Mengapa Kita Memanggil Tuhan Sebagai Jehovah Shalom?

Dapatkah kita menemukan damai sejahtera ditengah dunia yang penuh dengan permusuhan, perselisihan dan kecemasan?

Kita tidak akan menemukan damai itu dalam dunia ini. Dasar untuk ini kita temukan dalam kitab Mazmur 124:8 dikatakan, “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”

Jadi pertolongan itu ada dalam nama Tuhan yaitu Jehovah Shalom.

Masalah di dunia ini adalah hilangnya damai sejati. Peperangan, kejahatan, ketakutan, krisis, bencana alam, terror, kemiskinan, penindasan, kerusuhan, kecelakaan, penyakit, wabah, dll.

Di dunia yang seperti ini kita tidak mungkin menemukan damai sejati itu. Walau demikian kita dapat tetap hidup dalam damai. Tetapi damai itu datang dari surga.

Apakah itu damai?

Dalam Bahasa ibrani disebut dengan kata, “ Shalom.” Bahasa Yunani disebut dengan kata. “Eirene.” Arti kata ini adalah aman, sehat,tenang, tidak terluka.

Menjadi damai, diselesaikan atau disempurnakan.

Menandakan rasa sejahtera dan harmoni baik di dalam maupun di luar, kesehatan, keutuhan, kebahagiaan, ketenangan jiwa, pelestarian, kemakmuran, ketenangan, keamanan, keselamatan dan termasuk semua yang membuat hidup berharga.

Arti umum di balik akar kata “ sh-l-m” (Shalom) adalah penyelesaian & pemenuhan & dengan demikian memasuki keadaan keutuhan & satu (kesatuan) yang ditandai dengan hubungan yang dipulihkan, terutama keutuhan hubungan antara seseorang dan Tuhan.

Shalom juga menyampaikan rasa damai dengan Tuhan dan melibatkan lebih dari pengampunan dosa, dalam kepenuhan hidup, kemakmuran, dan perdamaian dengan manusia adalah hasil yang diharapkan dari shalom.

Jadi sangat luar biasa arti dari kata shalom atau damai itu. Tetapi sekali lagi, dapatkan keadaan ini kita nikmati sepenuhnya ditengah dunia yang ruwet ini?

Sekarang apakah lawan dari damai itu? Kecemasan atau kekuatiran. Ketakutan dan kekuatarian menghilangkan shalom dalam diri kita.

Bagaimana kita bisa kehilangan damai dengan Tuhan?

Paulus memberikan jawabannya, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.” Roma 5:12.

Jadi, dosa adalah yang merusak damai atau shalom itu. Dosa membawa kematian rohani dan kematian fisik dalam hidup manusia.

Merusak kesatuan dan harmoni antara manusia dengan Tuhan. Dosa yang tidak diakui selalu mengganggu kedamaian.

Diperkirakan dari 3.530 tahun sejarah yang tercatat, ada 286 tahun damai, 14.351 perang dan 3,64 miliar orang tewas. Lebih dari 8000 perjanjian “damai” dibuat dan dilanggar.

Bagaimana kita kehilangan damai Tuhan itu?

Kita dapat melihat contoh dari hilangnya damai di Hakim-hakim 6. Hakim-hakim adalah contoh buruk yang “baik” untuk diingat.

Itu diringkas dalam Hak 21:25, “Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.”

Karena tidak ada pemerintah, maka tidak ada yang mengatur ketertiban hidup masyarakat. Setiap orang melakukan apa yang benar menurut mereka.

Kalau keadaan seperti ini maka ada kekacauan dimana-mana. Karena tidak ada standar kebenaran yang harus diikuti setiap orang. Karena masing-masing orang melakukan kebenaran mereka sendiri.

Bagaimana situasi yang suram ini terjadi?

Awal mulanya adalah lahirnya Sebuah generasi baru. Mereka tidak tahu siapa pribadi Allah itu. Mereka tidak tahu apa yang Tuhan telah Allah lakukan untuk Israel.

Mereka tidak tahu kekuatan Tuhan. Untuk menggambarkannya Hakim-hakim 3:7 katakan, “..mereka melupakan TUHAN, Allah mereka.”

Karena mereka melupakan Tuhan, mereka menyembah dewa baal dan para Asyera.

“Lalu orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal.” Hak 2:11.

Sehingga, “mereka menyakiti hati TUHAN.” (12).

Israel lupa pribadi Tuhan, mereka mulai meninggalkan Dia dan mulai menyembah allah lain, yang sama sekali bukan tuhan.

Sebuah generasi baru muncul yang melupakan Dia sebagai Yehovah jireh, yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir melalui darah Anak Domba Paskah.

Dan dengan mukjizat yang besar dan perkasa telah memimpin mereka keluar dari sana.

Mereka tidak lagi mengingat Dia sebagai Yehovah rapha, yang telah menyembuhkan penyakit dan kesedihan mereka.

Mereka menderita kekalahan karena mereka membelakangi Dia yang, sebagai Yehovah nissi, telah menjadi panji kemenangan mereka dalam pencobaan dan perjuangan.

Mereka tidak menjaga kekudusan diri mereka kepada Dia yang, sebagai Yehova‑M’Kaddesh, telah menguduskan mereka.

Tetapi mereka merusak diri mereka sendiri dengan penyembahan berhala dan membawa kekejian kepada Tuhan.

Dengan demikian mereka kehilangan kemurnian, kedamaian, kemakmuran, dan kebebasan mereka.

Kita pun akan kehilangan damai bila kita menjauh dari Tuhan.

Bagaimana kita mendapatkan damai sejahtera Allah?

Kita akan menemukan damai dalam pengetahuan akan Tuhan dan Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang kuasa Ilahi-Nya sanggup memberikan kepada kita segala sesuatu, yang berkaitan dengan kehidupan dan kesalehan.

Petrus mengajarkan bahwa damai sejahtera Allah berasal dari pengetahuan yang benar, berdasarkan pengalaman (bukan hanya teoretis) tentang Sumber damai sejahtera, Allah dan Yesus Tuhan kita.

Jehovah Shalom

Yehovah Shalom muncul dalam Alkitab, Hakim-hakim 6.24: “Lalu Gideon membangun sebuah mezbah di sana untuk Tuhan dan menamakannya, Tuhan adalah Damai Sejahtera”.

Dalam bahasa Inggris KJV, “Jehovah-shalom.” Diterjemahkan dari Bahasa Ibrani Yehovah Shalom.

Nama Yehovah berarti ada, atau ada, atau menjadi dikenal, sedangkan istilah shalom mengacu pada kesehatan, kelengkapan, harmoni dan tidak adanya perselisihan.

Kitab Hakim-hakim menggambarkan masa sulit dalam hidup bangsa Israel. Tanpa raja. Tidak ada terang. Semua gelap. Tidak ada damai.

Mereka tidak Bersatu. Tidak ada pemimpin yang setia. Mereka jatuh dalam penyembahan berhala. Mereka murtad massal.

Karena perilaku itu, maka Tuhan menyerahkan mereka ketangan musuh-musuh mereka. Tujuannya sipaya mereka bertobat.

Suatu waktu mereka dibebaskan dari musuh mereka. Tetapi segera setelah itu mereka Kembali murtad.

Di hakim-hakim 6 dicatat mereka melakukan yang jahat dimata Tuhan. Karena itu Tuhan menyerahkan mereka ke tangan Midian 7 tahun lamanya.

Selama 7 tahun orang Midian menguasai Israel. Mereka takut dan bersembunyi ke gua-gua dan kubu-kubu di pengunungan.

Setiap kali mereka menanam, orang-orang Midian, Amalek dll, akan datang dan menghancurkan tanaman mereka.

Tuhan datang Shalom muncul

Hidup mereka menjadi sangat melarat. Karena itu mereka berseru kepada Tuhan.

“..maka TUHAN mengutus seorang nabi kepada orang Israel, yang berkata kepada mereka: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Akulah yang menuntun kamu keluar dari Mesir dan yang membawa kamu keluar dari rumah perbudakan.”

Aku melepaskan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan semua orang yang menindas kamu, bahkan Aku menghalau mereka dari depanmu dan negeri mereka Kuberikan kepadamu. (8-9).

Intinya, Tuhan memanggil Gideon untuk menjadi penyelamat bagi Israel. Melalui Gideon Tuhan ingin melepaskan bangsa itu dari penindasan dan penjajahan Midian.

Tuhan memberikan jaminan bahwa Dia akan menyertai Gideoan. “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Selamatlah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati.” (23).

Karena perkataan tersebut, Hati Gideon dipenuhi dengan keyakinan dan keberanian. Dia mengalami kedamaian dalam arti yang sebenarnya.

Lalu Gideon mendirikan mezbah di sana bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu keselamatan (Shalom). Mezbah itu masih ada sampai sekarang di Ofra, kota orang Abiezer. (24).

Tuhan adalah damai

Dia membangun mezbah untuk Tuhan, dia menyebutnya, “Jehovah-Shalom”, atau “Tuhan adalah Damai”.

Dia tidak takut menghadapi Midian. Hatinya begitu damai ditengah-tengah jeritan penderitaan Israel. Dia begitu damai ditengah musuh yang kejam dan jumlahnya lebih banyak.

Jadi, Pertemuannya dengan Tuhan Perdamaian itu telah mengajarinya bahwa dia tidak sendirian.

Ketika kita menghadapi tentangan seperti Gideon, jangan takut karena Tuhan ada memberi kemenangan dan kita menghadapi dengan perasaan damai dihati.

Baca Juga: Mengapa Kita Memanggil Tuhan Sebagai Yehovah Rapha?

Mengapa Kita Memanggil Tuhan Sebagai Yehovah Shammah?

Mengapa Kita Memanggil Tuhan Sebagai Jehovah Jireh?

Mengapa Kita Memanggil Tuhan Sebagai Jehovah Nissi?

Jehovah Shalom adalah Yesus Kristus Tuhan kita

Dia adalah Raja Damai yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama (Yes. 9:6). Sebelum kelahiran-Nya Zakharia mengumumkan Dia sebagai, “Surya pagi dari tempat yang tinggi,”

“Oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” Lukas 1:78-79.

Sementara pada saat kelahiran-Nya banyak penghuni surga menyanyikan “damai sejahtera di bumi” (Luk 2:14).

Yesus juga berkhotbah & menjanjikan perdamaian. Kepada seorang wanita yang telah Dia sembuhkan Dia berkata, “Imanmu telah menyelamatkanmu; pergilah dengan damai.” (Luk 7:50)

Yesus menangisi Yerusalem yang menolak Dia, dengan mengatakan: “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” (Luk 19:42).

Kata-kata pertamanya kepada murid-murid-Nya yang ketakutan setelah bangkit dari kematian adalah, “Damai sejahtera bagimu.” (Yoh 20:19,21)

Rahasia kedamaian sejati dengan Tuhan ditemukan dalam mempercayai Kristus setiap hari.

Pada tahun 1555, Nicholas Ridley seorang bishop dari London, dibakar di tiang pancang karena kesaksiannya bagi Kristus.

Pada malam sebelum eksekusi, saudaranya menawarkan untuk menemaninya di kamar penjara untuk membantu dan menghibur.

Nicholas menolak tawaran itu dan menjawab bahwa dia akan pergi ke tempat tidur dan tidur dengan tenang seperti yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.

Dia memiliki damai sejahtera dengan Allah, dia dapat beristirahat dalam kekuatan tangan Tuhan yang kekal untuk memenuhi kebutuhannya. Kita juga bisa!

Kedamaian yang Yesus berikan bukanlah tidak adanya masalah, melainkan keyakinan bahwa Dia selalu ada bersama kita dalam segala keadaan.

Mengapa kita memanggil Allah dengan Jehovah Shalom, karena Allah sumber damai sejahtera. Di dalam Dia kita menemukan damai sejati ditengah dunia yang tidak ada damai ini.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *