Mengapa Kita Mengucapkan AMEN Diakhir Doa Kita?

Doa kita selalu di akhiri dengan kata Amin. Kata itu menjadi penanda akhir dari sebuah doa.

Banyangkan sebuah doa tanpa kata Amin. Orang-orang yang sedang berdoa akan terus tertunduk dengan posisi berdoa.

Amin adalah kata yang paling ditunggu dalam setiap doa. Apalagi bila doa itu panjang dan bertele-tele. Begitu kata Amin, semua orang menjadi lega.

Selain dalam doa, kata Amin juga sering kita dengar diserukan dalam ibadah, puji-pujian dan kotbah. Manakala ada yang mengena di hati, akan ada sahutan, Amin..

Bahkan dalam obrolan kata Amin muncul bila ada kata yang menguatkan.

Tetapi apakah kita mengetahui apa arti kata Amin tersebut? kita penting memahaminya arti kata itu supaya kata Amin bermakna dalam hidup kita.

Arti Kata Amen

Kata Amin (ah-men’, ay’men’) dalam Bahasa Ibrani artinya kepastian, kebenaran, dan kesetiaan. Baik PL dan PB menggunakannya sebagai tanggapan liturgi di akhir Mazmur dan doksologi dimana jemaah menegaskan apa yang telah didoakan dengan mengucapkan Amin, “Jadilah.”

Dalam Injil Yesus sering mengawali ajarannya dengan “Amin Aku berkata kepadamu,” sebuah penegasan serius yang diterjemahkan RSV “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu.”

Kata Amin datang dari kata aman artinya menjadi tegas, dapat diandalkan, tahan lama, mantap, stabil, yakin, mapan, dapat dipercaya.

Kata ini digunakan untuk mengakui dan menekankan apa yang valid, pasti dan benar, atau penting dan signifikan.

Amin adalah “Sebuah ungkapan alkitabiah umum yang menandakan kepastian dan kebenaran.”

Contohnya, ketika Abram percaya (aman) kepada Tuhan dalam Kejadian 15:6, “Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

Dalam arti hatinya merasa “amin” (Pasti) untuk janji Tuhan dalam Kejadian 15:5. Dia berkata pada intinya janji Tuhan “dapat diandalkan dan dapat dipercaya”!

Pernahkah Anda berseru “amin” setelah membaca atau mendengar janji dari Tuhan, bahwa Dia akan setia dengan janji-Nya?

Kita perlu mempraktikkannya sementara kita masih ada di bumi ini, bahwa janji hidup kekal itu pasti.

Seperti yang telah dibahas diatas mengenai kata amin yang berasal dari aman yang bisa berarti “percaya” atau “setia” dengan demikian berarti “yakin” atau benar-benar,” ungkapan kepercayaan dan keyakinan mutlak.

Ketika seseorang percaya Tuhan, dia menunjukkan imannya dengan amin. Ketika Tuhan membuat janji, respon orang percaya adalah amin atau “jadilah!”

Kata Amin yang sering berada di akhir kalimat adalah sebagai kata keterangan dan menyampaikan arti benar, pasti, tentu.

Kata ini berfungsi sebagai konfirmasi akan kebenaran kata-kata sebelumnya dan juga menyerukan penggenapannya. Artinya “jadilah itu.”

Amin dan Sumpah

Maka setiap kali kita berdoa (pribadi atau bersama-sama) kita berkata Amin, sebagai harapan bahwa itu benar dan akan terjadilah dalam hidup kita.

Kata Amin mengandung sumpah, penerimaan ucapan, dan penegasan ucapan.” Siapapun yang mengucapkan amin pada sebuah doa atau doksologi membuat apa yang didoakan itu menjadi miliknya sendiri.”

Siapa pun yang mengatakan amin untuk sebuah permohonan, apakah berkat atau kutukan membuat orang tersebut mengikat dirinya sendiri.

Jika kita membuat permohonan atau perkataan untuk seseorang, apakah berkat atau kutukan, akan mengikat.

Contohnya dalam Bilangan 5:11-31. Bila seorang Wanita dicurigai berzinah oleh suaminya..

“..dalam hal ini haruslah imam menyumpah perempuan itu dengan sumpah kutuk, dan haruslah imam berkata kepada perempuan itu — maka TUHAN kiranya membuat engkau menjadi sumpah kutuk di tengah-tengah bangsamu dengan mengempiskan pahamu dan mengembungkan perutmu,

sebab air yang mendatangkan kutuk ini akan masuk ke dalam tubuhmu untuk mengembungkan perutmu dan mengempiskan pahamu. Dan haruslah perempuan itu berkata: Amin, amin.”

Jika perempuan itu berkata Amin, amin, dan ternyata sebenarnya dia berzinah, maka dia akan dikutuk dengan penyakit yang pedih.

Jika dia tidak melakukan perzinahan, dan dia katakan Amin, amin, dia akan bebas dari kutuk dan dapat mempunyai anak.

Kemudian dalam Ulangan 27:15 ketika Musa mengambil janji setia dari bangsa Israel, bahwa bila mereka tidak taat kepada perintah Tuhan mereka akan dikutuk.

Setiap kata kutukan mereka jawab dengan kata, Amin.

“Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi TUHAN, buatan tangan seorang tukang, dan yang mendirikannya dengan tersembunyi. Dan seluruh bangsa itu haruslah menjawab: Amin!

Ada dua belas kali mereka mengaminkan kebenaran kutukan yang baru saja diucapkan.

Mengingat kutukan ini terkait dengan ketidaktaatan terhadap Perjanjian Lama (Hukum), amin yang mereka ucapkan adalah pengakuan mereka bahwa mereka telah mendengar, memahami dan setuju bahwa kutukan tertentu adalah adil dan dibenarkan.

Maka bila mereka tidak setia dan kena kutukan, mereka tidak dapat mempersalahkan Tuhan. Karena mereka telah meng-Aminkan. Membenarkan hukuman datang kepada mereka.

Banyak kata Amen disebutkan di PL.

Dalam 1 Raja-raja 1:36, “Lalu Benaya bin Yoyada menjawab raja: “Amin! Demikianlah kiranya firman TUHAN, Allah tuanku raja!”

“Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Maka seluruh umat mengatakan: “Amin! Pujilah TUHAN!” 1 Taw 16:36.

“ Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.” Nehemia 8:6.

Terpujilah TUHAN, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya! Amin, ya amin. Mazmur 41:13.

Jadi, Inti dari akar kata Ibrani “amin” adalah “itu benar,” yaitu, dapat dipercaya, dikonfirmasi, diverifikasi.

Amin dan amin. Jadi biarlah itu pasti, tegas, dan abadi.

Amin Perjanjian Baru

Selanjutnya kata Amin ditransliterasikan ke dalam bahasa Latin dan Inggris dan banyak bahasa lainnya di dunia.

Karena itu kata Amin merupakan kata universal. Kata ini menjadi kata yang paling terkenal dalam ucapan manusia. Kita mengatakan “Amin” untuk menegaskan perkataan orang lain.

Kata Amin yang berasal dari bahasa Ibrani, biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani “genoito” biarlah begitu, sungguh.

Kata ini secara liturgis, digunakan sebagai bagian dari penegasan dan persetujuan yang kuat pada akhir sebuah doksologi, ini memang benar (Rm 11.36) atau doa syukur yang seharusnya (1 Kor 14.16).

Kemudian digunakan untuk kata lego (untuk berbicara) untuk menekankan bahwa apa yang dikatakan adalah pernyataan serius tentang apa yang benar (Yoh 1.51); (3).

Secara kiasan, kata Amin, digunakan oleh Kristus kepada diri-Nya sendiri sebagai Pribadi yang berbicara apa yang benar (Wahyu 3.14)

Yesus, disebut sebagai “Amin” (Wahyu 3:14), Dia adalah sumber kebenaran. Karena itu, semua ajaran-ajaran-Nya diperkenalkan dengan amin.

Injil Yohanes memiliki 25 penggunaan “amin” dan setiap penggunaan adalah amin berganda.

Di Perjanjian Baru kata Amin digunakan untuk 3 tujuan utama.

  1. Sebagai sambutan dalam penyembahan, itu menandakan tanggapan (Wahyu 5:14).
  2. Pada penutup doa dan puji-pujian (mis. Gal 1:5; Ep 3:21; 1Tim 1:17…), ini mengungkapkan prioritas doa dan doksologi.
  3. Ketika Yesus menempatkan Amin di depan Firman-Nya sendiri, baik dalam Sinoptik dan (secara liturgis dua kali lipat) dalam Yohanes.

Intinya adalah untuk menekankan kebenaran dan validitas dari Firman tersebut. Firman itu isinya bervariasi tetapi semuanya berhubungan dengan sejarah kerajaan Allah.

Sebagaimana yang kita sudah lihat bahwa Amin adalah sebutan diri Tuhan kita dalam Wahyu 3:14.

Maka kita dapat yakin bahwa Firman-Nya selalu setia dan benar, karena Dia adalah Pencipta segala sesuatu, dan dengan demikian Dia adalah “Amin” kita yang kekal.

Amin juga digunakan untuk menyatakan akhir atau kata terakhir. Yesus disebut sebagai Amin, menunjuk kepada Dia sebagai akhir dan kepastian dari segala sesuatu.

Jadi, setiap janji yang Dia buat adalah benar dan setiap celaka yang Dia ucapkan akan terjadi.

Dengan demikian kata Amin yang diterapkan pada Tuhan menandakan bahwa Dia sendiri adalah penggenapan dari semua yang telah Tuhan katakan kepada gereja-gereja.

Penutup

Oleh karena itu, dalam kaitannya dengan doa, apakah kita berdoa dengan orang lain atau sendiri, kita mengatakan “Amin” di akhir doa itu.

Maksdunya adalah memberi tahu Tuhan bahwa kita telah mengucapkan doa yang benar-benar kita maksudkan.

Ini menunjukkan bahwa kita percaya Tuhan telah mendengar doa kita dan akan menjawabnya sesuai dengan kehendak, cara dan waktunya Tuhan.

Maka apapun hasilnya, bahkan jika tidak sesuai dengan keinginan kita, kita akan terima sebagai jawaban doa yang terbaik dari Tuhan.

Yesus adalah Awal dan Akhir. Yesus adalah Amin.

Terima kasih bahwa apa pun kebutuhan saya—bahwa Engkau adalah Amin.

Ketika saya memiliki kebutuhan—Tuhan adalah Amin.

Ketika saya terluka—Tuhan adalah Amin.

Ketika saya menderita penyakit—Tuhan adalah Amin.

Ketika saya kekurangan—Tuhan adalah Amin.

Ketika saya tidak membutuhkan jawaban lain—Firman-Mu adalah yang terbaik!

Ketika saya mengatakan Amin, kita percaya itu. Amin.

Karena itu katakan Amin, untuk segala sesuatu dalam hidup kita. Bahwa di dalam Tuhan kita akan Aman. Milikilah Iman dan Amin kan setiap Firman-Nya.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.