
Pendahuluan
Pada bagian pertama kita telah melihat bahwa Kristus ingin mempersembahkan gereja-Nya “tanpa noda atau kerut” (Efesus 5:25-27). Namun, Kristus sendirilah yang memurnikan gereja-Nya.
Orang percaya dapat mempersiapkan diri menyambut “perkawinan Anak Domba” karena Allah mengaruniakan “kain lenan halus” yang melambangkan “perbuatan-perbuatan benar orang-orang kudus” (Wahyu 19:7-8).
Dengan kata lain, perbuatan benar adalah pemberian Allah. Tugas kita adalah menerima anugerah itu dan bekerja sama dengan-Nya.
Pembenaran (Justification)
Pembenaran adalah tindakan Allah menyatakan orang berdosa menjadi benar melalui Yesus Kristus (Roma 3:21-24; 2 Korintus 5:21). Kristus menjadi Imam Besar sekaligus Korban yang menanggung hukuman dosa kita (Ibrani 7:25-27; 9:6-10:22; Yesaya 53).
Karena Kristus mati bagi kita, maka orang yang percaya kepada-Nya ikut “mati terhadap dosa” dan “bangkit dalam hidup yang baru” (Roma 6:1-11; 2 Korintus 5:14-15). Orang berdosa diperlakukan sebagai orang benar bukan karena jasanya sendiri, tetapi karena pengorbanan Kristus.
Ketika Allah membenarkan orang berdosa yang percaya (Roma 4:5), Ia tidak sedang mengabaikan dosa. Sebaliknya, Allah mengampuni dan mengubah hidup orang tersebut sehingga ia diperdamaikan dengan Allah (Roma 5:1-11).
Pembenaran berarti dosa diampuni, seseorang menerima kepastian keselamatan di dalam Kristus (1 Yohanes 5:11-13), dan mulai menjalani hidup baru.
Pembenaran Menghasilkan Kehidupan Baru
Pembenaran bukan hanya mengubah status di hadapan Allah, tetapi juga mengubah hati manusia.
Melalui Kristus yang hidup di dalam kita (Galatia 2:20), kita menerima bagian dalam sifat ilahi (2 Petrus 1:4). Karena itu, iman sejati selalu bekerja melalui kasih (Galatia 5:6).
Orang yang telah dibenarkan dipanggil untuk hidup dalam pengudusan. Pengudusan dimulai saat pertobatan (1 Korintus 6:11) dan terus bertumbuh sepanjang hidup melalui pekerjaan Roh Kudus (1 Tesalonika 3:12-13; Roma 5:5; 8:4-27).
Pembenaran dan pengudusan memang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah karya kasih karunia Allah dalam keselamatan.
Martin Luther menekankan bahwa iman yang sejati selalu menghasilkan perbuatan baik. Ellen G. White juga menulis bahwa orang yang bersandar kepada Kristus dipersatukan dengan Dia sebagai Pembenaran dan Penebusnya.
Hukum Perjanjian Lama
Sebagian orang Kristen menganggap hukum Perjanjian Lama sudah tidak berlaku karena keselamatan adalah oleh kasih karunia. Namun Paulus mengajarkan bahwa iman tidak membatalkan hukum, tetapi justru meneguhkannya (Roma 3:31).
Paulus menyebut hukum Allah sebagai sesuatu yang kudus, adil, dan baik (Roma 7:7-13). Ia juga menunjukkan bahwa seluruh hukum didasarkan pada kasih kepada Allah dan sesama (Roma 13:8-10; Matius 22:37-40).
Hukum tidak dapat menyelamatkan, tetapi menunjukkan dosa dan membawa manusia kepada Kristus. Tanpa hukum Allah, manusia tidak mengetahui dengan jelas kehendak-Nya.
Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yohanes 14:15). Karena itu, kasih kepada Kristus selalu terlihat dalam ketaatan kepada firman-Nya.
Prinsip kasih dalam Perjanjian Baru tidak menghapus hukum Allah, tetapi menjelaskan bagaimana hukum itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penghakiman
Penghakiman Allah tidak bertentangan dengan keselamatan oleh kasih karunia melalui iman.
Semua orang telah berdosa (Roma 3:23), tetapi penghakiman menunjukkan siapa yang tetap setia kepada Kristus (Kolose 1:23). Allah tentu sudah mengetahui segala sesuatu (Yesaya 46:9-10; Lukas 16:15), tetapi catatan kehidupan manusia menjadi bukti bagi seluruh alam semesta (Daniel 7:10, 22).
Perbuatan bukan dasar keselamatan, tetapi bukti bahwa seseorang memiliki iman yang hidup (Pengkhotbah 12:14; Galatia 5:6; Yakobus 2:26).
Bagi orang percaya, penghakiman bukan sesuatu yang menakutkan. Justru melalui penghakiman Allah membenarkan umat-Nya dan menunjukkan bahwa mereka benar-benar milik Kristus (Roma 3:26).
Injil dan penghakiman berjalan bersama. Wahyu 14:6-7 menyatakan bahwa “Injil yang kekal” diberitakan bersamaan dengan berita bahwa “saat penghakiman-Nya telah tiba.” Paulus juga berkata bahwa Allah akan menghakimi manusia melalui Yesus Kristus sesuai dengan Injil (Roma 2:16; 14:10).
Kesimpulan
Keselamatan adalah anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus dan pengorbanan-Nya. Pembenaran mengampuni dosa, sedangkan pengudusan mengubah kehidupan orang percaya melalui kuasa Roh Kudus.
Hukum Allah tetap menjadi standar kehidupan yang kudus, tetapi bukan jalan untuk memperoleh keselamatan. Perbuatan baik adalah hasil dari iman yang hidup, bukan syarat untuk diselamatkan (Galatia 5:6; Efesus 2:8-10).
Pemahaman yang seimbang tentang pembenaran, pengudusan, hukum Allah, dan penghakiman menolong kita memiliki keyakinan penuh kepada Kristus sekaligus hidup taat kepada-Nya setiap hari.




