Mengapa orang mau meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan kehidupan mereka untuk mengikuti seseorang yang baru mereka kenal?

Pertanyaan itu menarik ketika kita membaca kisah tentang Yesus.

Yesus bukan seorang raja yang menawarkan jabatan. Ia bukan seorang jenderal yang menjanjikan kemenangan.

Ia juga bukan orang kaya yang bisa memberikan kehidupan mewah kepada para pengikut-Nya.

Namun orang-orang datang kepada-Nya.

Nelayan meninggalkan perahu mereka. Orang-orang datang dari jauh, berjalan berjam-jam untuk datang mendengarkan-Nya.

Bahkan orang yang selama ini merasa tidak dianggap oleh masyarakat datang mendekat kepada-Nya.

Apa yang mereka lihat?

Mungkin salah satu jawabannya ada pada cara Yesus melihat manusia.

Ketika orang lain melihat seorang pendosa, Yesus melihat seseorang yang masih bisa dipulihkan.

Ketika orang lain melihat orang yang sakit, Yesus melihat seseorang yang membutuhkan pertolongan.

Ketika orang lain melihat orang yang tidak dianggap penting, Yesus berhenti dan memperhatikannya.

Yesus tidak hanya berbicara kepada manusia. Ia hadir di tengah kehidupan manusia.

Ia makan bersama mereka. Berjalan bersama mereka. Mendengarkan mereka. Menjawab pertanyaan mereka.

Bahkan ketika mereka salah memahami-Nya, Ia tetap mengajar mereka.

Karena itu, mungkin orang-orang bukan hanya tertarik pada apa yang Yesus katakan.

Mereka tertarik kepada siapa Yesus itu.

Ada sesuatu dalam diri-Nya yang membuat orang merasa aman untuk datang.

Orang yang sedang mencari jawaban berani bertanya. Orang yang gagal masih berani mendekat.

Orang yang merasa tidak layak tidak langsung disuruh pergi.

Dan orang yang ingin berubah menemukan bahwa Yesus tidak hanya menyuruh mereka menjadi lebih baik. Ia terlebih dahulu mengajak mereka datang kepada-Nya.

Dia mengundang semua orang..

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” — Matius 11:28

Perhatikan kalimat itu. Yesus tidak berkata, “Datanglah kalau hidupmu sudah beres.”

Sebaliknya Ia berkata, “Marilah kepada-Ku.” Mungkin itu sebabnya kisah Yesus masih menyentuh manusia sampai hari ini.

Karena manusia masih lelah, gagal, mencari pengampunan. Dan masih membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Mungkin selama ini kita mengenal Yesus terutama dari agama, gereja, atau tradisi.

Tetapi bagaimana kalau kita mencoba mengenal Dia dari cara Dia memperlakukan manusia?

Coba perhatikan orang-orang yang datang kepada-Nya. Lalu perhatikan bagaimana Yesus memperlakukan mereka.

Mungkin di sana kita mulai melihat sesuatu yang selama ini belum kita lihat.

Besok kita akan menjawab pertanyaan:

Mengapa Yesus begitu sering berbicara kepada orang-orang yang dianggap berdosa?

Masih Ada Harapan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *