BANYAK orang menganggap melayani Tuhan berarti aktif berkhotbah, memimpin ibadah, atau terlibat dalam berbagai kegiatan gereja.

Namun, Alkitab mengajarkan bahwa pelayanan yang sejati tidak dimulai dari kesibukan, melainkan dari penyembahan dan hubungan yang intim dengan Allah.

Mengapa hal ini begitu penting? Mari kita pelajari bersama berdasarkan Firman Tuhan.

Sebelum kita dapat melayani Tuhan dengan tangan kita, kita harus lebih dahulu melayani Tuhan dengan hati kita.

Agar pelayanan kita tidak sekedar formalitas, tetapi berkenan kepada Tuhan..

Prinsip ini sering terbalik dalam kehidupan orang Kristen.

Banyak orang berpikir bahwa melayani Tuhan berarti sibuk mengurus gereja, memimpin ibadah, berkhotbah, bernyanyi, atau mengikuti berbagai kegiatan pelayanan lainnya.

Semua itu memang penting dan harus kita lakukan sebagai orang percaya. Tetapi Alkitab menunjukkan bahwa pelayanan yang sejati selalu dimulai dari hubungan yang benar dengan Allah.

Sebab pelayan yang tidak memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan, pelayanannya hanya akan menjadi pelayanan yang setengah hati dan tidak sungguh-sungguh.

Tuhan Tidak Membutuhkan Bantuan Kita

Banyak orang berpikir bahwa Tuhan membutuhkan tenaga kita untuk melakukan pelayanan. Jika kita tidak melayani, seakan-akan pekerjaan Tuhan akan berhenti.

Namun Alkitab berkata:

“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya… bukanlah Ia dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas kepada semua orang.” (Kisah Para Rasul 17:24–25)

Ayat ini mengingatkan bahwa Allah tidak pernah kekurangan tenaga, kemampuan, atau sumber daya. Dia tidak membutuhkan manusia agar rencana-Nya berhasil.

Sebab Tuhan dapat melalukannya tanpa kita. Dia Maha Kuasa, punya malaikat yang siap melakukan perintah-Nya..

Sebaliknya, justru kitalah yang membutuhkan Tuhan. Karena faktanya, kita hidup diatas semua anugerah Tuhan. Tanpa Tuhan kita hanya butiran debu yang tidak berharga..

Ketika Tuhan memanggil kita melayani, itu bukan karena Dia perlu bantuan kita, melainkan karena Dia ingin membentuk karakter kita, mengikutsertakan kita dalam karya-Nya, dan memakai hidup kita menjadi saluran berkat.

Dalam buku Testimonies, jld. 3, hlm.382,

“Allah dapat mencapai tujuannya menyelamatkan orang berdosa tanpa bantuan manusia, tetapi Dia mengetahui bahwa manusia tak dapat merasa bahagia tanpa mengambil bagian dalam pekerjaan besar di mana dia dapat membangun penyangkalan diri dan kedermawanan..”

“..dengan melakukan pekerjaan Kristus, dalam melayani yang menderita dan teraniaya sebagai Ia telah lakukan, kita membangun tabiat Kekristenan…” Review and Herald, hlm. 27, 1893.

Jadi, pelayanan adalah kesempatan istimewa yang Tuhan berikan agar tabiat kita bertumbuh..

Penyembahan Adalah Pelayanan Pertama

Dalam Alkitab, kata melayani sering kali berkaitan erat dengan penyembahan. Dari kata Diakonia (διακονία) yang berarti pelayanan, pengabdian, atau kepedulian.

Dalam Perjanjian Baru, kata ini merujuk pada tindakan-tindakan yang menyerupai Kristus, yaitu belas kasihan, keadilan, dan pelayanan praktis.

Sebelum bangsa Israel bekerja bagi Tuhan, mereka dipanggil untuk mengenal, mengasihi, dan menyembah-Nya.

Yesus berkata:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” (Matius 22:37)

Inilah perintah yang terutama. Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Bekerjalah bagi Tuhan.”

Ia terlebih dahulu berkata, “Kasihilah Tuhan. Allah mu..” mengapa demikian? Karena kasih selalu mendahului pelayanan.

Seseorang dapat melayani tanpa kasih. Namun pelayanannya akan berubah menjadi kewajiban, hanya karena dia dibayar untuk itu..

Bagaimana dengan berbagai pelayanan yang bersifat sukarela? Mungkin akan ditinggalkan atau menggerutu dalam melakukan pelayanan itu..

Karena itu, tanpa hubungan yang hidup dengan Tuhan, pelayanan kita berubah menjadi rutinitas. Seekdar memenuhi jadwal saja..

Intinya, tanpa penyembahan, pelayanan kehilangan makna rohaninya. Kuasa pelayanan itu redup..

Contoh Maria dan Marta

Lukas 10:38–42 memberikan gambaran yang sangat jelas tentang pelayanan formalitas..

Marta sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk Yesus. Ia bekerja keras agar semuanya berjalan dengan baik.

Maria melakukan sesuatu yang berbeda. Ia duduk di kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya.

Dari sudut pandang manusia, Marta tampak lebih produktif. Karna dia sibuk melayani Yesus. dan berupaya memberi yang terbaik..

Namun Yesus berkata kepadanya dengan membandingkan bahwa: “Maria telah memilih bagian yang terbaik.” (Lukas 10:42)

Intinya, Yesus memuji Maria dan menegur Marta dengan keras..

Menjadi Maria sebelum jadi Marta..

Sebelum bekerja untuk Tuhan, seseorang harus belajar hidup bersama Tuhan. Kita harus menjadi Maria lebih dahulu baru menjadi Marta. Agar pelayanan kita jauh dari persungutan..

Marta duduk dekat kaki Yesus. Mendengar sabda-nya. Mengisi pikirannya dengan Firman Tuhan. sementara Marta pikiranya diisi lebih dahulu dengan segala urusan jasmani..

Akibatnya, pelayanan Marta bukan lagi sebuah sukacita, tetapi beban..

Pelayanan yang lahir dari hadirat Tuhan akan menghasilkan damai, sukacita, dan kasih.

Sebaliknya, pelayanan yang lahir dari kesibukan semata sering menghasilkan kelelahan, keluhan, bahkan persaingan.

Contoh Yesus

Tidak ada seorang pun yang lebih sibuk daripada Yesus. sepanjang hari, Ia mengajar. Ia menyembuhkan. Ia memberi makan ribuan orang. Ia menghibur yang berduka.

Namun di tengah semua itu, Yesus selalu mencari waktu untuk bersekutu dengan Bapa-Nya.

“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke tempat yang sunyi, dan berdoa di sana.” (Markus 1:35)

Mengapa Yesus melakukan hal itu?

Karena kuasa dalam pelayanan-Nya diperoleh dari persekutuan dengan Allah. Jika Yesus mengutamakan hubungan dengan Bapa, apalagi kita manusia berdosa ini..

Kita memerlukan hubungan dengan Bapa, agar kita mendapat kuasa melakukan pelayanan yang baik..

Baca juga: Apa artinya melayani Tuhan?

Ilustrasi: Cabang yang Terlepas dari Pohon

Bayangkan ada sebuah cabang yang penuh daun, namun buah pohon itu dipotong dari pohonnya. Apa yang akan terjadi?

Pada hari pertama, cabang itu masih tampak segar. Hari kedua, warnanya mulai berubah.

Beberapa hari kemudian, daun-daunnya mengering dan buahnya membusuk.

Mengapa?

Bukan karena cabang itu kurang bekerja. Bukan karena buahnya kurang banyak. Tetapi karena ia terputus dari sumber kehidupan.

Demikian pula orang percaya.

Seseorang dapat tetap berkhotbah, memimpin ibadah, mengajar, menjadi pendeta, penatua dan melayani selama beberapa waktu meskipun kehidupan doanya mulai melemah.

Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Tidak ada masalah..

Namun jika ia terus menjauh dari Kristus, cepat atau lambat, kekeringan rohani akan terlihat nyata.

Pelayanan mungkin masih berjalan seperti biasa. Tetapi sukacita melayani mulai menghilang. Pelayanan hanya sekedar karena kewajiban. Roh pelayanan pudar.

Kasih pun mulai pudar. Kuasa pelayanan lama-lama mengecil. Sampai akhirnya tidak ada lagi kuasa Roh Kudus.

Yesus telah mengingatkan:

“Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya… di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yohanes 15:5)

Bagaimana Praktiknya?

Melayani Tuhan dimulai dengan memberikan bagian terbaik dari hidup kita kepada-Nya setiap hari.

Itu berarti:

• menyediakan waktu untuk doa, bukan hanya ketika membutuhkan sesuatu;

• membaca Firman untuk mendengar suara Tuhan, bukan sekadar mencari bahan pelajaran atau khotbah;

• menaati kehendak-Nya dalam keputusan-keputusan sehari-hari;

• memelihara hati yang penuh syukur dan hormat kepada-Nya;

• menjadikan hadirat Tuhan sebagai kebutuhan, bukan sekadar pelengkap aktivitas.

Ketika hubungan dengan Tuhan menjadi prioritas utama, maka pelayanan kita tidak lagi menjadi beban, namun berubah menjadi luapan kasih kepada Dia yang lebih dahulu mengasihi kita.

Renungkan

Pertama-tama, Tuhan tidak mencari tangan yang sibuk. Dia mencari hati yang mengasihi-Nya.

Sebab tangan yang bekerja, tanpa hati yang menyembah akan melelahkan hati. Kita akan mudah marah ketika mendapat kritikan..

Kita akan mudah meninggalkan pelayanan ketika menghadapi tantangan.

Saat pelayanan kita tidak dihargai, kita akan segera patah semangat..

Tetapi hati yang terus tinggal di hadirat Tuhan akan selalu menemukan kekuatan baru untuk melayani.

Apakah perlayanan kita dihargai atau tidak, itu tidak penting, karena kita tahu, kepada siapa kita melayani.

Jadi, pelayanan terbesar kepada Tuhan bukan dimulai di mimbar, melainkan di tempat doa. Disana kita mendapat kekuatan dan kuasa Roh Kudus untuk melayani.

Melayani Tuhan bukanlah memberi sesuatu yang Tuhan butuhkan, tetapi mempersembahkan hidup kepada Dia yang telah memberikan segala sesuatu kepada kita.

Jadi, esensi melayani Tuhan adalah penyerahan diri, sedangkan semua aktivitas pelayanan hanyalah ungkapan dari penyerahan tersebut.

Saat kita menyembah Tuhan. Menyerahkan diri kita kepada-Nya, pelayanan kita akan bernilai kekal..

Pelayanan yang sejati bukan lahir dari tangan yang paling sibuk, tetapi dari hati yang paling dekat dengan Tuhan. Ketika penyembahan menjadi fondasi hidup, setiap pelayanan akan menjadi ungkapan kasih kepada Allah dan membawa kemuliaan bagi nama-Nya.

FAQ

Apa arti melayani Tuhan menurut Alkitab?

Melayani Tuhan bukan hanya melakukan aktivitas di gereja. Menurut Alkitab, pelayanan dimulai dari hubungan yang intim dengan Allah melalui penyembahan, doa, kasih, dan ketaatan kepada-Nya.

Mengapa penyembahan menjadi dasar pelayanan?

Karena Tuhan lebih dahulu menghendaki hati yang mengasihi dan taat kepada-Nya. Dari hubungan yang benar dengan Allah akan lahir pelayanan yang berkenan kepada-Nya.

Apakah Tuhan membutuhkan pelayanan manusia?

Tidak. Kisah Para Rasul 17:24–25 menjelaskan bahwa Allah tidak dilayani oleh tangan manusia seolah-olah Ia kekurangan sesuatu. Pelayanan adalah hak istimewa yang Tuhan berikan agar kita ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *