Memahami Jawaban Tuhan di Balik Keheningan

“Saya sudah berdoa bertahun-tahun, tetapi mengapa Tuhan belum menjawab doa saya?”

Banyak orang pernah mengucapkan kalimat itu. Kita sudah berdoa dengan sungguh-sungguh, bahkan berpuasa dan menangis di hadapan Tuhan.

Namun keadaan tidak berubah. Orang yang sakit tetap sakit. Pekerjaan belum datang. Masalah keluarga belum selesai.

Lalu muncul pertanyaan yang mengusik hati,

“Apakah Tuhan benar-benar mendengar doa saya?”

Pertanyaan ini bukan hanya pertanyaan kita, tapi pertanyaan banyak orang..

Banyak tokoh Alkitab juga pernah merasakan situasi yang sama seperti yang kita rasakan.

Namun Alkitab mengajarkan bahwa keheningan Allah bukan berarti ketidakhadiran-Nya.

Kadang Jawaban Tuhan Adalah “Belum”

    Ketika kita bedoa, Tuhan mendengar setiap doa, namun Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk kita saat itu..

    Cara kerja Tuhan tidak sama dengan kita. Tuhan bekerja menurut waktu-Nya, bukan menurut jadwal kita.

    Misalnya, Abraham menunggu puluhan tahun untuk memperoleh Ishak. Bahkan disaat kondisi mereka tidak memungkinkan lagi secara manusia..

    Yusuf menunggu bertahun-tahun sebelum mimpinya digenapi. Bahkan digenapi saat bangsanya sedang dalam bahaya..

    Bangsa Israel menunggu ratusan tahun sebelum dibebaskan dari Mesir. Dibebaskan ketika jumlah mereka semakin banyak..

    Penundaan bukan berarti tidak ada jawaban. Hikmat Allah bekerja untuk sesuatu yang lebih indah dimasa depan..

    Pengkhotbah 3:11 berkata, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”

    Tuhan lebih mengetahui kapan waktu terbaik dan saat itulah Tuhan mewujudkan rencannnya untuk kita.

    Misalnya, jika doa Abraham dikabulkan sejak masa muda. Maka dia tidak akan pernah belajar percaya kepada Tuhan. Baik dia dan orang lain tidak akan melihat kuasa Tuhan..

    Sebetulnya, jawaban doa itu bukan hanya untuk kepentingan kita, tapi juga untuk pekerjaan Tuhan.

    Tuhan Sedang Memberikan Jawaban yang Lebih Baik

      Sama seperti seorang anak kecil, sering meminta sesuatu yang menurutnya baik. Namun orang tua melihatnya kurang baik. maka orang tua katakan, “Tidak.”

      Bukan karena dia tidak mengasihi. Justru karena dia mengasihi.

      Demikian pula dengan Tuhan. Kita sering berdoa berdasarkan apa yang kita inginkan. Untuk kepentingan kita..

      Tetapi Tuhan menjawab berdasarkan apa yang benar-benar kita butuhkan. Dan untuk tujuan Tuhan.

      Yesaya menulis, “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu.” (Yesaya 55:8–9)

      Kadang jawaban “tidak” adalah bentuk dari rancangan Tuhan yang belum kita pahami..

      Ada Dosa yang Belum Dibereskan

        Alkitab juga mengajarkan bahwa dosa yang dipelihara dapat mengganggu hubungan kita dengan Tuhan. Dan itu dapat menjadi penghalang untuk Tuhan mengatakan “Ya”

        Yesaya berkata, “Yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu.” (Yesaya 59:2)

        Ini tidak berarti setiap doa yang belum dijawab pasti karena dosa kita. Disini Alkitab mengajak kita untuk memeriksa hati.

        Apakah ada kepahitan? Kesombongan? Ketidaktaatan? Apakah ada hubungan yang terputus?

        Doa bukan sekadar meminta. Doa juga adalah kesempatan untuk bertobat. Agar hati kita siap menerima jawaban doa “Ya’

        Sebab jawaban Tuhan atas do akita, bukan saja demi kepentingan kita, tapi juga untuk tujuan pekerjaan Tuhan dalam diri kita..

        Motif Kita Mungkin Keliru

          Yakobus menulis,

          “Kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.” (Yakobus 4:3)

          Nah, ini salah satu bukti yang sangat jelas kenapa Tuhan tidak mengatakan “Ya” atas permohonan kita. Karena kita salah berdoa..

          Kita telah menjadikan Tuhan menjadi alat untuk memenuhi semua keinginan kita.

          Padahal doa bertujuan menyelaraskan hati kita dengan kehendak Allah. Semakin dekat kepada Tuhan, semakin kita belajar berkata,

          “Jadilah kehendak-Mu.”

          Tuhan Ingin Membangun Iman, Bukan Hanya Mengubah Keadaan

            Rasul Paulus pernah memohon agar “duri dalam dagingnya” disingkirkan. Ia berdoa sampai tiga kali.

            Namun Tuhan menjawab, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” (2 Korintus 12:9)

            Tuhan tidak mengubah keadaan Paulus. Tuhan mengijinkan dia mengalami penyakit itu. Namun dalam rasa sakitnya, Tuhan memberikan kekuatan untuk menjalaninya.

            Jadi, mukjizat terbesar bukanlah masalah kita yang hilang.

            Melainkan hati yang tetap percaya di tengah masalah.

            Doa Tidak Pernah Sia-Sia

              Tidak ada satu doa pun yang akan hilang, menguap seperti embun..

              Mazmur berkata, “TUHAN itu dekat kepada setiap orang yang berseru kepada-Nya.” (Mazmur 145:18)

              Mungkin kita belum melihat jawabannya hari ini. Namun Tuhan mendengar setiap air mata yang jatuh. Setiap pergumulan. Setiap bisikan doa.

              Tidak ada yang terlewatkan dari perhatian-Nya.

              Dalam pergumulan doalah kita belajar tentang iman, kesabaran dan kesetiaan.

              Ilustrasi: Anak dan Ayah

              Seorang anak meminta ayahnya mengizinkan bermain di jalan raya. Ayahnya menolak. Anak itu menangis. Ia merasa ayahnya tidak mengasihinya.

              Padahal justru penolakan itulah yang menyelamatkan hidupnya. Jika dia bermain dijalan raya, anak itu dalam bahaya. Bisa tertabrak kendaraan dan mati..

              Demikian pula Tuhan. Hari ini kita mungkin kecewa karena doa belum dijawab karena Tuhan tahu yang terbaik..

              Namun suatu hari nanti kita mungkin berkata,

              “Terima kasih Tuhan karena Engkau tidak memberikan apa yang saya minta.”

              Ketika Yesus Sendiri Berdoa

              Di Taman Getsemani, Yesus berdoa. Dia berkata, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.”

              Namun Ia menambahkan,

              “Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Matius 26:39)

              Bapa tidak mengangkat cawan penderitaan Yesus. Bapa mengijinkannya. Karena Bapa tahu, lewat cara itulah rencana keselamatan terlaksana..

              Melalui salib, penebusan dosa terwujud. Tanpa penderitaan Yesus, kita tidak selamat.

              Kadang jawaban Allah tidak menghindarkan kita dari penderitaan.

              Tetapi melalui penderitaan itu, Allah mengerjakan sesuatu yang jauh lebih besar untuk kita.

              Renungkan

              Mungkin hari ini Anda sedang menunggu jawaban doa. Jangan menyerah. Jangan berhenti berharap.

              Tuhan tidak selalu menjawab dengan: “Ya.

              Kadang Ia berkata: “Belum waktunya.”

              Kadang: “Tidak.”

              Dan sering kali Tuhan berkata: “Aku punya rencana yang lebih baik.”

              Iman bukan hanya percaya ketika doa dikabulkan. Iman adalah tetap mempercayai Tuhan ketika langit terasa sunyi.

              Sebab Allah yang sama yang mendengar doa Abraham, Hana, Daniel, Paulus, dan Yesus, juga mendengar doa Anda hari ini.

              Mungkin jawaban-Nya belum datang sesuai waktu yang Anda inginkan.

              Tetapi kasih-Nya tidak pernah terlambat.

              Dan ketika waktunya tiba, Anda akan mengerti bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan satu pun doa yang dipanjatkan dengan iman.

              Bagikan:

              Tinggalkan Balasan

              Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *