Mengapa Orang Membunuh atas Nama Tuhan?

Peran self-enhancement dalam kekerasan agama

Semua agama besar dunia memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu beberapa bentuk Aturan Emas, yang menyuruh kita untuk melakukan kepada orang lain seperti yang kita ingin mereka lakukan kepada kita.

Banyak penganut agama menemukan ketenangan pikiran dalam ajaran yang mereka imani, yang memberi mereka penghiburan pada saat-saat sulit dan membimbing mereka melalui jalan hidup yang sulit.

Namun banyak orang lain didorong oleh semangat agama mereka untuk mendukung atau melakukan tindakan keji terhadap kemanusiaan.

Mengingat bahwa pekabaran utama agama adalah perdamaian dan kasih.

Lalu bagaimana bisa orang beriman bisa dihasut untuk melakukan tindakan kekerasan?

Hubungan kekerasan agama dan pemahaman agama

Ini adalah pertanyaan yang dieksplorasi oleh psikolog University of Nevada Reno Daniel Jones dan rekannya dalam sebuah penelitian yang baru-baru ini diterbitkan dalam jurnal Social Psychological and Personality Science.

Jones dan koleganya mulai dengan mempertimbangkan contoh kekerasan lain terhadap orang yang bukan kelompok mereka.

Bagi orang yang memiliki ciri kepribadian tinggi yang disebut social dominance orientation (orientasi dominasi sosial), masyarakat secara alami diatur sebagai hierarki.

Dalam pandangan ini, anak tangga sosial mana yang Anda ikuti ditentukan oleh pengenal yang jelas seperti jenis kelamin dan ras.

Mereka yang memandang diri mereka sebagai anggota kelas yang secara sosial lebih dominan dapat memperlakukan orang-orang yang minoritas “bawahan” sedikit martabat selama orang-orang itu “tahu tempatnya”.

Namun, mereka juga akan bertindak dengan kasar terhadap setiap tantangan yang dirasakan terhadap status istimewa mereka.

Karakteristik umum dari orang-orang yang memiliki orientasi dominasi sosial yang tinggi adalah peningkatan diri, yaitu kecenderungan untuk melihat diri Anda sendiri secara berlebihan.

Orang-orang seperti itu merasa terdorong untuk terlibat dalam tindakan yang mendukung superioritas mereka atau melindungi ego mereka yang rapuh namun berlebihan.

Misalnya, meskipun banyak orang seperti itu tidak tahu apa-apa tentang sejarah, sains, atau bahkan fakta dasar dunia, mereka tidak mau mengakui apa yang tidak mereka ketahui.

Akibatnya, mereka sangat rentan terhadap “fakta palsu” dari propaganda pemerintah dan media hiburan yang menyamar sebagai jaringan berita.

Mereka juga cenderung terlibat dalam klaim berlebihan, yaitu, menyatakan bahwa mereka mengetahui konsep tertentu yang salah secara nyata adalah benar.

Jones dan koleganya memulai penelitian mereka dengan pengamatan bahwa beberapa orang menggunakan agama mereka sebagai sarana peningkatan diri (self-enhancement).

Artinya, mereka memperoleh rasa superioritas untuk diri mereka sendiri karena iman mereka, terutama dibandingkan dengan orang yang tidak beriman.

Para peneliti kemudian bertanya-tanya apakah mereka yang menganjurkan kekerasan agama juga akan mengklaim pengetahuan mereka tentang ajaran agama mereka secara berlebihan.

Hasil survei

Para peneliti merekrut lebih dari 400 orang Amerika melalui layanan yang dikenal sebagai Amazon’s Mechanical Turk untuk menyelesaikan serangkaian kuesioner online.

Pertama, responden menunjukkan keakraban mereka dengan 73 item yang konon dari Alkitab, dengan 0 yang berarti “tidak pernah mendengarnya” dan 6 berarti “sangat akrab.”

Beberapa item, seperti “Sepuluh Perintah,” diketahui hampir semua orang, tetapi beberapa sangat tidak jelas seperti “Lagu Pujian Tobit.”

Meskipun survei ini disajikan sebagai ujian pengetahuan Alkitab, pada kenyataannya survei ini merupakan penilaian atas klaim agama yang berlebihan.

Ini karena para peneliti juga memasukkan item yang terdengar realistis, seperti “Soren temple,” yang sebenarnya bukan bagian dari Alkitab.

Mereka yang memahami ajaran agamanya dengan baik harus menandai ini sebagai benar-benar asing, tetapi mereka yang memiliki kecenderungan klaim agama berlebihan harus menandai mereka sebagai familiar.

Kedua, peserta menjawab serangkaian pertanyaan yang dimaksudkan untuk menilai dukungan mereka terhadap agresi agama.

Sementara hanya sedikit yang benar-benar melakukan tindakan kekerasan atas nama Tuhan, lebih banyak lagi yang menyuarakan dukungan mereka untuk agresi tersebut.

Item termasuk pernyataan seperti:

• Saya sangat bangga ketika seorang anggota agama saya menggunakan kekerasan untuk menyampaikan pekabaran kami.

• Saya merasa malu ketika seseorang bertindak agresif atas nama Tuhan.

Responden menunjukkan tingkat dukungan mereka untuk setiap pernyataan, di mana 1 berarti “sangat tidak setuju” dan 5 berarti “sangat setuju.

Hasilnya sejalan dengan prediksi.

Mereka yang cenderung mengklaim ilmu agama secara berlebihan, seperti mengaku paham dengan cerita palsu Soren Temple, juga cenderung mendukung tindakan kekerasan atas nama agamanya.

Namun, mereka yang menunjukkan pengetahuan mendalam tentang ajaran agamanya dengan menolak cerita palsu dengan benar juga menunjukkan sedikit dukungan untuk kekerasan agama.

Untuk menguji apakah temuan ini akan berlaku lintas budaya dan agama, Jones dan rekannya mereplikasi penelitian ini di negara Muslim Iran.

Kali ini, tentu saja, para responden diuji atas klaim pengetahuan mereka yang berlebihan tentang Alquran, dengan cerita palsu bercampur dengan cerita yang akrab dan tidak jelas, seperti pada studi pertama.

Hasilnya pada dasarnya sama.

Tampaknya orang-orang yang memahami pesan agama mereka tentang perdamaian dan cinta mematuhinya dalam hidup mereka.

Namun, yang lainnya menggunakan agama mereka untuk mencari status, dan pengetahuan mereka tentang ajarannya dangkal.

Karena mereka melihat “kafir” sebagai ancaman terhadap superioritas yang mereka rasakan, mereka dengan cepat menganjurkan kekerasan atas nama agama mereka.

Agama adalah salah satu institusi manusia yang paling kompleks dan penuh teka-teki. Itu adalah instrumen cinta dan perdamaian di satu sisi dan kendaraan untuk kebencian dan kekerasan di sisi lain.

Studi yang dilakukan oleh Jones dan rekannya ini setidaknya menemukan satu bagian dari teka-teki tersebut.

Penulis: David Ludden, Ph.D., is a professor Psikologi di Georgia Gwinnett College.

Tulisan aslinya silahkan kunjungi: Psychologytoday.com

References

Jones, D. N. et al. (2020). Religious overclaiming and support for religious aggression. Social Psychological and Personality Science. Advance online publication. DOI: 10.1177/1948550620912880

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *