Mengapa Lahir Hanya untuk Menderita? ( Ayub 3:11-26)
Teman-teman Ayub sabar mendengar ia mengutuki hari kelahirannya. Mereka tidak menyanggah atau mencoba meluruskan kata-kata Ayub.
Namanya ungkapan hati, mereka hanya mendengar dan mendengar.
Setelah mengutuki hari kelahiranya, selanjutnya Ayub melanjtutkan dengan menyampaikan keluh kesahnya tentang hari kelahirannya.
Apa yang dikeluhkan Ayub sama dengan ketika dia mengutuki hari kelahiranya. Dia berharap, elbih baik dia tidak pernah dilahirkan kalau hanya untuk menderita..
Dalam keluhannya, Ayub membuat serangkaian pertanyaan dengan kata ‘mengapa..”
“Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan?” (11)
“Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu?” (12)
Ayub menginginkan sekiranya dia mati waktu lahir. Sehingga dia tidak perlu disusui ibunya dan tidak perlu bertumbuh hingga dewasa..
Dia berharap dia telah dibuang, dibiarkan mati tanpa perawatan. Sehingga dia tidak perlu merasakan penderitaan. Seperti orang mati, dia beristirahat dalam kubur (13).
Dan dalam kematian, dia akan sama dengan raja-raja, bangsawan yang kaya raya. Sama-sama berada dalam kubur.
Ayub benar soal kematian semua orang. Ada satu persamaan semua orang: kaya atau miskin, jika mati, tempatnya sama, yaitu kuburan (14-15).
Selanjutnya Ayub bertanya dalam keluh kesahnya..
“Mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?” (16)
Kembali ia mempertanyakan mengapa dia tidak mati ketika lahir. Ungkapan ini memang terkesan tidak pada tempatnya, namun ini merupakan keinginan Ayub agar tidak pernah dilahirkan..
Kemudian diayat 17-19, ia menggambarkan kematian lebih baik dari pada kehidupan.
“Di sanalah orang fasik berhenti menimbulkan huru-hara, di sanalah mereka yang kehabisan tenaga mendapat istirahat.”
“Dan para tawanan bersama-sama menjadi tenang, mereka tidak lagi mendengar suara pengerah.”
“Di sana orang kecil dan orang besar sama, dan budak bebas dari pada tuannya..”
Pertama, orang-orang jahat tidak lagi dapat membuat keributan dan kejahatan. Kedua, para tawanan, orang-orang yang tertindas, tidak lagi merasakan penindasan.
Ketiga, Semua orang ada di sana, “yang kecil dan yang besar.” Dan tidak lagi ada hubungan kekuasaan seperti antara hamba dan tuan. Kematian, sekali lagi, adalah penyama yang besar.
Selanjutnya dia membuat pengaduan dengan bertanya..
“Mengapa terang diberikan kepada yang bersusah-susah, dan hidup kepada yang pedih hati..” (20)
Disini Ayub bertanya, mengapa Allah memberi hidup kepada orang-orang yang menderita dan tertekan? Kata terang melambangkan hidup. kesadaran.
Ayat ini mempertanyakan kebijaksanaan dan/atau kebaikan Allah dengan membiarkan mereka yang menderita secara fisik dan mental terus hidup.
Karena itu, mulai dari ayat 21-26, dia mengungkapkan bagaimana dia ingin segera mati saja, tapi kematian tidak pernah menjemputnya. Dia mengerja melebihi penambang harta karun..
Dan dia lebih senang menikmati kematian dalam kubur dari pada kehidupan dalam penderitaan.
Saya menemukan banyak orang-orang yang menderita sakit yang berkepanjangan, memiliki keinginan seperti Ayub. Segera mati.
Bahkan tidak sedikit yang berdoa agar Tuhan lekas mencabut nyawanya. Bahkan banyak orang yang akhirnya, memilih mengakhiri hidup dengan cara sendiri..
Diayat 23, dia mengeluhkan, dirinya seperti pria yang jalanya tersembunyi, yang dikepung Allah..
Kata “jalan” (dereg) merujuk pada takdirnya. Bahwa jalannya tersembunyi berarti dalam keadaan sulitnya saat ini, hidupnya tidak memiliki tujuan.
Kerugian yang menimpanya telah mengikis rasa makna yang dimilikinya terhadap hidup dan meninggalkannya dalam keadaan frustrasi dan menderita.
Ayub membayangkan bahwa Allah telah mengelilinginya dengan pagar sehingga ia tidak dapat menemukan cara untuk melarikan diri dari situasinya.
Gantinya Allah memagari dia agar tidak dapat dijamah Iblis, Allah justru membuat pagar agar dia tidak bisa keluar dari situasinya..
Bagi Ayub, seolah-olah Allah telah mengunci dirinya dalam kekacauan dan membuang kuncinya.
Dan dia marasakan penderitaan sebagai makanannya tiap hari..
Karena ganti rotiku adalah keluh kesahku, dan keluhanku tercurah seperti air. (24)
Dia biasa makan roti yang nikmat tiap hari. Namun sekarang, makanannya adalah keluh kesahnya. Tiap hari dia mendesah dalam rasa sakit..
Dia mengerang. Menjerit. Tangisan yang keras. Seperti orang yang menjalani kerja paksa. Jeritan orang yang menderita melemahkan tubuhnya dan mencegahnya menemukan istirahat.
Dalam Perjanjian Lama, erangan secara harfiah berarti raungan singa; Ayub 4:10; Yes. 5:29) sering digunakan secara kiasan untuk suara yang dahsyat..
Raungan pasukan saat merobohkan monumen (Mazmur 74:4), dan tangisan pilu orang yang tertindas (Mazmur 22:2)..
Jadi kita bisa membayangkan, betapa dahsyatnya jeritan hati Ayub karena penderitaannya..
Selanjutnya dia mengadu..
“Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku.” (25)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa sebelum ujiannya, Ayub telah takut bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa keluarganya.
Sifatnya yang cemas terlihat dalam persembahan korban yang ia lakukan secara berkala atas nama anak-anaknya, jikalau mereka telah mengutuk Allah dalam hati mereka (1:5).
Apa yang kutakuti menimpa saya. Dia juga takut bahwa suatu tragedi mungkin akan mengakhiri kemakmurannya.
Kekhawatiran Ayub tentang bencana yang mengerikan telah menjadi kenyataan yang menakutkan.
Kemudian Ayub mengakhiri keluhan dan pengaduannya..
“Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” (26)
Ayat ini parallel dengan ayat 13. Di ayat 13, Ayub menginginkan kematian agar dia dapat tenang beristiraha dalam kematian..
Namun dia tidak mati. Masih hidup. Menderita. Ada tiga kata kerja yang dia gunakan untuk menggambarkan betapa susahnya hidupnya secara fisik dan rohani..
Tidak tenang, tidak tentram, tidak istirahat..artinya, hidupnya sangat kacau. Tidak berkualitas. Rusak dan ribut..
Ayub menginginkan ketenangan yang mencakup baik ketenangan batin maupun ketenangan pikiran. Seseorang dengan rasa ketenangan yang mendalam dapat menikmati hidup sepenuhnya.
Sebaliknya, seseorang yang kekurangan ketenangan dipenuhi dengan kegelisahan mendalam, yang mencakup penderitaan fisik, penderitaan mental, dan ketidaknyamanan sosial. Itulah kasus Ayub.
Dapatkah kita merasakan damai dalam badai hidup? ketika murid-murid ditimpat angin ribut, Yesus menenangkannya. Dia katakan, diam dan tenanglah (Markus 4)..
Yesus sumber ketenangan dalam menghadapi penderitaan. Selama kita dalam Yesus, kita dapat tenang dan damai dalam penderitaan..
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now




