Mengelola ciptaan adalah salah satu bentuk pelayanan kepada Tuhan. Bukan karena bumi lebih penting daripada manusia, tetapi karena manusia dipercaya menjadi penatalayan atas milik Allah.

Banyak orang berpikir bahwa pelayanan hanya terjadi di gereja? Padahal Alkitab menunjukkan bahwa pelayanan dimulai jauh sebelum gereja ada.

Dalam kitab Kejadian 1-2, ketika Allah menciptakan manusia, Ia tidak langsung menempatkannya di sebuah rumah ibadah.

Ia menempatkan manusia di sebuah taman. Disebut Eden. Mereka tinggal disana bukan untuk duduk-duduk tanpa melakukan sesuatu..

Disana Tuhan memberikan sebuah tugas kepada mereka.

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15)

Perhatikan mereka ditempatkan untuk mengusahakan dan memelihara taman..

Tugas ini diberikan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa. Artinya, bekerja bukanlah akibat kutuk dosa.

Yang menjadi kutuk dosa adalah kesulitan dalam bekerja (Kejadian 3:17–19), yaitu bekerja menjadi berat.

Pekerjaan itu sendiri adalah bagian dari rancangan Allah sejak penciptaan kepada manusia.

Dunia Ini Milik Tuhan

Alkitab dengan tegas menyatakan, “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya.” (Mazmur 24:1)

Jika bumi adalah milik Tuhan, maka manusia bukanlah pemiliknya. Kita hanyalah pengelola.

Seorang pengelola tidak berhak bertindak sesuka hatinya. Dia bertindak berdasarkan instruksi dari pemilik dan ia bertanggung jawab kepada pemiliknya.

Inilah konsep penatalayanan (stewardship). Segala sesuatu yang kita miliki sesungguhnya adalah titipan Tuhan.

Tubuh kita.

Waktu kita.

Kemampuan kita.

Pekerjaan kita.

Keluarga kita.

Uang kita.

Bahkan bumi tempat kita tinggal.

Semuanya ini dipercayakan kepada kita agar dikelola dengan setia untuk kemuliaan-Nya.

Bekerja Adalah Bentuk Ibadah

Banyak orang membagi hidup menjadi dua bagian yang seolah terpisah satu sama lain.

Bagian pertama dianggap rohani. Bagian kedua dianggap duniawi.

Misalnya Hari Sabat, hari ketujuh dianggap milik Tuhan. Sementara hari kerja dianggap milik diri sendiri.

Karena hari kerja dianggap miliki sendiri, maka banyak orang menggunakan waktu sesuka hati mereka.

Padahal Alkitab tidak mengenal pemisahan seperti itu. Rasul Paulus menulis,

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Perhatikan kata-kata “apa pun.”

Itu berarti pekerjaan seorang petani, guru, dokter, pedagang, sopir, pegawai, ibu rumah tangga, maupun mahasiswa dapat menjadi pelayanan kepada Tuhan apabila dilakukan dengan jujur, penuh tanggung jawab, dan untuk memuliakan-Nya.

Intinya, bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah. Uang. harta. Bekerja adalah cara kita menghormati Sang Pencipta.

Perumpamaan Tentang Talenta

Agar kita dapat mengerti lebih baik, kita dapat belajar dari perumpamaan Yesus tentang talenta..

Yesus menceritakan seorang tuan yang mempercayakan talenta kepada hamba-hambanya (Baca: Matius 25:14–30).

Setelah beberapa waktu lamanya, Tuan itu pulang dan meminta pertanggungjawaban.

Yang dipuji bukanlah hamba yang memiliki talenta paling banyak.

Yang dipuji adalah hamba yang setia mengelola apa yang dipercayakan kepadanya.

Tuhan berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia.”

Perumpamaan ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak hanya akan bertanya apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita lakukan dengan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.

Mengelola Lebih dari Sekadar Alam

Mengelola ciptaan bukan hanya berarti menjaga lingkungan dimana kita tinggal. Tugas ini jauh lebih luas dari itu..

Kita dipanggil mengelola seluruh pemberian Tuhan dengan bijaksana.

Misalnya mengelola waktu, sehingga tidak terbuang sia-sia.

Mengelola kesehatan agar tubuh tetap bugar untuk menjadi alat pelayanan.

Mengelola keuangan dengan jujur dan bertanggung jawab.

Mengelola keluarga dengan kasih.

Mengembangkan kemampuan dan talenta yang Tuhan berikan.

Menjaga lingkungan sebagai bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta. Sungai tidak dikotori dengan sampah dan limbah..

Udara tidak dikotori dengan polusi. Sumber daya alam tidak dieksploitasi secara berlebihan, dll

Merawat semua pemberian Tuhan adalah bagian dari penatalayanan.

Ilustrasi: Pengelola Kebun

Mari kita bayangkan ada seseorang yang dipercaya menjaga sebuah kebun milik seorang raja.

Pekerja itu setiap hari ia memetik buah untuk dirinya sendiri, tetapi tidak pernah merawat dengan menyiram semua tanaman dalam kebun..

Ia membiarkan pagarnya rusak. Tidak ada niat memperbaiki..

Ia mengabaikan pohon-pohon yang mulai mati. Rumput-rumput liar tumbuh tinggi. Taman itu dipenuhi dengan semak belukar..

Ketika sang raja datang, pekerja itu berkata, “Tuan, Saya sudah menikmati hasil kebun ini, luar biasa hasilnya”

Tetapi raja akan menjawab, setelah dia melihat kondisi kebun yang tidak terawatt..

“Aku tidak mempercayakan kebun ini supaya engkau menghabiskannya, melainkan supaya engkau memeliharanya.”

Tentu saja, raja akan murka dan memecat pekerja yang egois itu..

Demikian pula hidup kita.

Segala yang Tuhan percayakan bukan hanya untuk dinikmati saja, tetapi juga dipelihara dan dikembangkan.

Mengelola Ciptaan Sebagai Kesaksian

Sekarang bagaimana kita mengelola ciptaan Tuhan yang di titipkan kepada kita?

Titipan Tuhan kepada kita banyak: pekerjaan, keluarga, jabatan, pelayanan, harta, waktu, dll.. Dan semua titipan itu harus menjadi kesaksian yang baik bagi semua orang..

Ketika orang percaya bekerja dengan jujur, dunia akan melihat karakter Kristus dalam pekerjaan kita..

Bayangkan kalau orang percaya dipecat dari pekerjaan karena menyalahgunakan jabatan? Nama Tuhan akan dicela..

Ketika seorang pengusaha berlaku adil kepada karyawannya, ia sedang memuliakan Tuhan.

Ketika seorang petani mengolah tanah dengan penuh tanggung jawab, ia menghormati Sang Pencipta.

Ketika seorang pelajar menggunakan waktunya dengan disiplin, ia sedang mengelola kesempatan yang Tuhan berikan.

Ketika sebuah keluarga tidak boros, tidak serakah, dan menggunakan berkat untuk menolong orang lain, mereka sedang menjalankan penatalayanan yang baik.

Dengan demikian, pekerjaan sehari-hari menjadi mimbar yang memperlihatkan siapa Tuhan yang kita sembah..

Renungkan

Sering kali kita bertanya, “Apa yang akan menjadi pelayanan saya di gereja?”

Padahal mungkin Tuhan lebih dahulu bertanya,

“Bagaimana engkau mengelola apa yang telah Kupercayakan kepadamu?”

Pelayanan tidak dimulai ketika kita berdiri di mimbar. Pelayanan dimulai ketika kita mengelola dengan baik hidup kita sebagai milik Tuhan.

Sebab seorang penatalayan yang setia memuliakan Tuhan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui cara ia bekerja, menggunakan waktu, mengelola harta, membangun keluarga, dan memelihara dunia yang dipercayakan kepadanya.

Pada akhirnya, seluruh kehidupan orang percaya adalah sebuah penatalayanan.

Dan penatalayanan yang setia adalah salah satu bentuk pelayanan yang paling indah kepada Allah.


  1. Melayani Allah → membangun hubungan dengan Sang Pencipta (akar).
  2. Melayani sesama → menyatakan kasih Allah kepada manusia (buah kasih).
  3. Mengelola ciptaan → mengelola semua yang Allah percayakan dengan setia (tanggung jawab).

Pelayanan bukan hanya aktivitas gereja, tetapi gaya hidup yang memuliakan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *