca cerita, saat kita menderita, kita tidak perlu frustrasi seperti Ayub.
Karena sekarang kita lebih tahu dari Ayub, bahwa Tuhan memperhatikan umat-Nya. Maka kita perlu memuji Tuhan seperti Mazmur 8:4, kita bernilai bagi Tuhan..
Jadi, langkah pertama yang diperlukan di jalan dari penderitaan adalah memuji kebesaran Tuhan.
Intinya dalam pasal 7 ini, saat Ayub menderita, dia mengungkapkan kedalaman emosinya.
Dia tidak mencoba untuk mempertahankan penampilan yang palsu dan tabah, seolah-olah semuanya baik-baik saja..
Tetapi sebaliknya dia jujur dalam mengungkapkan apa yang dia rasakan.
Sayangnya, teman-temannya tidak menanggapi dengan belas kasihan dan memberikan bantuan yang dibutuhkan Ayub.
Dengan mencurahkan seluruh penderitaannya kepada Tuhan, Ayub bersikap jujur kepada Tuhan, sehingga ia mengungkapkan sepenuhnya apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Dengan melakukan ini, Ayub sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada Tuhan, berharap bahwa Tuhan tidak akan menolaknya..
Ayub menyadari bahwa Tuhan yang mahatahu mengetahui dan melihat segala sesuatu, sehingga apa yang dikatakannya sudah diketahui oleh Tuhan.
Ketika dia menyampaikan rasa frustrasinya kepada Tuhan menunjukkan bahwa Ayub yakin bahwa hubungannya dengan Tuhan tetap utuh.
Hubungan yang berkelanjutan ini berarti bahwa Ayub dapat dan harus berbagi secara bebas dan sepenuhnya dari hatinya.
Dengan cara yang serupa, Petrus kemudian menantang kita untuk menyerahkan semua kecemasan kita kepada Tuhan, dengan keyakinan bahwa Tuhan peduli kepada kita..
Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. (1 Petrus 5:7).





