Pastordepan Media Ministry
Beranda Renungan Mengapa Mengasihi Musuh dan Berdoa untuk Mereka?

Mengapa Mengasihi Musuh dan Berdoa untuk Mereka?

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Lukas 6:27-28

Selama Perang Saudara Amerika, seorang wanita yang merupakan pendukung setia Persatuan pernah menegur Abraham Lincoln karena berbicara terlalu baik tentang negara-negara bagian selatan.

Wanita itu mengatakan bahwa dia harus fokus menghancurkan musuh-musuhnya daripada bersikap baik.

Lincoln menjawab, “Saya tidak menghancurkan musuh-musuh saya, saya menjadikan mereka teman-teman saya..”

Mengasihi musuh tidak terjadi secara alami, secara manusiawi, dan itulah inti dari bagian Khotbah di Bukit ini.

Meski dibebani dengan sifat dosa, manusia cenderung membalas kasih dengan kasih. Mencintai orang yang mencintaimu bukanlah pencapaian yang luar biasa.

Kemarin kita melihat bagaimana Kristus memerintahkan kita untuk mengasihi orang-orang yang membutuhkan, bahkan orang asing dari berbagai lapisan masyarakat.

Namun dalam Matius 5 , Yesus mengambil perintah untuk mengasihi satu langkah lebih jauh.

“Kasihilah musuhmu” adalah sebuah konsep yang sangat bertentangan dengan kodrat kita, sehingga kebanyakan orang tidak mau mempertimbangkannya.

Pikiran untuk melayani atau menunjukkan kasih kepada seseorang yang membenci kita dapat membuat tekanan darah kita meningkat. Sulit diterima secara manusiawi..

Namun pernyataan Yesus tentang mengasihi musuh adalah standar tinggi iman.

Pikirkan tentang berapa banyak musuh Tuhan yang menghuni bumi pada saat ini. Sekarang perhatikan berapa banyak yang Tuhan telah berikan kepada mereka masing-masing.

Sinar matahari yang bersinar dan penyediaan hujan hanyalah dua contoh dasar dari rahmat yang Tuhan sediakan bagi semua orang.

Jika Pencipta segalanya—yang berhak menahan segala hal baik dari kita sebagai makhluk yang tidak taat dan memberontak, bisa menunjukkan kasih dan menahan murka-Nya—bagaimana kita bisa membenarkan kegagalan kita dalam mengasihi musuh?

Dua kali Yesus menghubungkan mengasihi musuh kita dengan menjadi seperti Allah. Istilah “anak-anak” di ayat 45 menunjukkan bahwa kita dapat menyerupai Allah sebagaimana seorang anak menyerupai ayahnya.

Dan di ayat 48, Yesus menekankan kualitas yang diperlukan untuk menghasilkan kemiripan seperti itu yaitu kesempurnaan.

Hanya Tuhan yang sempurna. Hanya Dia yang mampu memampukan kita untuk mencintai dengan cara ini.

Renungan: Apa yang dikatakan Yesus kepada saya? Mengapa saya harus mengasihi musuh saya? Bagaimana cara mengasihi mereka?

Aplikasi: Apa kebenaran yang saya temukan di ayat ini? Musuh yang dimaksud disini adalah mereka yang berseteru dengan kita, atau yang bermasalah dengan kita.

Mungkin saat ini kita sedang terlibat perseteruan dengan seseorang atau kelompok, entah apa pun penyebabnya.

Ambil waktu menyebut nama mereka dalam doamu tiap hari, dan usahakan rekonsiliasi. Jangan langgengkan perseteruan dan membiarkan sampah busuk itu tersimpan dihati kita.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan