Melayani Tuhan selagi masih sehat (Ayub 7:5-6)
LELAH bekerja itu enak. Bisa tidur nyenyak. Bangun pagi segar kembali. Lelah karena hal yang baik itu menyenangkan.
Lelah karena sakit menderita. Tidak bisa bangun. Kalau pun bangun badan tidak segar. Sakit. Tidak nyaman. Kembali berbaring. Ditempat tidur. Apa-apa tidak enak. Sulit diceritakan..
Itulah yang dirasakan Ayub. Hari-harinya ditempat tidur. Sulit pejamkan mata. Gelisah. Berharap mati. Tapi kematian tidak kunjung tiba.
Di ayat 5, ia menyebutkan perihnya penyakit kulit yang dia derita. Ini membuat dia susah tidur.
“Berenga dan abu menutupi tubuhku, kulitku menjadi keras, lalu pecah.” (7:5)
Ketika malam tiba, ia mengharapkan sedikit kelegaan, setidaknya tidur nyenyak. Ia ingin seperti buruh, kerja keras membuatnya tidur nyenyak di malam hari.
Namun, di tempat tidur, Ayub menjadi sangat lelah karena terus-menerus bolak-balik. Guling sana. Guling sini, sehingga pikirannya bertanya-tanya kapan waktunya untuk bangun.
Malam berlalu begitu lambat sehingga dalam keheningannya ia menyadari setiap rasa sakit di tubuhnya.
Di pagi hari, Ayub menemukan bahwa cacing telah berkembang biak di lukanya. Kerak keras telah mengeras di sekitar luka di kulitnya.
Kemudian pecah dan mengeluarkan cairan, meninggalkan kulitnya yang sangat perih. Gatal.
Gambaran ini memberikan beberapa wawasan tentang berbagai komplikasi fisik dari penyakit Ayub: demam, insomnia, delirium, ulkus kulit atau luak terbuka, dan luka bernanah yang dipenuhi cacing.
Meskipun demikian, selama malam-malam yang lambat dan menyiksa, kenangan masa lalunya membuatnya sedih menyadari bahwa hari-harinya berlalu terlalu cepat.
“Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan.” (7:6)
Kecepatan berlalunya kehidupan seseorang serupa dengan gerakan cepat jarum tenun yang melintas bolak-balik di atas alat tenun.
Tak lama kemudian kain selesai dan benang dipotong untuk memisahkan kain dari alat tenun.
Seperti alat tenun yang melintas, hari-hari Ayub berlalu begitu cepat sehingga seolah-olah Tuhan hampir selesai dengan kain ini dan akan segera memotongnya dari alat tenun.
Kemudian tidak akan ada lagi benang yang tersisa untuk ditenun ke dalam hidupnya. Terputus dari bumi ini, dia tidak akan lagi memiliki “harapan” (tiqwa) untuk menikmati pengalaman hidup yang kaya.
Apakah kita pernah punya pengalaman yang sama dengan Ayub? Dalam kesusahan, hari-hari berlalu begitu cepat dan kita tidak menemukan sesuatu yang berarti selain kesia-siaan?
Ayub merasakan hari-harinya berlalu tanpa makna. Tanpa masa depan. Semua impiannya hilang lenyap seolah tanpa harapan?
Dia yang tadinya orang kaya. Punya banyak pekerja, yang dia upah harian dan punya budak yang mengabdi kepadanya, mendadak dia iri kepada mereka..
Walau mereka pekereja rendahan, namun mereka masih menikmati tidur yang nyenyak. Ada perteduhan mereka dan mereka terlihat lebih baik dari dirinya..
Saat kita susah, orang lain akan terlihat lebih baik dan lebih beruntung. Dan kita ingin menjadi salah satu pekerja kasar tersebut. Bagi mereka yang susah itu lebih baik dari pada sakit..
Karena itu, selagi kita masih sehat dan hidup kita sedang baik, pergunakan semuanya untuk kebaikan agar menjadi berkat bagi orang lain..
Karena akan tiba masanya, suatu waktu yang masih misteri, kita akan ditimpa kemalangan. Entahkah itu karena kesalahan kita, atau karena orang lain, atau karena situasi diluar kendali kita..
Kita menjadi seperti Ayub. Menderita. Hari-hari kita menyedihkan. Namun seperti Ayub, dia telah puas melakukan kebajikan ketika dia masih jaya. Sehat dan penuh kelimpahan..
Untuk menutup bagian ini, mari kita lihat sekali lagi, perbedaan yang ditampilkan oleh Ayub antara dirinya dengan pekerja atau budak..
Dalam ayat 1-2, pekerja lelah bekerja, namun mereka memiliki harapan akan sesuatu yang manis di akhir jam kerja panjangnya..
Sementara dalam ayat 7-10, Ayub lelah, namun ia tidak memiliki harapan akan momen-momen menyenangkan. Namun dia ingin upah, hidup sekali lagi dalam sukacita..
Apa yang membuat kita bertahan dan ingin terus hidup adalah karena ada imbalan atau upah.
Keinginan untuk hidup adalah dorongan dasar manusia yang menemukan imbalannya dalam menikmati pengalaman yang menyenangkan.
Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 34:13, “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?”
Dengan demikian, permintaan Ayub sederhana dan mendasar; ia merindukan untuk kembali mengalami kegembiraan hidup normal sebelum kematian merenggut hidupnya.
Seruan Ayub kepada Tuhan untuk mengingat bahwa hidupnya hanyalah hembusan napas.
Seperti Ayub, hidup kita juga seperti hembusan nafas. Sekejap. Kita fana dan rentan dengan penderitaan.
Apa yang harus kita lakuka selagi masih sehat? Baca kutipan berikut ini:
“Layani Tuhan selagi tanganmu masih kuat untuk bekerja, suaramu masih lantang untuk memberitakan, kakimu masih cepat untuk melangkah, dan hatimu masih berkobar dengan semangat.” — Tidak Diketahui
“Jangan berikan kekuatanmu kepada dunia dan sisakan sisanya untuk Tuhan. Melayani Tuhan selagi kamu masih kuat adalah benih yang menjamin ingatan ilahi di masa depanmu.” — Tidak diketahui
“Jagalah kesehatanmu karena kamu tidak dapat melayani Tuhan ketika kamu sakit.” — Prof. Nana Osei Opoku
“Jika Anda pernah ingin melayani Tuhan, lakukanlah. Jangan menunggu izin dari siapa pun.” — Bangambiki Habyarimana
Pengkhotbah 12:1: “Ingatlah juga Penciptamu pada masa mudamu, sebelum datang hari-hari yang jahat dan tahun-tahun yang akan kamu katakan: ‘Aku tidak mendapat kesenangan di dalamnya.”
Banyak pesan memperingatkan agar tidak menunggu sampai energi habis untuk melayani Tuhan. Waktu terbaik untuk melayani adalah ketika Anda masih penuh kekuatan.




