Lari Saja

Salam Kimpul

Dua tahun sudah. Bulan ini anniversary kedua. Itu sekitar dua tahun lalu. Tahun 2018, bulan mei. Saya mulai bertekad untuk menekuni olahraga ini.

Running.

Targetnya harus bisa lari tanpa henti sejauh minimal 5 km, dalam waktu 30 menit.

Inspirasi awalnya datang dari teman. Dia sudah lebih dahulu menekuni olahraga ini beberapa bulan sebelumnya.

Dia bercerita kalau sekarang olahraganya lari. “Berapa lama berlari..” Tanya saya. “Satu jam nonstop..” Jawabnya.

Wow..luar biasa. Diusia 43 tahun masih sanggup berlari 1 jam nonstop.

Saya juga mau seperti itu.

Suatu saat, saya diajak berlari. Waktu itu dibandung. Hari masih gelap di alun-alun Tegallega yang luas itu.

Dari penginapan kami mulai berlari. Baru beberapa ratus meter saya sudah ngos-ngosan. Kedua kaki mulai pegal. Nafas mulai sesak. Tapi karena tidak enak plus gengsi, saya paksakan terus berlari.

Tetapi bagaimanapun saya menyerah. Saya berhenti. Tidak baik memaksakan diri.

Disitu saya mulai sadar betapa saya ini tidak bugar. Nafas pendek.

Teman saya terus melaju. Hingga matahari sudah terbit di ufuk timur dia masih berlari. “Kapan berhenti..”? teriak saya. “Sampai lagunya berhenti..” Teriaknya membalas..

Oh ternyata dia punya timer. Timernya musik-lagu yang diputar lewat hape sambil berlari. Durasinya 1 jam. Kalau lagunya selesai. Dia juga selesai.

Satu jam dia selesai. Mandi keringat. Bajunya basah kuyup seperti habis diguyur hujan.

Bagaimana perasaanmu? Tanya saya. “Oh..saya merasa segar dan fit..” jawabnya. Dia bilang sejak lari, tidak pernah flu. Berat badan turun cepat. Tidak ngantukan. Tidur malam lebih nyenyak.

Berkatnya luar biasa ternyata.

Dia menekuni olahraga lari ada sebabnya.

Waktu itu tahun 2017 bulan September. Kami sama-sama ikut seminar kesehatan di semarang. Pembicaranya dari CMC Jakarta (Club Sehat).

Disana ada pemeriksaan kesehatan. Kolesterol. Gula darah. Asam urat. Pemeriksaan usia biologis tubuh juga ada.

Dia ikut periksa. Asam urat tinggi. Usia biologis tubuh kurang baik. Lebih tua dari usia yang sebenarnya.

Usia kronologis 43 tahun. Tapi usia biologis 54 tahun. Tubuhnya menua lebih cepat 11 tahun dari usia kronologisnya.

Usia kronologis yaitu usia yang dihitung sejak lahir. Usia biologis yaitu usia tubuh.

Bisa saja kita masih muda 30 tahun tetapi mengalami proses penuaan lebih cepat 10-20 tahun. Atau sebaliknya.

Penelitian menunjukkan kecepatan proses penuaan ditentukan oleh genetik sebesar 25-35%. Sisanya tergantung dari pola hidup sehari-hari.

Nah kembali ke teman saya..

Mengetahui kondisi umur tubuhnya lebih tua dari umurnya, dia bertekad mengubah pola hidup. Pola hidup sebelumya dirasa kurang baik.

Perubahan pola hidupnya termasuk radikal. Nasi diganti kimpul. Murni vegetarian. Tidak ada minyak. Semua direbus.

Berat 80 kg perlahan turun tapi pasti. Hasilnya terlihat dalam beberapa bulan. Posturnya sangat langsing. Saking langsingnya orang pikir dia baru sembuh dari sakit.

Saya juga melihat dia terlalu langsing. Tipis. Saya kasih nasehat. Jangan kelewat langsing. Naikin lagi berat badannya.

Supaya berisi, saya kasih saran angkat beban dan push up.

Angkat barbell tiap hari. Push up tiap hari. Push upnya bahkan sudah diatas rata-rata. Sehari 500 kali lebih. Beberapa bulan kemudian hasilnya terlihat.

Otot lengan dan punggung mulai berisi. Dada mulai berisi juga. Tambah bidang. Posturnya makin tegap dan kekar.

Hasil tidak mengkhianati. Banyak yang terinspirasi. Mereka juga ikut lari dan push up. Saya salah satunya.

Awal-awal saya punya masalah. Tidak konsisten. Minggu pertama semangat. Minggu kedua rasa enggan dan malas.

Sering libur. Kadang lari kadang tidak. Lebih sering tidaknya. Dorongan hati ada, tetapi tidak ada yang mendorong kaki ini melangkah.

Butuh motivatisi dari luar, iya. Beruntung banyak motivator di GOR Tri Lomba Juang.

Awalnya payah. Cuma sanggup lima menit. Tapi tidak mengapa. Terus saja lari tiap hari. Setiap minggu durasi makin naik.

Dari lima ke sepuluh. Sepuluh ke limabelas. Begitu seterusnya hingga top satu jam.

Satu tahun pertama nafas sudah stabil. Betis dan pergelangan kaki sudah kokoh. Berlari sudah seperti naik sepeda santai.

Enteng. Nyaman.

Bulan ini tahun kedua. Berlari sejauh 5 km setiap hari selama 30 menit, kecuali sabtu, memberi banyak manfaat. Salah satunya, bebas flu, batuk, dan masuk angin.

Dulu langganan flu. Bisa dua sampai empat kali setahun. Sekarang puji Tuhan tidak pernah mengalaminya.

Pencernaan lancar. Tidur lebih nyenyak. Daya ingat lebih tajam. Pengendalian diri lebih baik. Tekanan darah stabil.

Pastinya berat badan turun 7 kg. Banyak yang lain.

Setelah dua tahun, tidak butuh lagi motivasi dari luar. Berlari sudah jadi bagian hidup. Itu sama dengan kebiasaan berdoa. Kalau tidak berdoa ada yang kurang.

Kalau tidak berlari ada yang kurang. Di otak hal itu sudah di setting otomatis. Bisa seperti itu karena sudah dibiasakan.

Tubuh menerima kebiasaan ini. Tersetting otomatis.

Kebiasaan yang baik memang harus dibiasakan. Supaya terbiasa. Kalau sudah terbiasa akan menjadi budaya hidup.

Olah raga hanya salah satunya. Masih banyak yang lain.

Untuk menunjang hidup sehat tidak cukup hanya gerak badan. Masih ada Sembilan lainya. Totalnya sepuluh.

Semua perlu dibudayakan.

Itu singkatan dari HIDUP SEHAT.

Akronim itu datang dari Rumah Sakit Advent Bandung. Ada juga lagunya.

Hati yang gembira obat yang manjur

Istirahat yang cukup membuat wajah berseri

Diet yang seimbang tubuh terlihat indah

Udara yang bersih jadikan hidup semangat

Pengendalian diri itu pemenang sejati.

Sinar mentari yang cukup kuatkan tulang-tulang

Energik berolahraga tubuh berfungsi baik

Hubungan sosial yang baik jadikan hidup bahagia

Air jernih yang cukup segarkan seluruh tubuh

Tuhan yang terutama, Dia sumber kehidupan

“Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.” 3 Yohanes 1:2

Salam sehat. Salam kimpul. Hidup sehat pilihan kita

Bagikan:

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.