
Melayani Tuhan dan sesama bukanlah dua hal yang berbeda. Alkitab menunjukkan kedua hal itu tidak dapat dipisahkan. Bagaikan dua sisi mata uang.
Mengatkan mengasihi Allah namun tidak diwujudkan dalam kasih kepada sesama hanyalah pengakuan di bibir saja.
Demikian pula halnya dengan pelayanan kepada sesama yang tidak lahir dari kasih kepada Allah mudah berubah menjadi sekadar kegiatan sosial semata.
Kekristenan sejati mempersatukan keduanya. Kasih kepada Allah dan sesama.
Hubungan kita dengan Tuhan (vertikal) akan terlihat melalui hubungan kita dengan sesama (horizontal).
Artinya orang yang mengaku mengasihi Tuhan, akan terlihat dari cara dia memperlakukan sesamanya..
Kasih kepada Allah Selalu Mengalir kepada Sesama
Tentu kita masih ingat, ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang hukum yang terutama, Yesus tidak memberikan satu jawaban, melainkan dua yang tidak dapat dipisahkan.
“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:37–39)
Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Pilih salah satu.” Ia menghubungkan keduanya menjadi satu kesatuan.
Pertama, Kasih kepada Tuhan menjadi sumbernya.
Kedua, Kasih kepada sesama menjadi bukti kasih kepada Tuhan…
Saat kita mengatakan bahwa kita mengasihi Tuhan, namun jika ia tidak peduli kepada orang lain, Alkitab mempertanyakan pengakuan itu..
Rasul Yohanes menulis,
“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.” (1 Yohanes 4:20)
Dengan kata lain, kasih kepada Allah yang sejati selalu menghasilkan kasih kepada manusia. Kita tidak bisa mengasihi manusia tanpa lebih dahulu mengasihi Tuhan.
Yesus Melayani Manusia dengan berpusat kepada Allah
Selama hidup-Nya di dunia, Yesus menghabiskan sebagian besar waktu-Nya bersama manusia.
Ia menyembuhkan orang sakit. Memberi makan orang lapar. Menghibur mereka yang berduka. Menyentuh orang yang dijauhi masyarakat. Ia mengampuni orang berdosa.
Dan semua tindakan itu, bukan sekadar karena belas kasihan kepada manusia. Tetapi sebagai wujud ketaatan kepada Bapa.
Karena itu, kasih kepada manusia selalu berakar pada kasih kepada Allah.
Itulah sebabnya, pelayanan Yesus bukan hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga membawa manusia kembali kepada Allah atau kebutuhan rohani..
Melayani Sesama Lebih dari Memberi Bantuan
Mungkin kita perlu kembali mempertimbangkan anggapan bahwa pelayanan kepada sesama hanya sebatas memberikan bantuan materi.
Padahal Alkitab menunjukkan bahwa pelayanan kepada sesama jauh lebih luas dari sekedar hanya kebutuhan jasmani..
Melayani sesama berarti menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan orang lain. Cara bisa berbagai macam..
Kadang melalui makanan, perhatian, doa, pengampunan, nasihat yang membangun, dll
Dan yang paling penting, melalui pemberitaan Injil yang membawa manusia kepada keselamatan.
Kalau hanya sekedar memenuhi kebutuhan jasmani, seseorang mungkin kenyang hari ini karena menerima sepotong roti..
Namun tanpa mengenal Kristus, maka kebutuhan akan jiwanya tidak terpenuhi. Kita perlu roti hidup.
Itulah sebabnya pelayanan sosial dan penginjilan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Keduanya saling melengkapi.
Yesus memberi makan lima ribu orang, tetapi Ia juga berkata, “Akulah roti hidup.” (Yohanes 6:35) Ia memenuhi kebutuhan jasmani sekaligus kebutuhan rohani.
Tidak cukup hanya berdoa untuk orang yang kelaparan, kita juga harus membawa roti untuk mengenyangkan mereka, agar roti hidup lebih mudah diterima..
Orang Samaria yang Baik Hati
Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25–37) menjadi contoh yang sangat jelas tentang pelayanan kepada sesama..
Kita tahu ceritanya, seorang asing terkapar dipinggir jalan penuh luka. Seseorang membegalnya..
Lalu seorang imam lewat. Orang Lewi juga lewat. Mereka pemuka agama, mengenal hukum Tuhan. Mereka melayani di Bait Allah.
Namun keduanya mengabaikan orang yang terluka itu. Tidak melakukan apa pun tindakan belas kasihan..
Lalu datanglah seorang Samaria yang dianggap rendah oleh orang Yahudi.
Ia menghentikan perjalanannya. Dia melakukan tindakan kasih dan belas kasihan, tanpa memandang asal-usul orang itu..
Ia membersihkan luka orang itu. Menaikkannya ke atas keledainya. Membawanya ke tempat penginapan. Ia bahkan membayar biaya perawatannya.
Yesus kemudian bertanya,
“Siapakah di antara ketiga orang ini adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
Jawabannya jelas.
Yang menjadi sesama bukanlah orang yang banyak berbicara tentang kasih. Melainkan orang yang mempraktikkan kasih.
Orang Samaria mempraktekkan kasih tanpa banyak teori..
Ilustrasi: Lampu yang Menyinari Sekelilingnya
Sebuah lampu tidak pernah menyimpan cahayanya untuk dirinya sendiri. Semakin terang lampu itu, semakin banyak orang di sekitarnya menikmati cahayanya.
Demikian pula kehidupan kita orang percaya.
Semakin dekat seseorang kepada Kristus, semakin besar pengaruh kasihnya kepada orang lain.
Jika hubungan kita dengan Tuhan tidak membuat kita lebih sabar, lebih murah hati, lebih peduli, dan lebih mudah mengampuni, maka ada sesuatu yang perlu kita evaluasi dalam kehidupan rohani kita.
Kasih kepada Allah selalu memancarkan terang kepada sesama.
Bagaimana Melayani Sesama dalam Kehidupan Sehari-hari?
Melayani sesama bukan hanya tugas pendeta, penatua, atau diaken. Setiap orang percaya dipanggil melakukannya.
Seorang guru melayani murid-muridnya dengan penuh integritas.
Seorang dokter melayani pasien dengan kasih.
Seorang pengusaha melayani melalui kejujuran dan kepedulian kepada karyawan.
Seorang pelajar melayani dengan menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan.
Seorang tetangga melayani dengan memperhatikan mereka yang sedang mengalami kesulitan.
Seorang anggota gereja melayani dengan mengunjungi orang sakit, menguatkan yang putus asa, membantu yang membutuhkan, dan membagikan kabar baik tentang Yesus.
Pelayanan tidak terbatas hanya di dalam gedung gereja. Tapi diluar gereja jauh lebih banyak..
Poinnya, pelayanan adalah cara kita menghadirkan Kristus di mana pun Tuhan menempatkan kita.
Renungkan
Suatu hari nanti Tuhan mungkin tidak akan bertanya berapa banyak jabatan yang pernah kita pegang di gereja.
Tetapi Ia akan melihat apakah kasih-Nya telah mengalir melalui hidup kita.
Apakah kita mengunjungi yang sakit. Menguatkan yang lemah. Menghibur yang berduka. Memberi makan yang lapar. Membimbing orang berdosa kepada Juruselamat.
Sebab kasih kepada Tuhan tidak berhenti di ruang doa. Kasih itu berjalan keluar, menjangkau sesama, dan menjadi saluran berkat.
Melayani sesama bukanlah pengganti mengasihi Tuhan.
Melayani sesama adalah bukti bahwa kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan.
“Kasih kepada Tuhan adalah akar, kasih kepada sesama adalah buah. Tidak mungkin seseorang mengaku memiliki akar yang sehat jika pohonnya tidak pernah menghasilkan buah.”
Iman tanpa perbuatan adalah mati (Yakobus 2:17).
Pelayanan kepada sesama bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan ekspresi nyata dari hubungan yang hidup dengan Allah.
Melayani sesama bukan tujuan akhir orang Kristen. Tujuan akhirnya tetap memuliakan Allah.
Melayani sesama adalah salah satu cara kita menyatakan kasih kepada Allah.
Inilah keseimbangan antara dimensi vertikal dan horizontal dalam Kekristenan
FAQ
Apa arti melayani sesama menurut Alkitab?
Melayani sesama adalah tindakan kasih yang lahir dari hubungan dengan Tuhan. Pelayanan ini diwujudkan melalui kepedulian, pertolongan, pengampunan, penginjilan, dan perbuatan baik yang memuliakan Allah.
Mengapa melayani sesama merupakan bagian dari melayani Tuhan?
Yesus mengajarkan bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama adalah dua perintah terbesar yang tidak dapat dipisahkan (Matius 22:37–39). Orang yang mengasihi Tuhan akan menunjukkan kasih itu melalui pelayanannya kepada sesama.
Bagaimana cara melayani sesama dalam kehidupan sehari-hari?
Melayani sesama dapat dilakukan dengan membantu mereka yang membutuhkan, menghibur yang berduka, mengunjungi orang sakit, mengampuni, berbagi berkat, dan membagikan Injil dalam perkataan maupun perbuatan.













