Manusia tertinggi di dunia dibaptis dan meninggal

Di beberapa media beredar baptisan salah seorang manusia tertinggi di dunia. Sebagian mengidentifikasi orang tersebut sebagai Sultan Kosen yang berasal dari Turki.

Namun setelah di cek kebenarannya baptisan salah seorang manusia tertinggi di dunia itu bukan dari dari Turki seperti yang ditulis beberapa orang.

Orang itu adalah Margarito Machacuay Valera, dia berasal dari Peru salah satu Negara di Amerika Latin. Baptisan Margarito sendiri berlangsung sekitar bulan oktober tahun 2017, jadi sudah cukup lama.

Melalui kanal Youtube Adventistas Perú – Sur diketahui Margarito dibaptis di sebuah gereja advent di Peru bersama dengan istrinya, Olga Marleny Ramos .

Dari video yang di unggah nampak Margarito berjalan menuju sebuah sungai besar dengan beberapa orang yang menuntun dan dua orang pendeta yang akan membaptis.

Prosesi baptisan itu sedikit mengalami kesulitan dikarenakan postur tubuhnya yang tinggi besar 2 m, 28 cm, sehingga pendeta yang membaptis harus dibantu beberapa orang.

Supaya bisa dibaptis dengan cara diselamkan, Margarito harus mengubah posisinya dari berdiri menjadi duduk supaya bisa dibenamkan di dalam air dan diapun berhasil dibaptiskan.

Baptisan itu sediri disaksikan oleh ratusan orang dari atas sembuah jembatan dan disekitar sungai dan mereka bertepuk tangan bersukacita.

Margarito sendiri di Peru dikenal sebagai artis, pemain sirkus, pelawak. Namun pada tahun-tahun terakhirnya ia bekerja di Kotamadya Utcubamba, memperhatikan Penyandang Cacat.

Kecelakaan dan meninggal

Berita terbaru tentang Margarito adalah berita kematiannya yang disiarkan beberapa media di Peru, seperti diberitakan https://rpp.pe/

Amoros Castaneda melaporkan bahwa Machacuay Valera, 56, dirujuk ke rumah sakit ini hampir enam bulan lalu setelah menderita jatuh, yang mengakibatkan tulang pahanya patah.

Selain itu, pria tertinggi di Peru ini, juga memiliki serangkaian patologi, termasuk tromboemboli paru kronis.

“Kami mengoperasi dia (dari fraktur), operasinya berhasil, tetapi pada beberapa kesempatan dia mengalami krisis penyakit pernapasan ini yang menyebabkan kami harus merawatnya di ruang ICU dengan ventilator mekanis,” katanya.

Dokter mengatakan bahwa Margarito menderita gangguan pernapasan baru akhir pekan lalu, yang mana penyakit ini tidak puli dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya pada pagi hari tanggal 21 April 2020.

Enrique Amoros sempat mengatakan bahwa kematian Machacuay terkait dengan pandemi coronavirus, karena dia berada di area terpisah dari pasien COVID-19 di mana perawatan telah dilakukan untuk menghindari infeksi.

Tetapi kemudian, Almenara Red Prestacional melaporkan dalam sebuah pernyataan bahwa Machacuay Valera sudah menjalani tes COVID-19, yang hasilnya negatif.

Istrinya, Olga Marleny Ramos, mengatakan bahwa sebelum memasuki ICU, Margarito mengatakan kepadanya bahwa akan sulit untuk mendapatkan peti mati lebih dari dua meter dalam keadaan darurat pandemic virus corona.

Maka Margarito Machacuay Valera meminta jenazahnya dikremasi untuk memudahkan para petugas dan menghindari banyak kerepotan dimasa pandemic.

Kemudia pada pukul tiga sore hari Selasa, jenazahnya dikremasi. Kemudian abunya akan dibawa ke kota Bagua Grande, di wilayah Amazonas, seperti dilansir istrinya, Olga Marleny Ramos.

Setelah kematian orang tertinggi di Peru ini, wilayah Amazon sangat sedih atas kematian Margarito.

Mereka berterimakasih atas sumbangsih Margarito kepada Bagua Grande, baik untuk budaya, pariwisata, dan dukungannya bagi para penyandang cacat.

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *