“Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.” (1 Tesalonika 4:13)

Sudah hampir enam bulan. Rumah itu terasa sunyi. Tidak terdengar lagi siulan paginya memanggil burung-burung disangkar.

Tidak ada lagi yang bertanya, “makan apa malam ini?” Tradisi makan malam bersama selalu diminati keluarga.

Dan itu masih dipelihara. Setiap pukul tujuh malam, keluarga itu masih tetap makan bersama. Sudah menjadi kebiasaan.

Piring dan sendok disusun rapi seperti biasa.

Gelas diisi penuh dengan air minum seperti biasa.

Lauk pauk diletakkan di tengah meja seperti biasa. Nasi dipinggir meja.

Kursi-kursi berjejer rapi mengelilingi meja. Masing-masing sudah punya tempat sendiri.

Dan di ujung meja itu, ada satu kursi yang tetap dibiarkan kosong. Itulah tempat duduk ayah.

Tidak ada seorang pun yang berani memindahkannya. Atau mendudukinya.

Ibu selalu menatap kursi itu beberapa detik sebelum mulai makan. Kadang-kadang matanya berkaca-kaca.

Tidak ada lagi keseruan di meja makan.

Biasanya ayah selalu banyak cerita-cerita yang mengundang tawa di meja makan. Sekarang keheningan menjadi tamu yang paling setia di rumah itu.

Ayah telah meninggal secara mendadak diduga karena serangan jantung. Selama ini tidak ada keluhan. Tidak ada laporan merasa sakit dibagian tubuh tertentu..

Seperti biasa dia bangun pagi. Subuh. Menyanyi. Berdoa. Baca renungan. Merawat hewan peliharaanya.

Pagi itu juga ia masih sempat mengantar anak bungsunya ke sekolah dengan sepeda motornya.

Ia melambaikan tangan sambil tersenyum dan berpesan agar rajin belajar.

Tidak seorang pun menyangka, bahwa itulah senyumannya yang terakhir.

Kemudian, malam-malam setelah kematiannya, waktu terasa sangat panjang. Kadang membosankan.

Rumah yang dulu penuh canda dan tawanya sekarang berubah sunyi. Yang terdengar hanya suara siulan burung-burung peliharaannya..

Mereka tidak tahu tuannya sudah tidak ada lagi.

Sekarang, tidak ada lagi suara motor dan langkah kaki ayah sepulang kerja.

Tidak ada lagi doa pagi dan malam yang dipimpinnya.

Tidak ada lagi cerita-cerita lucu yang membuat seluruh keluarga tertawa terbahak-bahak.

Yang tersisa hanyalah kenangan. Foto wajahnya didinding masih tersenyum. Seolah dia tidak mati. Rasanya dia sedang merantau jauh dari rumah dan akan pulang suatu waktu.

Suatu malam, ketika mereka sedang makan, si bungsu memandang kursi kosong itu. Dia memecah kesunyian dengan polos dia mengajujan satu pertanyaan..

“Bu… apakah Ayah tahu kita masih menunggunya?”

Seketika Sendok yang dipegang ibu terjatuh kelantai. Air matanya menetes. Ibu masih terdiam, mengambil sendok dan membersihkannya.

Anak-anak lain ikut terdiam. Mereka menatap wajah ibu mereka dengan sedih..

Tidak ada jawaban yang mudah untuk pertanyaan itu.

Setelah beberapa saat kemudian, ibu menghampiri anak-anaknya, menggenggam erat tangan mereka.

Dengan suara yang bergetar ia berkata,

“Ayah tidak lagi duduk di kursi itu. Ayah tidur di dalam Tuhan. Dan suatu hari nanti, ketika Yesus datang kembali, kita akan bertemu lagi.”

Malam itu mereka menangis bersama. Berpelukan erat. Walau masih diliputi dukacita, sekarang tangisan mereka tangisan penuh harapan akan kedatangan Yesus kedua kali..


Kehilangan orang yang kita kasihi adalah salah satu pengalaman yang paling menyakitkan dalam perjalanan hidup manusia.

Ada kursi yang tak lagi terisi. Ada suara yang tak lagi terdengar. Ada pelukan yang tak lagi bisa dirasakan.

Tidak ada kata-kata sakti yang benar-benar mampu menghapus rasa dukacita seperti itu.

Bahkan Yesus sendiri menangis ketika sahabat-Nya, Lazarus, meninggal. Alkitab katakan, “Maka menangislah Yesus.” Yoh 11:35.

Air mata dukacita bukan lah tanda yang menunjukkan lemahnya iman. Karena Yesus pun menangis pada saat kedukaan.

Air mata adalah bahasa kasih yang menerangkan betapa berharganya orang itu bagi kita.

Walau menangis hal normal, namun Firman Tuhan mengajarkan bahwa orang percaya tidak boleh berduka seperti mereka yang tidak mempunyai pengharapan.

Rasul Paulus menulis dalam 1 Tesalonika 4:13-18 bahwa mereka yang meninggal di dalam Kristus akan dibangkitkan.

Kapan? Ketika sangkakala Allah berbunyi dan Tuhan Yesus datang kembali, maut tidak akan menjadi akhir dari cerita.

“Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit..”

Yesus adalah jaminan terhadap kebangkitan oarng percaya. Dia mengatakan,

Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” (Yohanes 11:25-26)

Jadi, kuburan bukanlah rumah terakhir bagi orang percaya. Mereka akan bangkit dan keluar dari sana karena Yesus.

Itu sebabnya dalam Yesus, perpisahan bukanlah kata terakhir. Karena kita akan bertemu dengan mereka..

Poinnya, kematian hanyalah tidur sementara sampai hari kebangkitan yang dijanjikan Tuhan.

Itulah sebabnya, bagi orang percaya, kursi yang kosong di meja makan, itu bukan sekedar lambang kehilangan.

Kursi itu juga menjadi pengingat bahwa akan datang suatu hari ketika tidak ada lagi meja yang menyisakan kursi kosong.

Semua meja akan penuh dengan orang-orang percaya yang duduk makan bersama dengan Yesus dalam perjamuan besar..

Di kerajaan Allah nanti tidak ada lagi air mata yan tumpah karena kesedihan.

Tidak ada lagi rumah duka dan undangan untuk pergi ke pemakaman.

Tidak ada lagi ucapan turut berdukacita. Tidak ada lagi kata-kata selamat tinggal.

Yang ada hanyalah perjumpaan yang kekal bersama Kristus dan umat tebusan dari segala jaman.

Mungkin hari ini Anda juga sedang memandang “kursi kosong” dalam hidup Anda. Anda begitu kehilangan.

Mungkin itu adalah ayah..Ibu..Pasangan..Anak. Atau sahabat yang sangat Anda kasihi.

Hati Anda mungkin masih terasa sesak setiap kali mengingat mereka.

Menangislah jika memang perlu.

Tuhan tidak melarang air mata. Dia menangis dengan orang yang menangis..

Tetapi ingat, jangan biarkan air mata menghapus pengharapan akan kedatangan Yesus kedua kali.

Karena bagi setiap orang percaya, yang mati di dalam Kristus, ada pagi yang cerah setelah malam perpisahan yang penuh tangisan..

Hari besar akan segera tiba, ketika Yesus datang dalam kemuliaan-Nya dengan para malaikat-Nya..

Pada hari itu, pelukan yang hilang akan dipulihkan. Kebersamaan kekal akan diberikan..

Akan ada pertemuan yang tidak akan pernah diakhiri oleh kematian. Karena maut tidak ada lagi.

Iblis dan antek-anteknya akan dibinasakan untuk selama-lamanya. Orang benar akan hidup kekal.

Sementara kita menantikan hari itu tiba, marilah kita tetap hidup setia kepada Tuhan, agar ketika Kristus datang kembali, kita dapat berkumpul sebagai satu keluarga besar di hadapan-Nya—tanpa ada lagi kursi yang kosong.

Marilah kita mengisi hari hari kita dengan pelayanan yang tulus kepada Tuhan dan sesama.

“Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” Wahyu 14:13

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *