Pastordepan Media Ministry
Beranda Renungan Makna Perumpamaan Perjamuan Kawin di Matius 22:1-8

Makna Perumpamaan Perjamuan Kawin di Matius 22:1-8

Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka:

“Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.

Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Matius 22:1-6

Dua perumpamaan telah membuat para pemuka agama itu marah besar. Itu belum cukup. Yesus menambah satu lagi.

Yesus memperkenalkan perumpamaan ini menggambarkan kerajaan Sorga. Karena sebagian besar orang Yahudi percaya bahwa kerajaan surga hanya diperuntukkan bagi mereka..

Orang-orang non Yahudi, yang juga hadir di Bait Suci merasa kerajaan Sorga juga untuk mereka.

Yesus menggunakan perumpamaan ini untuk menekankan urgensi dari acara tersebut.

Walau para pendengarnya belum pernah menghadiri undangan pernikahan kerajaan, tetapi mereka mengerti bahwa sebuah pernikahan acara yang penting.

Di Timur Dekat kuno, pesta pernikahan tidak dapat dipisahkan dari serangkaian jamuan makan dan perayaan selama seminggu dan merupakan puncak dari semua kehidupan sosial.

Untuk pernikahan kerajaan seperti yang Yesus sebutkan di sini, perayaannya sering kali berlangsung selama beberapa minggu.

Para tamu diundang untuk tinggal di rumah orang tua mempelai pria sepanjang acara, dan sang ayah akan memberikan bekal sesuai kemampuannya.

Pernikahan kerajaan, tentu saja, akan diadakan di istana, dan seorang raja akan mampu memenuhi apa pun yang diinginkannya.

Pesta pernikahan yang dipersiapkan seorang raja untuk putranya akan menjadi pesta dari semua pesta. Itu akan menjadi perayaan paling rumit yang bisa dibayangkan.

Perumpaan ini berisi empat adegan. Pertama, penolakan terhadap undangan.

Ketika pesta sudah siap digelar, raja mengutus para hambannya untuk memanggil para tamu undangan ke pesta pernikahan.

Mereka telah diundang lebih awal dan mereka telah mengeahui waku dan tempat pernikahan dan kehadiran mereka sangat diharapkan.

Menjadi tamu undangan pesta pernikahan raja adalah salah satu kehormatan tertinggi, dan mereka yang menerima undangan tersebut akan sangat bangga..

Selain suatu kehormatan, undangan itu juga bersifa wajib. Menolak kebaikan raja merupakan pelanggaran serius.

Walau demikian, orang-orang diundang tenyata menolak untuk datang. Penolakan seperti itu merupakan penghinaan bagi seorang raja..

Hanya sedikit raja yang dikenal karena kerendahan hati dan kesabarannya, terutama saat menghadapi penghinaan terbuka.

Dia menyuruh hambanya yang lain untuk melakukan panggilan kedua, dengan satu pesan,

Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.

Raja mengingatkan para undangannya bahwa semua sudah siap. Mohon untuk datang ke pesta pernikahan sekarang.

Undangan pertama mereka abaikan, tetapi undangan kedua ini selain mereka abaikan, mereka tolak dengan kasar dan brutal.

“..ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya.”

Mereka bertindak seolah-olah pernikahan itu tidak ada konsekuensinya. Mereka menanggapinya dengan menjalankan bisnis seperti biasa.

Mereka begitu egois disibukkan dengan kepentingan pribadi demi keuntungan sehingga undangan dan seruan berulang kali dari raja untuk menghadiri pernikahan putranya sama sekali diabaikan.

Mereka dengan sengaja mengorbankan keindahan, keagungan, dan kehormatan pernikahan demi usaha duniawi mereka sehari-hari, dan mementingkan diri sendiri.

Mereka tidak memikirkan kehormatan raja tetapi hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri.

Tetapi ada tamu undangan yang sanga buruk. Bukan hanya mengabaikan, mungkin karena terganggu dengan undangan berkali-kali..

Dengan arogansi yang luar biasa brutal, mereka menangkap hamba-hamba raja dan menganiaya serta membunuh mereka.

Tindakan ini penghinaan berat terhadap raja sendiri. Dengan menganiaya serta membunuh para hamba raja, mereka melakukan tindakan pemberontakan secara terbuka.

Nah, kita berhenti dulu sampai disini..

Dipendahuluan sudah katakan bahwa perumpamaan ini adalah tentang kerajaan surga, maka arti dan maknanya tidak memerlukan penafsiran bagi pendengar yang berpikir.

Rajanya jelas adalah Tuhan, dan tamu undangannya adalah umat pilihan-Nya, Israel, dimana mereka dipanggil untuk menjadi umat pilihan-Nya.

Tuhan pertama kali memanggil umat pilihan-Nya melalui Abraham, yang keturunannya akan diberkati dan menjadi saluran berkat bagi seluruh dunia (Kej. 12:2-3).

Setelah ditawan di Mesir selama 400 tahun, umat pilihan dibebaskan melalui Musa. Melalui para nabi-Nya Tuhan berfirman, “Ketika Israel masih muda, Kukasihi dia, dan dari Mesir Kupanggil anak-Ku itu.” Hosea 11:1

Pesta pernikahan raja mewakili berkat yang dijanjikan Tuhan kepada Israel, sebuah gambaran yang dipahami oleh semua orang di Bait Suci pada hari itu.

Menurut literatur Talmud, kedatangan Mesias akan terjadi disertai dengan perjamuan akbar yang diberikan untuk umat pilihan-Nya.

Hamba-hamba yang diutus untuk memanggil berulang kali adalah Yohanes Pembaptis dan para rasul, nabi, serta pengkhotbah dan guru Perjanjian Baru lainnya.

Para hamba juga mewakili pengkhotbah Perjanjian Baru, karena pesan mereka berkaitan dengan Putra Raja, Yesus Kristus.

Tuhan berkata kepada Israel, tamu undangan istimewa kerajaannya, “Inilah anak Ku yang kukasihi..”

Tetapi Yohanes Pembaptis ditolak dan dipenggal, Yesus ditolak dan disalibkan, dan para rasul serta para nabi ditolak dan dianiaya, banyak yang dihukum mati..

Para tamu yang acuh tak acuh dalam perumpamaan ini melambangkan orang-orang yang sibuk dengan kehidupan sehari-hari dan urusan pribadi.

Mereka pada dasarnya adalah orang-orang yang berpikiran sekuler. Mereka adalah kaum materialis, yang kepentingan utamanya adalah mengumpulkan harta, dan mereka yang ambisius, yang perhatian utamanya adalah uang..

Mereka biasanya tidak menentang hal-hal yang berhubungan dengan Tuhan tetapi tidak mempunyai waktu untuk hal-hal tersebut.

Mereka sangat sibuk, sehingga tidak meluanggkan sedikit saja waktu untuk memenuhi undangan Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Semua kita adalah keluarga kerajaan Allah, dan kita semua diundang setiap hari dengan undangan kerajaan. Apakah kita terlalu sibuk, sehingga mengabaikannya?

Pikirkan lagi undangan Allah kepada kita dalam Firman-Nya. Boleh jadi renungan ini adalah undangan Tuhan untuk kita hari ini..

Tetapi bagaimana respon raja terhadap para tamu undangan yang menolak? Baca ayat selanjutnya..

Murka Raja

Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.

Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Matius 22:7-8

Jangankan seorang raja, kita sendiri pun Ketika mengadakan sebuah acara, tetapi orang-orang yang kita undang tidak ada yang bisa hadir dengan berbagai alasan. Kita pasti kecewa.

Perasaan raja yang mengadakan pesta itu, tidak hanya kecewa, tetapi berduka. Para hambanya dibunuh.

Ini lebih dari sekedar menghina, tetapi menginjak-injak harkat dan martabat raja. Otoritasnnya tidak diakui.

Kita mengerti dengan baik arti dan makna perumpamaan ini. Raja itu adalah Allah Bapa. Para hamba adalah para nabi dan rasul, jurukabar Allah.

Para undangan adalah bangsa Israel, bangsa pilihan Allah. Undangan pesta adalah panggilan mamasuki kasih karunia Allah dan kerajaan Allah.

Para undangan tidak hadir adalah penolakan terhadap kasih karunia Allah dan keselamatan yang disediakan-Nya.

Menolak undangan Tuhan merupakan penghinaan yang disengaja terhadap martabatnya.

Menolak kasih karunia Allah akan jatuh dalam penghakiman Allah. Itu tercermin dari murka Sang Raja.

Maka di adengan kedua ini kita akan melihat hukuman raja kepada mereka yang menolak undangan kerajaan. Raja itu sudah cukup sabar, mengundang beberapa kali. Tetapi ada batas kesabaran-Nya.

Dia akhirnya menjadi marah…

Kita diingatkan akan perkataan Allah sehubungan dengan generasi sebelum air bah: “Roh-Ku tidak akan tinggal bersama manusia untuk selama-lamanya” (Kej. 6:3).

Artinya mereka yang menolak terus menerus suara Roh Allah akan tiba pada hari penghakiman Allah. Dan itulah yang dilakukan raja tersebut..

“Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.”

Merupakan hukuman yang mengerikan. Hukuman seperti ini hanya digunakan dalam kasus pengkhianatan dan pemberontakan paling serius terhadap raja.

Itu berarti pelanggaran mereka sangat serius. Berkaitan dengan pelecehan dan pengkhianatan terhadap otoritas kerajaan.

Istilah pasukan, mengacu pada kelompok angkatan bersenjata. Mereka menghancurkan para pembunuh hamba-hambanya dan membakar kota mereka.

Ayat ini penggenapannya diyakini adalah kehancuran Yerusalem pada tahun 70 masehi.

Ketika pasukan Romawi dibawah jenderal Titus menaklukkan Yerusalem pada tahun itu, dia membunuh sekitar 1.100.000 orang Yahudi, melemparkan tubuh mereka ke atas tembok, dan membantai ribuan orang lainnya di seluruh Palestina.

Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.

Ketidaklayakan mereka bukan karena mereka tidak mempunyai kebenaran yang dituntut. Undangan dan panggilan raja itu sebagai bentuk kemurahan hati raja, bukan karena prestasi mereka.

Ironisnya mereka menolak undangan, yang sebetulnya tidak layak bagi mereka. Karena itu diri mereka sendiri yang membuat mereka tidak layak ada diperjamuan kawin kerajaan.

Yang menjadikan seseorang layak menerima keselamatan bukanlah segala jenis kebaikan manusia atau pencapaian agama atau spiritual..

Seseorang layak, Ketika dia menjawab ya terhadap undangan Allah untuk menerima Putra-Nya, Yesus Kristus, sebagai Tuhan. Selanjutnya hidup dalam penuturan dan kesetiaan.

Umat yang dinyatakan tidak layak oleh Allah di ayat ini adalah bangsa pilihan-Nya, Israel, yang tidak mau datang kepada-Nya dan mengakui serta menerima Yesus sebagai mesias.

Karena mereka menolak Mesias, Allah menolak mereka sebagai bangsa pilihan. Mereka dibuang sebagai sebuah bangsa dan sebagai umat pilihan Tuhan.

“Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini.” Matius 22:4.

“Inilah undangan yang disampaikan kepada bangsa Yahudi setelah penyaliban Kristus; tetapi bangsa yang mengaku menjadi umat Allah yang berbeda ini menolak injil yang disampaikan kepada mereka dalam kuasa Roh Kudus.”

“Banyak orangberbuat itu dengan sikap yang paling keji. Banyak orang lain yang begitu jengkel terhadap tawaran keselamatan, tawaran pengampunan untuk menolak kemuliaan Tuhan, sehingga mereka memalingkan diri dari pembawa-pembawa kabar itu.” PPTY Bab 21.

Poinnya, jangan menolak panggilan kasih karunia Allah. Jangan membenci para jurukabar, siapa pun mereka yang mengingatkan kita akan dosa dan kesalahan kita. Itu adalah panggilan Tuhan.

Penolakan, kita secara langsung membuat kita tidak layak berada dipesta Kerajaan Allah. Kita berada diluar kasih karunia Allah atas pilihan sendiri. Itu berarti kita akan dihakimi Tuhan dengan api kebinasaan.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan