
Saya hanya bertanya, mengapa Anda tersinggung? Saya tidak ingin menyalahkan Anda. Bukan juga menganggap Anda terlalu sensitif..
Saya hanya penasaran. Apa sebenarnya yang membuat kita tersinggung?
Kalau pun ada seseorang yang mengatakan sesuatu yang menurut kita salah, apa kita harus langsung bereaksi?
Apakah karena nada suaranya kurang pas? Pilihan katanya, waktunya yang mungkin tidak tepat? Atau caranya menyampaikan yang tidak pas?
Lalu kita berkata sebenarnya, “Saya tidak marah. Saya hanya tersinggung.”
Apa bedanya marah dan tersinggung?
Dan mengapa sesuatu yang dikatakan orang lain bisa begitu mudah mengubah suasana hati kita? Dari yang ceria tiba-tiba wajah kita muram?
Coba kita bayangkan. Ada dua orang yang mengatakan hal yang sama kepada kita.
Orang pertama adalah orang yang kita senangi. Orang kedua adalah seseorang yang memang sejak awal tidak kita sukai.
Lalu mereka mengatakan satu perkataan yang kalimatnya sama. Tetapi mengapa reaksi kita bisa berbeda terhadap mereka?
Masalahnya kemungkinan bukan hanya pada kalimatnya.. Tetapi kepada sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu tentang diri kita sendiri..
Pernahkah kita menerima kritik yang sebenarnya kritikan itu benar? Dan kita tahu orang itu benar?
Anda bahkan tahun bahwa apa yang dikatakannya itu sudah lama kita sadari sebagai kebenaran.. Tetapi tetap saja kita tersinggung dengannya..
Kira-kira mengapa? Apakah karena cara dia menyampaikannya? Atau karena dia mengatakan sesuatu yang selama ini tidak ingin kita akui?
Kita marah karena dia mengatakan sesuatu yang benar. Boleh jadi itu penyebab beberapa perkataan terasa lebih menyakitkan daripada yang lain.
Bukan karena perkataan itu terlalu keras nada dan isinya, tetapi karena perkataan itu menyentuh sesuatu yang selama ini kita sayangi namun kita sembunyikan..
Kita sering mengatakan: “Saya tersinggung karena dia tidak menghargai saya.” Benarkah? Atau sebenarnya karena kita ingin dihargai?
Kita berkata: “Saya tersinggung karena dia meremehkan saya.” Benarkah? Atau sebenarnya kita sangat membutuhkan pengakuan?
Kita berkata: “Saya tersinggung karena dia memperlakukan saya tidak adil.”
Tetapi bagaimana kalau ketersinggungan itu muncul karena kita merasa diri kita harus diperlakukan istimewa lebih daripada yang lain?
Pertanyaannya menjadi semakin tidak nyaman.
Apakah setiap rasa tersinggung memang membuktikan bahwa orang lain bersalah? Atau ada kalanya rasa tersinggung justru sedang membongkar sesuatu dalam diri kita?
Yesus pernah mengatakan sesuatu yang tidak nyaman dihati orang-orang Farisi. Ia tidak hanya berbicara tentang apa yang masuk ke dalam diri orang..
Tetapi tentang apa yang keluar dari dalam hati seseorang..
Sebenarnya masalah kita mungkin tidak selalu apa yang dilakukan orang lain kepada kita.
Kadang masalahnya adalah apa yang ada di dalam diri kita ketika orang lain melakukan sesuatu kepada kita.
Orang yang sama. Perkataan yang sama. Situasi yang sama. Tetapi respons yang berbeda. Mengapa bisa seperti itu?
Saya tidak tahu. Saya hanya bertanya..
Misalnya, ada orang yang mudah tersinggung ketika tidak dipuji.
Ada yang tersinggung ketika pendapatnya tidak digunakan..
Ada yang tersinggung ketika namanya tidak disebutkan. Padahal mungkin ketidaksengajaan.
Ada yang tersinggung ketika orang lain berhasil dan hidup orang itu lebih baik dari dirinya..
Ada yang tersinggung ketika dikoreksi. Ada yang tersinggung ketika tidak disapa.
Ada yang tersinggung karena tempat duduknya berubah.
Ada yang tersinggung karena seseorang tidak membalas pesannya.
Ada yang tersinggung karena keputusan rapat tidak sesuai keinginannya.
Ada yang tersinggung karena orang lain mendapatkan kesempatan yang menurutnya seharusnya menjadi miliknya.
Dan kadang kita bahkan tersinggung atas nama Tuhan. Kita berkata, “Saya tersinggung karena prinsip yang dilanggar.”
Tetapi bagaimana kita tahu bahwa itu benar-benar prinsip? Bagaimana kalau sebenarnya ego kita yang sedang terusik?
Coba pikirkan satu hal ini..
Mengapa kita bisa mengingat-ingat perkataan seseorang selama bertahun-tahun? Bahkan sampai mengganggu damai sejahtra kita..?
Padahal, kalimat yang mereka ucapkan hanya berlangsung beberapa detik saja, tetapi kita menyimpannya selama bertahun-tahun..
Kita mengulangnya. Kita ceritakan kepada orang lain. Kita mengingat ekspresinya. Kita mengingat tempatnya. Kita bahkan masih mengingat tanggalnya.
Mengapa? Apa yang sebenarnya yang kita pelihara? Lukanya? Kemarahan? Harga diri kita?
Atau keinginan untuk tetap merasa bahwa kita adalah korban? Dan kalau luka itu sudah lama sekali, mengapa kita masih membawanya?
Pertanyaan lainnya adalah..
Kalau seseorang datang dan meminta maaf kepada kita, tetap saja kita tidak mau melepaskan kesalahan itu, sebenarnya siapa yang sedang kita hukum?
Orang itu? Atau diri kita sendiri?
Kemudian kita mengatatakan, “Saya belum bisa melupakan.” Tentu saja kita tidak akan melupakan karena kita punya memori di otak..
Tetapi apakah mengampuni itu selalu berarti melupakan kesalahan itu?
Atau mungkin ketika kita mengampuni seseorang berarti kita berhenti menjadikan kesalahan orang lain sebagai alasan untuk terus menyakiti diri sendiri?
Saya tidak tahu apakah seperti itu.. Saya hanya bertanya.
Dan bagaimana dengan Yesus? Ia juga pernah dihina. Ditolak. Disalahpahami. Dituduh. Dicemooh.
Bahkan ketika Ia berada di kayu salib, orang-orang masih menghina-Nya. Tetapi Ia tidak membalas dengan cara yang sama.
Apakah itu berarti kita tidak boleh merasa terluka? Tentu bukan itu pertanyaannya. Pertanyaannya mungkin lebih dalam:
Apa yang kita lakukan dengan rasa terluka itu?
Apakah kita membawanya kepada Yesus? Atau kita menggunakan luka itu sebagai alasan untuk membenci?
Apakah kita membiarkannya sembuh? Atau kita menjadikannya sebagai tanda?
Apakah kita ingin dipulihkan? Atau sebenarnya kita menikmati posisi sebagai orang yang pernah disakiti dan akan terus sebagai orang yang tersakiti?
Mungkin bila suatu waktu Anda tersinggung, jangan terlalu cepat bertanya: “Dia berani sekali mengatakan itu kepada saya!”
Coba berhenti sebentar. Tarik napas. Lalu tanyakan sesuatu yang berbeda…
Mengapa saya begitu tersinggung?
Apa yang disentuh oleh perkataan itu? Harga diri saya? Keinginan saya untuk dihargai? Kebutuhan saya untuk diakui? Ketakutan saya? Luka lama saya?
Atau memang ada ketidakadilan yang perlu saya hadapi?
Saya tidak tahu tentang itu. Anda yang harus menjawabnya sendiri..
Tulisan ini memang tidak membutuhkan kesimpulan. Dan saya tidak ingin memberi kesimpulan. Saya hanya bertanya saja..
Dan ini pertanyaan saya yang terakhir, agar tidak kepanjangan dan Anda bosa membacanya..
Kalau tidak ada seorang pun yang melihat reaksi Anda, tidak ada seorang pun yang tahu Anda tersinggung, dan Anda tidak perlu mempertahankan harga diri di depan siapa pun—apakah Anda masih akan memilih untuk marah?
Silakan pikirkan. Saya hanya bertanya..
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.” Efesus 4:31













