Lupakan resolusi tahun baru
TAHUN baru dinanti. Dirayakan. Meriahnya keseantero dunia. Jelang tahun baru, pernak Pernik tahun baru menghiasi jalan-jalan. Tempat perbelanjaan. Tempat wisata, rumah-rumah ibadah, dll.
Promo-promo belanja yang menggiurkan ditawarkan oleh berbagai brand. Tentu menguntungkan bagi konsumen. Bisa dapat potongan harga. Bahkan hingga 50 persen.
Tempat-tempat perbelanjaan penuh sesak. Dari kelas mall hingga pasar tradisional.
Tempat wisata tidak mau kalah. Penuh. Sesak. Dipadati pengunjung dari dalam dan luar kota. Dari yang datang menggunakan bus, hingga truk bak terbuka.
Tua dan muda. Anak-anak hingga lansia, berjubel disatu kolam renang. Airnya bahkan sampai keruh. Campur ludah. Keringat dan air seni. Mereka riang gembira menikmati suasana.
Akhir tahun juga menjadi kesempatan untuk mengeruk keuntungan lebih banyak bagi padagang makanan. Dari kelas restoran hingga kelas angkringan dipinggir jalan.
Orang-orang lapar duduk menikmati makanan mereka dari rombongan besar dimeja panjang. tampak juga keluarga kecil dimeja kecil.
Disudut-sudut keramaian, duduk para pengemis dengan tangan menengadah keatas dan kepala mendongak kepada setiap orang yang lewat.
Tampak keranjang tempat menaruh uang recehan penuh. Rejeki mereka juga meningkat jelang tahun baru.
Para badut penghibur anak-anak kecil tampak terlihat melambaikan tangan. Anak-anak tampak senang melihat para badut dengan kostum ala doraemon, upin-ipin dll..
Mereka berfoto. Tak lupa mengisi kotak receh sebagai jasa foto..
Tentu gereja-gereja juga nampak lebih ramai dikunjungi jelang tahun baru. Para perantau banyak pulang kampung dari kota besar. Persembahan pun meningkat.
Yah, tahun baru memang membawa berkat dan keceriaan bagi banyak orang. Kemeriahannya tampak terlihat diwajah mereka..
Tapi nampaknya tidak semua orang menikmati kemeriahan tahun baru. Ada yang sangat terganggu dengannya..
Lampu yang kerlap-kerlip menghiasi jalan-jalan kota yang indah, menyilaukan matanya. Dia tidak suka itu. Sebenarnya hatinya lagi galau..
Sambil berjalan ditrotoar pertokoan, dengan burger king ditangan kanan, eskrim ditangan kiri. Menikmati makanan itu dengan lahapnya..
Dia duduk di taman kota, menghabiskan sisa makanannya. Disana banyak anak-anak yang berlarian. Melompat-lompat…
Kenyang. Dia melirik jam tangannya. Sudah pukul 10 malam. Belum ingin pulang. Masih enak diluar. Cuaca lagi baik.
Tapi hatinya galau. Dengan wajah sedih dia melihat perutnya. Meraba-raba dengan tangannya. Setahun berlalu tidak ada perubahan. Berat badan malah naik.
Resolusi tahun barunya yang dibuat awal tahun untuk hidup lebih sehat. Fit. Berat badan ideal, gagal total. Jalan cuma sebulan..
Setelah itu kembali kepada stelan awal. Malas gerak. Senangnya rebahan diwaktu senggang. Makan tengah malam..
Setahun berlalu. Tidak ada perubahan. Tahun akan kembali berganti. Kembali mau buat resolusi. Tapi takut gagal lagi. Apa tidak usah saja..? Dari pada nanti rasa bersalah terus..
Kita mungkin memiliki resolusi “baru” yang sama selama bertahun-tahun: berolahraga lebih banyak, makan sehat, menabung, lebih terorganisir…
Menemukan hobi baru, menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga dan teman, bepergian, membaca lebih banyak buku, menjalani hidup sepenuhnya, dll..
Namun setelah tahun berakhir, kita duduk dalam penyesalan. Rasa bersalah. Karena satu pun tidak ada yang terealisasi..
Penelitian menemukan bahwa 80-90 persen resolusi tahun baru gagal pada akhir bulan pertama.
Artinya, setelah bulan kedua, konsistensi hilang, maka dibulan kedua dan seterusnya sudah tidak lagi berjalan..
Dari pada kita menipu diri sendiri dan jatuh ke dalam kekecewaan yang tak terhindarkan pada minggu ketiga Januari, sebaiknya kita menetapkan resolusi harian, bukan resolusi setahun penuh!.
Berikut beberapa panduan yang dapat membantu Anda jika Anda memutuskan untuk meninggalkan tradisi resolusi Tahun Baru yang lama dan benar-benar mencoba sesuatu yang baru tahun depan..
1. Tetapkan tujuan harian (bukan tahunan)
Tujuan harus mudah dicapai agar dapat diulang. Pengulangan kemudian akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan akan terbentuk dua sampai tiga bulan..
“Saya akan makan makanan utuh dan sehat hari ini,” dibandingkan dengan “Saya akan menjadi orang yang makan sehat tahun ini.”
2. Latihan kesabaran
“Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah” (Lao Tzu). Fokuslah pada siklus 24 jam pertama, lalu siklus berikutnya, dan kemudian siklus setelahnya.
3. Pujilah usaha Anda, bukan hasilnya
“Saya bergerak ke arah yang benar dengan diet dan olahraga saya,” dibandingkan dengan “Saya berhasil menurunkan berat badan 2 kg!”
4. Fokuslah pada hal-hal yang Anda lakukan dengan benar, bukan yang salah
“Saya tetap tenang hampir sepanjang hari ini,” dibandingkan dengan “Saya tidak percaya saya kehilangan kesabaran!”
Jadilah pendukung terbaik bagi diri sendiri. Kita memang kritikus terburuk bagi diri kita sendiri. Tak heran kita kesulitan!
Hal-hal yang kita katakan pada diri sendiri, sebagian besar dari kita bahkan tak akan berani mengatakannya kepada orang lain.
Jadi, bersikap baiklah pada diri sendiri, beri semangat pada diri sendiri, dan katakan pada diri sendiri apa yang akan Anda katakan kepada orang lain yang berusaha bekerja lebih keras dan menjadi lebih baik.
5. Maafkan diri sendiri atas kesalahan
Ini mengingatkan kita bahwa kita adalah manusia dan bisa salah, yang juga membuat kita lebih mudah dipahami oleh orang lain yang memberi dan menerima dukungan dari kita.
Sama seperti resolusi Tahun Baru di masa lalu, pendekatan baru ini tidak akan sempurna. Tetapi kita harus semangat membuat resolusi untuk mencoba hal-hal baru..
Maka ini adalah upaya yang berharga dan bahkan menarik. Mari kita terus berjuang bersama setiap hari.
“…aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah….” — Filipi 3:13b-14
Selamat tahun baru!
Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya
Join now







